
"Masa sih?" lanjut bunda Ratna lagi.
"Beneran sayang. Coba kamu perhatikan semua kamera pengintai itu kini berubah hitam semua. Apa coba kalau bukan disingkirkan kemudian mereka simpan di tempat gelap?" ucap Lutfi yang kini diangguki oleh bunda Ratna
"Iya juga sih. Tapi siapa yang tahu tentang kamera pengintai dikamar itu? Sementara hanya kita yang tahu??" balas bunda Ratna yang membuat Lutfi berpikir siapa kiranya yang tahu tentang kamera pengintai itu.
Lutfi mengambil alih laptopnya dari bunda Ratna dengan ular pytonnya itu masih mengacung. Bunda Ratna yang jahil, menoel ular pyton itu membuat Lutfi menatapnya.
"Apa?" tanya Bunda Ratna pura-pura polos.
"Kalau mau bilang aja! Aku siap memanjakan ratu ku!" jawabnya serius.
Bunda Ratna mencebik, "Aku heran deh sama kamu, bagaimana ceritanya pyton kamu bereaksi dengan goa si bunga kembang tujuh rupa itu sementara kamu cintanya hanya sama aku? Apa kamu minum obat?" tanya Bunda Ratna penasaran dengan kejadian yang sebenarnya.
Lutfi menatap bunda Rata dengan lekat. "Ya, aku diberi obat oleh klien ku waktu itu hingga aku lampiaskan pada Bunga."
"Dengan kata lain kamu memper kosanya begitu?"
__ADS_1
"Bisa dibilang begitu sih! Tapi tetap kamu yang paling nikmat! Percayalah!" ucapnya begitu meyakinkan.
"Halah! Aku nggak percaya! Jika Pyton kamu ini bisa berdiri hanya dengan ku? Kenapa setiap malamnya kamu mengigau mengatakan jika bunga yang paling nikmat? Heh? Bulshit kau Lutfi!" ketusnya dengan segera menggenakan pakaiannya kembali.
Lutfi menghela nafasnya. "Aku harus gimana coba? Lah wong kalian berdua itu memang nik mat? Masa iya aku bilang enggak? Nanti kamu marah sama aku!" katanya sambil bangkit dan mendekati bunda Ratna yang kini sedang bersiap ingin keluar dari kamar itu.
"Mau kemana? Aku disini loh.." cegatnya pada bunda Ratna.
Beliau berhenti dan menatap lekat pada pemuda berondong yang sudah berani menikahinya disaat umurnya sudah tiga puluh tahun dulunya.
"Pergilah! Aku tahu. Sedari tadi Bunga menghubungimu. Cukupkan sampai disini saja hubungan kita. Bagimu semua wanita itu sama. Tetapi tidak untukku. Bagiku.. Cukup satu laki-laki yang menghormatiku sebagaimana wanita. Dan itu hanya Erlangga. Pulanglah Lutfi! Hubungan kita selesai sampai disini!"
Ddduuaarr!!
Bagai dihantam tombak runcing di hati Lutfi. Pemuda itu menatap datar padanya. Bunda Ratna pergi meninggalkannya. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia menoleh pada Lutfi sekali lagi.
"Terimakasih karena sudah menerima wanita tua ini untuk menjadi istri mu. Dan terimakasih juga atas cinta palsu mu selama ini. Kembalilah pada istrimu yang lain.. Aku tidak bisa menghasilkan anak dan juga uang untukmu. Tetapi berbeda dengan wanita mainan mu diluar sana. Bukan aku tidak mencintaimu.. Hanya saja diri ini tidak sanggup melihatmu berbagi ranjang dan keringat selain denganku.
__ADS_1
Katakanlah aku ini cemburu. Ya, aku cemburu. Aku cemburu melihat suamiku bisa meniduri banyak gadis di luar sana selain istri tuanya sendiri. Kamu beruntung dilahirkan normal. Berhentilah sebelum azab menghampirimu. Tugasku sudah selesai saat ini. Kembalilah. Istrimu menantimu. Aku akan pergi dan menghilang dari muka bumi ini untuk selamanya. Semoga kamu bahagia suami mudaku, Lutfi Sanjaya!"
Dddduuaarr!!
Ceklek!
Pintu kamar itu tertutup rapat. Tinggallah Lutfi yang kini mengeraskan rahangnya dengan tangan terkepal erat.
"Kamu ingin pergi dariku?? Nggak akan! Kamu cintaku Ratna Dewi! Sampai kapanpun aku tidak akan melepaskan mu! Aku rela membuang semua mainanku asal jangan kamu. Kamu segalanya untukku! Aku melakukan semua ini untukmu! Aku akan berubah Na! Hanya demi kamu! Tunggu aku, Na!" serunya pada bunda Ratna yang kini sudah berlalu meninggalkan kediaman Erlangga.
Lutfi keluar setelah menggenakan baju lengkapnya. Ia keluar sambil berlari mengejar bunda Ratna yang sudah lebih dulu pergi dari rumah itu tanpa melihat ke empat orang kini melihat kepergiannya.
Begitu pun dengan Lutfi. Ia berlari seperti angin. Ia mengabaikan empat orang yang kini melihat mereka.
Lutfi berlari keluar secepat yang ia bisa. Ia mengambil mobilnya dan melajukannya. Sebelum itu ia bertanya pada Pak Hakim tentang bunda Ratna.
Pak Hakim mengatakan jika bunda Ratna berjalan kaki keluar dari komplek itu. Ia pun melajukan mobilnya untuk mengejar bunda Ratna yang kini sudah menghilang di jalan sana.
__ADS_1