
Khadijah dan juga Umi Amira sedang berbincang-bincang bersama tiba-tiba Datta ikut menyelinap diantara perbincangan mereka berdua. Umi Amira dan juga Khadijah langsung menghentikan ucapan mereka kemudian melihat ke arah Datta yang sekarang sedang memperhatikan keduanya.
“Kenapa Umi dan juga Khadijah langsung diam setelah melihat Datta bergabung dengan kalian?” tanya Pak Datta sembari melihat ke arah istri dan juga mertuanya sekarang.
“Umi sangat senang sekali karena Nak Datta mau bergabung dengan kami,” ujar Umi Amira sembari tersenyum manis di balik cadarnya.
“Kalau boleh tahu apa yang sedang kalian bicarakan tadi?” tanya Datta pada Khadijah sembari mengusap perlahan punggung istrinya. “Bersikaplah biasa saja supaya Umi Amira merasa senang jika melihat kita bersama dan bahagia seperti ini,” bisik Datta di dekat telinga istrinya sembari tersenyum manis.
Khadijah membeku sejenak, ia benar-benar merasa begitu canggung sekali dengan apa yang baru saja suaminya itu bisikkan padanya, namum Khadijah tak mencoba untuk menghindari suaminya sebab sekarang Umi Amira sedang memperhatikan mereka.
__ADS_1
“Khadijah dan juga Umi hanya menceritakan hal biasa saja,” jawab Khadijah sembari mengusap tangan suaminya. Sungguh tangan Khadijah terlihat bergetar sekarang dan Datta tahu akan hal itu dengan begitu jelas sekali. Khadijah merasa grogi namun ia juga ingin melihat Umi Amira bahagia dan dengan hal inilah salah satunya.
“Contohnya hal biasa seperti apa itu?” tanya Datta dan kini dia menatap ke arah Umi Amira.
“Umi tiba-tiba mengingat jika Khadijah kecil nampak begitu benci jika ada lelaki seusianya yang mencoba untuk menyatakan cinta padanya,” jelas Umi Amira dengan jujur dan hal itu memancing rasa penasaran Datta hingga lelaki itu pun mulai bertanya.
"Kalau boleh tahu, Khadijah merasa benci pada mereka karena hal apa, Umi?” tanya Datta pada mertuanya.
“Ya, Allah terima kasih karena telah membuka hati putra hamba untuk bisa menerima istrinya dan semoga hal semacam ini bisa terlihat selamanya, amin.” Aiza berdoa di dalam hatinya. Perempuan seperti Khadijah lah yang memang putranya butuhkan selama ini.
__ADS_1
Selang beberapa waktu terlihat Papa Farhan mulai melangkah masuk ke dalam ruangan ini setelah ia mengucapkan salam terlebih dahulu. Farhan sempat berdiam diri di posisinya sekarang ketika ia mendengarkan jika Khadijah dan juga Datta berbincang bersama sekarang. Farhan yang merasa tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat sekarang pun sampai harus mengucek kedua matanya, tapi apa yang ia lihat masih tetap sama seperti sebelumnya. Datta sedang berbincang dengan menantunya sembari duduk di sofa.
***
“Sayang, malam ini kamu mau akan di restoran atau memasak sendiri?” tanya Datta pada Khadijah setelah mereka berdua ada di dalam mobil.
Khadijah langsung melihat ke arah suaminya kemudian berkata, “Mas, kita sudah berada di dalam mobil dan sekarang sudah tidak ada kedua orangtua kita,” ujar Khadijah yang mencoba untuk mengingatkan suaminya kalau drama rumah tangga yang bahagia dan juga romantis sudah harus di akhiri sekarang.
Datta segera mengurungkan niatnya untuk menyalakan mesin mobilnya setelah mendengarkan apa yang istrinya barusan katakan padanya. “Aku tidak sedang berakting sekarang, Sayang,” ujar Datta sembari melihat ke arah istrinya dan hal itu membuat Khadijah merasa begitu canggung sekali.
__ADS_1
Khadijah langsung menundukkan kepalanya sekarang kemudian entah mengapa seperti ada perasaan aneh yang sekarang seakan menggelayuti hatinya dan rasa hangat mulai menyelimuti hatinya.