
2 minggu pernikahan.
Perasaan trauma Khadijah pada Datta mulai terkikis dengan perlahan hingga wanita itu tak masalah jika dekat dengan suaminya. Bahkan sesekali mereka pun akan berbincang bersama layaknya pasangan suami-istri pada umumnya. Khadijah dan juga Datta masih tidur di kamar yang berbeda, Khadijah masih belum mengetahui jika Datta adalah pewaris utama perusahaan tempat ia bekerja. Sedangkan kondisi Umi Amira juga masih tetap sama belum ada perkembangan sama sekali.
“Khadijah, masak apa pagi ini?” tanya Datta setelah lelaki itu melangkah masuk ke dalam dapur.
“Sup ikan yang pedas,” jawab Khadijah sembari mencicipi kuah sup ikan yang sudah mulai mendidih. Baru saja mencicipi sedikit Khadijah mulai merasakan jika lidahnya terbakar hingga membuat keringat jagung menghiasi keningnya. “Pedas sekali,” ujar Khadijah dengan melangkah menuju ke kulkas kemudian mengambil minuman dingin dari dalam sana.
Datta segera mencicipi kuah sup ikan yang sedang di masak oleh istrinya dan rasa kuah ini masih sama seperti biasanya-begitu bersahabat sekali di lidah Datta, namun kenapa Khadijah merasa kepedesan seperti itu?
“Berarti selama ini dia nggak bisa makan pedas, tetapi selalu rela mencicipi makanan pedas hanya untuk menyenangkan aku,” batin Datta. Lelaki itu melihat ke arah Khadijah yang baru saja menghabiskan air mineral dalam gelas yang wanita itu genggam. Datta mungkin memang tidak bisa melihat wajah Khadijah karena seluruh tubuh perempuan itu tertutup tanpa ada cela. Namun Datta percaya jika wajah istrinya sekarang pasti merah padam karena menahan rasa pedas yang seakan membakar lidahnya.
Khadijah melangkah mendekati Datta kemudian perempuan itu mengambil sedikit gula dan langsung memasukkannya ke dalam kuah sup ikan, Khadijah mengambil sendok lalu ia mengambil sedikit kuah dan hendak mencicipi rasa sup ikan itu lagi, tapi Datta langsung memegangi tangannya kemudian berkata.
“Kamu selalu mencicipi makanan selama ini?” tanya Datta pada Khadijah.
“Tentu saja, saya selalu mencicipi makanan ini, kalau saya nggak mencicipi makanan ini maka saya nggak akan tahu bagaimana rasanya,” jawab Khadijah jujur sembari hendak mencicipi kuah sup ikan itu namun, Datta malah merebut sendok itu dan langsung melahap kuah ikan tersebut.
“Rasanya sudah pas,” jawab Datta dan Khadijah mengganggukkan kepalanya. “Lain kali nggak usah masak pedas lagi jika kamu nggak suka makan pedas,” kata Datta ambigu dan hal itu membuat Khadijah terlihat kebingungan hanya saja Datta tak bisa melihat wajah istrinya.
__ADS_1
“Saya memang tidak suka masak pedas, tapi Pak Datta suka,” jawab Khadijah.
“Kalau begitu berjanjilah kamu tak akan mencicipi makanan pedas lagi ketika membuatkan makanan untukku,” kata Datta yang tak ingin Khadijah kepedesan seperti tadi dan entah mengapa hati Datta tak rela melihatnya.
“Nggak mau, nanti makanannya malah nggak enak,” jawab Khadijah.
“Kalau begitu jangan masak untukku lagi setelah ini.” Datta meninggalkan Khadijah begitu saja tanpa menjelaskan semuanya secara detail. Datta merasakan seperti ada sesuatu yang hangat di hatinya ketika melihat perhatian Khadijah padanya. “Aku sudah menikah dengannya selama dua minggu dan baru kali ini aku mengetahui jika dia tak menyukai makanan pedas dan dengan bodoh perempuan itu malah selalu menyiksa dirinya untuk mencicipi makanan pedas hanya untuk menyenangkan aku,” batin Datta. Ada perasaan bahagia dan juga sedih yang tiba-tiba menyelimuti hati Datta sekarang.
