
Masih banyak pertanyaan di pikiran Wilona, bahkan takutnya pria itu adalah sindikat penjual barang-barang terlarang bahkan menjual belikan manusia dan menjadikan dirinya pekerja malam.
Wilona terlalu parno.
Kenal satu pria yang menjadi suaminya selama empat tahun saja sudah cukup, ia tidak mau lagi berurusan dengan orang asing yang baru di kenal. Takutnya berdampak lebih parah lagi, belum juga sukses menjatuhkan Kaizer malah dirinya terlibat masalah aneh.
"Wilona ... tarik nafas, hembuskan. Tarik lagi ... hembuskan, huft ..." Sambil menarik nafas.
Sopir taksi yang di pesan Wilona sudah sampai di samping parkiran rumah sakit, ia terburu-buru masuk ke dalam taksi.
"Pak cepat ya, saya di kejar orang tidak di kenal beberapa hari ini." Wilona tidak berbohong.
Orang-orang itu bukan orang-orang milik Kaizer, tapi milik pria yang mengaku-ngaku kakaknya.
Banyak sekali pesan masuk ke dalam ponsel Kaizer.
Tring
Berkali-kali masuk.
Senyum Kaizer lebar.
"Tumben kirim pesan istriku." Bukannya buru-buru malah asik dengan senyuman dan hayalannya.
Suara nada dering panggilan masuk.
Wilona kesal Kaizer tidak kunjung membalas pesannya justru mengabaikan dirinya.
"Dasar suami suka selingkuh." Hendak membanting ponselnya tapi ia urungkan.
"Sabar-sabar Wilona jangan gegabah, meski sekarang bisa membeli ratusan ponsel baru lebih baik uangnya di simpan dan di investasikan demi masa depan. Semangat Wilona" menyemangati diri sendiri.
"Pak tolong dong ke PT MAHIR GEMILANG SENTOSA." Wilona menepuk kursi pengemudi mobil taxi online.
"Siap mbak," tersenyum ramah.
Perasaan Wilona tidak tenang di ikuti dari belakang, tapi perasaannya juga tak kalah resah dengan pernikahannya.
Meski belum ada perasaan dan mengatakan secara langsung, tapi rasanya juga tidak rela terus di duakan.
'Kenapa sih perasaan dari tadi di rumah sakit sampai sekarang resah terus'
.
.
Wilona sedang membaca status di salah satu akun Instagram pribadinya.
'Sebenarnya dimana letak kesalahanku, sehingga aku berada di posisi yang membuat ku di undurkan secara tidak langsung. Sebenarnya dia tidak berubah, hanya aku yang di rubah tidak betah dan berakhir mundur secara perlahan.
Aku tau aku bukan pemegang tahta hatimu dan aku tidak berharap aku akan jatuh ke dalam lubuk hatimu yang terdalam, semakin jauh semakin jauh pula.'
"Ish... kenapa jadi pikiran yang enggak-enggak sih setelah baca status beginian, suka-suka dia lah mau bawa cewek atau cowok untuk ia jadikan pendamping ranjang nya." Gumam Wilona menuju meja resepsionis.
Tak
Tak
Tak
"Apakah tuan Kaizer ada mbak?" tanya Wilona pada resepsionis.
__ADS_1
"Apa anda sudah buat janji dengan tuan Kaizer?"
'Gimana sih mbak ini, mentang-mentang gak kenal aku seenaknya jidat malah bertanya balik.'
"Belum sih mbak, apa mbak gak kenal dengan saya." Wilona sengaja memancing pertanyaan.
Jika benar belum kenal berarti pas penyamarannya di kantor Mahir, ia memang berharap begitu agar rencananya satu persatu bisa terwujud dengan mulus dan tanpa hambatan tentunya.
"Saya tidak kenal dengan mbak. Begini ya mbak, jika belum membuat janji terlebih dahulu dengan tuan Kaizer, maaf tidak bisa bertemu dengan beliau, sebab tuan Kaizer sangat sibuk sekali," ramah tamah tapi penuh kepalsuan.
Resepsionis itu tidak menyukai Wilona, ia begitu cantik dan mempesona. Orang melihat saja jika suka akan jatuh cinta tapi justru sebaliknya jika orang tersebut tidak suka maka akan mendapatkan tatapan tajam dan penuh kepura-puraan.
Wilona duduk di salah satu kursi yang berada di lobi kantor Mahir.
