
Datta sedang tertidur dengan begitu lelap sekali sebelum suara seorang perempuan menyelinap masuk kedalam indra pendengarannya dan membuat Datta langsung mendudukkan tubuhnya. Datta segera menyalakan lampu kamarnya dan kini ruangan yang sempat minim akan cahaya menjadi terang benderang, Datta mengerutkan keningnya mencoba mempertajam pendengarannya hingga nampak jelas suara siapa yang sedang berteriak itu.
“Ja-jangan sentuh aku, jangan lakukan itu,” teriak seseorang perempuan dari kamar sebelah dan Datta pun langsung berlari keluar dari kamarnya ketika ia mengetahui jika itu adalah suara Khadijah-istrinya.
Datta langsung membuka pintu kamar Khadijah dan beruntunglah tidak di kunci. Datta menyalakan lampu kamar ini dan terlihatlah jika sekarang Khadijah masih berteriak dari atas ranjang dan terlihat jelas wajah pucat perempuan itu dengan bulir bening yang kini sudah menghiasi keningnya, Datta bisa melihat semua itu dengan sangat mudah sekali karena sekarang Khadijah melepaskan cadar dan juga jilbabnya hingga membuat wajah sepucat kertas itu nampak jelas di netra Datta.
“Khadijah bangunlah,” ujar Datta dengan nada suara yang terdengar lembut dan lelaki itu juga menepuk pelan pipi sang istri tanpa menyakitinya sedikitpun. Datta merasa sangat kasihan sekali pada istrinya sekarang.
Selang beberapa detik kemudian. Khadijah mulai membuka kedua matanya dan ia melihat jika kini sang suami sudah berada di dalam ruangan ini, tubuh Khadijah gemetar dan itu membuat Datta langsung menarik sang istri kedalam pelukan hangatnya.
“Tenanglah, aku akan bersama dengan kamu, aku akan melindungi kamu dan tak akan pernah aku biarkan kejadian ini terulang kembali,” kata Datta pada sang istri sembari mendekapnya dengan penuh kasih sayang. Sekarang yang ada di hati dan juga pikiran Datta hanya satu yaitu menjaga istrinya dan juga memberikan kenyamanan untuk Khadijah.
“Pak Datta, saya tidak mengunakan hijab sekarang,” kata Khadijah dengan suara yang parau karena terlalu banyak menangis. Sejujurnya Khadijah ingin mengatakan jika ia akan mengunakan hijab sekarang, tapi dengan cara yang tidak langsung agar tak melukai hati suaminya.
“Kamu adalah istriku, bukankah sudah menjadi hal yang wajar jika aku melihatnya?” tanya Datta tanpa melepaskan pelukannya dan Khadijah hanya bisa menganggukkan kepalanya setuju.
__ADS_1
“Maafkan saya jika mengganggu tidur Pak Datta, tetapi saya sungguh masih tak bisa melupakan kejadian memalukan itu,” kata Khadijah dengan isak tangisnya. Khadijah merasa sangat berdosa sekali karena ia tak bisa menjaga dirinya dari perbuatan keji Felishia, semoga Allah memaafkan semua perlakuan Felishia dan memebrikan hidayah untuk perempuan itu. Amin.
“Di dalam rumah ini aku bukanlah bos kamu, melainkan aku adalah suami kamu, bisakah jika jangan sebut aku dengan panggilan. Pak?” tanya Datta sembari melepaskan pelukannya dari Khadijah.
“Lalu panggil apa?” tanya Khadijah dengan kepala yang tertunduk.
“Mas, panggil aku dengan sebutan itu, sekarang coba lakukan, tetapi jika kamu tak mau aku juga tidak akan memaksa,” jawab Datta yang memang tidak ingin memaksakan kehendaknya pada sang istri.
“Ma-mas Datta,” kata Khadijah dnegan terbata-bata dan hal itu membuat Datta merasa sangat gemas sekali pada istrinya hingga membuat Datta langsung memeluk Khadijah.
