
Datta melangkah masuk ke dalam apartemennya. Niat awal lelaki itu ingin tidur di sofa sebab di dalam ruangan kamarnya pasti ada Khadijah. Datta sudah berjanji tak akan menyentuh perempuan itu dan sebisa mungkin akan Datta tepati. Datta melangkah santai menuju ke ruang tamu dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat seorang perempuan tidur di sofa. Jantung Datta tiba-tiba berdetak dengan begitu kencang sekali ketika ia melihat Khadijah tak mengunakan cadar dan juga hijab, bahkan jubah panjang yang selama ini menutupi tubuh istrinya itu juga tersingkap sampai ke lutut hingga membuat Datta melihat kaki jenjang nan mulus milik sang istri.
Datta adalah seorang lelaki normal dan tentunya ia merasakan gelenyar aneh yang berputar kemudian berhenti tepat di pusatnya hingga membuat sang junior ia sedang tertidur lelap langsung bangun dan siap tempur di saat yang salah.
"Shith! Dia membuatku bergairah tanpa melakukan apapun," ujar Datta mengumpati hasratnya yang muncul tanpa tahu waktu.
“Astaga, kenapa dia malah tidur di sofa,” ujar Datta sembari membalikkan tubuhnya. “Kenapa jantungku berdetak dengan begitu kencang seperti ini! Apa yang terjadi? Apakah karena aku terkejut melihatnya di sofa, dia bukanlah tipeku,” ujar Datta sembari melirik kembali ke arah Khadijah yang kini tidur dengan posisi yang terlentang. Ini cobaan apa ujian. Kira-kira seperti itulah yang Selasa sedang ada di dalam pikiran Datta.
Datta begitu terkejut sekali ketika melihat kepala Khadijah hampir saja jatuh dari pinggiran sofa dan refleks Datta langsung berlari mendekati Khadijah kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai hingga membuat kepala Khadijah kini bersandar di pundaknya.
"Shith! Aromanya harum sekali, bahkan rambutnya juga memilik aroma shampo Vanilla," ujar Datta yang tanpa ia sadari mencium rambut panjang Khadijah yang menjuntai di pundaknya.
1 jam kemudian.
“Shith! Kenapa juga aku harus melakukan ini? Seharusnya aku bangunkan saja perempuan ini dan bukan malah menjaganya,” batin Datta di daam hatinya mengutuk tingkahnya sendiri.
Khadijah mulai bergeliat dan ia pun mengerjapkan matanya kemudian menyadari jika Datta kini ada di sampingnya. Datta yang mengetahui jika Khadijah terbangun pun segera berpura-pura tidur.
“Astagfirullah, sejak kapan dia ada di sini? Katanya tadi tidak pulang malam ini, lah malah muncul begitu saja, mana tadi aku nggak mengunakan jilbab dan juga cadar,” gerutu Khadijah sembari beranjak berdiri kemudian buru-buru mengenakan jilbab dan juga cadarnya.
“Memangnya kenapa kalau aku melihatnya, aku adalah suaminya,” ujar Datta kesal ketika mendengarkan gerutuan sang istri. Kenapa juga Datta harus merasa kesal?
Setelah membenarkan penampilannya. Khadijah ingin menjauh dari Datta karena ia masih merasa takut jika ada di samping suaminya, bayangan akan malam menakutkan itu masih menghantui pikiran Khadijah hingga membuatnya sering kali bermimpi buruk. Tapi Khadijah akan berdosa jika membiarkan suaminya tidur dengan posisi duduk seperti ini. Dan akhirnya Khadijah memberanikan diri untuk melangkah mendekati Datta kemudian mengambil pulpen yang kebetulan ada di atas meja.
__ADS_1
“Pak Datta bangunlah,” ujar Kahdijah sembari mencolek lengan suaminya menggunakan pulpen yang ia bawa.
“Apakah dia kira aku ini kertas sehingga mencolek aku dengan pulpen seperti itu,” umpat Datta kesal di dalam hatinya. Kenapa juga Datta ingin Khadijah menyentuhnya dengan tangan. Hahaha lucu sekali.
“Pak Datta bangunlah, dan pindah lah ke dalam kamar Anda,” ujar Khadijah satu kali lagi. Khadijah langsung beranjak berdiri dan memberikan jarak di antara dirinya dan juga sang suami ketika melihat lelaki itu sudah mulai mengucek kedua matanya menggunakan tangan.
