Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Sedikit Perubahan


__ADS_3

Sorot mata Datta berubah menjadi menajam ketika ia melihat ke arah Khadijah yang sedang duduk di baris kedua mobil ini.


“Apakah kamu kira aku adalah supir! Sehingga kamu duduk di baris kedua mobil ini.” Sembur Datta dengan ucapan yang lantang karena kesal. Selama ini semua perempuan selalu ingin ada disampingnya namun, perempuan yang satu ini malah memilih duduk di baris kedua mobil ini. Sungguh tak bisa dipercaya, jika begini jiwa Playboy Datta akan tercoreng.


“Ba-baik,” jawab Khadjah. Saat ini Khadijah duduk di samping Datta namun, perempuan itu menepi hingga ke pojok kaca seakan ingin sejauh mungkin dari suaminya.


“Sebegitu takutnya ia padaku, sehingga duduk menghadap ke jendela dan dengan tubuh yang menyentuh pintu mobil ini,” ujar Datta yang seakan tak percaya dengan sikap Khadijah. Tapi Datta mengerti apa yang sedang perempuan itu rasakan sekarang hingga tak mau mempermasalahkan hal sempele seperti ini dan setelah Datta membuang kasar nafasnya lelaki itu pun melajukan kendaraan ini .


Tak ada suara di dalam kabin mobil ini membuat suasana nampak horor. Datta mash sibuk memusatkan pandangannya ke arah jalanan sedangkan Khadijah sibuk melihat ke luar jendela sejak dari tadi.


Mobi berhenti setelah tiba di halaman rumah sakit. Khadijah berjalan di samping Datta yang masih menjaga jarak dari yang lain. Mereka berdua mulai masuk kedalam lift sekarang dan selang beberapa waktu terlihat lima orang lelaki mulai masuk kedalam lift ini secara bersamaan. Datta tau jika Khadijah tak pernah mau berdekatan dengan lawan jenis jadi lelaki itu dengan sigap langsung menaruh kedua tangannya di antara tubuh istrinya dengan posisi punggung yang menghalangi para lelaki itu untuk lebih dekat lagi dengan Khadijah. Datta tidak tahu kenapa ia tiba-tiba melakukan hal ini? Kenapa ia perduli pada Khadijah? Bukankah mereka melihat karena terpaksa! Pasti karena rasa bersalah, ya pasti karena itu tidak lebih.


Jantung Khadijah berdetak dengan begitu kencang sekali ketika ia berdiri di jarak yang dekat dengan Datta-lelaki yang merenggut kesuciannya. Khadijah menundukkan kepalanya dengan tubuh yang bergetar dan hampir saja ia merasa kehabisan nafas. Dan disaat yang sama suara Datta mulai terdengar.


“Jika kamu merasa tidak nyaman berada di posisi ini maka aku akan menjauh namun, beberapa lelaki akan berdiri di dekat kamu,” kata Datta yang tidak ingin membuat Khadijah salah paham dengan apa yang ia lakukan sekarang.


“Tidak, tetap seperti ini,” pinta Khadijah tanpa mengangkat kepalanya..


“Sial! Aroma tubuhnya wangi sekali, parfum apa yang ia kenakan sekarang?” tanya Datta pada dirinya sendiri. Datta sungguh tidak menyangka meskipun berhijab tetapi Khadijah begitu menjaga kebersihan dan juga penampilannya hingga perempuan ini cantik natural tanpa perawatan. Andaikan Datta tidak melihatnya sendiri, ia tak akan pernah percaya jika dibalik baju yang kebesaran ternyata ada  lekuk indah nan mulus yang coba perempuan ini sembunyikan.

__ADS_1


***


“Assalamualaikum,” ujar  Khadijah dan juga Datta ketika mereka masuk ke dalam ruangan Amira berada.


“Waalaikumsalam,” jawab Amira, Aiza dan juga Farhan dengan waktu yang hampir bersamaan.


“Umi,” kata Khadijah melangkah cepat mendekati perempuan paruh baya itu kemudian memeluknya dengan begitu erat. Bulir bening tak bisa Khadijah tahan untuk tidak turun dari singgasananya. Air mata kerinduan, air mata kesedihan melebur menjadi satu.


