
Kini tepat pukul tujuh malam, Ratu sudah berdiri didepan cermin kamarnya dengan gaun warna pink pastel bertabur gliter dengan hiasan bunga teratai mungil dibagian pinggangnya. dia kelihatan sangat cantik nan lembut mengenakan gaun pemberian jendra, sangat terlihat elegant didukung sekali dengaj bentuk kulitannya yang bersih dan body goals dirinya.
" Gimana, sudah siap.? " tanya jendra saat menghampiri Ratu,sorot mata elangnya tak jemu melihat aura kecantikan istrinya itu.
Ratu pun tersenyum dan menganggukan kepala. " Aku sangat jarang sekali menghadiri perjamuan bisnis seperti ini. Robi itu photographer bukan pebisnis sepertimu. " ujar ratu sambil menatap jendra yang tengah berdiri dibelakangnya lewat pantulan cermin." jadi dia tidak pernah membawaku ke tempat begitu berkelas seperti saat ini. aku khawatir akan mempermalukanmu nanti. " Jawab Ratu mengutarakan unek uneknya yang sedari tadi mengganjal
" Kamu itu sangat cantik, mana mungkin akan mempermalukanku. " Ujar jendra,lalu tersenyum sambil menjulurkan tangannya di wajah Ratu, dan mengusap lembut pipi Ratu.dia sedikit membuka genggaman tangan kirinya, ternyata terdapat sebuah liontin menggantung disana tepat didepan mata Ratu. " Kalung ini akan membuat penampilanmu semakin sempurna. " Sambung Jendra dengan suara Beratnya dan terus menatap manik mata Ratu.
Ratu pun dibuat tertegun olehnya, menatap kalung liontin yang begitu indah didepannya. Dia dan jendra hanya menjalani pernikahan kontrak sampai dia bisa melahirkan seorang anak. tapi kenapa sikap jendra semakin membuatnya tidak mengerti,pria ini memperlakukannya dengan sangat lembut dan istimewa. tentunya sangat romantis sekali.
Jendra tersenyum menata wajah Ratu yang sudah merona dibalik cermin. dia pun membuka kaitan kalung liontin ditangannya dan memasangkan di leher jenjang putih milik Ratu dengan perlahan. " Malam ini perjamuan bisnis penting, tentunya kamu harus terlihat elegant dan berkelas.jadi jangan menolak barang yang ku berikan untukmu. " Bisik Jendra tepat ditelinga Ratu
Ratu pun tersenyum lalu menyentuh kalung liontin mungil dengan berbentuk hati dengan berlian ditengahnya. " Tapi ini terlalu mahal untukku jen, nanti selepas acara perjamuan aku akan kembalikan lagi ke kamu. " Ucapnya
" Nggak perlu!.aku tidak akan pernah mengambil barang yang telah ku berikan pada orang lain. maka anggap saja ini sebagai tanda terimakasihku karena kamu sudah bersedia menemaniku ke perjamuan bisnis. " Tutur jendra dengan lembut. lalu menyambar tas tangan milik Ratu yang ada diatas meja lalu membawakan untuk wanita itu.
Ratu tertegun saat melihat Jendra dari kamar miliknya sambil menenteng tas miliknya. " Jen biar aku bawa sendiri! " Dia pun buru buru menyusul Jendra lalu keluar dari dalam kamar bersama.
" Aku bawakan tas mu, tugasmu hanya memeluk lenganku. " tutur jendra sambil menyodorkan lengannya begitu Ratu sudah berdiri disampingnya.
" Eh kok gitu. " Ratu melongo menatap jendra yang tengah berdiri disampingnya
Jendra pun tersenyum penuh arti sambil menaikan kedua alis hitam tebal miliknya. memberi isyarat pada ratu supaya merangkul lengannya.
" Jen ini itu dirumah besar keluarga kamu, gimana nanti tanggapan jerobi kalau melihat kita? "
" Jerobi sendiri yang menyodorkanmu untuk menjadi istriku, sedangkan kita pun sudah melakukan hal lebih dari sekedar berpegangan tangan bukan? lalu untuk apa memikirkan tanggapan dia saat kamu menggandengku? " tanya balik jendra membuat Ratu tak bisa mengelak lagi.