“Mas Datta boleh kembali ke kamarnya, saya sudah merasa jauh lebih baik sekarang,” kata Khadijah pada suaminya dengan suara lirih. Khadijah terus saja menundukkan kepalanya karena merasa malu sebab saat ini dirinya sedang tidak mengunakan hijab dan membiarkan rambut ikal berwarna hitam itu nampak di pandangi oleh suaminya.
“Setelah kamu tertidur dengan pulas, maka aku akan keluar dari ruangan ini, kamu tidak perlu merasa cemas karena aku akan duduk di sofa.”
***
__ADS_1
Khadijah mulai terbangun dari posisi tidurnya dan perempuan itu pun mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan kamarnya dan benar saja apa yang semalam suaminya itu bilang. Lelaki itu sudah tak ada di dalam ruangan kamar ini ketika Khadijah membuka matanya, Khadijah langsung turun dari atas ranjang kemudian melangkah masuk ke dalam kamar mandi guna untuk membersihkan tubuhnya sebab Khadijah akan melakukan sholat subuh.
Khadijah melangkah keluar dari kamar mandi dan alangkah begitu terkejutnya ia ketika melihat jika kini suaminya sedang mengelar sajadah di atas lantai, Khadijah yang merasa tidak percaya dengan apa yang sedang dirinya lihat sekarang pun segera mengucek kedua matanya. Tapi bayangan suaminya masih memenuhi kedua kornea matanya hal itu membuat Khadijah tersadar jika ini bukanlah fana namun, nyata.
Kedua manik mata Khadijah dan juga Datta saling menatap satu sama lain, hal itu membuat Datta merasa canggung hingga langsung membalikan tubuhnya. Jantung Datta berdetak dengan begitu kencang sekali saat ia menyadari jika kini istrinya hanya menggunakan handuk saja yang terlilit di sebagian tubuhnya.
Khadijah baru menyadari jika kini ia hanya mengenakan handuk saja yang menutupi sebagian tubuhnya dan perempuan itu pun langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan setelah mengenakan jubah dengan benar berserta cadarnya Khadijah keluar dari kamar mandi.
“Maafkan aku, aku sungguh tidak bermaksud masuk ke dalam ruangan kamar ini begitu saja dan melihat kamu yang seperti tadi, aku hanya ingin menjalankan ibadah sholat subuh bersama,” kata Datta dengan kepala yang tertunduk.
Khadijah merasakan ada kehangatan yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya ketika ia mendengarkan ucapan suaminya barusan.
“Alhamdulillah, Khadijah sangat senang sekali jika akhirnya Mas bisa menjadi imam untuk Khadijah,” jawab Khadijah jujur dengan senyuman yang tidak luntur di balik cadarnya. Khadijah sungguh tidak menduga jika suaminya akan berubah secepat ini, tapi tak ada yang tidak mungkin bagi Allah sebab hanya dialah yang bisa membalikkan hati semua hamba-hambanya.
Datta dan juga Khadijah akhirnya melakukan sholat subuh bersama, Khadijah mengecup punggung tangan suaminya setelah melakukan sholat subuh. Khadijah sungguh merasakan getaran yang ada di dadanya. Semoga Allah menjawab doa Khadijah yang waktu itu meminta jika ia dan juga Datta akan berjodoh sehingga tak harus melakukan perceraian. Tapi Khadijah tidak boleh terlalu gegabah dalam mengambil kesimpulan sebab tak memungkinkan jika suaminya kembali pada masa lalunya. Semoga saja tidak.
__ADS_1
“Ya, Allah, hanya padamu hamba meminta dan juga memohon, semoga engkau menyelipkan perasaan cinta dengan tulus kasih di hati suami hamba agar pernikahan ini tidak hanya terjalin satu atau dua bulan namun, selamanya. Amin.”