
Khadijah hanya bisa memejamkan kedua matanya dengan begitu erat ketika mendengarkan lelaki asing-lelaki yang telah merenggut kesuciannya saat ini sedang memegang tangan seorang lelaki yang berperan menjadi penghulu. Datta menggengam tangan Pak penghulu kemudian mulai menyebutkan nama Khadijah dengan begitu lengkap dan juga fasih sekali seakan lelaki itu sudah hafal di luar kepala nama calon istrinya.
“Ya Allah, jika memang ini yang terbaik bagi saya, maka saya ikhlas menerima pernikahan ini,” batin Khadijah dengan berlinang air mata.
“Bagaimana para saksi?” tanya Pak penghulu pada para saksi yang ikut hadir di pernikahan ini.
“Sah,”
“Sah,”
“Sah,”
“Alhamdulillah,” ujar Pak penghulu dan juga semua orang yang turut hadir di acara pernikahan ini.
Pak penghulu meminta pada Khadijah untuk bersaliman dengan lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya. Tangan Khadijah gemetar apa lagi ketika ia mengingat perlakukan Datta ketika lelaki itu membuka cadar dan juga berhasil merenggut paksa kesucian yang selama ini ia jaga, hal itu sungguh membuat tubuh Khadijah gemetar ketakutan. Datta sudah menaruh tangannya di hadapan Khadijah, tapi perempuan itu masih diam saja seakan tak mau menyentuh Datta.
“Nak, sekarang dia adalah suami kamu, jadi sudah sewajarnya jika kalian bersentuhan apalagi bersaliman,” kata Amira mencoba menasehati Khadijah. Amira tidak tahu apa yang terjadi pada anak perempuannya hingga Amira mengatakan hal seperti ini.
“Ba-baik Umi,” jawab Khadijah yang tidak ingin menolak keinginan Amira apalagi yang perempuan itu katakan adalah benar. Dirinya dan juga Datta telah menjadi suami-istri jadi mereka sudah halal untuk saling bersentuhan sekarang.
“Apakah benar jika dia tak pernah bersentuhan dengan seorang lelaki sebelumnya? Di jaman sekarang mana ada perempuan seperti itu, aku percaya jika dia pasti pernah bersentuhan dengan lelaki lain sebelumnya dan mungkin tak sampai melakukan hubungan terlarang hingga dia masih gadis waktu itu,” batin Datta di dalam hatinya. Pemikiran Datta mulai terhenti ketika ia mendengarkan apa yang Amira katakan sekarang.
"Nak Datta, maafkan Khadijah, dia belum pernah menyentuh lelaki lain sebelumnya kecuali almarhum abahnya sendiri. Khadijah sejak dari kecil sudah kami ajarkan agama dengan begitu baik sehingga membuatnya begitu takut bersentuhan dengan lawan jenis, jadi Umi mohon. Nak Datta tidak tersinggung dengan sikap Khadijah sekarang,” ujar Umi Amira dengan menatap ke arah menantunya yang kini menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
‘’Gila! Ini benar-benar gila, dia tak pernah menyentuh lelaki lain sebelumnya, itu tandanya gue dapat perempuan yang begitu polos dan juga lugu mirip seperti bayi yang baru lahir,” batin Datta didalam hatinya. Entah mengapa Datta merasa bahagia sekali setelah mendengarkan apa yang Umi Amira katakan.
“Kalau Khadijah masih belum siap untuk bersentuhan tangan dengan saya maka itu tak menjadi masalah,” kata Datta.
“Sa-saya akan melakukannya,” ujar Khadijah. Dengan tangan yang bergetar dan juga kedua mata terpejam begitu rapat, Khadijah mulai mengecup punggung tangan suaminya.
Datta membulatkan kedua matanya ketika ia merasakan tangan Khadijah yang bergetar sekarang, perempuan ini memang berbeda dengan perempuan lain dan kini Datta mengakuinya. Tapi cinta Datta tetap untuk kekasihnya. Datta dan juga Khadijah hanya menikah di atas kertas saja dan tidak berdasarkan cinta.
