Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Apakah Kamu Cemburu


__ADS_3

Datta berbaring di atas ranjangnya wajah lelaki itu nampak begitu masam sekali dengan sorot mata yang masih tidak bergeming melihat ke arah layar ponsel yang ada dalam genggaman tangannya. Datta mencoba untuk menghubungi Felishia kekasihnya tetapi nomor ponsel perempuan itu tidak bisa dihubungi membuat Datta merasa sangat kesal sekali.


Datta beranjak menarik tubuhnya dari atas ranjang kemudian melangkah menuju ke kamar mandi dan langsung menganti bajunya dengan yang baru kemudian lelaki itu melangkah keluar dari kamar ini.


Datta melihat kearah khadijah yang sedang mondar-mandir kesana-kemari seperti orang yang sedang kebingungan akan suatu hal. Datta pun langsung menghampiri Khadijah dengan masih menjaga jarak dari perempuan itu agar tidak takut padanya.


“Sudah tengah malam, tapi kamu belum tidur dan malah mondar-mandir seperti orang gila,” ketus Datta dengan suara dinginnya.


Khadijah menoleh ke arah Datta kemudian menundukkan kepalanya, perempuan itu menggenggam satu tangannya. Khadijah begitu malu sekali akan mengatakan hal ini, tapi ia tak memiliki pilihan lain.


"Jika kamu tidak kunjung menjawab maka terserah saja dengan apa yang mau kamu lakukan! Asal jangan hancurkan tempat ini,” ketus Datta. Lelaki itu mulai melangkahkan kakinya, kepalanya sangat pusing sekali dan ia tak ingin bertambah pusing dengan memikirkan perempuan yang ada di hadapannya sekarang.


“Tu-tunggu,” pinta Khadijah dengan kepala yang masih tertunduk. Hendak meminta bantuan pada suami sendiri saja sudah membuat jantung Khadijah berdetak dengan begitu kencang sekali seperti habis melakukan senam marathon keliling kota.


“Apa?” tanya Datta pada Khadijah setelah lelaki itu membalikkan tubuhnya.


“Di-didalam kamar ada serangga, saya takut,” ujar Khadijah tanpa menjelaskan secara detail karena perempuan itu tahu jika lelaki di hadapannya ini sudah cukup pintar hingga bisa mengartikan apa yang ia inginkan.


“Serangga! Kamu tidur saja di dalam kamar aku malam ini! Aku tak akan pulang. Serangga itu juga bakal pergi sendiri besok.” Tanpa menunggu Khadijah menjawab lelaki itu langsung melangkah pergi begitu saja. Apa katanya tadi? Meminta Datta untuk membuang serangga! Lah Datta juga begitu geli ketika melihat serangga. Datta Mending nggak pulang saja sekalian. Kira-kira begitulah yang sekarang sedang ada di dalam pikiran Datta.

__ADS_1


Waktu masih kecil Datta mengenakan sepatunya begitu saja, kemudian terasa ada yang geli-geli manja gitu mulai merayapi salah satu kaki Datta. Datta kecil mulai mendudukkan tubuhnya kemudian melepaskan sepatunya dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat serangga keluar dari dalam sepatunya dan sejak saat itu Datta takut pada serangga hingga detik ini.


“Nanti kalau dia pulang bagaimana? Aku tidur di sofa saja malam ini, dia juga tak akan pulang,” pikir Khadijah kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa. “Aku menikah tanpa cinta dan aku juga tak tahu tentang latar belakang keluarga suamiku, tapi yang jelas aku tahu mereka keluarga kaya dan semoga saja tidak melakukan bisnis haram,” pikir Khadijah. Khadijah ingin sekali mencari tahu tentang pekerjaan Papa Farhan dan juga suaminya namun, Khadijah lebih memilih tak mencari tau dan biarkan waktu saja yang membongkar segalanya.


Di tempat lain.


Saat ini Datta sedang duduk bersama dengan Reza teman baiknya. Reza sudah berteman dengan Datta sejak kuliah dan lelaki itu juga memiliki usia yang sama dengan Datta, tapi bedanya Datta lebih tampan dari pada Reza.


Mata lapar Datta mulai mengamati para perempuan cantik yang sedang berjalan kesana-kemari mencari seorang lelaki yang menginginkannya. Datta hanya diam tanpa memiliki minat melambaikan tangannya untuk memanggil salah satu perempuan cantik itu.


