Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar

Terpaksa Menikahi Wanita Bercadar
Apakah Ini yang Namanya Terpaksa


__ADS_3

Farhan baru saja pulang dari masjid kemudian langsung masuk kembali ke ruangan Amira dan juga istrinya berada sekarang. Setelah mengucakan salam lelaki itu ikut bergabung dengan kedua perempuan paruh baya yang sedang berbincang-bincang dan sesekali juga terdengar canda tawa renyah keluar dari bibir keduanya.


“Kalian sedang membicarakan apa nih, kok kayaknya lucu sekali hingga tertawa begitu?” tanya Farhan seraya menatap ke arah istrinya.


“Kami sedang menceritakan masa kecil Khadijah dan juga Datta,” sahut Aiza pada suaminya.


“Tentang masalah apa itu?” tanya Farhan mulai penasaran. Lelaki itu pun menarik satu kursi kemudian duduk disamping istrinya.


“Umi Amira pernah mengatakan ketika masih kecil, Khadijah hampir saja terjatuh lalu ada teman sebayanya yang menolong dengan menarik tangan Khadijah hingga nggak jadi jatuh ke aspal. Khadijah kecil mengucapkan terima kasih pada temannya kemudian pulang ke rumah dalam keadaan menangis,” jelas Aiza mengulangi apa yang Umi Amira katakan sebelumnya.


Farhan mengerutkan keningnya bingung namun, sesaat kemudian Farhan mengganggukkan kepalanya mengerti lalu berkata, “Jangan bilang jika menantu kita takut dosa hingga ia menangis dalam perjalanan pulang ke rumah?” tebak Farhan pada istrinya.


“Ya, benar itu,” sahut Amira dengan tertawa senang melihat betapa pandai menantunya menjaga diri padahal waktu itu Khadijah masih berusia 8 tahun dimana anak sebayanya masih sibuk bermain dengan lawan jenis, tapi  Khadijah sudah menjaga jarak.


“Pasti tidak mudah menjaga dan juga mengajari Khadijah hingga perempuan itu taat seperti ini, padahal di luar sana begitu banyak sekali para perempuan yang mengikuti perubahan jaman dengan mengenakan baju minim akan bahan,” ujar Aiza sembari menggenggam tangan Amira sebagai tanda terima kasih karena Amira telah mau menerima pinangan mereka.


“Namun, saya dan juga almarhum suami saya percaya, tak ada yang tidak mungkin di dunia ini apalagi jika Allah sudah berkehendak,” jawab Amira dengan bijak.


“Anda benar. Dan kami beruntung bisa mendapatkan menantu seperti Khadijah,” kata Farhan dan Aiza mengganggukkan kepalanya setuju.

__ADS_1


“Semoga saja Nak Datta bisa menjaga Khadijah,” ujar Amira yang langsung diaminkan oleh Aiza dan juga Farhan.


***


Setelah bangun tidur Datta langsung mandi dan juga mengenakan jas kerjanya kemudian lelaki itu keluar dari kamar. Aroma hidung Datta langsung mengendus nikmat ketika mengirup aroma masakan yang begitu lezat sekali. Datta mengikuti aroma masakan itu hingga ia pun kini berdiri di depan pintu dapur, terlihat seornag perempuan bercadar sedang sibuk membuat sarapan pagi dan perempuan itu adalah istrinya sekarang. Argh! Rasanya masih seperti mimpi jika kemarin Datta menikahi perempuan yang menutup sekujur tubuhnya dengan kain.


“Dia memiliki lekuk tubuh yang lebih indah dari Felishia, tapi kenapa malah menutup auratnya,” batin Datta dengan membayangkan malam panjang penuh akan kesenangan baginya, tapi tidak bagi Khadijah waktu itu.


“Ini adalah masakan kesukaanku, sepertinya hanya kebetulan saja ia membuatnya. Pasti rasanya nggak seenak buatan Mama,” batin Datta meragukan masakan istrinya sendiri.


