
Hari ini tepat pernikahan ratu dengan sang adik ipar.Ya di pernikahannya kali ini,ratu merasa sangat tidak bahagia karena harus dipaksa menikah dengan pria lain yang masih ada hubungan darah dengan mantan suaminya,yaitu Jerobi Mahardhika,atau yang biasa disapa Robi.
Dan kini sekarang statusnya sudah sah menjafi istri adik iparnya.yaitu Jendrama Mahardhika atau pria yang biasa disapa Jendra.
Ratu terlihat masih sesenggukan didalam kamarnya,usai prosesi Ijab Qabul.tubuhnya kini seakan terasa lemas,duduk diatas ranjang kingsize yang sudah disediakan untuk malam pengantinnya bersama sang adik ipar,yang kini sudah berubah status menjadi suami sahnya.
Hati Ratu seakan seperti disayat sayat dan tercabik cabik,karena harus dipaksa oleh keadaan menerima pernikahan yang sama sekali tak diinginkannya.hanya karena tuntutan memberikan keturunan dikeluarga mahardhika.
Bahkan suaminya sendiri Robi,tega menceraikannya lalu memaksanya menikahi adik iparnya sendiri.karena semenjak robi divonis dokter mandul dan tidak bisa memberikan keturunan,maka disitulah awal kemelut rumah tangga robi dan ratu bermula.belum lagi desakan para orang tua yang sama sama menuntut keturunan,maka ratu harus bercerai dari robi lalu menikah dengan adik iparnya yang karakternya lebih dingin dari robi.dan supaya garis keturunan keluarga mereka tidak terpecah belah.
Dan mau tidak mau,ratu harus bersedia dinikahkan oleh jendra adik dari robi yang lahir dari rahim istri kedua papa mertuannya,karena sang papa mertua Joni Mahardhika mempunyai dua istri yang tinggal satu atap dan hidup dengan damai.
" Hapus air matamu!,percuma buang buang air mata nggak berguna,terima saja karena disini kita sama sama jadi korban." Ujar jendra yang baru saja menyembul dibalik pintu lalu masuk dan menutup kembali pintu kamar,setelah itu dilepaskannya jas miliknya ditaruh disisi ranjang,lalu berangsur duduk disamping ratu yang masih sesenggukan dengan isak tangisnya.
" Kamu nggak paham bagaimana perasaanku jen!."Keluhnya sambil mengusap air matanya dengan kasar karena menahan kesal.
" Kau sendiri paham nggak apa yang aku rasain sekarang.?" Cetus Jendra yang mulai ikut menahan kesal."kau pikir aku senang dengan pernikahan ini!,disini kita hanya dituntut memberikan mereka keturunan dan melahirkan seoarang anak! bukan untuk saling mencintai,seharusnya kamu juga paham itu Rat,karena kita bisa melakukan itu tanpa harus dengan cinta,jadi kamu nggak usah terlalu baper!."sambung jendra,lalu menarik tangan wanita itu supaya berhadapan dengannya,lalu ditatapnya lekat lekat mata sembab milik Ratu.
" Aku nggak ngerti kenapa semua orang begitu kejam padaku,bahkan suamiku sendiri robi tega menceraikanku lalu menyuruhku menikah dengan pria lain demi mendapat keturunan,padahal sebenarnya kita bisa saja kan adopsi anak,lalu hidup bahagia bersama,tapi kenapa dia begitu tega padaku,sedangkal itukah rasa cintanya padaku,padahal aku sangat mencintainya..." ujarnya lirih." Arggggghhhh..." Sambungnya lagi menggeram kesal dan ingin menjambak ratu sanggulnya yang masih rapi,namun segera ditahan oleh jendra.
" Kamu tidak perlu menyakiti dirimu sendiri!,karena aku sudah tahu semuanya,kamu sendiri pun juga sudah tau kan kalau aku sudah memiliki Tania tunanganku,jadi nanti kita bisa bercerai setelah kamu mendapatkan anak,Okey." Tuturnya dengan lembut.sambil mengusap pipi Ratu.
