
Setelah selesai bekerja Khadijah dengan sengaja pulang lebih dahulu agar Adam tidak datang ke ruangannya dan mengajak pergi ke rumah sakit bersama, semua itu Khadijah lakukan karena ia ingin mentaati apa yang suaminya perintah, suaminya yang tidak memperbolehkan Khadijah untuk bersama dengan Adam meskipun keduanya hanya mengobrol saja.
Khadijah begitu terkejut sekali ketika ia melihat ke arah seorang lelaki yang kini sudah berdiri di teras depan perusahaan, lelaki itu adalah Pak Datta. Khadijah buru-buru berjalan cepat kemudian berlari menuju ke parkiran mobil. Entah mengapa Khadijah takut saja jika ternyata suaminya mengajaknya pergi ke rumah sakit bersama. Dan benar saja ketika Khadijah menjalankan motornya ternyata Pak Datta langsung ikut masuk ke dalam mobil kemudian mengemudikan mobil itu di belakang motor Khadijah.
“Ya, Allah bukannya hamba mencoba untuk mengindari suami hamba, hanya saja hamba nggak bisa menyapanya karena kami masih menyembunyikan pernikahan ini dari orang lain,” batin Khadijah meminta maaf pada sang pemilik alam semesta berserta semua isinya.
Khadijah saat ini bisa melihat jika Pak Datta tidak mencoba untuk menyalip motornya padahal jalanan yang ada di sampingnya cukup lenggang untuk di lewati oleh kendaraan beroda empat.
Kini Khadijah baru saja memarkir kendaraannya di depan rumah sakit dan Pak Datta langsung berjalan menghampirinya, Khadijah baru saja menaruh helmnya di spion motor kemudian perempuan itu memutar tubuhnya dan kini netranya sudah melihat sang suami ada di hadapannya sedang tersenyum ramah padanya, senyuman ini sungguh membuat jantung Khadijah berdetak dengan begitu kencang sekali. Biasanya Pak Datta selalu menunjukkan wajah nampak datar dan lengkap dengan tatapan penuh intimidasi namun, sekarang semua itu sudah tak terlihat lagi.
“Assalamualaikum, Pak, eh maksud saya Mas Datta,” ujar Khadijah yang sempat memanggil Datta dengan sebutan Pak namun, perempuan itu langsung membenarkan ucapannya ketika ia ingat jika sekarang sudah tidak berada di kantor lagi.
“Waalaikumsallam, Istriku,” jawab Pak Datta sembari memberikan tangannya di depan sang istri dan Khadijah langsung mengambil tangan suaminya untuk ia kecup.
__ADS_1
Tangan Khadijah merasa begitu gemetar sekali ketika menyentuh tangan suaminya dan Pak Datta tahu akan hal itu dengan sangat jelas. Keduanya pun berjalan masuk ke dalam rumah sakit dan langsung menyusuri lorong tempat di mana Umi Amira di rawat selama ini, Khadijah masih saja berjalan dengan menjaga jarak dari suaminya sebab ia masih belum terbiasa berjalan di dekat lelaki lain dengan jarak yang cukup dekat sekali.
Pada awalnya Pak Datta tidak merasa keberatan jika harus berjalan di samping istrinya namun, suara dan juga tatapan para Dokter membuat atensi Datta teralihkan. Lelaki itu kini dengan sangat jelas bisa melihat jika para lelaki yang sedang mengenakan baju serba putih itu nampak menatap istrinya dengan penuh damba, bahkan ucapan-ucapan pujian juga tak henti mereka keluarkan dari bibir masing-masing dan sepertinya para Dokter itu mengenali istrinya dengan begitu jelas sebab semuanya tahu jika Khadijah suka mengenakan baju serba hitam.
Khadijah terkejut sekali ketika tangannya tiba-tiba di gandeng oleh seseorang, Khadijah pun baru menyadari jika sekarang yang mengandeng tangannya adalah Pak Datta memangnya siapa lagi.
“Kenapa Pak Datta tiba-tiba menggandeng tangan saya?” tanya Khadijah dengan polosnya.
