Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 6


__ADS_3

"Saya gak mau malam ini, pergi sana temui wanita yang anda cintai tadi!" mengusir Kaizer.


Kaizer berhenti saat ini juga.


"Dia ... bukan dia ... untuk apa saya menemuinya, lebih baik yang ada dan sudah lama bersama meski tanpa ada tegur sapa." Meraih kedua tangan Wilona meletakkannya di atas kepalanya.


"STOP ... STOP ..." menghentikan aksi Kaizer yang sudah mulai meraja lela masuk ke dalam baju tidurnya.


"Ada apa lagi sih ?"


"Tidak ada!" acuh tak acuh.


"Anda berbohong."


"Tidak," santai tanpa rasa bersalah.


Saat tangan Kaizer menyentuh area bawah sepertinya ada yang salah, kenapa ada roti jepit di sana.


"Anda datang bulan?" sedikit emosi. "Padahal saya ingin meminta imbalan malam ini." Sambungnya.


"Ya, seperti yang anda tebak tuan Kai--zer!" tersenyum penuh kemenangan.


"Sial, tunggu saja kalau sudah selesai akan saya buat perhitungan tanpa ampun di tubuh anda." Ancamnya bukan main-main.


Kaizer kesal aksinya terhenti lagi-lagi, bukan hanya kali ini saja tapi sudah sering kali dan berakhir main solo sendiri.


Wilona menatap kepergian kaizer menuju ke kamar mandi,setiap langkah Kaizer begitu mempesona.


Tidak dapat di pungkiri jika Wilona diam-diam selalu tidak bisa menahan pesona suaminya sendiri, walau bagaimanapun mereka sudah bersama tidak hanya sehari atau dua hari melainkan 4 tahun lamanya.


Jadi wajar saja jika rasa akan tumbuh seiring berjalannya waktu.


.


.


Beberapa menit kemudian.


Kaizer keluar dari kamar mandi tapi tidak mandi sekalian, hanya melepaskan has,rat nya saja.


"Apa anda sudah puas bermain sendirian?" Wilona memperbaiki selimutnya sendiri.


"Menurut anda bagaimana?" malah balik bertanya.


"Sepertinya kurang puas!" menggoda lagi.


Tapi itu bukan kesengajaan yang di buat-buat oleh Wilona, tapi secara tidak sadar pesona Wilona mulai meracuni Kaizer tanpa di sadari sama sekali.


Jadi gerakan apapun itu membuat Kaizer merasakan ada sesuatu hal yang aneh.


"Anda sudah tau itu, kenapa tadi tidak membantu saya."


"Tidak perlu saya bantu. Pasti anda bisa menanganinya sendiri dengan baik, bukan," Wilona mulai memejamkan matanya.


Tiba-tiba


Mata Wilona membelalak.

__ADS_1


Ia merasakan ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya.


Tangan besar dan nyaman.


"Lepaskan."


"Tidak, tolong malam ini jangan mengusir," Kaizer memohon.


Wilona bimbang.


"Ada apa dengan anda, apa ada hantu di kamar anda?"


"Tidak, hanya rindu!" jawabnya sebelum memejamkan matanya.


'Nih orang mabuk atau bagaimana sih.' Wilona diam-diam mencari bau di tubuh Kaizer.


Tidak ada yang aneh, mungkin ada masalah.


Kaizer yang bertelanjang dada merasakan ada sesuatu yang sedang menikmati keindahan tubuhnya bagian dada.


Ia membuka matanya sedikit padahal rasa kantuknya tidak dapat di tahan lagi, tumben-tumbenan setelah main solo malah mengantuk.


"Cium saja jika suka."


Wilona merona.


Baru kali ini ia merasakan kedua pipinya panas.


"Enggak, siapa yang mau mencium itu. Lagian sudah pernah di sentuh wanita lain, saya gak suka bekas orang," Wilona membalikkan tubuhnya.


Pagi hari.


"Hah ... nyamannya." Sambil melonggarkan tubuhnya yang terasa jauh lebih segar dari sebelumnya.


"Benarkan senyaman itu?" Kaizer menggoda Wilona dengan posenya yang seksi.


"Haduh ... ngapain sih anda masih ada di sini !" Wilona malas menanggapi.


