Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku

Ternyata Istriku Anak Bos Perusahaanku
Gadis Manis Bertopeng Badut Menggemaskan


__ADS_3

Misiku mencari Athalia, Sang Pengamen badut cantik itu terus berlangsung.


Targetku kali ini adalah Mbak Warteg, ia ternyata yang mengetahui persis siapa dan dimana Athalia berada.


Bahkan untuk sang Intelijen itu aku sampai merogoh uang yang tidak kecil jumlahnya.


"Pokoknya Aden, lurus di jalan raya ini, sepanjang 400 Meter nanti Aden akan menemukan peralatan lampu merah, nah sebelumnya sebelah kiri ada gang sempit.


Aden masuk saja, ada tempat mirip kandang ayam yang hanya dilindungi bekas-bekas Baligo.


Disanalah Athalia. Dia akan bersama Nila sahabat ngamennya. Kalau Nila memang sudah bersuami."ujar Mbak Warteg sambil berterima kasih atas kebaikan aku.


Aku mengikuti arah sebagaimana yang diperintahkan si ibu, dan akhirnya aku dapat menemukan Athalia.


Dengan diketemukannya tempat mangkalnya Athalia, aku lebih leluasa mengintip perempuan itu dalam kesehariannya.


Termasuk dia dalam mengganti kostum. Aku sampai mengintip hingga ia kegerahan membuka sebagian dari badannya.


Tidak salah, aku melihat wajah putih mulus, dengan bagian tubuh yang masih ranum.


Dan aku dapat menyaksikan Athalia membuka bra-nya. Tampak benda lunak yang tampak sudah sedikit terbuka dan ia bergumam.


"Aa yang ngasih Atha yang 10.000, bisa nggak sedikit faham bahwa wanita tidak mungkin nyosor duluan.


"Maafkan Atha yang sedikit kasar terhadap Aa. Padahal sebenarnya semua yang Atha punya kan untuk Aa tercinta.


Atha nggak sanggup hidup tanpa kehadiran Aa disamping Atha.


Semua yang Atha lakukan demi engkau wahai perjakaku. Tuh aku punya ini, kan untuk Aa!!...."ucap Athalia sambil kembali menarik resleting bajunya.


Ia kembali meraba-raba dan kembali bergumam. "Pasti Aa saat ini tengah ngelamunin Teteh...aku juga sama.. Aa.


Tapi Teteh harus kerja keras dapatkan sesuap nasi...semata untuk kebersamaan kita A nanti. "celotehnya menggemaskan.


Aku mau lihat sebuah realitas dari kelopak mata bening keluar cairan yang mengaliri pipi.


Jadi harus kerja keras, kita tidak bisa hanya sekedar nyantai-nyantai terus hidup ini tidak bisa teteh nikmati dengan kemanjaan. Seandainya Teteh berada di singgasana indah keluarga mungkin tidak seperti ini.

__ADS_1


Tapi ya sudahlah teteh sekarang berada di sini. Jadi harus menghalau kehidupan yang tidak mudah untuk teteh jejaki kecuali dengan susah payah...


Ya bangkit tapi masih terlihat dari matanya merah di pipinya nggak usah dengan punggung tangannya karena tidak ada lagi tissue untuk menyusun air matanya.


Dia berjalan menuju tempat persalinan dan kembali muncul dengan ornamen badut lucu.


Aku segera bersembunyi di balik pintu yang Sudah usang. Sehingga tidak kehadiranku tidak terdeteksi oleh topeng badut yang sedang berjalan menuju Prapatan Jalan untuk kembali mengais rezeki.


Aku pulang dengan gontai, separuh dari jiwaku hilang, aku beberapa kali mengusap muka, aku tidak sanggup melihat wajah bening dan beberapa ornamen perempuan yang sempat terlihat.


Aku melihat perempuan itu sangat dahaga. Ia dewasa di usianya yang berarti pubertas.


Dia sudah merasa berbantas ke rumah tangga, padahal dari ornamen yang siap dilihatkan baru sebatas seorang wanita yang baru menginjak remaja.


Namun dia merasa pede untuk mempersembahkan sesuatu pada bakal suaminya nanti. Padahal Ia masih di relatif di usia bermain.


Tapi demikianlah hidup yang telah menggerus keremajaannya membuat Athalia dewasa sebelum waktunya.


Aku melihat Athalia menggelinjang hebat sambil membayangkan kehadiranku ada dalam pelukannya.


Aku bercermin dampak rumahku yang kelebihan dari yang lain. Aku tidak percaya kata dia sangat cantik yang aku temui di Prapatan lampu merah itu ternyata benar-benar menggilai aku.