“Apakah selama ini kamu selalu dekat dengan para Dokter yang ada di rumah sakit ini?” tanya Datta dengan air muka nampak tak baik-baik saja Dan Khadijah bingung melihat perubahan sikap suaminya padahal sebelumnya lelaki ini nampak begitu ramah sekali ketika menghampirinya di parkiran mobil tadi.
“Kalau begitu kenapa para Dokter membicarakan kamu?” tanya Datta sembari melirik ke arah lain dan Khadijah yang merasa penasaran dengan apa yang sedang suaminya lihat barusan hendak menoleh ke arah yang sama namun, Datta langsung menarik dagu istrinya sembari berkata, “Jangan coba-coba untuk melihat lelaki lain,” ujar Datta mirip seperti suatu perintah dan bukannya permintaan.
“Ba-baik,” jawab Khadijah kemudian menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan yang penuh akan drama dan juga kecemburuan. Akhirnya sampai juga Datta dan juga Khadijah di depan ruangan kamar Mamanya. Setelah mengucapkan salah keduanya langsung masuk ke dalam ruangan ini. Umi Amira dan juga Mama AIza tersenyum manis melihat ke datangan keduanya sekarang. Sebab kedua pengantin baru itu sudah ada sekitar 1 minggu lamanya tidak datang ke rumah sakit dan itu bukannya atas keinginan mereka sendiri melainkan atas permintaan dari Umi Amira yang ingin membiarkan putrinya merasakan kehidupan rumah tangga dengan tenang supaya tidak selalu memikirkannya.
“Khadijah sangat merindukan Umi,” ujar Khadijah seraya memeluk tubuh renta itu dengan sangat hati-hati sekali supaya ia tak sampai melukai Umi Amira karena perasaan rindunya. Khadijah selalu merasakan nyaman sekali ketika ia memeluk Umi Amira seperti ini dan sudah satu minggu ia seakan tak merasakan kenyamanan seperti ini.
“Umi juga sangat merindukan kamu,” jawab Umi Amira sembari mengusap perlahan punggung putrinya. “Apakah kamu bahagia dengan pernikahan kalian?” tanya Umi Amira sembari melepaskan pelukan Khadijah.
Khadijah kini sedang berdiri dan tidak di sangka Datta menarik kursi yang ada di jangkauannya ke dekat sang istri kemudian meminta Khadijah untuk duduk di kursi itu. Khadijah yang merasa kaget hanya bisa menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan suara sedangkan Umi Amira dan juga Mama Aiza yang melihat akan hal itu merasa begitu senang sekali sebab mereka bisa melihat ketulusan yang terpancar jelas dari air muka Datta sekarang.
“Ya Allah, terima kasih karena engkau telah memberikan putriku, seorang suami yang begitu perhatian padanya,” batin Amira dengan meneteskan air matanya sebab tak kuasa menahan perasaan bahagia yang sekarang sedang menyelimuti hatinya.
Khadijah melihat Umi Amira meneteskan air matanya dan perempuan itu pun bertanya, “Umi, kenapa menangis? Apakah ada yang terasa sakit? Coba katakan pada Khadijah,” ujar Khadijah dengan wajah nampak panik sekali, tapi kepanikan itu tak bisa di lihat oleh siapapun sebab tersembunyi di balik cadarnya.
Aiza yang mengetahui apa alsan Umi Amira menangis pun langsung membuka suara. “Umi Amira menangis pasti karena merasa bahagia sebab suami kamu berubah menjadi pengertian sekali, dia bahkan tak ingin kamu berdiri terlalu lama hingga mendekatnya kursi itu untuk kamu duduki,” sambung Mama Aiza ikut angkat bicara.
__ADS_1
“Mama dan juga Umi jangan berlebihan seperti ini, hal itu membuat Datta merasa malu. Lagi pula menjaga dan juga melindungi Khadijah sudah menjadi kewajiban Datta,” ujar Datta dengan kepala yang tertunduk.
“Benarkan yang sekarang sedang aku lihat ini adalah Pak Datta? Tumben sekali lelaki yang selama ini selalu memasang wajah Datar dan lengkap dengan tatapan penuh intimidasi ini nampak malu-malu begini?” tanya Khadijah pada dirinya sendiri. Khadijah ini baru permulaan saja, nanti juga kamu akan tahu sikap asli suami kamu yang selama ini tak pernah kamu lihat di depan umum.