Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Keanehan Sikap Datta


__ADS_3

Khadijah melihat ke arah jam dinding yang ada di dalam kamarnya. Saat ini sudah menunjukkan pukul 01.00 malam namun, Pak Datta masih juga belum pulang dan entah kemana lelaki itu sekarang. Khadijah mengingat apa yang suaminya itu katakan ketika masih ada di dalam ruangan kamarnya tadi. Khadijah mulai merasa tidak tenang hingga perempuan itu mulai mondar-mandir kesana-kemari dengan bibir yang tak lupa mengucapkan dzikir.


“Ya, Allah tolong jaga suami hamba ketika berada di luar rumah dan hindarkan lah dia dari perbuatan dosa,” batin Khadijah. Apakah Khadijah salah karena tak memberikan nafkah batin pada suaminya, namun Khadijah masih takut jika berdekatan dengan lelaki itu apalagi ketika bayangan tentang malam kelam tersebut kembali bergentayangan di benak Khadijah. Kini Khadijah merasa begitu bersalah sekali.


Di tempat lain.


“Sayang, kenapa sejak dari tadi kamu hanya diam saja dan tak mau menyentuh minuman? Apakah kamu sedang sakit?” tanya Felishia pada Datta. Perempuan itu memeluk tubuh Datta dengan begitu manja sekali seakan lelaki itu sudah sah menjadi suaminya. Tapi begitulah pergaulan anak muda jaman sekarang.


“Aku sedang tidak ingin minum saja,” jawab Datta santai.


“Kamu tidak ingin minum, atau takut jika seseorang yang sedang ada di rumah tak ingin muncul dihadapan kamu lagi,” sindir Reza pada sahabatnya itu.


“Diamlah dan jangan sok tahu,” kata Datta pada sahabatnya.


“Apa maksud dari ucapan Reza barusan?” tanya Felishia pada Datta.


“Jangan pedulikan lelaki itu, dia hanya asal bicara saja,” ujar Datta pada Felishia sembari menarik tangannya yang tadi menyentuh bahu Felishia.


“Sayang, kapan kita akan menikah? Kamu bahkan tak pernah memperkenalkan aku pada kedua orangtua kamu,” rengek Felishia dengan manja.

__ADS_1


Datta tiba-tiba merasa pusing kepala hingga memijat pelipisnya yang terasa pusing. Bagaimana cara menjelaskan pada Felishia jika ia sudah menikah sekarang! Argh. Datta merasa begitu bingung sekali.


“Sayang, kenapa kamu hanya diam saja? Atau kamu sudah tak mencintai aku lagi? Apa karena aku tak datang ketika malam ulang tahun kamu?” tanya Felishia dengan wajah yang tanpa dosa. Perempuan itu bahkan menganggap jika berbagi pasangan adalah hal yang biasa. Sungguh perempuan gila harta.


“Justru kau mempertanyakan, apakah kamu benar-benar mencintai aku!” Datta mulai melihat ke arah Felishia tajam. "Jika kamu benar-benar mencintai aku maka, kau tak akan mencari perempuan lain untuk menemaniku Felishia.” Setelah bicara Datta langsung beranjak dari tempat duduknya membuat Felishia kebingungan melihat perubahan sikap kekasihnya ini.


Datta kemarin begitu merindukan Felishia, tapi anehnya ketika kekasihnya itu berada di dekatnya justru Datta merasa geram dan merasa tidak nyaman melihat sikap Felishia sekarang? Felishia begitu berbeda dengan Khadijah, dan entah mengapa akhir-akhir ini Datta tanpa sadar selalu membandingkan mereka berdua.


“Aku pulang dulu,” kata Datta pada Reza dan sahabatnya itu langsung menganggukkan kepalanya tanpa bicara apapun lagi. Reza merasa sangat senang sekali karena Datta mulai mengubah sikapnya, sejujurnya sejak dari dahulu Reza tak pernah suka dengan Felishia sedikitpun sebab perempuan itu terlihat beberapa kali berjalan dengan lelaki lain. Reza sudah menceritakan semuanya dan juga menunjukkan buktinya pada Datta, tetapi sahabatnya itu tak mau percaya dengan apa yang ia katakan, sebab Datta sudah dibutakan oleh cinta.