"Ah Athalia, tidak kau harus seperti itu, Aku adalah video saya sudah sangat siap untuk rumah tangga yang memenuhi asa dan pelepasanmu.


Kok sebelumnya belum pantas menjejaki itu semua. Namun karena beban hidup dan seringnya kau bergaul dengan orang-orang yang sudah dewasa sehingga rumah tangga sebelum waktu nya.


Aku tahu semua yang kau lakukan bukan karena kebiasaanmu, tapi karena kalau tidak tahan menghadapi penderitaan hidup yang membuatku menyeret pada kehidupan yang dewasa.


Dan pertahanan kini adalah semata-mata untuk mempertahankan kemandirian, bahwa nanti kelak akan bertemu dengan aku dalam biduk yang benar-benar dilandasi rasa cinta.


\*\*\*\*


Hari ini aku kedatangan Boim. Ya mintaku untuk bertemu dengan Fatin. Batin katanya sakit udah tiga hari.


Berat rasanya aku untuk menemui perempuan itu, Baim mestinya paham, bahwa sebenarnya aku hanya joki untuk Fatin.


Fatin punya Fikri yang hari ini juga sudah sampai di rumahnya. Kenapa sampai ditunda-tunda pertemuannya. Coba kasih Fatin adalah Fikri kenapa malah aku yang kena getah nya.

__ADS_1


Dan Kenapa juga mamaku yang sepertinya udah nempel banget sama perempuan itu.


Aku kadang kasihan sama Fatin bro, Dia nanyain lu terus, gua bilang lu masih ada kerja lembur di kantor jadi belum buru-buru ke sini!!...."


Aku berdiam tidak bisa menyahut dan merespon kata-kata Boim. Kenapa sih laki-laki itu terus memunculkan aku seolah-olah aku benar sebagai kekasih Fathin. Usul itu kan sederhana hanya joken saja nanti kalau sudah pulang Ya udah kembali lagi ke Fikri.


Iya deh pokoknya sore ini aku datang ke rumah Fatin untuk jenguk dia, tapi aku nggak berjanji lama-lama kan aku ada masih urusan di kantor..."ucapku sambil membongkar tasku.


Aku mau ngambil segepok uang, dimasukkan ke amplop aku serahkan ke Boim.


"Lu bawa ini uang sampein ke orang tua Fatin untuk sekedar berobat sadarnya aja, untuk lu nanti gua transfer kembali, gua nggak punya uang tunai..."


Aku merasakan betapa sangat tereuhnya hati ini. Aku memang kasihan pada Fatin. Perempuan itu mengharapkan aku untuk bisa mendapatkan cintaku.


Dan diharapkan buru-buru aku melamar dia secara resmi.


Lagi bukan aku tidak mau, rajinlah sarjana ekonomi matang siap kerja dan siap menjadi ibu rumah tangga.


Hanya tahukah dia bahwa sebenarnya aku hingga saat ini bisa terpaut pada perempuan mungil yang aku temui di lampu Merah Prapatan Jalan itu.


Sore harinya aku datang ke rumah Fatin.


Kedatangan ke rumah Fatin bersama mamaku. Mama betapa bahagia melihat aku mau menjenguk batin.


Yang membawakan mobil termahal waktu itu untuk melihat bahwa aku adalah orang berada di depan keluarga Fatin.


"Mama aku bawakan ini oleh-oleh itu Om papanya anak-anak kan pulang dari Singapura dia bawa oleh-oleh.


"Tadinya mau langsung bapaknya ke sini kan Tapi karena bapaknya masih ada urusan bisnis dengan rekannya paling mengutus kamu sama Austin saja ke sini..."


Aku kadang merasa risih ketika Mama selalu memamerkan kekayaan di hadapan keluarga besar fatin. Apa sih yang sebenarnya Mama banggakan dari kondisiku yang tidak seharusnya aku ungkapkan malu rasanya.


"Aduh ini hebat sekali, ada cenderamatanya ada kado-kadonya untuk Fatin. Ada kalung wah terima kasih mama atas pemberiannya. Padahal nggak usah segini segini banget... sebaliknya kami belum bisa memberikan sesuatu pada keluarga mama!!...."Ibu Ami tanpa rikuh melihat apa yang Mama bawa.


"oh nggak apa-apa yang terpenting Fathin segera sembuh..."jawab Mama sambil mengelus Fathin


yang tengah terbaring dengan lemah.

__ADS_1


Bersambung****


.


__ADS_2