***
Khadijah baru saja keluar dari ruangan kerjanya secara kebetulan Datta berjalan di belakang Khadijah, hanya saja perempuan itu tak menyadari keberadaannya. Datta pun segera mengambil ponsel yang ada di saku celananya kemudian mengirimkan pesan pada sang istri yang bertuliskan jika Datta melarang Khadijah untuk makan bersama dengan seorang lelaki. Datta memperhatikan ke arah Khadijah yang kini sedang membuka ponselnya dan secara kebetulan ada genangan air di lantai. Datta langsung membulatkan kedua matanya ketika ia melihat kaki Khadijah menginjak genangan air di lantai itu.
Jantung Khadijah sudah berdebar dengan begitu kencang sekali sebab meyakini jika dirinya akan jatuh ke lantai dengan posisi yang cukup memalukan jika di lihat oleh banyak orang yang sedang berlalu-lalang di lobby utama, tapi tidak disangka jika ada orang yang membantunya. Khadijah mulai membuka kedua matanya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat jika kini suaminya lah orang yang menyelamatkannya.
Semua perempuan dan juga lelaki yang melihat kejadian ini pun langsung membuka kedua matanya lebar-lebar. Khadijah yang selama ini selalu terlihat menjaga jarak dari para lelaki justru merasa tenang ketika di peluk oleh pemilik perusahaan ini. Para kaum hawa juga berpikir jika Khadijah pasti senang sebab bisa mendapatkan perhatian dari sang pemilik perusahaan, para perempuan itu langsung membicarakan hal buruk tentang Khadijah.
“Pak Datta kenapa ada di sini?” tanya Khadijah sembari mulai beranjak berdiri kemudian membenarkan posisi jubah yang ia kenakan.
“Khadijah, apa kamu baik-baik saja?” tanya Adam. Lelaki itu takut jika Kahdijah mendapatkan masalah jadi ia dengan sengaja menghampiri Khadijah.
__ADS_1
“Adam, saya baik-baik saja,” jawab Kahdijah dengan menundukkan kepalanya.
“Pak Datta terima kasih karena sudah menyelamatkan Khadijah,” ujar Adam pada pemilik perusahaan ini.
“Loh, Adam kamu kenal siapa dia?” tanya Khadijah sembari menatap ke arah Adam karena kaget Khadijah sampai lupa tak menjaga pandangannya dan hal ini bisa dibilang wajar sebab Khadijah adalah seorang perempuan biasa.
Datta yang melihat Khadijah memandang lelaki lain langsung mengarahkan tangannya untuk menundukkan kepala Khadijah sembari berkata, “Tundukan kepala kamu!” perintah Datta dan Khadijah menurutinya.
Adam dan juga semua orang yang melihat akan hal itu pun mulai merasa penasaran dengan apa yang terjadi di hadapan mereka sekarang. Tapi mereka hanya bisa diam dengan masih menyimak apa yang terjadi sekarang.
“Pak Datta sekali lagi tolong maafkan Khadijah,” kata Adam dan Datta langsung mengganggukkan kepalanya. “Khadijah, ayo kita makan siang bersama,” kata Adam sembari menarik jilbab Khadijah dengan gerakan yang lembut.
Datta yang melihat interaksi keduanya pun mulai tak suka hingga lelaki itu menepis tangan Adam yang memegang jilbab istrinya hal itu tentu membuat Kahdijah bingung sendiri dengan tingkah suaminya sekarang.
“Jangan berani kamu menyentuhnya,” kecam Pak Datta dengan kedua mata yang sudah membulat penuh.
“Pak Datta, saya mohon jangan menyakiti teman saya, nanti kalau ketahuan oleh pemilik perusahaan ini maka kami berdua akan di pecat,” kata Khadijah dengan mendorong suaminya mengunakan ponselnya seakan Khadijah sedang mencoba untuk melindungi Adam sekarang. Ya, kira-kira itulah yang sekarang sedang terlihat oleh Pak Datta. “Jika Pak Datta tidak ada kepentingan di sini maka tinggalkan saja perusahaan ini,” ujar Khadijah dan itu membuat mata Adam seakan hendak keluar dari kodratnya ketika ia mendengarkan ucapan Kahdijah barusan.
“Khadijah, kamu itu bicara apa? Pak Datta adalah pemilik perusahan ini,” ujar Adam.
__ADS_1