Amira mengulas senyuman tipis dibalik cadarnya kemudian punggung tangan itu mengusap perlahan punggung putrinya tercinta.


“Kenapa kamu menangis, Nak? Diawal pernikahan memang masa-masa yang begitu sulit karena kalian baru saja mengenal dan tanpa melakukan proses ta’afuf sudah langsung menikah,” ujar Amira mencoba memebrikan pengertian pada putrinya ini.


“Mama dan juga Papa akan menjaga Umi Amira, jadi Nak Jihan nggak perlu khawatir,” ujar Aiza.


“Mama dan juga Papa akan lelah nanti, jadi sebaiknya kami saja yang bergantian menjaga Umi Amira,” timpal Datta.


Aiza dan juga Farhan saling menatap satu sama lain. Mereka benar-benar kaget setelah mendengarkan apa yang Datta katakan barusan.


“Ma, apakah yang barusan Papa dengar itu benar dan nggak berhalusinasi?” bisik Farhan di dekat telinga istrinya.

__ADS_1


“Mama juga mendengarkan hal yang sama, ternyata benar jika Kahdijah membawa dampak positif untuk putra kita, baru beberapa hari menikah saja sudah terlihat perubahan Datta,” bisik Aiza di dekat telinga suaminya dengan nada suara yang tak kalah lirih.


“Kami bahkan tak merasa lelah sama sekali,” jawab Farhan. “Lihatlah kami bahkan membuat kamar di sini,” sambung Farhan dengan menunjuk ke satu titik yang langsung Khadijah dan juga Datta ikuti.


“Sejak kapan di sini ada satu ruangan lain?” tanya Khadijah bingung. Sebelumnya tak ada ruangan lain di dalam kamar VIP rumah sakit ini. Ya, sejak Khadijah menikah dengan Datta. Umi Amira langsung di pindahkan ke ruangan VIP rumah sakit atas keinginan kedua mertuanya dan Khadijah juga tak perlu bingung masalah biaya pengobatan karena kedua mertuanya yang mengurus semuanya.


“Sejak kemarin,” jawab Aiza. “Kami sengaja meminta ijin pada pihak rumah sakit untuk menjadikan ruangan sebelah agar memudahkan kami untuk menjaga Umi Amira, selama ini Mama selalu ada di dalam rumah sendirian ketika Papa sedang sibuk mengurus bisnisnya yang ada di luar kota, jadi lebih baik Mama bersama dengan Umi Amira saja,” ujar Aiza. Apa yang Aiza katakan tadi memang benar karena Datta juga jarang sekali pulang ke rumah dan sekalinya pulang juga hanya berganti baju lalu pergi lagi. Anak lelaki mamang jarang sekali bisa diandalkan.


Khadijah masih belum tahu jika pemilik perusahaan tempatnya bekerja adalah mertuanya sendiri. Khadijah tak pernah mencari tahu tentang siapa pemilik perusahaan tempatnya bekerja karena yang terpenting untuk Khadijah ia mendapatkan uang halal dari pekerjaan yang ia lakukan dan selebihnya Khadijah tak mau tahu. Khadijah juga selalu menghindar ketika melihat ada orang yang sibuk membicarakan rekan kerjanya yang lain, contohnya seperti tadi siang ketika kedua perempuan yang ada disampingnya sedang sibuk membicarakan tentang Dita.


“Khadijah ingin menemani Umi Amira juga,” ujar Khadijah masih bersikeras.


“Kalau begitu kamu bisa mengunjungi Umi Amira setelah pulang bekerja,” kata Farhan mengambil keputusan.


“Apa itu yang kamu bawa?” tanya Amira setelah melihat ke arah rantang yang ada di atas nakas.


“Khadijah membuatkan kita makan malam,” jawab Datta. Shith! Kenapa Datta justru yang menjawab dan kenapa juga nih lidah nggak bisa di rem sih.


Datta dah mulai perduli pada Hadijah, hanya saja lelaki itu masih tidak sadar dengan apa yang ia katakan dan juga lakukan.

__ADS_1


__ADS_2