“Datta dimana Felishia?” tanya Reza. Biasanya Datta akan datang ke club malam ini bersama dengan kekasihnya tapi sesekali juga Datta pergi sendiri.


“Entahlah! Setelah melakukan hal konyol dia bagaikan menghilang di telah bumi,” ujar Datta sembari mengusap kasar wajahnya merasa kesal jika mengigat apa yang Felishia lakukan.


Datta menceritakan mulai dari awal kejadian hingga akhir dengan begitu detail. Reza yang mendengarkan cerita Datta sampai tak menghiraukan satu perempuan yang kini duduk di sampingnya, perempuan itu berulang kali menyodorkan satu gelas minuman beralkohol pada Reza, tapi Reza menolaknya karena menurutnya cerita Datta jauh lebih mengugah minatnya.


“Aku mulai meragukan jika Felishia benar-benar mencintai kamu karena selama ini yang aku tahu hanya orang yang menginginkan harta saja yang rela membagi kekasih ataupun miliknya untuk perempuan lain,” ujar Reza mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya pada sahabatnya ini.


“Reza, kamu ingin menghibur atau membuat aku marah,” umpat Datta kesal dengan kata-kata sahabatnya itu.

__ADS_1


Walaupun sejak malam naas itu Datta juga mulai berpikir jika Felishia tidak benar-benar mengganggap hubungan mereka serius lebih lagi selama ini perempuan itu selalu meminta banyak hal darinya mulai dari perawatan tubuh dan juga barang-barang mahal. Datta tidak pernah merasa keberatan karena selama ini Felishia begitu pandai menyenangkan hatinya.


“Lebih baik aku berkata jujur dari pada harus berbohong,” kata Reza. “Datta, aku justru merasa kasihan dengan perempuan malang itu dan jika dia masih gadis seperti apa yang kamu katakan maka perempuan itu akan mengalami trauma jika berdekatan dengan kamu apalagi sekarang kalian tinggal satu rumah bersama,” sambung Reza lagi.


“Dia memang trauma dan selalu menjaga jarak dariku, tapi perempuan itu selalu saja menyediakan apa yang aku perlukan. Mulai dari memasak dan juga membersihkan rumah, semua dia kerjakan sendiri tanpa mengeluh sedikitpun tidak seperti perempuan kebanyakan.


“Apakah dia lebih cantik dari Felishia?” tanya Reza.


“Ya, sangat cantik,” jawab Datta dengan membayangkan wajah Khadijah ketika tidak mengunakan cadar. Argh! Hanya dengan mengingat wajah itu sudah membuat junior Datta bangkit dan siap tempur lagi.


“Aku harus melihatnya,” ujar Reza merasa penasaran.


Datta langsung menendang kaki Reza dari bawah meja dengan cukup keras hingga sahabatnya itu memekik kesakitan sekarang. Entah kenapa Datta mulai merasa tidak rela jika ada lelaki lain yang melihat wajah Khadijah saat tidak menggunakan cadar.


“Dia istriku, bagaimana mungkin kamu berpikir untuk melihat wajahnya tanpa mengunakan cadar,” ketus Datta tak suka. Sorot mata lelaki itu menajam seakan menunjukkan jika kini ia tidak sedang bercanda sekarang.


“Aku tadi hanya mengatakan ingin melihatnya saja, bukan ingin melihat wajahnya tanpa mengunakan cadar,” kata Reza dengan tatapan menyelidik. “Apakah kamu mulai cemburu sekarang? Kamu bahkan mengakui jika perempuan itu adalah istri kamu! Sepertinya kamu sudah mulai jatuh cinta padanya, jika perempuan muslimah sepertinya tahu kalau kamu pulang dalam keadaan bau alkohol, pasti perempuan itu akan menceraikan kamu,” ujar Reza dengan tertawa puas ketika melihat  perubahan air muka sahabatnya itu.


“Aku tidak perduli jika ia minta cerai dan itu justru lebih baik karena aku menikah dengannya hanya di atas kertas saja, aku mencinta Felishia,” ujar Datta dengan beranjak berdiri. “Aku akan pergi ke suatu tepat.” Tanpa menunggu sahutan dari Reza, Datta langsung melenggang pergi begitu saja.

__ADS_1


“Kamu bisa membohongi aku tapi tidak dengan perasaan kamu, Datta,” teriak Reza dengan terkekeh geli melihat sikap aneh dari sahabatnya itu.


 


__ADS_2