
Datta mengetuk depan pintu kamar Khadijah berulang kali namun, istrinya itu tak kunjung menjawab, hingga Datta mencoba untuk memberanikan diri mengarahkan tangannya memutar handle pintu dan terbuka. Datta membuka pintu kamar ini kemudian pandangan lelaki itu menyisir sekitarnya dan ia tidak melihat istrinya di dalam kamar ini. Terdengarlah suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
Datta hendak berbalik arah untuk keluar dari ruangan kamar ini ketika mengetahui jika istrinya sedang mandi. Dan tidak sengaja ia melihat ponsel istrinya bergetar di atas meja tanda jika ada pesan singkat yang masuk ke dalam ponsel itu.
“Aku buka atau tidak pesan di ponselnya? Di buka saja siapa tahu itu pesan dari rumah sakit,” kata Datta mencoba mencari pembenaran akan apa yang hendak dia lakukan sekarang.
Datta mendudukkan tubuhnya di sofa kemudian tangannya meraih ponsel istrinya yang ada di atas meja. Manik mata Datta membaca nama siapa yang tertera di layar ponsel istrinya. Shith! Ini adalah nama lelaki yang bersama dengan Khadijah tadi, berani sekali perempuan itu menyimpan nomor lelaki lain sedangkan nomor suaminya sendiri saja tak ia simpan. Keluh Datta mulai protes di dalam hatinya.
“Khadijah, tadi kamu mentraktir aku, jadi besok gantian aku yang akan traktir sebab aku tak suka jika memiliki hutang pada orang lain,” ujar Datta membaca isi pesan singkat di dalam ponsel istrinya. “Cih! Menyebalkan sekali,” umpat Datta geram.
Terdengar suara pintu kamar mandi mulai terbuka dan Datta langsung menghapus pesan singkat dari Adam kemudian kembali menaruh ponsel Khadijah di atas meja. Datta meneguk salivahnya sendiri ketika ia melihat lekuk tubuh molek sang istri. Argh! Datta kembali mengingat tentang malam naas itu, Datta merasakan sekujur tubuhnya memanas ketika melihat penampilan istrinya yang tak seperti biasanya. Lelaki mana yang tak tergoda jika melihat perempuan yang selama ini selalu menutupi sekujur tubuhnya menggunakan kain dan kali ini perempuan itu hanya mengunakan sebagian handuk saja yang masih menempel di tubuhnya.
Datta menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan dari mulut. Ingin rasanya hati segera menerjang tubuh istri cantiknya dan langsung melampiaskan gelora hasrat yang seakan sudah membakar dibalik kulitnya, tapi Datta tak bisa melakukan itu karena Khadijah masih trauma akan apa yang ia lakukan beberapa waktu yang lalu.
Khadijah berjalan keluar dari kamar mandi hanya mengunakan handuk saja yang perempuan itu lilitkan di sebagian tubuhnya, Khadijah berjalan santai karena ia mengira jika tak ada Datta di dalam ruangan ini. Khadijah pun kini sudah di depan meja riasnya, tangan perempuan itu mengambil sisir yang tergeletak di atas meja rias dengan melihat bayangan wajahnya di cermin. Khadijah langsung membulatkan kedua matanya ketika ia melihat sosok tak di undang ada di dalam ruangan kamar ini.
“Apa yang Pak Datta lakukan di dalam ruangan kamar ini?” tanya Khadijah dengan menjerit histeris. Perempuan itu mengedarkan pandangannya kemudian meraih apapun yang bisa ia gunakan untuk menutupi wajahnya.
__ADS_1
“Kenapa menutupi tubuh kamu seperti itu? Kamu buka juga aku nggak akan berminat sedikitpun untuk menyentuh, lebih cantik dan juga seksi kekasihku,” ujar Datta dengan kejamnya. Datta mengalihkan pandangannya ke arah lain dengan jantung yang sudah berdetak dengan begitu keras. Datta sampai merasa kesulitan bernafas karena nalurinya sebagai seorang lelaki ingin mendekati istrinya dan. Argh! Datta bisa gila jika begini terus.