Pernikahan yang di lakukan mendadak asalkan sah menurut agama dan juga hukum negara ini maka sudah cukup bagi Khadijah. Tak ada gaun pernikahan indah ataupun teman-teman yang memberikan selamat untuknya, yang ada sekarang hanya pernikahan sederhana di hadapan Umi Amira, ya perempuan yang telah melahirkan Khadijah itu bahagia sekali ketika mengetahui jika keinginannya telah tercapai-menikahkan Khadijah sebelum ia benar-benar pergi dari dunia ini.
Semua saksi yang berasal dari keluarga dekat Datta sudah pulang lebih dahulu dan kini yang tersisa hanya Datta, kedua orangtuanya, Amira dan juga Khadijah saja. Khadijah sejak dari tadi masih mengengam tangan Amira seakan tak mau melepaskan perempuan paruh baya itu.
Aiza melangkah menghampiri Khadijah kemudian menggengam tangan menantunya itu dengan penuh kasih sayang. “Nak, pergilah bersama dengan suami kamu biarkan Umi Amira, kami yang jaga,” kata Aiza pada Khadijah.
“Khadijah, pergilah. Biarkan Umi Amira bersama dengan kedua mertua kamu, Nak. Kamu juga pantas berbahagia dan temani suami kamu hingga beberapa hari, ini permintaan Umi,” kata Amira. Amira ingin Khadijah dan juga Datta lebih mengenal satu sama lain. Khadijah juga pantas bahagia sama seperti perempuan lainnya.
“Nak Datta, tolong kamu jaga Khadijah mulai dari hari ini Umi serahkan tugas menjaga Khadijah pada kamu,” kata Umi Amira.
“Insyaallah Datta akan menjaganya, Umi,” kata Datta.
***
Disepanjang perjalanan tak ada satu pun yang membuka suara. Khadijah merasa tidak nyaman ketika duduk satu mobil dengan Datta-suaminya. Khadijah masih trauma ketika mengingat malam panjang itu dan ingin sekali rasanya ia menjauh dari lelaki ini, tapi Khadijah tak mungkin melakukannya karena mulai hari ini surganya ada pada suaminya dan bukan pada Umi Amira lagi.
__ADS_1
“Apakah kamu lapar?” tanya Datta. Apa yang barusan Datta lakukan? Seharusnya ia biarkan saja perempuan ini kelaparan memangnya kenapa ia harus perduli. Argh! Aneh sekali.
“Ya,” jawab Khadijah dengan suara yang lirih.
“Kalau begitu kita makan di restoran saja,” ujar Datta.
“Saya akan menemani Anda makan di restoran tapi, saya tidak akan ikut makan,” kata Khadijah singkat. Khadijah bicara dengan suara yang bergetar di ujung lidahnya.
“Tadi kamu bilang lapar! Tapi sekarang malah nggak mau makan,” ujar Datta bingung melihat sikap perempuan yang baru saja dia nikahi ini.
"Saya akan membuat makanan sendiri, apakah di rumah Anda ada bahan-bahan mentah yang bisa dimasak?” tanya Khadijah tanpa melihat ke arah Datta sedikitpun. Meskipun sudah menikah tapi Khadijah masih menjaga pandangannya dan semua itu karena selama ini Khadijah sudah terbiasa dengan hal itu.
“Kita akan tinggal di apartemenku dan di sana tak ada bahan apapun di ldalam kulkas kecuali air mineral,” kata Datta jujur. Ya, Datta sudah meminta ijin pada kedua orangtuanya jika ia dan juga Khadijah akan tinggal di apartemen dan Datta juga mengatakan jika keduanya biar bisa cepat saling mengenal. Kedua orangtua Datta pun setuju.
“Kalau begitu kita pergi ke supermarket saja” kata Datta mengambil keputusan.
“Pergi ke restoran dulu biar Anda bisa makan baru setelahnya kita pergi ke supermarket,” kata Khadijah yang lebih mengutamakan suaminya karena memang itu yang Umi Amira ajarkan padanya selama ini.
“Padahal dia juga lapar tapi kenapa malah mementingkan aku dari pada dirinya sendiri,” batin Datta. Datta kembali mengingat ketika ia sedang bersama dengan Felishia, perempuan itu selalu saja manja dan meminta Datta untuk mengikuti keinginannya. Argh! Kenapa Datta malah membandingkan mereka berdua sekarang.
__ADS_1