“Ada apa dengan Datta? Kenapa dia bisa semarah ini padaku?” tanya Felishia pada Reza. Felishia ingin mengejar Datta namun, wanita itu lebih memilih untuk mencari tahu apa yang terjadi pada kekasihnya melalui Reza.


“Mungkin sekarang Datta sudah menyadari jika kamu memang bukan wanita baik-baik,” tegas Reza yang secara terang-terangan menunjukkan ketidak kesukaannya pada Felishia sekarang.


“Kamu cari tahu saja sendiri!” ujar Reza pada Felishia. Reza fokus pada kedua perempuan yang sedang duduk di dekatnya sekarang dan Felishia yang merasa geram karena ia diabaikan oleh Reza pun segera beranjak berdiri dan meninggalkan tempat ini.


***


Datta melangkah masuk kedalam apartemennya kemudian lelaki itu begitu terkejut sekali ketika ia melihat ke arah seorang perempuan kini sedang tertidur di sofa, ya itu adalah Khadijah, tetapi kenapa dia bisa tidur di sofa dan juga tidak di dalam ruangan kamarnya? Apakah di dalam ruangan kamarnya ada serangga lagi?

__ADS_1


“Khadijah, bangunlah dan pindah ke dalam kamar,” kata Datta sembari memegang lengan Khadijah mengunakan ponselnya. Datta mencoba untuk menjaga privasi istrinya yang memang tak ingin di sentuh. Walaupun Datta menyentuh juga itu tak akan dosa karena mereka sudah menikah.


Khadijah mulai mengucek kedua matanya kemudian perempuan itu pun langsung mendudukkan tubuhnya ketika mengetahui jika lelaki yang ia tunggu sudah berada di hadapannya sekarang.


“Pak Datta, sudah pulang?” tanya Khadijah dengan beranjak berdiri dan seperti biasa perempuan itu menjaga jaraknya dengan sang suami.


“Ya, saya sudah pulang, kenapa kamu tidur di sini?” tanya Datta dengan manik mata yang tak lepas mengamati istrinya.


“Saya menunggu Pak Datta pulang,” kata Khadijah jujur.


“Kenapa kamu menunggu saya?” tanya Datta merasa tertarik dengan apa yang Khadijah ucapkan. Entah mengapa Datta merasa senang ketika mengetahui jika wanita yang ada di hadapannya ini mencemaskan dirinya.


“Hanya menunggu saja, tak ada alasan,” jawab Khadijah. “Saya tidak bisa merasa tenang sebelum meminta maaf pada Pak Datta,” kata Khadijah lagi.


“Kamu harus minta maaf padaku karena berani berbicara dengan lelaki lain,” kata Datta sembari menaruh kedua tangannya bersedekap di dada dengan gaya angkuhnya.


“Saya tak melakukan apapun dengan lelaki lain.” Khadijah menjawab tegas. “Saya ingin minta maaf karena tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Pak Datta, tetapi meskipun begitu Pak Datta juga tak bisa melakukan hal terlarang dengan perempuan lain setidaknya jangan lakukan itu sebelum kita bercerai,” ujar Khadijah. Terdapat kegetiran pada hatinya ketika membayangkan jika suaminya bersama dengan lelaki lain. Khadijah memang tidak mencintai Datta namun, ia tak menyukai jika imam di dalam rumahnya justru menjalin hubungan terlarang dengan perempuan lain. Khadijah tak pernah membayangkan adanya perceraian didalam rumah tangannya, tapi takdir seperti berkata lain.


“Tidurlah dan jangan banyak bicara.” Setelah mengucapkan kata itu Datta langsung melangkah meninggalkan Khadijah.

__ADS_1


“Pak Datta, setidaknya maafkan kesalahan saya,” kata Khadijah pada Datta. Khadijah mengingat apa yang orangtuanya pernah katakan padanya. Jika tanpa sengaja membuat suami kita marah maka segeralah meminta maaf.


"Aku sudah memaafkan kamu! Tapi jangan coba-coba mengatakan cerai di hadapanku lagi!" Datta bicara dengan menatap mengunakan ekor matanya ke arah Khadijah. Entah apa arti tatapan itu.


__ADS_2