Sesaat Ratu tertegun mendapat perlakuan lembut dari jendra,pria yang usianya lebih tua setahun darinya dan lebih muda tiga tahun dari mantan suaminya.dia pun membalas tatapan pria berwajah tampan tersebut.dengan pahatan wajah yang nyaris sempurna,berkulit bersih hidung yang mancung,alis hitam tebal serta dengan rahang yang sangat kokoh,membuatnya tidak bisa menampik ketampanan suaminya.sekilas wajah jendra memang mirip dengan jerobi mantan suaminya,yang membedakan hanya beberapa bagian saja karena tubuh jendrama lebih tinggi dan atletis dibanding jerobi kakaknya,karena mereka memang terlahir dari ibu yang berbeda meski satu ayah.namun meski begitu tetap ada kemiripan diwajah mereka.
" Kamu sudah siap.?" Tanya jendra dengan lembut
Perlahan Ratu menganggukan kepalanya,lalu mulai merasakan tangan kokoh jendra sudah menjalar ditengkuknya.sesaat tubuh ratu merasa tegang,ketika mendapat sentuhan sentuhan lembut dari jendra.sedangkan jendra kini pandangannya mulai menatap pada bibir indah milik Ratu,terlihat sangat menggoda,entah kenapa ada sesuatu yang mendorongnya untuk merasakan keindahan dan kelembutan bibir itu.akan tetapi saat jendra akan menyentuh bibir itu,Ratu pun dengan cepat menahannya,sehingga tatapan mereka saling terkunci dan tertahan satu sama lain
" Jen,bisa nggak kita melakukannya tanpa harus berciuman?bukankah tugas kita hanya membuat anak saja,bukan untuk saling menyenangkan hasrat kita berdua masing masing kan.?" tanya ratu dengan sangat hati hati sambil menatap lekat mata jendra.
Jendra pun menarik nafasnya dalam dalam,suasana kamar pengantin yang dipenuhi dengam aroma bunga mawar yang begitu harum,seakan membuat jendra lupa akan janjinya.membuatnya seakan hanyut dalam suasana malam ini.
Jendra pun akhirnya lekas bangkit dan berdiri lalu melecuti pakaiannya sendiri hingga polos.diikuti dengan ratu yang melakukan hal yang sama.karena dia juga tidak ingin menggunakan waktunya berlama lama dengan jendra.bukankah lebih cepat lebih baik,pikir ratu.dia juga tidak perlu canggung untuk berpura pura jadi wanita sok jaim.bukankah dia sendiri sudah pernah menikah,tentunya ini bukan hal baru olehnya.jadi seharusnya hal seperti ini sangat biasa baginya.
Kedua mata Jendra melongo,dan tertegun saat melihat polos tubuh milik Ratu.kemolekan tubuh ratu yang terlihat sempurna membuat jendra berulang kali menelan salivanya dengan susah payah.dia pun tanpa berkedip melihat keindahan tubuh ratu yang terpampan jelas dihadapannya.
__ADS_1
" Ayo jen,tunggu apa lagi.cepetan!."Geram Ratu melihat jendra yang masih terus terdiam dan tak bergeming menatapnya."Apa tubuhku kurang menarik?hingga buat kamu nggak nafsu?atau kamunya yang nggak bisa main?"Cercanya menahan kesal melihat jendra yang sedari tadi tak bergeming menatapnya.
" Jen.." panggilnya lagi
" Ehemm...." Jendra berdehem menetralkan dirinya namun tetap saja gugup." A akuuuu..." sambungnya
Melihat tingkah jendra yang terkesan gugup dan lambat,membuat Ratu gemas dan tidak sabaran.dia pun langsung menarik lengan tangan jendra,hingga pria itu jatuh tepat diatas tubuhnya.lagi lagi pandangan mata mereka bertemu,namun ratu bersikap seolah olah acuh padanya." Buruan jen.!"
