
"Mama menyadari bahwa semua tidak ada yang instan anakku, kamu banyak berdoa dan berusaha.
banyak peribahasa mengatakan bahwa jodoh itu bisa didapat dengan yang mudah, Mungkinkah itu isapan jempol semata.
Banyak berusaha, dan terutama banyakin juga berdoa kepada Yang maha kuasa, agar kamu diberikan kemudahan.
Mama sudah sangat setuju jika kamu mencari yang sudah matang, agar tidak menyusahkan saat dalam pembinaannya.. tidak banyak dan tidak susah lagi, dalam melakukan pendidikannya.
Sudah mama pilihkan, Sudah susah payah Mama lakukan pendekatan pada Fatin, agar dia mau menjadi bagian dari kita. Hanya Kenapa kamu di semalam abaikan kehendak mama.
Sudah kamu berusaha untuk mencari yang terbaik merupakan wanita pilihan yang mungkin bisa dijadikan bagian dari kehidupan kamu.
Mau cari apa lagi sih hidup ini tidak mudah membawa seperti membalikan tangan, proposal Islam yang terpenting adalah tidak semua keinginan itu adalah yang terbaik. justru kita harus mendengarkan kanan kiri dan siapa saja yang bisa diajak bicara itu semuanya dalam memenuhi kemudahan dan demi kebaikan kamu..."ucap mama aku sambil tidak berhenti menjahit pakaian yang masih dianggap layak.
Aku berpikir Apakah memang seperti itu? Aku sangat menyayangi ibuku akan tetapi aku tidak bisa dilakukan dikte, Aku memiliki pilihan sendiri karena yang rumah tangga dilakukan orang lain melainkan aku sendiri.
Aku menghempaskan badanku di kasur aku pegang kepalaku dan aku tepuk-tepuk berapa kali berasa sangat pusing sekali.
Kenapa kehidupanku belum juga belum bahagia, Apakah memang aku terlahir menderita seperti ini, dan kenapa aku tidak bisa mengadopsi pemikiran nama yang sangat berlian itu. justru aku lebih mencari dan menghadapi hal yang di luar nalar aku
inilah yang terus kami gali pemikiran-pemikiran yang sangat tidak rasional yang pada akhirnya membuat aku stak seperti ini.
Mama pikir kamu coba berhenti berhalusinasi, kamu tuh sebelah usia di atas 40 tahun kamu harus sudah memikirkan hal-hal yang sangat realistis yang telah hadirmu yang sudah menikah apakah kamu tidak kasihan pada dirimu sendiri..."Mama ternyata mengikuti dari belakang yang mengusap-ngusap dengan dengan penuh kasih.
aku terpukul aku merasa bingung. aku merasa menjadi bagian yang tidak penting dalam hidup ini.
betul kata mamaku bawa aku ini udah berkepala empat sementara adik-adik aku juga sudah mau melahirkan anak-anaknya sedangkan aku masih tetap seperti ini. mamah memang benar ia sangat kasihan padaku dan siapa yang peduli terhadap diriku sendiri, kecuali aku sendiri. tapi kenapa aku maafkan semua itu Aku tidak mendengarkan kanan kiri, pada mereka merasa sudah sangat jenuh melihat aku seperti ini.
__ADS_1
"Nak!"
"Ya, Mah."
kamu dengar Mama?
"Iya Mah aku dengar?"
"Mau mendengar Mama?
"Mama, aku mau! Kamu kasihan sama mama.
Aku tidak berkata aku hanya,. aku menganggukkan kepalaku.
Sekarang temui Fatin bahwa dia ke Mama katanya kamu mencintai dan menyenangi mama, menyayangi mama dan akan berbuat segala sesuatu demi mama.
Dia cantik, dia sarjana ekonomi, Dia perempuan yang sangat matang, dari keluarga baik-baik kenapa sih aku tidak mempertimbangkan untuk menikahi dia saja.
