
“Khadijah, kenapa kamu mendorong aku seperti ini, tak aku sangka perempuan bercadar seperti kamu bisa juga bersikap kejam,” tuduh Dita berpura-pura tidak tahu dengan alasan Khadijah mendorongnya pelan hingga terpojok ke tembok.
“Dita, kenapa kamu menjebak aku? Memangnya apa kesalahan aku pada kamu selama ini? Bagaimana mungkin kamu bisa meminta aku mengantarkan minuman laknat itu pada seorang lelaki dewasa dan bukan sepasang lansia,” teriak Khadijah dengan suara yang bergetar. Khadijah yang tidak bisa menahan kesedihannya pun mulai meneteskan air matanya. Dan beruntung pagi ini Kahdijah mengenakan cadar berwarna hitam hal itu akan membuat siapapun tidak menetahui jika cadar itu basah dengan air mata.
“Bodoh! Bukankah kamu sudah tahu jika minuman yang kamu antaran adalah alkohol dan mana ada lansia yang minum alkohol,” tuduh Dita.
“Dita! Aku tak pernah memegang minuman haram itu sebelumnya, jadi dari mana aku tahu!” ketus Khadijah mulai mengusap dadanya dan juga membaca istighfar di dalam hati.
“Semua sudah terjadi, kamu tak perlu menyesalinya dan lagi pula aku sudah mentransfer sisa pembayaran dan aku juga memberikan bonus tambahan untuk kamu karena kakasih dari lelaki yang kamu temani itu senang dengan servis kamu yang memuaskan,” setelah bicara Dita hendak melenggang pergi begitu saja meninggalkan Khadijah yang sedang terpuruk sedih.
“Dita. Katakan apa alasan kamu melakukan semua ini? Apakah kamu tidak takut dosa,” ujar Khadijahs disela-sela idak tangisannya.
“Dosa! Itu urusan nanti yang terpenting aku hidup bergelimang harta di bumi ini. Apakah kamu tidak tahu atau kamu hanya berpura-pura bodoh! Selama ini begitu banyak lelaki yang memuja kamu dan mengatakan jika kamu itu perempuan sholehah dan begitu jarang sekali bisa ditemukan di jaman seperti ini.” Dita berbicara dengan suara yang meluapkan kebencian begitu besar. Dan kini Dita mulai menaruh kedua tangannya angkuh bersedekap di dada. “Memangnya apa bagusnya kamu? Kamu pasti memiliki wajah yang jelek dan karena sebab itu tak pernah melepaskan cadar,” tuduh Dita tanpa alasan yang jelas. Setelah puas meluapkan racun kebenciannya Dita mendorong Khadijah hinggah jatuh ke lantai.
Khadijah menangis terisak kemudian memanggil nama Dita hingga perempuan itu menghentikan langkahnya kemudian menatap Khadijah. “Semoga Allah mengampuni semua kesalahan kamu, Dita dan lekaslah bertobat kepadanya sebelum semuanya terlambat,” ujar Khadijah yang merasa emosi namun perempuan itu memilih kata-kata yang bijak untuk di katakan.
Dita bukannya menyesal perempuan itu justru menatap ke arah Khadijah dengan penuh kebencian. “Jangan memikirkan tentag kehidupan aku! Kau pikirkan saja diri kamu yang bercadar dan juga menutup sekujut tubuh dengan kain namun melakukan zinah di luar nikah. Jika kamu hamil maka anak itu tak akan memiliki nasab.”
__ADS_1
Di sisi lain.
Datta melangkah menjauh dengan kedua tangan yang sudah terkepal dengan begitu kuat. Datta memang tidak mencintai Khadijah namun, ia merasa kasihan melihat nasib perempuan malang itu. Datta semakin menyesal dengan apa yang ia perbuat dan andaikan saja waktu itu Felishia tidak merencanakan semua ini pastilah perempuan malang itu masih suci tak ternoda sama sekali.
***
“Tadi pagi aku melihat Dita masuk kerja, tapi kenapa dia tak masuk kedalam ruangan? Apakah aku salah lihat?" tanya seorang perempuan paruh baya pada perempuan yang ada di samping Khadijah.