"Kenapa tidak, di rumah ini saya masih ada hak untuk tidur di mana saja. Bukannya di peraturan perjanjian tidak ada larangan untuk berkunjung ke kamar satu ke kamar lainnya." Penjelasan Kaizer ada benarnya.


Wilona terbungkam, kenapa bisa kecolongan poin penting sih.


"Hari ini berbeda, sudah bertahun-tahun. Bukannya daya ingat anda banyak berkurang tuan Kaizer yang alim," senggakan Wilona menancap tepat di jantung Kaizer.


Sungguh wanita ini sangat berbeda dari yang dulu, kenapa berbeda dan asing. Meski seatap dan tidak bertegur sapa, tapi bukan ini identitas Wilona.


'Kenapa jadi berbeda, apa dia ada niatan menceraikan aku lebih dahulu ?' bertanya-tanya dalam hati.


"Ya anda benar, bukankah lebih baik membuat peraturan baru. Misalnya tepat tanggal perjanjian selesai salah satu pihak yang menggugat dan tergugat menandatangani surat perceraian" Kaizer tanpa basa-basi meminta perubahan surat perjanjian.


Tidak akan semudah itu, jika ingin mengajukan dan menggugat hanya hak Wilona saja yang pantas bukan dia atau mereka yang tidak suka.


"Anda sedang mencibir saya, baiklah. Tapi bukan hari ini." Wilona beranjak pergi dengan menggulung rambutnya ke atas dan menuju ke kamar mandi.


"Saya tunggu surat itu dari anda nona Wilona," Kaizer menyibakkan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


"Oke, baiklah. Sungguh mengesankan sekali tanggapan anda dan harapan anda." Wilona tersenyum sekilas sebelum dirinya benar-benar masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kenapa tidak, saya memang ingin secepatnya berakhir" Kata-kata Kaizer sedikit menusuk relung hati Wilona.


Cras


Suara air dari shower terdengar keras menghantam tubuh Wilona yang masih di tutupi dengan baju tidur, rasanya tubuhnya hendak ambruk di bawah guyuran air shower.


"Empat tahun, empat tahun. Aa ... ha ... ha ... sungguh konyol menikah dengan orang yang perasaannya saja tidak ada, mungkin hati yang di milikinya sudah di donor kan semua ke salah satu pasien yang membutuhkan donor hati." Tertawa miris.


.


.


Kaizer sudah siap-siap dengan pakaiannya serba rapi dengan jas dan kemeja peach nya.


"Tampan."


Salah seorang wanita paruh baya yang selalu menyiapkan pakaiannya dengan lengkap, ia orang kepercayaan ibunya dulu saat ibunya sering berkunjung ke tempat tuan besar Maher Mahir.


Ibunya Kaizer hanya pembantu panggilan bila di perlukan,tapi Kartika tidak menyangka jika kejadian pahit yang menimpa ibunya kaizer menyebabkan kaizer lahir kedunia ini.


Karena tidak kuat dengan gunjingan orang-orang membuat ibunya kaizer yang bernama Bunga meninggal sebab terkena sakit keras.


"Terimakasih ibu Kartika."


"Andai ..." matanya berkaca-kaca jika mengingat ibunya Kaizer.


"Hus... semua sudah berlalu ibu Kartika, tidak apa-apa, saya masih bisa dan kuat menghadapi gunjingan mereka bahkan istri saya sendiri."


'Sebab salahku sendiri'


"Tapi tuan, nona tidak ..."


"Saya tau," tersenyum saat membalikkan badannya membelakangi Kartika.


.


.


Di meja makan


Suara garpu dan sendok saling beradu di atas piring yang berada di meja makan, tidak ada pembicaraan di antara keduanya.


Tampilan Wilona sangat cantik dan menggemaskan.


"Anda hendak pergi kemana?" Kaizer membuka pembicaraan.


"Bukan urusan anda!" jawabnya dengan nada dingin.


"Saya tau, jika satu arah kenapa tidak berangkat bersama." Menawarkan tumpangan pada Wilona.


"Tidak perlu, saya masih ada sedikit trauma mengendarai mobil anda. Lebih baik saya mengenakan jasa ojek online," menutup sendok dan garpu sebab makanannya lebih dulu habis dari pada Kaizer.


Wilona meraih tas yang ada di samping kursi duduknya.


"Saya antar. " Sedikit memaksa.


"Tidak,"

__ADS_1


__ADS_2