Ratu pun Tersenyum getir lalu menggigit bibir bawahnya. " A Aku...... memangnya apa yang sudah terjadi didalam kamar, semuanya berbeda jen, kamu hanya memiliki tubuhku tapi tidak dengan hatiku! " Ucap Ratu memperjelas hubungan mereka
Jendra pun mengangguk. " Oke aku paham itu, Seperti yang kamu bilang tadi kalau begitu tanganmu ini juga milikku kan? lakukan perintahku!, tak perlu menggunakan hati. "
Jawaban Jendra membuat Ratu menarik napas dalam dalam. lalu melingkarkan lengannya ke lengan jendra.
Jendra pun tersenyum miring. dan kembali melangkahkan kakinya menuruni anak tangga.
Dibawah tangga terlihat Robi sudah berdiri sambil menatap tajam kearah Ratu dan jendra yang tengah berangkulan mesra. matanya terus tertuju pada sosok ratu yang terlihat cantik, elegant dan tentunya sangat mempesona. masih sama seperti lima tahun lalu.
__ADS_1
" Kalian sudah mau berangkat.? " tanya Robi
Ratu mengangguk sambil tersenyum canggung. " Iya bi, kami keluar dulu ya. "pamitnya
" Pulangnya jangan terlalu malam malam ya. " Pinta Robi dengan lembut.
Ratu pun menjawab dengan anggukan kepaala dan tersenyum manis
" tenang saja rob. dia pergi sama suaminya. mau pulang malam atau pagi nggak ada urusannya juha sama kamu. " sahut jendra hingga membuat Robi semakin kesal
" Heh diem Lo!, aku sudah bersikap baik ya sama kamu.tapi kenapa makin hari kamu makin ngelunjak hah? mau berantem.? " tantang Jerobi yang sudah terbakar emosi
" Kami buru buru, jadi nggak punya waktu banyak buat ngeladenin kamu. kamu tenang saja aku bisa menjaga Ratu sekaligus membuatnya senang jadi kamu nggak perlu khawatir yang berlebihan. " ucap jendra lalu melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu bersama istrinya.
" Sialan kamu jen!. " Umpat Robi sambil menendang pagar yang berada disisinya.
Ratu langsung memutar kepalanya, menatap robi yang sedang mengumpat sambil menendang barang disekitarnya.
" Nggak usah kaget,bukankah dia memang sering tantrum seperti itu bukan.? " jendra merangkul pundak Ratu dan membawaya masuk kedalam mobil.
Ratu hanya bisa menghela napas. emosi robi memang sering tidak terkontrol dan mudah meledak ledak. meski begitu dia tetap saja mencintai pria itu .sebab Robi tetap bersikap lembut padanya. dua kakak beradik ini memang mempunyai dua karakter dan kehidupan yang berbeda. mungkin keduanya terlahir dari rahim yang berbeda meski dengan ayah yah sama. sudah lima tahun dia menikmati kerumitan keluarga mahardika.membuatnya terbiasa mendengar segala perdebatan di keluarga ini.
Jendra melajukan mobilnya menuju ke tempat perjamuan bisnis. dia sesekali mencuri pandang dengan melirik wajah cantik Ratu. wanita itu meski sudah hampir kurang lebih lima tahun menikah dengan kakaknya.wajah wanita itu tak berubah,tetap sama seperti saat pertama kali masuk dikeluarga mahardika. selalu terlihat cantik dan terawat.
Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai ke ballrom hotel bintang lima yang ada dipusat kota surabaya.
" Selamat malam mas jendra. " sapa dari seorang pria paruh baya yang menyambut kedatangan jendra dan sang istri. " wah sekarang sudah punya gandenga nih. "Goda pria paruh baya tersebut
jendra tersenyum sambil menganggukan kepala. " iya pak, perkenalkan ini istri saya. "
" Istri? Lhoh kapan nikahnya? Kok nggak undang undang. " Seru pria tersebut dengan intonasi suara kaget
" belum bikin pesta kok pak, ditunggu saja undangannya. " sahut jendra sambil tersenyum
Pria paruh baya dengan kemeja batik khas solo itu mengangguk anggukan kepalanya.
" Ratu, kenalin ini pak walikota... "
__ADS_1
Ratu pun melebarkan kelopak matanya, dia tidak menyangka jika jendra memperkenalkan dengan orang nomor satu di kota surabaya ini. sedangkan dia sendiri tidak pernah bertemu langsung dengan walikota meski usianya sudah dua puluh tujuh tahun tinggal dikota ini.