“Apakah kamu tidka tahu, jika Khadijah di pecat dari perusahaan ini tanpa alasan yang jelas,” jawab perempuan itu.
“Dita memang sangat centil sekali dan terlihat beberapa kali juga mencoba mengoda para lelaki yang memiliki jabatan tinggi, perempuan sepertinya memang lebih baik di keluarkan dari pekerjaan ini,” timpal perempuan paruh baya itu.
Selang beberapa waktu.
Khadijah mengunakan baju warna pics dan dengan cadar yang senada. Khadijah melangkah menuju ke dapur kemudian membawa rantang berisikan makanan yang akan ia berikan pada kedua mertuanya dan juga Umi Amira. Khadijah sengaja memasak setelah pulang bekerja dan setelah melakukan sholat magrib ia bersiap-siap menuju ke rumah sakit.
“Mau kemana kamu?” tanya Datta yang kini sudah berdiri di depan pintu dapur sembari menyandarkan bahunya di daun pintu dengan melipat salah satu kakinya ke depan.
__ADS_1
“Astagfirullah,” ujar Khadijah. Lelaki ini mirip seperti makhluk astral yang bisa muncul dimana saja Khadijah harus mulai waspadah mulai dari sekarang.
“Saya mau ke rumah sakit untuk menemui Umi Amira,” jawab Khadijah jujur. “Saya sudah membuatkan makan malam untuk Anda, apakah mau saya siapkan sekarang sebelum berangkat ke rumah sakit?” tanya Khadjah yang berpura-pura baik-bak saja. Khadijah begitu pandai sekali menyembunyikan kesedihannya dan Khadijah juga mengunakan kaca mata hingga tak ada satupun orang yang tahu jika kini kedua pelupuk matanya bengkak karena terlalu banyak menangis.
“Jika aku tak mengijinkan kamu ke rumah sakit, apakah kamu tetap berangkat?” tanya Datta masih tak bergeming di posisinya.
Khadijah mengangkat pandangannya sesaat karena kaget dengan apa yang Datta katakan barusan. Keduanya bertemu pandang dan Khadijah memutuskan kontak mata itu lebih dahulu sedangkan Datta masih memerhatikan Khadijah.
“Jika Anda tak mengizinkan, maka saya akan tetap tinggal di rumah,” jawab Khadijah patuh.
“Kenapa kamu sangat patuh dengan keinginan dan juga perintahku? Apakah sekarang kamu sedang berperan menjadi seorang pelayan di rumah ini?” tanya Datta lagi. Sesungguhnya ia tahu apa alasan Khadijah melakukan itu namun, Datta ingin saja mendengarkan jawaban Khadijah secara langsung.
“Anda adalah suami saya, jadi saya harus patuh pada keinginan Anda. Terserah jika Anda menganggap saya seorang pelayan tapi hal itu tak akan mempengaruhi apapun karena saya akan tetap menjalankan tugas sebagai seorang istri sesuai dengan apa yang kedua orangtua saya ajarkan pada saya sejak dari kecil,” sahut Khadijah. Terdapat nada suara takut yang terdengar dari getaran lidahnya namun, Khadijah bicara dengan tegas dan uga lugas.
“Tambahkan isi makanan di dalam rantang yang kamu bawa! Aku juga ingin menemui Mama dan juga Papa.” Setelah bicara Datta langsung melangkah pergi begitu saja.
“Apakah dia ingin mengantarkan aku? Eh ... mana mungkin dia tadi mengatakan ingin bertemu dengan kedua orangtuanya,” ujar Khadijah.
__ADS_1
Datta melirik ke arah Khadijah yang kini sedang menambahkan isian di dalam rantang yang ia bawa. Dan entah mengapa Datta semakin menyesal telah merenggut kesucian peremmpuan itu.
“Bagaimana dengan keadaan Felishia sekarang? Kenapa kekasihnya itu seakan menghilang di telan bumi setelah memberikan kekacauan ini padanya,” gumam Datta yang memang masih mencintai kekasihnya.