Khadijah memang masih marah dan juga ketakutan kalau ia mengingat kejadian naas itu, namun Khadijah tak mau lalai dalam melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Khadijah semalam sempat mengirimkan pesan singkat pada Mama mertuanya dan Khadijah menanyakan makanan kesukaan suaminya itu lalu setelah tahu pagi ini Khadijah membuatkan sarapan untuk suaminya.


“Baiklah jika kamu memaksa,” kata Datta setelah ia melirik ke arah nasi goreng yang sudah ada di dalam piringnya. Datta meneguk salivahnya sendiri ketika ia mengetahi jika di atas nasi goreng terdapat telur setengah matang dengan kuning yang masih meleleh, serta ada irisan kol dan juga mentimun, ini sungguh nasi goreng vaforitnya dan jangan lupakan cabe yang ada di atas nasi goreng itu sungguh membuat Datta tak sabar mencicipinya.


"Kalau nggak mau jangan di makan! Khadijah nggak maksa kok,” setelah bicara perempuan itu melangkah menuju wastafel kemudian mencuci peralatan makan yang tadi sempat ia gunakan untuk memasak.


“Tak aku sangka jika perempaun bercadar sepertinya bisa ngomong pedes juga,” gumam Datta. Datta nggak mau meladeni ucapan Perempuan itu dan ia lebih memilih melahap makananya.


“Aku nggak percaya berani berucap sepeti itu di hadapannya,” batin Khadijah yang sudah gemetar ketakutan saat mengingat kata-katanya sendiri tadi.

__ADS_1


“Makanan ini nggak enak rasanya, aku terpaksa menghabiskannya karena takut kamu mengadu pada Mama.” Setelah bicara Datta langsung beranjak berdiri dari posisi duduknya kemudian melangkah keluar dari ruangan dapur ini dengan perut yang sudah terasa begitu kenyang sekali.


“Eh ... dia makan cepet banget,” batin Khadijah kemudian perempuan itu melangkah menuju ke meja makan. “Ini yang namanya orang terpaksa? Dia bahkan menghabiskan satu piring sarapan pagiku, untung saja tadi aku masih menyisahkan satu piring lagi,” batin Khadijah.


Khadijah terus saja mengucapkan istighfar dan juga besholawat ketika ada di dekat suaminya, hal itulah yang membuat rasa takut Khadijah sedikit terkikis. Andaikan lelaki itu bukan suaminya maka Khadijah sudah akan menjaga jarak dengannya sejauh mata memandang. Tapi pernikahan itu sudah terjadi dan yang bisa Khadijah lakukan hanya mencoba menjadi istri yang baik sesuai dengan apa yang kedua orangtuanya ajarkan padanya sejak dari kecil.


***


Hari ini Khadijah kembali masuk kerja, perempuan itu mengucab basmalah ketika hendak menjejakkan kakinya di halaman perusahaan ini. Khadijah melangkah masuk menuju ke lobby utama 10 menit sebelum jam masuk kantir. Dari kejauhan perempuan itu melihat Dita-perempuan yang beberapa hari lalu menjebakknya sedang berbincang manja dengan seorang lelaki dan sesekali Dita menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu.


Khadijah mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah Dita kemudian berdiri di samping teman kantornya ini, Dita hendak kabur ketika menyadari kalau Khadijah ada di sampingnya namun, Khadijah dengan sigap langsung memegang tangan Dita.


“Mas, bolehkah jika saya berbicara dengan Mbak Dita terlebih dahulu?”  tanya Khadijah dengan kepala yang tertunduk.


“Khadijah, nanti saja kita berbicara, aku ada urusan yang penting dengannya,” bujuk Dita yang masih mencoba menghindar.


“Bicara saja dengan Khadijah dulu, sepertinya apa yang akan Khadijah katakan jauh lebih penting,” jawab lelaki yang ada di samping Dita. Tanpa menunggu sahutan dari Dita lelaki itu langsung saja melangkah pergi.


Khadijah segera menarik tangan Dita kemudian membawanya menuju ke tangga darurat. Di kejauhan Datta melihat akan hal itu kemudian langsung mengikuti Khadijah secara diam-diam. Wah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ya?

__ADS_1


 


__ADS_2