Makan keluargaku termasuk Mamaku sudah sangat setuju Aku menikah dengan perempuan itu.
Tapi kenapa aku malah mendiamkannya justru aku berpikir hal-hal yang sangat tradisional mencintai anak ingusan yang di hari ini aku tidak tahu di mana dia?
Aku mah bukan kepala aku bersedia apa yang mau perintahkan untuk mencari keberadaan Fatin yang saat ini tidak diketahui juga di mana keberadaannya.
ia katanya ikut sama bibinya di luar kota tapi aku tahu di mana luar kotanya aku berkoordinasi dengan Boim barangkali dia tahu?
Ya sudahlah aku harus mengikuti perintah Mama apapun yang terjadi walaupun tidak bertentangan dengan hati nurani aku.
__ADS_1
Aku sih tidak bisa bantu kamu sekarang ini kamu terlalu lembek kamu tidur mengikuti hawa nafsu diri kamu sendiri, juga sudah seperti ini kan susah di mana nyari dia aku juga nggak tahu aku suka tanya tanya sama tantenya tapi nggak hari ini aku belum dapat jawaban.."jelas kawanku yang selalu setia menemani aku Boim.
Tapi kan kamu bantu aku?"aku bertanya pada laki-laki yang sudah jadi sahabat. aku tetap laki-laki itu dengan penuh serius. aku memang sering mengecewakan laki-laki itu. berkali-kali Dia mengingatkan agar aku tidak terlalu musik rasingan menikahi anaknya Bos perusahaanku.
Tapi bukankah untuk menikahi Natalia banyak anak dan durinya banyak berliku dan tentunya makin bersifat halusinasi saja.
"sulit untuk bantu lu lagi, lagian Fatin juga sudah sangat menderita Ya sudah berbulan-bulan kemajuan seolah-olah dia tidak merasakan bahwa kamu butuh dia?
perempuan itu peka men jadi tolong jangan pikirkan setelah kamu, jika sudah seperti ini kan susah dia pergi semata-mata untuk menenangkan dirinya karena ia merasakan dan bertemu dengan orang-orang yang tepat malah justru ia terabaikan.
Boim Terus membombardir aku agar aku jalan on the track. berat rasanya aku ketika aku harus menentukan apakah aku tetap berada dalam kemunafikan mencintai Fatin padahal yang sebenarnya dari lubuk hati yang paling dalam bukan ke sana hatiku Berujung.
sudahlah aku bilang, kamu jangan menyebut dirimu sendiri kalau memang senang padahal anak ingusan itu ya kejarlah dia sampai dapat. adik lo akan menyesal kalau lu berubah pikiran sekarang gua pikir lu harus kejar aja si Athalia itu
apalagi lo konon kabarnya Sudah dapat bertemu dan sudah saling mengungkapkan rasa. Kenapa tidak di follow up saja?
aku melihat ini ada persoalan padamu, aku merasa ada sesuatu yang harus kamu perbaiki dalam hidup, kupikir kau harus mengupgrade pikiranmu yang justru sangat terjauh dari hal-hal yang menyangkut sesuatu yang sangat realistis.
aku terdiam Baim benar juga ya harus memikirkan suku tenaga tapi aku yang dipikirkan bahwa ini malah santai-santai saja.
Rasa-rasanya aku harus betul-betul maaf cara berfikir ku agar bisa jalan dalam menanggapi persoalan. nampaknya aku bagaikan komputer yang lemot saja, lihat persoalan justru malah banyak befikirnya daripada bergerak dan berbuatnya.
Okelah aku akan cari Fatin dulu ini untuk langkah awal aku udah lama gak perjuangan mencari Cinta dan mencari penghidupan Untuk bisa dapat berumah tangga.
Aku nggak paham dengan siapa Aku sebelum matanya? betulkah kamu bahwa hidup ini sangat realistis tidak hanya mengandalkan rasionalisasi saja dan mengedepankan hanya urusan hati saja.
Bersambung****
__ADS_1