Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Panggilan Sayang dari Datta


__ADS_3

Khadijah sesekali melirik ke arah suaminya yang kini sedang membantunya mengupas wortel. Khadijah membuang nafasnya lelah sebab dirinya sudah mengupas tiga butir kentang namun sang suami masih juga belum selesai mengupas wortel padahal Khadijah sudah menunjukkan caranya tadi.


“Mas, sini biar Khadijah saja,” ujar Khadijah pada suaminya. Khadijah memegang tangan sang suami berniat untuk mengambil wortel yang ada di tangan lelaki itu namun, yang tidak disangka Khadijah justru malah Datta melepaskan wortel yang ada di tangannya kemudian menggenggam tangan Khadijah.


Khadijah gemetar sebab ia masih belum terbiasa melakukan hal seperti ini dengan lawan jenis meskipun suaminya sendiri. Khadijah merasakan jika kedua pipinya kini sudah memerah mirip seperti tomat yang hampir busuk dan beruntungnya kini ia mengenakan cadar sehingga sang suami tidak bisa melihat semua akan hal itu. Sejujurnya Khadijah mulai menyukai suaminya namun entah mengapa ia masih merasa begitu ragu sekali untuk mengungkapkan segalanya, lebih lagi jika melihat sikap sang suami dengan mantan kekasihnya. Biarlah waktu membuat kepercayaan Khadijah pada sang suami semakin bertambah besar hingga dinding penghalang itu musnah dengan sendirinya.


“Mas, jika begini terus maka kita tak akan pernah makan malam,” kata Khadijah dengan sang suami sembari menundukkan kepalanya.

__ADS_1


“Janji dulu jika setelah makan malam maka kamu akan pijat kepala saya,” pinta Datta. “Kepala saya terasa pusing sekali,” dusta sengaja Datta katakan agar ia bisa dekat dengan istrinya.


“Baiklah,” jawab Khadijah. Ia tak boleh menolak keinginan sang suami dan lebih lagi itu adalah menyangkut tentang kesehatan suaminya.


***


Setelah selesai mencuci semua piring-piring kotor yang ada di wastafel Khadijah pun melangkah menuju ke ruangan kamar suaminya. Khadijah mengetuk pintu ruangan kamar ini terlebih dahulu sembari mengucap salam dan setelah pintu terbuka Khadijah pun mulai masuk kedalam ruangan kamar suaminya. Khadijah melihat jika kini sang suami sedang mengenakan celana boxer di atas lutut dengan baju santai yang membentuk sempurna tubuh sang suami.

__ADS_1


“Sayang, kita ini sudah menikah jadi itu adalah hal yang wajar.” Tubuh Khadijah langsung membeku ketika ia mendengar suaminya memanggilnya dengan kata ‘sayang’ oh demi apapun jantung Khadijah mulai berdetak tak karuan sekarang ini.


“Duduklah di sini Mas, akan saya pijat kepalanya yang terasa pusing,” ujar Khadijah tak mau menangapi ucapan suaminya. Namun di dalam hati Khadijah merasa begitu senang sekali karena suaminya berubah menyayanginya seperti sekarang ini. Dan perubahan ini berbanding terbalik dengan sikap Datta yang selama ini selalu dingin dan juga arogan ketika ada di hadapan Khadijah.


“Baiklah,” jawab Datta. Melihat sikap istrinya yang malu-malu dan juga tak mau menangapi ucapannya, itu tak membuat Datta merasa tersinggung, tetapi lelaki itu justru merasa begitu gemas sekali melihat sikap sang istri.


Aneh sekali padahal Khadijah selalu menutup auratnya namun, Datta bisa semakin mencintai dan juga mengagumi sikap sang istri yang tak mudah tergoda dengan rayuan gombal. Bahkan beberapa kali Datta mendengar jika sang istri mengucapkan istighfar ketika ia memanggilnya dengan sebutan Sayang.

__ADS_1


Khadijah begitu terkejut sekali ketika ia mengetahui jika suaminya bukannya duduk malah kini lelaki itu menyandarkan kepalanya di pangkuan Khadijah. Tubuh Khadijah langsung membeku bagaikan patung tak bernyawa hingga suara Datta mulai mengalihkan atensinya.


“Kenapa hanya diam saja, kepalaku pusing Sayang,” ujar Datta yang malah semakin ingin menggoda istrinya sekarang. Datta jangan nakal dech kasihan itu Khadijah.


__ADS_2