
"Mama berharap kamu realistis anakku. kenapa kamu justru berpikiran yang enggak-enggak sih!!..." Suara mamaku sambil menggelayuti tanganku.
Sementara pikiranku masih melayang-layang, mungkin Mama belum sepaham dengan aku, tapi sebenarnya aku juga punya prinsip. Bukan aku tidak mau menikah, usiaku memang sudah cukup, tapi apakah anak yang namanya cinta itu bisa dipaksakan??
Tidak terasa aku sampai di rumah sakit, aku tiba-tiba menjadi bingung, Bagaimana kalau aku ketemu dengan Fathin, yang aku khawatirkan Bagaimana merespon cinta dia? doaku belum bisa menerima sebagai kekasih hati. bersama mama aku langsung menuju ke bednya Fathin. hai itu ketika aku mendapat petunjuk dari bagian resepsionis rumah sakit. Ketika aku hadir Fathin bangkit.
Dia sangat rindu sekali rupanya padaku. Apa sih sebenarnya yang membuat dirinya sakit karena terdeteksi punya perempuan lain.
Tapi kenapa ia mesti jatuh pilihan padaku bukankah dia ada Fikri Gunawan sahabat kuliahku.
Dia dalam curhatannya sering sampai pada Direct Massage (DM),
Aku nggak paham kenapa akhir-akhir ini pacar gua nggak balas telefon, SMS WhatsApp...adakah dia kecewa pada gua, gua faham pasti dia kecewa sama gua, pas hari wisudanya nya gua nggak hadir.
Tapi mestinya dia faham gua bukan pengangguran, pasti banyak hal yang gua harus selesaikan.
Gua kan sudah komitmen bahwa gua nggak bisa menghadiri wisudawan-wisudawatinya pasalnya sawit gua di Riau lagi mau panen jadi ntar sekalian bawa uang pulang sekalian biar ada bekal kan gitu.
Jadi jangan diartikan gua nggak care pada dia. Gua kadang heran kenapa sikapnya langsung berubah bahkan hingga hari ini aku belum izinkan ketemu... Ini yang gua heran ada apa emang??...."
Lu curhat pada gua nggak salah nih??"tanyaku.
Yang enggak lah lu kan, orang S2 jadi sangat paham bagaimana menyelesaikan komplikasi permasalahan pada seseorang. Gua yakin lu tahu bagaimana cara memecahkan persoalan termasuk masalah bosan pribadi satu dengan yang lainnya.
Aku tercenung sebelumnya aku sendiri yang menjadi sumber masalah Fathin. Bagaimana kalau aku tahu yang menjadi sumbernya, bisa berabe nantinya.
Maka aku juga was-was ketika Fatin bangkit dari bednya. Ya yang biasa berkerudung sekarang tampak telanjang kepala.
Aku melihat Fatin ternyata memiliki paras yang tidak kalah dengan mahasiswi cantik di kelasku.
Aku terkadang terpesona melihatmu kecantikan Fatin Dalam wujud aslinya. Tidak berhijab, karena saat itu untuk kepentingan medis.
__ADS_1
"Akang di sini dulu temenin Fathin... Aku udah nggak lama nggak ketemu akang, makan jangan sibuk terus luangkan deh waktu untuk aku!!...."
Fatin terlihat manja tangannya udah tidak sungkan-sungkan meraih tanganku dan meminta aku agar tidak pergi darinya.
Sebab bergetar juga diraih sama perempuan cantik seperti Fatin.
Aku merasa kelembutan tangan menyapa tanganku.
Aku membayangkan betapa indahnya, jika aku lakukan dengan Atalia.
Perempuan itu ternyata sangat berpayah-payah ingin mendapat kehangatan dari aku. Untuk seorang Athalia tidak harus seperti itu mendapat senyuman saja, aku sudah seperti mendapatkan dunia yang gemerlap dan indah penuh warna.
Justru batin saat imajinasikan aku hampir dia mengeluarkan semua properti miliknya. Fajar orang yang sedang kasmaran, bukan saja hampir mendekati kegilaan, bukan saja paranoid tapi bisa saja sampai mendekati skizofrenia.
Akal masih sedang ngelamun akan pacar kakak yang cantik itu? Aku sudah tahu kok akan punya pacar? Tapi aku tidak akan pernah pudar kecintaan aku terhadap akang.
Akan telah menyelamatkan keluargaku dari rasa malu yang demikian tinggi.