Jendra kembali meringis merasakan kepalanya yang terasa amat pening.sebisa mungkin dia menahan hasratnya supaya tak keblabasan melihat dada milik ratu yang terlihat dan sangat menggoda itu.meski statusnya kini sudah sah menjadi suami ratu,namun dia tidak boleh menyentuh diluar batas seperti perjanjian diawal yang sudah mereka tetapkan dengan menyentuh bagian lainya,hal itu sangat menyiksa dan membuatnya menderita.
Sedangkan Ratu yang sedari tadi kesal,kini dia pun mulai tak sabaran yang hanya berdiam diri dan terus menatapnya saja. dia pun menggulingkan tubuh jendra dan mengambil alih kendali untuk memulai permainannya supaya cepat cepat berakhir.
Dan hanya dalak waktu hitungan menit saja,mereka berdua kini sudah mulai dikuasai hasrat masing masing.sehingga lupa batasan batasan mereka ciptakan sendiri sebelumnya.setelah keduanya sudah saling pelepasan satu sama lain,Ratu pun terlihat lega sekaligus merasakan tubuhnya lemas,karena merasakan ada sebuah cairan yang perlahan masuk ke daerah keintimannya.dia pun berharap ini adalah pertama dan terakhir kalinya dia melakukannya bersama jendra,serta berharap setelah ini bisa segera hamil.sehingga dia tak perlu mengulanginya kembali.karena menurutnya saat ini dia dalam masa subur dan kemungkinan besar dia segera hamil.
Sedangkan jendra,terlihat kini menelentangkan tubuhnya disamping ratu,dengan nafas yang masih sedikit memburu.lalu dia menoleh kearah wanita yang dulu pernah jadi kakak iparnya,dan sekarang dalam waktu sekejap sudah berubah status menjadi istri sahnya.dia sadar betul wanita itu menjadi istrinya tujuannya hanya untuk memiliki keturunan saja,bukan atas dasar saling mencintai satu sama lain.
Melihat Ratu bangkit dari atas ranjang,membuatnya jendra bertanya sambil menautkan alis hitam tebalnya." mau kemana kamu?" tanyanya dengan suara beratnya
" Balik ke kamarku." jawab ratu dengan acuh,sambil mengenakan piyama tidur yang sebelumnya dia bawa untuk baju ganti.lalu membiarkan gaun pengantinya tergeletak diatas lantai begitu saja.
"Why?kenapa jen,ada yang salah memangnya?" tanya ratu tak terima
Jendra pun ikut bangkit lalu memakai piyama tidurnya,dia pun melangkah mendekat kearah ratu dan membuat ratu sedikit kebingungan.
" Dirumah Keluarga mahardhika,kamarmu sama dengan Robi,dan kamu tidak punya kamar sendiri disini." tutur jendra sambil terus mengikis jarak diantara mereka membuat ratu salah tingkah dan gugup.namun sebisa mungkin Ratu berusaha tak takut dan terlihat angkuh karena tidak mau dianggap mudah baper oleh pria yang ada dihadapannya ini.
" Lalu apa salahnya kalau aku tidur dikamar robi.?" saut ratu dengan wajah di tekuk.
" Kamu lupa kalau dia sekarang sudah jadi mantan suamimu,terus apa pantas kamu tidur bersamanya kembali,dengan status kalian sekarang?"
" Terus maumu apa sekarang?!" sahut ratu dengab kesal
" Kamu tetap tidur disini!."
" Tidur sama kamu gitu?" tunjuk ratu." Ogah." sambungnya dengan nada ketus,membuat jendra kembali menghela nafas
__ADS_1
" Dengar ya Rat,ku ingatkan kembali,saat ini akulah suamimu sekarang,apa kata orang tuaku jika kamu kembali kekamar robi dan tidur bersamanya,sungguh itu tidak pantas bukan." ujar jendra mencoba mengingatkan ratu kembali.
" Seharusnya kamu juga harus ingat jen,kalau keluargamu lah yang memaksaku melakukan hal gila seperti ini.!" sahut ratu tak mau kalah
" Papa dan mamamu juga menginginkan keturunan darimu rat.!"