“Masuklah ke dalam kamarku, aku akan tidur di sofa,” pinta Datta pada Khadijah. Dengan berpura-pura masih mengantuk.
“Ini sudah hampir pukul 03.00 dini hari, saya akan mengaji sebelum melakukan sholat subuh,” jawab Khadijah dengan kepala yang tertunduk.
“Masih jam segini sudah mau ngaji?” tanya Datta dan Khadijah langsung menganggukkan kepalanya. “Saya sudah terbiasa melakukannya sejak dari kecil,” sambung Khadijah.
“Apakah setelah itu kamu langsung sholat?” tanya Datta. Entah mengapa Datta merasa penasaran saja dengan aktifitas perempuan yang baru saja ia nikahi ini.
“Ya,” jawab Khadijah sembari menganggukkan kecil kepalanya. “Apakah Pak Datta mau menjadi imam saya?” tanya Khadijah pada Datta.
“Kalau begitu saya akan mendoakan Pak Datta saja,” jawab Khadijah.
Datta tiba-tiba menatap Khadijah dengan mata tajamnya kemudian lelaki itu berkata, “Apakah kamu mau mendoakan aku biar cepat mati,” ketus Datta tak suka. Hahaha! Datta langsung murka setelah mendengarkan apa yang barusan Khadijah ucapkan.
“Mana mungkin saya mendoakan hal buruk seperti itu, saya akan mendoakan agar Pak Datta bisa menjauhi tempat terlarang dan mendekat pada kebaikan yang nabi kita ajarkan.” Setelah bicara Khadijah langsung melangkah menuju ke kamarnya.
“Dasar perempuan sok alim,” ujar Datta.
__ADS_1
***
Seperti biasa Khadijah berangkat kerja mengunakan sepedah motornya. Kini Khadijah berjalan masuk ke dalam perusahaan dan di saat yang bersamaan Datta juga turun dari dalam mobilnya, lelaki itu berjalan di belakang Kahdijah yang kini sedang melangkah dengan menundukkan kepalanya.
“Lihatlah perempuan sok alim itu, melangkah dengan kepala yang tertunduk,” batin Datta dengan memperhatikan ke arah Khadijah.
“Khadijah,” panggil seorang lelaki yang bernama Adam. Dia adalah teman baik Khadijah di kantor.
Tanpa melihat siapa yang baru saja menegurnya, Khadijah sudah bisa menebak jika itu adalah Adam sebab Khadijah merasa tidak asing dengan suaranya.
“Khadijah begitu cocok sekali bersama dengan Adam, yang satu pandai menutupi auratnya dan yang satu lagi pandai menjaga pandangannya,” ujar seorang perempuan yang berjalan di samping Datta.
“Aku bahkan ingin melihat mereka berpacaran,” sahut perempuan cantik itu.
“Mana mungkin mereka berpacaran, yang ada langsung nikah,” sahut perempuan lainnya hingga tanpa sengaja melihat ke arah Datta yang sedang berjalan tak jauh darinya.
Kedua perempuan itu pun membicarakan Datta yang memang begitu jarang sekali datang ke perusahaan, tapi akhir-akhir ini lelaki itu selalu saja datang ke perusahaan. Tentu saja hal itu menjadi topik hangat untuk dibicarakan oleh para kaum hawa yang ada di kantor ini. Lelaki tampan dan juga kaya seperti Datta, tak akan ada perempuan yang mampu menolak pesonanya kecuali Khadijah.
“Setiap kali berdiri dekat denganku peremuan itu menjauh dan lihatlah sekarang, dia justru berjalan di dekat lelaki lain dengan begitu nyaman!” ujar Datta mulai merasa kesal tanpa lelaki itu sadari sendiri.
Hahaha Datta mulai menaruh hati pada Khadijah nih! Tapi lelaki itu terlalu gengsi untuk mengakuinya sebab Kahdijah membungkus tubuhnya dengan kain yang kebesaran andaikan saja Khadijah membuka penampilannya mirip seperti Felishia sudah pasti Datta akan bangga memiliki perempuan yang bisa ia banggakan di hadapan teman-temannya. Semoga suatu saat cara berpikir Datta berubah Amin.
__ADS_1