
"Jangan pak please pak jangan aku mohon...kasihanilah aku..hiks...hiks!"teriak perempuan itu sambil tetap menghadap ke tembok.
aku mungkin penasaran saja aku berapa kali mengantarkan statement, seolah aku meminta pertanggungjawaban atas uang yang sudah aku keluarkan.
"lho kok begini?? Bagaimana dengan uangku yang sudah dikeluarkan, enak saja, uang diterima tapi pelayanan buruk begini!"
"Popoknya aku nggak mau melayani, Kalau kau berani menyentuh aku akan menusukkan batik ini perutku...!!"
Ancam Fatin sambil mengurus badik yang sangat tajam sekali. ternyata ia dari luar sudah membawa badik itu.
Aku sempat panik, aku berapa kali pertimbangkan untuk menyentuh perempuan itu. Walaupun hanya sekedar untuk menguji keteguhan hati perempuan itu.
Emang ternyata batin tidak main-main di hampir menusukkan badik itu ke perutnya. Aku menghentikan aktivitasku dan aku menyalakan lampu.
Fatin memejamkan mata. Ia menangis sejadi-jadinya. Ia minta aku untuk mengembalikan dirinya ke rumah orang tuanya.
Ia udah janji akan mengembalikan seluruh uang yang telah aku bayarkan kepada Sang Mami.
"Bapak bawa aku pulang dan aku akan meminta kepada orang tuaku untuk membayar tiga kali dan sampai 4 kali lipat. Aku paham Bapak orang baik!!..."
Perempuan itu terus merujuk-rajuk agar aku mengantarkan dirinya ke orang tuanya.
Batin dalam kondisi diam, fotonya tutup merem dia tidak mau memperhatikan sekitarnya.
Di sini aku yakin bahwa perempuan itu memang terjebak dalam keputusan-asaan.
Di sini aku mulai galau, Apakah aku mempertahankan Natalia atau aku juga harus mempertimbangkan nasib perempuan ini.
Keputusanku jatuhnya pada kemanusiaan, aku tidak boleh Fatin terjerumus Dalam menjelang kehilangan harus tampil menjadi seorang laki-laki.
Perasaan perkembangan dan kebijaksanaan inilah yang akhirnya aku ambil. Jika pun kerinduan kulepaskan di sini aku sudah tidak memiliki daya lagi.
Aku tidak ingin kehilangan perempuan ini. Keteguhan jiwanya dan mempertahankan keabadian cintanya membuat aku luluh.
"Fatin saat ini juga aku akan mengantarkan dirimu ke orang tuamu tanpa harus membayar sepeserpun..."ucapku dengan tutur kata yang sangat lembut sekali.
Fatin membukakan mata ia seperti kenal dengan suara yang terdengar beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Tatkala yang membukakan mata, dampak seorang pemuda yang tampan yang menjadi impian dan menjadi pujaan hatinya. Fathin yang melihat laki-laki yang dihadapinya ini adalah laki-laki pujaannya.
Seketika ia lemas, Namun sebagai wanita kuat dia menyadari, bahwa dirinya sekarang bukan seorang Fatin yang dulu, sarjana ekonomi. Dikagumi banyak orang karena bisa menjaga Marwah.
Rasa malu yang demikian sangat, membuat perempuan ini menjadi tambah binal. Sejak tadi iya me menyelimuti dadanya dengan kedua belah tangannya. Saat merasa dirinya sudah merasa bukan seorang perempuan yang baik-baik lagi.
Ia membuka dan melepaskan tangannya sehingga tampak dengan jelas ornamen dirinya yang paling ia ditutup-tutupi.
"Sanes akang teh bade ngabooking abdi, teu cios da uih teh. Wios teu Kedah diuihkeun deui artosna. Wios Bade ku bobo wae..."
Ucapannya mendadak binal.
Maksudnya yang membatalkan untuk diantar pulang ke rumah orang tuanya, dan minta uang bookingan agar tetap jangan ditarik lagi, dan dirinya siap menemani untuk mendapatkan kerinduan laki-laki ini.
Ia kemudian mendekati ke dekat cermin dan dia berhias cantik mungkin.
Ia lantas mengeluarkan beberapa make up di kantungnya yang sejak tadi ia tenteng.
Saat saya bercermin tanpa Fatin makin kinclong. Aku belum lihat kondisi batin sudah berbedak dan berlipstik serta ber-makeup dengan sempurna.
