Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Cemburu Tanpa Sadar


__ADS_3

“Apakah kamu tahu, Pak Datta begitu tampan sekali, aku melihatnya sudah dua hari datang ke kantor,” ujar seorang perempuan sembari keluar dari ruangan kantor karena sekarang adalah jam istirahat.


“Dia begitu tampan sekali dan dia juga belum menikah, kabarnya sih pacar dia itu seorang model papan atas di kota ini,” sambung perempuan lain dengan wajah nampak kecewa karena saingan mereka seorang perempuan cantik dan juga terkenal. Ketampanan di atas rata-rata yang Pak Datta miliki selalu membuat para perempuan meleleh melihatnya.


Khadijah melangkah perlahan dengan jantung yang berdetak dengan begitu kencang dan entah mengapa ia mengingat jika Pak Datta pernah mengatakan kalau lelaki itu memiliki seorang kekasih. “Ya, Allah. Semoga saja lelaki yang mereka maksud itu tidak sama dengan apa yang hamba sedang pikirkan sekarang,” batin Khadijah. Khadijah sudah tahu jika mertuanya memiliki perusahaan, tapi Khadijah tak tahu jika perusahaan itu adalah tempatnya bekerja ini.


“Khadijah, apa kamu mau makan bakso di depan perusahaan? Ada penjual baru dan banyak yang bilang rasa baksonya begitu nikmat sekali,” ajak Adam karena lelaki itu tahu jika Khadijah menyukai bakso. Sekal lihat saja semua orang akan tahu jika Adam menyukai Khadijah selama ini. Hanya saja kedua orang yang begitu taat pada agama tak mungkin mengatakannya cinta begitu saja. Hingga Adam memilih menjadi sahabat Khadijah.


“Kita tak mungkin makan berdua,” ujar Khadijah. Khadijah sudah menikah dan ia tetap harus menjaga diri meskipun sang suami tak akan pernah perduli dengan apa yang ia lakukan.


“Mana mungkin kita makan berdua, kan banyak pekerja kantor juga yang makan di sana, tempatnya terbuka,” ujar Adam.


“Baiklah,” jawab Khadijah yang memang lagi pengen makan bakso.


Khadijah berjalan di samping Adam dan keduanya melangkah menuju ke depan perusahaan dengan berjalan kaki.


“Mau kemana dia? Aku adalah suaminya, mana mungkin dia bis berjalan di samping lelaki lain tanpa ijin dariku,” ujar Datta merasa kesal tanpa sebab.

__ADS_1


Seorang pengawal melangkah mendekati Datta kemudian berkata, “Pak Datta mobilnya sudah siap dan saya juga sudah memesankan tempat di restoran yang Anda inginkan,” ujar pengawal itu.


“Kamu makan saja sendiri, aku tidak lapar,” jawab Datta kemudian mulai mengikuti Khadijah. Datta tak terima jika melihat perempuan yang telah ia halalkan berjalan dengan lelaki lain, tapi jika Datta yang melakukannya maka itu tak jadi masalah. Datta memang curang mau enaknya sendiri.


“Dasar perempuan bodoh, itu ada mobil yang melaju ke arahmu. Seharusnya kalau berjalan itu agak minggir sedikit,” oceh Datta merasa kesal melihat kecerobohan Khadijah yang malah berjalan di jalur mobil. Datta langsung menggertakkan giginya merasa kesal ketika ia melihat ke arah lelaki sialan yang menarik jilbab istrinya, kemudian Khadijah mengikutinya minggir dan mereka berdua saling memandang.


“Ini sudah tidak bisa dibiarkan lag!” umpat Datta merasa geram sendiri. "Aku akan menghubunginya sekarang juga,” ujar Datta kemudian meraih ponselnya dan lelaki itu bertambah kesal karena ia tak memiiki nomor istrinya.


***


Khadijah masuk ke dalam apartemennya setelah mengucapkan salam. “Astagfirullah,” kata Khadijah seraya melangkah mundur dengan tangan yang sudah memegangi jantungnya ketika melihat Datta berdiri di samping pintu dengan menatap lurus ke depan.