Sekarang sebagai rasa terima kasih, Aku ingin bersaing dengan pacar aku yang konon kabarnya cantiknya selangit. Tapi kata orang aku juga cantik Aku bisa bersaing dengan kekasih akang.
Fatin terus-menerus memegang tanganku dan mau sepi dengan lembut.
Meski mendapatkan advis dari perawat, Fathin tetep megang tanganku dengan berat.
"Tenang saja nona, semuanya dalam kondisi baik-baik saja. Hindari praduga itu!!
Semuanya kan baik-baik saja Apakah selama ini Fathin melihat aku bersama dengan perempuan!!..."
Perempuan itu geleng-geleng kepala, ya memang belum melihat aku bersama-sama dengan perempuan cantik.
Selama ini ya aku sana kemari sendirian saja.
__ADS_1
Sudah, nak ngapain kamu nahan-nahan pak Austin, Mungkin dia masih ada keperluan, namun banyak-banyaklah beristirahat jangan terlalu memikirkan yang berat-berat.
Insya Allah pak Austin nggak kemana-mana ia hanya sekarang minta izin untuk aktivitas di rumah atau di luar rumah seperti di kantor dan lain-lain jadi nggak hanya fokus padamu!!...."minta Ibu Ami sambil mengelus kepala anaknya, terlihat sangat sayang sekali perempuan itu pada anaknya yang telah terbaring sakit di atas Velbed.
Akhirnya aku diizinkan pulang meskipun tampak batin seperti mau menangis karena aku meninggalkan perempuan itu.
Kalau akang pulang jangan lupa baca WhatsApp Fathin yah jangan dibiarkan masalahnya akang jarang membaca novel akang..."
"Ya aku berharap akan bisa membalas WhatsApp kamu. Tapi karena kamu punya kesibukan maaf aja kebetulan kalau lagi buka HP dan aku mendengar broadcast dari hp-mu.
"Janjinya tidak akan lupa untuk terus menyalakan handphone dan melihat jangan-jangan ada WhatsApp dari kamu!!
Terima kasih sayangku engkau telah berkenan datang mengunjungi ku, kamu doakan aku agar pulang ke rumah sakit dan sehat."
"Sudahlah Nak kamu jangan terus ganggu Pa Austinmu, khawatir dia lagi ada urusan kamu kok nahan-nahan aja sedari tadi!!... "Bu Ami memperingatkan anaknya, agar aku bisa segera pulang.
Fathin segera dia melepaskan tangan aku dan aku bisa leluasa pamit pulang.
Aku ngeloyor keluar, diantar dengan tetapan mesra dan penuh makna dari Fathin.
Perempuan itu masa sebisa aku meninggalkannya. Demikian juga aku terasa berat, namun bagaimanapun aku harus berusaha mengembalikan perempuan itu kepada kekasihnya. Aku tidak boleh egois, sesuatu yang hanya bersifat sementara jangan kemudian aku mengambil kesimpulan bahwa Fatin adalah untuk selamanya sebagai pendamping aku.
Sepanjang jalan pulang, aku terus membayangkan, wajah Fatin yang pucat pasi. Ia tambah demikian semuanya ketika aku datang.
Aku menarik napas panjang. Terasa berat memang meninggalkan perempuan dalam kondisi seperti itu. Kehadiran aku demikian sangat bermakna bagi dia.
Tapi bukankah kebatinan hanya merupakan kuda hitam dalam kehidupan asmaraku. Sebenarnya aku Tengah perindu berat pada seseorang yang jauh di sana sedang memperjuangkan dirinya sendiri.
Aku merasakan kehidupan yang sangat dilematis. Di satu sisi aku belum berumah tangga dan ada perempuan yang datang ya Pak sudah siap belum ada nggak dewasa cantik dan shalihah, sayang aku belum bisa menerima kehadirannya, selain Dia adalah kekasih temanku, Aku tengah berindu-berat pada seseorang yang nun jauh di sana.
Fathin memang tidak secantik Atalia, Ia sedikit berumur namun kedewasaan dia mampu mengubah image dalam menatap masa depan, tapi sekali lagi aku melihat dia adalah pacar temanku, dan aku sudah memperjuangkan seseorang yang aku nggak tahu, Apakah realitasnya dia mencintaiku atau sekedar hanya dalam angan saja.
__ADS_1
Bersambung****