Justru aku melihat rasa cinta di dunia yang mampu mengalahkan segalanya termasuk menghancurkan dan merusak harga dirinya sendiri.
"Akang hayu atuh, saurna akang bade nyacapkeun ka sono wengi ieu...? Hayu atuh akang, apan akang mah ganteng...!!"kembali hadir merayu dalam bahasa lokal daerah, yaitu bahasa Sunda yang apabila diterjemahkan seperti ini, yang minta agar aku untuk menyempurnakan kecintaannya.
Aku tidak bisa memprediksi, misi sekarang jadi sebaliknya apabila aku tidak melakukan penyelamatan Aku khawatir badik yang terbungkus dalam tas kecil itu akan berbicara.
Aku sungguh sangat terdesak sekarang. Satu kata apakah aku mempertahankan kecintaanku terhadap material untuk tidak menyentuh perempuan ini, atau Aku kehilangan Fatin untuk selama-lamanya.
Perempuan ini sekarang yang menjadi pemenang. Gara-gara aku terlalu gegabah untuk mendapatkan perempuan ini kembali demi tugas penyelamatan.
Malah akhirnya aku yang terjebak, kucing merengek-krengek minta disempurnakan, ya beberapa kali hendak meroboh sesuatu di kantong kecilnya.
"Ya udah pasti akan tidak mencintaiku, buat apa aku hidup di dunia ini tanpa lelaki yang aku cintai tapi tidak mencintaiku."curhatnya sambil merubah benda kecil.
Aku segera melakukan penyelamatan, aku beberapa kali meminta bantuan doa orang tuaku, supaya aku diberikan kemudahan.
Ini adalah penyelamatan yang kedua setelah pertama kali aku menyelamatkan perempuan itu dari nafsu muter-mudahan perempuan itu.
__ADS_1
Aku dengan gagah berani mendorong tubuhmu langsing ke sofa itu sambil betul-betul terjerembab.
Kepalanya terlentang, rambutnya mencintai menutupi kaki sofa. Sungguh pemandangan yang sangat luar biasa indahnya.
Aku seperti benar-benar seperti dilanda libido yang luar biasa.
Padahal sebenarnya untuk menjauhkan tangan perempuan itu dari kantung yang seharga 20 juta itu yang isinya adalah benda tajam yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan perempuan itu.
"Bukan dengan caranya seperti itu kau mencintaiku, Aku tidak mau menghancurkan dirimu... Kau sungguh melakukan tindakan yang salah Fatin... Aku benar-benar kecewa dengan caramu seperti ini...!"ucapku sambil memeluk tubuh mungil itu.
Bau wangi gesekan tangan Fatin membuat aku nyaris lupa bahwa diriku sedang diuji.
Aku membayangkan di depanku Athalia tengah menangis tersedu.
Semua karena pengkhianatan aku. Aku benar-benar merasa sebagai pengkhianat. Yang di depanku ini adalah sosok juga yang harus mendapatkan penyelamatan.
Aku tidak tahu siapa, aku tidak tahu sebagaimana? Aku hanya sepercik air yang tumbuh dalam daun.
Aku benar-benar sangat bingung, Apakah aku menyudahi asa dan kerinduan ini yang aku tumpahkan pada perempuan ini.
Sebuah dilema yang luar biasa beratnya, namun aku harus jalani.
Aku sudah tidak mau mempertimbangkan kembali bagaimana kisahku selanjutnya.
Aku hanya berusaha untuk tidak memperdulikan lagi keadaan sekelilingku.
I don't want to change her pink into the blue, I'm very sorry to heard her wish against me of love..."ujarku dalam bahasa Inggris mungkin maksudnya adalah Saya akan mengubah Fatin yang bahagia menjadi dukanya, saya sangat kasian mendengar keinginannya terhadap saya tentang cinta.
Aku hanya mengelus rambut perempuan itu sambil aku bahu perempuan itu.
Aku berbisik di telinganya. "aku saat ini masih belum mendapatkan jodoh, jika memang siapapun bisa bersama-sama, "tambah aku semata-mata untuk membesarkan nya.
Perempuan itu tahu bahwa dirinya hanya serpihan dari kasih laki-laki itu. Namun dia merasa sangat bahagia berada dalam pelukannya.
Hanya menikmati kedekatan dengan laki-laki itu merupakan suatu yang sangat membahagiakan bagi dirinya.
Bersambung****
__ADS_1