
Setelah makan malam itu, mereka semua berkumpul diruang tamu. Dimana anak Manda dan bang Hamis sedang menonton bersama.
Sedang ke empat orang dewasa itu sedang membahasnya sesutu yang kadang membuat ruang tamu itu gaduh dengan suara tertawa renyah mereka berempat.
Tyas yang paling keras tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan membuat dua orang yang sedang mengintai mereka itu semakin kesal saja karena tidak tahu apa yang mereka ucapkan sampai tertawa begitu.
"Ck. Sebenarnya apa sih yang mereka bicarakan sampai tertawa seperti itu?!" kesal bunda Ratna berbisik di telinga Lutfi.
Lutfi mendengus."Mana kutahu Na. Kamu lagi! Kenapa sampai sekarang kamu belum juga berhasil membobol berangkasnya?! Ini mereka udah kesini lagi! Sekarang kita harus gimana coba?!" balas Lutfi juga kesal terhadap Bunda Ratna.
"Ya maaf mas! Mana kutahu mereka akan datang sang ini juga setelah bertemu dengan kita tadi saat di sawung itu! Aku itu bukannya nggak usahain ya! udah ku coba berulang kali membuka pintu berangkas itu dengan cara menyentuhnya. Tetap saja aku terpental. tangan ku tersengat listrik. Kamu lihat sendirikan gimana tangan ku kebiruan tiap kali keluar dari kamar itu?!" kesalnya sambil berlalu meninggalkan Lutfi yang kini mendengus padanya.
"Usaha lagi Dong! Kamu kurang kenceng usaha nya! Masa usaha gitu aja kamu nggak bisa sih Na? Umur kamu aja yang tua! Tetapi akal kamu itu masih muda! Ingat?"
Bunda Ratna berbalik. "Terserah! Malam ini aku mau istirahat! Jangan ganggu aku! Aku selalu tepar bila melayani kamu! Cari istri baru lagi napa untuk menjinakkan pyton kamu itu! Kita duet kalau maduku ada!" ketusnya semakin kesal pada Lutfi yang kini terkekeh mendengar ucapan istri tua nya itu.
"Yakin mau aku nikah lagi?" godanya pada Bunda Ratna yng kini tidur dengan pose begitu menatang jiwa kelelakiannya.
"Tanpa aku mengatakan yakin pun kamu sudah menikah lagi dan saat ini istri kamu sedang hamil kan? Apa kabar maduku itu? Si Bunga kembang tujuh rupa itu?" tanyanya yang membuat Lutfi tertawa keras.
__ADS_1
"Ternyata istri tua ku ini sudah tau ya jika aku sudah menikah lagi?? Kamu tidak marah?" tanya nya sambil membuka seluruh pakaian nya tanpa tersisa satu pun.
"Kalau pun aku marah kamu mau mendengarnya?" tanya nya sambil berbalik membelakangi Lutfi yang kini bergabung dengannya di ranjang.
"Maaf Na.. Aku tahu aku salah menikah tanpa memberitahumu. Tetapi aku butuh penerus. Kamu tidak bisa memberiku penerus kan?"
Bunda Ratna memejamkan matanya menahan sesak didadanya. "Na.. Kamu cinta pertamaku. Tidak mungkin aku melepasmu begitu saja. Dari aku susah hingga kita seperti ini, itu berkat kamu!" katanya lagi sambil menciumi kepala Bunda Ratna yang kini bergetar karena menangis.
"Tapi aku tidak bisa memberi keturunan untukmu. Sebaiknya kamu lepaskan saja aku. Hidup bahagia bersama istri barumu. Aku ikhlas. Lagi pun setelah ini aku akan tertangkap. Selamatkan dirimu. Hidup bahagialah bersama istrimu yang lain. Aku harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan ku tanpa melibatkan mu!" balasnya dengan suara bergetar.
"Nggak Na. Kalau kamu masuk penjara aku juga akan ikut! Kita akan bersama-sama masuk penjara semua itu juga ada andil aku disana. Aku menyayangimu Na.. Tidak mungkin aku meninggalkanmu begitu saja. Aku nggak bisa.." lirihnya semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Bunda Ratna yang kini semakin bergetar.
"Nggak! Bunga bisa cari uang sendiri. Tetapi tidak dengan mu! Kamu hidupku Na! Sedari remaja aku sudah menyukaimu. Salahkah jika aku ingin melindungimu sampai sisa hidupku??"
Bunda Ratna memutar bola mata malas, "Aku yang bakalan mati duluan Lutfi! Aku sudah tua!" ketus Bunda Ratna yang membuat Lutfi tertawa.
"Kamu belum tua Na. Hanya bertambah usia aja. Oh iya, bagaimana dengan kamera pengintai kita di kamar utama?"
Bunda Ratna berbalik.
__ADS_1
Matanya melotot saat merasakan ular pyton Lutfi memberi salam padanya. Lutfi memainkan alis matanya sambil tersenyum nakal padanya.
"Dasar!"
"Hahaha.. Kamu sarangnya Na!"
"Halah! Kalau aku sarangnya, kenapa si Bunga kembang tujuh rupa itu bisa hamil karena ulah mu?!" ketusnya sambil bangkit dari ranjang dan mengambil laptop yang terhubung langsung dengan kamera pengintai di kamar utama yang kini ditempati oleh Tyas.
Ia kembali duduk dihadapan Lutfi yang kini sedang memainkan ular pytonnya. Bunda Ratna mendengus.
Lutfi terkekeh, ia mendekati Ratna dan melihat tangan Ratna yang kini sudah bergerak di keyboard laptopnya.
Deg!
"Kok gelap? kenapa jadi hitam semua? Ada apa ini?" tanya Bunda Ratna pada Lutfi yang kini pun ikut menegakkan tubuhnya.
"Pasti kamera pengintai kita sudah ketahuan Na!"
"Heh!"
__ADS_1