" Nggak usah bawa bawa papa mamaku jen.!" ucap ratu dengan ketus,jujur karena dia sendiri pun tak bisa menolak permintaan papa mamanya sendiri.karena baginya permintaan mereka adalah hal.mutlak yang harus dipenuhi.termasuk bercerai dari suaminya dan menikah dengan adik ipar demi mendapatkan keturunan.
"Oke kalau begitu kamu harus tetap tidur disini,dan aku akan tidur di lantai."pinta jendra yang sebenarnya tidak ingin berdebat panjang dengan wanita canti dihadapannya.
" Tapi jen,pernikahan kita itu hanya sebatas untuk mendapatkan keturunan,bukan untuk saling mengikat dan saling memiliki satu sama lain,
seharusnya kita tidak saling mencampuri kehidupan kita masing masing,dan tidak mengatur privacy kita." tutur ratu dengan wajah memberengut kesal.
" Ya aku tau itu,tapi ijab kabul yang ku ucapkan tadi pagi itu asli bukan sandiwara.karena Aku sudah bersumpah dihadapan Tuhan.dan mulai detik itu juga kamu sudah menjadi tanggung jawabku,jadi selama kamu menjadi istriku kamu harus patuh dan nurut sama aku.!" Tutur jendra dengan tegas
" Kamu bener bener gila ya jen!,kamu lupa kalau kesepakatan kita awalnya nggak kayak gini.kita nikah tugasnya cuma bikin anak,bukan untuk berumah tangga.setelah aku berhasil hamil,kita bisa bercerai,jadi kamu jangan berharap coba coba mengaturku.!"Cetus ratu dengan kesal.terlihat dadanya naik turun karena menahan nafasnya mulai memburu karena kesal.berdebat dengan jendra membuatnya semakin emosi saja,karena jendra mulai melanggar kesepakatan sebelumnya yang sudah mereka buat.
Jendra pun menganggur dengaj ekspresi wajah datarnya." Ya aku tau itu,pernikahan kita memang untuk mendapatkan keturunan,tapi satu hal yang harus kamu ingat ratu,kalau pernikahan kita itu asli bukan palsu tapi ini pernikahan sungguhan.dan di mata Tuhan pernikahan itu hal yang sakral,bukan untuk main main!,dan saat ini akulah suami sahmu.!" ujar jendra dengan tegas,membuat bibir ratu mencebik seketika.
" Tapi kalau kamu tetap keukeh ingin pergi ke kamar Robi,pergilah!nanti aku tinggal bilang ke papamu jika putrinya masih tidur dengan mantan suaminya,meski sudah resmi sah menjadi istri seorang Jendrama Mahardhika.!" Kata jendra lagi membuat Ratu semakin mendengus kesal padanya.
" Huh dasar licik,sombong!." dengusnya menggeram kesal,akhirnys dia memilih merangkak kembali naik diatas ranjang kingsizenya,lalu menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut sambil membelakangi jendra yang diam diam mengulas senyum kecil melihat tingkah ratu yang menurutnya terlihat menggemaskan." Kalau begitu kau turunlah!,malam ini biarkan aku tidur dengan tenang." sambung ratu sambil memejamkan matanya dibawah selimut tebalnya.
" Baik kanjeng Ratu." ucap jendra dengan suara lembut namun terkesan mengejek ditelinga ratu,
membuatnya memutar bola matanya jengah.
" Hush hush sana." usir ratu membuat jendra terkekeh geli
Perlahan jendra mulai turun dari atas ranjang,bibirnya tak henti hentinya mengulas senyum kecil sambil menatap punggung milik istrinya.dia pun segera bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.setelah selesai dia pun kembali sambil membawa bad cover untuk dijadikan alas tidur diatas lantai.namun senyum dibibirnya terus saja mengembang.bayangan bayangan ratu yang tadi memberinya kenikmatan terus saja menghinggap dipikirannya.dia mengingat bagaimana tadi ratu melayaninya dengan sangan memuaskan.membuatnya nyaris lupa diri,jika hal semacam itu tidak boleh terjadi dalam perjanjian mereka.karena tujuan utama mereka hanya fokus bikin anak,bukan untuk saling memuaskan hasrat satu sama lain.
TBC
Happy reading
__ADS_1