“Bu-bukan begitu, Khadijah hanya terkejut saja,” jawab Khadijah. “Untung tadi aku nggak kena serangan jantung mendadak,” batin Khadijah masih dengan tangan yang mengusap dadanya.


“Dari mana kamu?” tanya Datta dengan nada suara terdengar dingin.


“Saya dari rumah sakit,” jawab Khadijah kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dan Datta mengikutinya dari belakang. Ada apa dengannya?" tanya Khadijah pada dirinya sendiri dan ia semakin mempercepat langkah kakinya.

__ADS_1


"Aku tidak bertanya mengenai hal itu," hardik Datta yang merasa tidak puas dengan jawaban Khadijah.


"Lalu masalah apa?" tanya Khadijah seraya menghentikan langkahnya kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah suaminya dengan kepala yang tertunduk.


"Apakah aku ada di lantai sehingga kau terus melihat ke arah bawah.” Sembur Datta.


“Tidak,” jawab Khadijah masih menundukkan kepalanya. Datta memijat pelipisnya pusing melihat sikap perempuan yang sekarang ada di hadapannya ini.


“Angkat kepala kamu dan lihat aku!” perintah Datta. “Dihadapan suami kamu menundukkan kepala. Dan di hadapan lelaki lain kamu malah menatapnya, munafik sekali!” ujar Datta pedas. Khadijah tak pernah menyukai cabe dan kata-kata Datta sekarang sepedas cabe rawit hingga membuat Khadijah ingin langsung berlari menuju ke dapur kemudian meneguk beberapa gelas air.


“Jangan suka memfitnah orang,” jawab Khadijah sembari mengangkat pandangannya. Entah mendapatkan keberanian dari mana sehingga Khadijah mulai menjawab ucapan Datta sekarang.


“Aku melihat kamu berjalan dengan lelaki lain dan pakai ada acara tarik jilbab segala, apakah penglihatan kamu itu sudah tidak berfungsi hingga ada mobil yang bergerak ke arah kamu. Dan kamu diam saja atau mungkin kamu sengaja ingin lelaki itu menarik jilbab kamu dan cadar kamu terlepas kemudian memamerkan wajah kamu yang jelek ini,” cecar Datta dengan panjang lebar di hadapan Khadijah. Datta merasa emosi sekali ketika membayangkan hal itu tadi. Padahal pikiran Datta mengatakan ia suka perempuan cantik dan seksi tapi hatinya justru berkata sebaliknya. Ini begitu membingungkan sekali.


Perasaan tidak nyaman mulai Khadijah rasakan di dalam hatinya, gelenyar aneh itu merambat ke hidung kemudian naik ke kedua kornea mataya hingga membuat cairan bening mulai berproduksi dengan begitu deras. “Pak Datta jangan asal menuduh seseorang karena itu tidak baik, saya tak pernah melakukan apa yang Anda katakan barusan, tapi saya minta maaf jika mungkin menyakiti hati Anda tanpa sengaja,” setelah bicara Khadijah langsung melangkah pergi.


“Siapa juga yang sakit hati! Aku tidak mencintai kamu dan kita hanya menikah di atas kertas saja, lalu kenapa aku harus sakit hati,” teriak Datta sebelum Khadijah menghilang di balik pintu kamarnya. “Memangnya dia kira siapa dia sehingga aku jatuh cinta padanya,” gerutu Datta kesal.

__ADS_1


Datta pasti tidak sadar jika sikapnya sekarang bisa juga di artikan seperti orang yang sedang merasa cemburu karena melihat istrinya dengan dengan lelaki lain.


 Datta merasakan getaran dari balik saku celananya kemudian lelaki itu langsung mengangkat telepon dari seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu. Itu adalah telepon dari Felishia-kekasihnya yang menghilang di telan bumi setelah memberikan kado seorang gadis virgin padanya. Argh! Ada perasaan bersalah dan juga beruntung yang Datta rasakan secara bersamaan ketika mengingat kejadian malam itu. Beruntung karena bisa mendapatkan seorang perempuan yang pandai menjaga dirinya sedangkan ketika pertama kali melakukan hubungan dengan Felishia-kekasihnya sudah tak bersegel lagi. Kenapa Datta justru malah membandingkan keduanya.


__ADS_2