💬 Apa anda sibuk 🙄
Pesan itu langsung terkirim ke ponsel pribadi Kaizer.
Kaizer tersenyum-senyum lagi
💬 Ada apa?
Terkesan cuek di layar ponsel Wilona.
"Nih orang"
💬 Saya di lobi, sudah jamuran
Wilona mulai bosan.
Kaizer bergegas keluar dari ruangannya.
Semua karyawannya tertunduk hormat padanya, jelas saja mereka semua tidak ada yang tau jika Kaizer adalah anak har,m yang mereka tau Kaizer putra pertama yang hilang dan baru di temukan.
"Apakah anda sudah menunggu lama?"
"Tidak!" Wilona berjalan tidak jauh dari Kaizer.
.
.
.
Ruangan Kerja Kaizer.
"Tumben kemari?"
"Apa tidak boleh" menatap malas Kaizer
"Tentu saja boleh."
Tidak ada pembicaraan sampai detik-detik berikutnya.
"Lihat." Memberikan hasil lembaran tes DNA pada Kaizer
Kaizer menerimanya.
"Milik anda?"
"Kalau bukan milik saya, apa milik anda!" duduk bersila di sofa
__ADS_1
"Coba saya lihat dan baca dulu."
"Di telan dan di jadikan minuman atau makanan boleh juga tuh, gak penting-penting amat," Wilona mengeluarkan ponselnya.
"Dia saudara anda?"
"Sepertinya begitu, tapi saya tidak sepenuhnya percaya sebab laki-laki itu berada di rumah sakit yang sama saat saya mengecek ke lab, dan kemungkinan besar hasil lab nya sudah di sabotase !"
Baru ki ini pembicaraan antara Kaizer dan Wilona panjang lebar tanpa adanya perdebatan sengit.
"Oh ya." Kaizer tidak percaya dengan bualan Wilona.
"Orang berhak kemana saja yang ia mau termasuk pergi ke rumah sakit yang sama pula" Sambung Kaizer membuat Wilona menyesal sudah memberikan lembaran laporan itu.
Padahal tadi niatnya kemari hanya ingin mengalihkan perhatian orang-orang bawahan pria yang tidak dikenali nya.
Suara jam terus berdetak dari waktu ke waktu.
Wilona berdiri cantik di dekat jendela besar yang langsung tertuju di seluruh penjuru isi kota besar tersebut.
"Anda mau saya bagaimana ?"
"Lihat, banyak orang yang sedang mengikuti saya. Mereka mata-mata dari pria yang mengaku-ngaku sebagai kakak kandung saya!" membuka gorden besar yang menutupi kaca yang tidak tembus dari luar.
Srek
Kaizer berjalan perlahan ke arah mana Wilona tunjukkan.
"Mereka?"
Wilona mengangguk.
"Mau di bereskan ?"
"Boleh, silahkan saja. Saya juga ingin melihat bagaimana cara kinerja pewaris kekayaan keluarga Mahir !"
Kaizer tertantang, baru kali ini Kaizer dimintai tolong oleh Wilona.
"Akhirnya anda mengakui juga jika saya pewaris tunggal keluarga Mahir." Senyum bangga.
"Tapi bohong, enak aja anda mau menguasai sendirian. Bukannya dari awal nikah kontrak saling menguntungkan, saya untung anda buntung," Wilona tidak mau kalah debat dengan Kaizer.
Setiap perbuatannya selama ini harus di bayar perlahan-lahan oleh Kaizer.
Wilona terdiam menunggu reaksi selanjutnya dari Kaizer.
"Anda menanti saya bergerak cepat?" Tanyanya seolah-olah Wilona pengemis.
Wilona tidak akan menjadi pengemis, sudah cukup dirinya dulu berharap kini sebaiknya ia tidak berharap.
Sesuatu yang di jalankan dua orang yang berbeda dan tidak pernah sejalan akan percuma saja jika berlanjut dan berlarut-larut.
Tapi misinya sudah setengah jalan lebih, tidak ada kesempatan mundur yang ada tetap maju.
Jika ucapan saja tidak menggugah niatnya, lebih baik dengan tindakan berani bukan.
"Jika tidak mampu tidak usah sok sokan." Wilona berdecak pinggang dan pergi meninggalkan ruang kerja Kaizer.
Kaizer tersenyum.
"Ternyata masih butuh pertolongan, tapi berani memberontak. Ck.. dasar wanita."
__ADS_1