“Kalau begitu keluar dari ruangan kamar saya!” pinta Khadijah.
“Aku mau keluar,” kata Datta sembari melirik ke arah Khadijah. “Dia cantik sekali walau tanpa menggunakan make up.
Visual Khadijah jika di lihat dari penglihatan Datta
“Ya, sudah keluarlah dari ruangan ini,” jawab Khadijah.
“Untuk apa?” tanya Khadijah.
“Aku akan berlibur bersama dengan kekasihku selama beberapa hari dan nanti jika Mama ataupun Papa tiba-tiba berkunjung ke apartemen ini maka kamu hubungi aku,” kata Datta berbohong pada Khadijah dan entah mengapa ia melakukan ini. Sungguh konyol sekali.
“Apakah Pak Datta akan melakukan zina dengan perempuan lain? Kita mungkin memang menikah karena terpaksa tetapi, jangan lakukan hal itu, tunggulah sampai 1 bulan pernikahan dan jika sampai saat itu saya tidak hamil maka Pak Datta bisa menceraikan saya,” kata Khadijah masih berdiri membeku di posisinya sekarang. Hati Khadijah terasa begitu sakit sekali ketika membayangkan lelaki yang menjadi suaminya bersama dengan perempuan lain. Memang Khadijah belum mencintai suaminya ini namun, Khadijah juga tak bisa menutup mata begitu saja.
__ADS_1
“Aku adalah seorang lelaki normal,” jawab Datta. Dan entah mengapa ia senang sekali ketika melihat Khadijah merasa terganggu akana pa yang ia lakukan dengan perempuan lainnya.
“Alhamdulillah masih normal,” ketus Khadijah mulai berani berbicara dengan nada jutek pada Datta. “tapi jangan disalah gunakan juga, nanti kalau Allah sudah ngasih nggak bisa bangun itu si junior baru tahu rasa,” kata Khadijah yang seperti menyumpahi suaminya.
“Hei … jaga ucapan kamu itu.” Sembur Datta dengan berjalan menghampiri istrinya.
“Ma-maaf,” kata Khadijah ketakutan kemudian berlari masuk lagi ke dalam kamar mandi. “Simpan sendiri nomor Pak Datta, ponsel saya ada di atas meja dan tak menggunakan kata sandi,” pinta Khadijah setelah mengamankan dirinya di dalam kamar mandi.
“Setakut itu dia ada di sampingku! Jika bersama dengan lelaki lain saja mau deket-deket. Dasar munafik.”
***
Datta melangkah masuk ke dalam club malam. Ia langsung mengerti dimana posisi kekasihnya sekarang karena tempat ini hanyalah khusus untuknya saja, ya Datta selalu memesan tempat yang paling ujung di club malam ini ketika hendak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang.
“Kau sudah di sini saja,” kata Datta pada Reza yang kini sudah di temani oleh dua orang perempuan.
“Aku sudah dari tadi, kamu saja yang terlambat datang,” balas Reza pada sahabatnya itu.
__ADS_1
Datta baru saja mendudukkan tubuhnya di sofa dan Felishia langsung beranjak berdiri kemudian mendaratkan tubuhnya di pangkuan Datta begitu saja. Bahkan tanpa ada rasa malu sedikitpun Felishia mengecup bibir Datta dengan penuh kerinduan. Datta yang memang merindukan kekasihnya pun membalas kecupan itu dengan suka rela.
“Sudah menikah, tapi kelakuannya masih sama,” batin Reza yang melihat sikap sahabatnya itu. Entah mengapa Reza merasa kasihan saja dengan perempuan muslim yang menikah dengan teman luknutnya ini. Reza memang brensek dan suka berganti pasangan namun, setidaknya ia belum terikat dengan pernikahan jadi masih aman jika main sana-sini.