Ratu pun buru buru mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan pria paruh baya yang menjabat walikota itu. dia merasa sangat canggung, sebab jendra terus berkeliling dan memperkenalkannya beberapa para pejabat pemerintahan yang juga hadir diacara perjamuan tersebut.
" Jendra, dengar dengar kamu menikahi kakak iparmu sendiri ya.?" tanya salah seorang nyonya dengan bertubuh gempal sambil menatap Jendra dan Ratu.
Jendra hanya tersenyum dan mengabaikan pertanyaan nyonya tersebut.
" Jen, jen anak tante masih muda dan single lhoh, kenapa mesti milih janda bekas kakakmu sendiri sih. " Cibir salah seorang dari nyonya lainnya.
Ratu hanya mampu menundukan kepala, ketika mendengar desas desua dari para nyonya yang ikut diacara tersebut. dia tidak menyangka jika dirinya dan jendra menjadi pusat perhatian dan perbincang mereka, ternyata mereka mengetahui pernikahan dirinya dengan dua putra dari keluarga mahardhika.
Jendra hanya tersenyum menanggapi beberapa pertanyaan dari para nyonya tersebut dengan gayanya yang khas santai. " Status pernikahan saya tidak ada hubungannya dengan perusahaan atau bisnis!. " Tegas Jendra " tentang siapa wanita yang akan saya nikahi,saya sendiri yang memutuskan. bukan kalian. saya memilihnya karena dia mempunyai kelebihan yang tidak bisa saya lihat dari wanita mana pun. " sambungnya lagi membuat sebagian para nyonya membungkam.
Semua orang disana saling pandang, sementara Ratu hanya bisa menundukan pandangannya menahan rasa amarah dan juga rasa malunya. lingkaran pergaulannya memang tidak terlalu banyak.hanya berputar pada keluarga dan rekan kerjanya saja. dia benar benar tidak menyangka jika lingkaran pergaulan jenra begitu sangat luas dan dikelilingi oleh orang orang berpengaruh didalamnya.
Jendra tersenyum menatap wajah murung Istrinya." Rat. " panggilnya
" Ya jen. "
" Tidak perlu kau ambil hati ucapan mereka! ,ayo ikut aku."
" Kemana? " tanya Ratu dengan ekspresi bingung
" Aku perkenalkan dengan seseorang yang tidak akan pernah melihat masa lalu kita justru akan membawa masa depan kita. " ajak Jendra sambil menggenggam tangan Ratu menghampiri seseorang pria berdarah campuran eropa.
Ratu pun tersenyum lebar saat jendra memperkenalkannya,dengan salah satu pemilik perusahaan brand fashion nomor satu di eropa. dia tidak menyangka jendra dikelilingi oleh beberapa orang hebat didalamnya. para pengusaha itupun juga tidak mengurusi seputar rumah tangganya.mereka lebih senang membicarakan bianis. daripada bergabung dengan para nyonya yang selalu menyinggung status dirinya dan mencari kekurangannya. Dia rasa iku jendra berkumpul dengan para pris jauh lebih berpikir secara logika dari pada nimbung ghibah sana sini nggak jelas.
" Pantas saja dia menikah dengan adik iparnya sendiri, lihat tuh! ternyata dia lebih suka ikut ngobrol dengaj para suami kita, kegatelan nggak sih namanya. " cibir salah seorang wanita yang berkumpul dengan para wanita kelas lainnya.
Ratu menarik nafas dalam dalam mendengar perbincangan orang orang yang tak berhenti menyinggungnya. dia pengen melangkah untuk menghampiri para nyonya disana, namun jendra malah menahannya.
" Jaga sikapmu! ,tetap elegant. " bisik jendra." mereka sengaja memancingmu,kamu jang terpancing. "pinta jendra sambil menggenggam tangan ratu begitu erat,supaya wanita itu tak beranjak pergi dari sisinya meski hanya seditik saja.
Ratu pun mau tidak mau harus menganggukan kepala dan menghela nafas dalamn. menurutnya perjamuan bisnis ini sangat mengerikan karena dikelilingi banyak monster monster bermulut pedas. jika tidak ads jendra disisinya yang begitu lembut dan tenang mungkin dia sudah mengacaukan acara perjamuan bisnis ini. sementara para nyonya disana tidak berhenti memggosingka tentang dirinya. entah dari mana mereka mengetaui tentang pernikahan mereka berdua. siapa orang yang tega menyebarkan gosip dan berimbas ke fitnah.
_TBC _
__ADS_1
Happy reading