Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 28


__ADS_3

Maher akan terus menggali informasi itu, sudah lama tidak mencari sesuatu seperti mencari jarum di tumpukan jerami.


'Sepertinya akan ada hal menarik.' Maher sudah berencana.


Beberapa orang kepercayaan dari Maher ia kerahkan yang berada di luar negri untuk mencari tau tentang gadis masa lalu Kaizer, apa benar sudah tiada atau masih sehat dan waras.


''Apakah sudah ada berita menarik?'' tanyanya pada salah satu asistennya.


''Ada sedikit masalah tuan besar, bahwa gadis itu masih sehat sampai sekarang. Hanya saja kakinya!''


''Kenapa dengan kakinya?''


''Gadis itu mengalami kecelakaan besar dan beritanya ia meninggal tapi saya menemukan bahwa gadis itu masih dalam keadaan sehat dan kakinya mengalami kelumpuhan, tidak permanen bisa di obati jika ia mau. Tapi sayangnya sampai sekarang ia tidak mau !'' jawabnya membacakan pesan yang ia dapatkan dari bawahannya yang berada di luar negri.


''Terus desak dia sampai mau terapi, saya tidak mau tau bagaimana pun caranya harus mau. Setelah itu bawa ke sini, saya ingin gadis itu secepatnya dan ingin melihat wajahnya secara langsung.'' Tidak dapat di ganggu gugat.


...***...


Setibanya di rumah cucu yang tidak pernah di harapkan hadir dan menganggu kenyamanan hidupnya.


'Rencana harus berjalan lurus sesuai dengan keinginan ku,aku harus bergerak pelan tapi pasti jika aku terburu-buru bukannya akan ketahuan.' Batinnya.


Maher di sambut dengan baik saat masuk ke rumah Kaizer Wilona.


''Selamat datang kakek.'' Sapa Wilona padanya.


Maher tersenyum saat menerima uluran tangan Wilona dan seperti biasanya tidak ada yang berubah.


'Gadis ini sungguh pandai menutupi identitasnya, jangan pikir bisa menutupinya dariku. Aku bukan tidak tau tapi berpura-pura tidak tau, seberapa lama bisa gadis ini menyembunyikan identitasnya. Aku ingin melihatnya ?'


Wilona juga tidak curiga, hanya hawatir jika Kaizer memiliki pendapatnya sendiri. Suatu saat nanti.


''Kakek, ayo silahkan duduk.'' Menawari Maher untuk duduk.


Maher mengangguk.


Rumah ini masih sama hanya saja dekorasi rumah ada banyak perubahan dari segi warna dan penataannya.


"Bagaimana keadaanmu Wilona?"


"Saya sehat kakek, kalau kakek bagaimana keadaannya saat saya tidak mengunjungi kakek." Dengan kata-kata lemah lembut. "Apakah kakek tau Wilona hawatir dengan keadaan kakek saat Wilona tidak berkunjung kesana !" senyum terukir indah di wajahnya.


'Anak ini, benar-benar seperti Sastra Arga. Pandai memanipulasi keadaan, sayangnya bukti yang aku punya belum kuat sepenuhnya. Maka dari itu sebelum aku memisahkan mereka, akan aku buat mereka berpisah secara perlahan-lahan dengan mendatangkan wanita lumpuh itu lebih dulu ke kota ini, dengan begitu secara tidak langsung Kaizer akan bertemu cepat atau lambat.'

__ADS_1


Maher mengangguk tersenyum.


'Ada apa nih orang dari tadi menatap istriku dengan tatapan menyorot begitu?' Kaizer merasa curiga sepertinya ada yang sedang di sembunyikan oleh Maher, tapi apa.


Setelah pertemuannya tadi Kaizer dan Maher sedang berbincang-bincang di gazebo.


''Kenapa anda menatap istri saya begitu tajam, apa anda ada masalah dengan kepulangan istri saya dari rumah sakit?'' Kaizer ternyata cepat juga membaca situasi.


Maher tersenyum devil.


''Kamu begitu peka sekali, saya sudah mendapatkan informasi tentang gadis yang bernama Yumna, apa kamu masih ingat dengan gadis itu?'' tanpa basa basi Maher membahas gadis masa lalu Kaizer.


Deg


'Laki-laki tua bau tanah tau dari mana jika aku pernah bersama dengan Yumna ?'


''Saya tidak mengenalnya, jika anda ingin mengancam saya silahkan anda lakukan itu tidak ada artinya untuk saya. Yang jadi pertanyaan di sini buat apa anda menatap istri saya begitu, anda ingin membuat kesalahpahaman antara saya dan istri saya?'' tajam ucapan Kaizer di tujukan pada Maher.


''AA ... HA ... HA ..., ternyata kamu tidak jauh beda dengan papamu yang sudah ma ti itu. Pantas ma ti lebih awal begitu juga dengan ibu jalan* mu, mereka pantas ma ti lebih dulu.'' Suara tawa Maher begitu terngiang-ngiang di telinga Kaizer.


Apa wajar seorang ayah menertawakan kematian putranya sendiri.


''Laki-laki psikopat''


''Kai, ada apa?''


Kaizer terkejut ternyata Wilona sudah berada di sampingnya.


''Sayang ... sejak kapan kamu di sini?''


''Baru saja, memangnya ada apa. Ada masalah serius.'' Meletakkan secangkir coklat hangat kesukaan Kaizer.


Ia mencicipi sedikit minuman buatan Wilona, tetap rasanya sama enak dan pas di lidah.


''Hem ... enak, seperti biasanya, aku suka.'' Sambil mengangguk-angguk.


Wilona menyilangkan kedua tangannya. ''Jangan mengalihkan pembicaraan,''


''Aku tidak mengalihkan pembicaraan kita, aku memuji coklat buatan mu sayang.''


Ia menghela nafas berkali-kali.


''Sepertinya kita harus lebih waspada lagi sayang.''

__ADS_1


''Kenapa?''


''Tidak ada, hanya saja sepertinya persaingan bisnis mulai meraja lela, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa sayang !'' mengusap lembut pipi Wilona.


Wilona memeluk erat tubuh Kaizer yang merangkulnya ke dalam pelukannya, rasa hangat dan di lindungi terasa menusuk ke dalam relung jiwanya.


Suara mobil memasuki area taman rumah.


''Ada tamu?'' merenggangkan pelukannya.


''Iya, tapi siapa? bukannya kita berdua tidak ada janji dengan siapa-siapa !'' memastikan mobil yang masuk ke area taman.


Kebetulan antara taman dan gazebo tidak jauh jadi bisa di lihat secara langsung tanpa harus merepotkan pembantu dan bawahan yang lain.


Sastra Arga ke 3 datang berkunjung.


''Kenapa tidak bilang lebih dahulu jika kamu sudah pulang Wilona?'' sorot matanya begitu tajam ke Kaizer dan seketika lembut kepada Wilona.


''Aku se--''


Kaizer menyela.


''Apa harus bilang dulu, anda ini masih abu-abu statusnya tidak jelas apa benar kakak kandung atau mengada-ada.'' Ledek Kaizer sambil menjulurkan lidahnya dan kembali dingin.


''Saya tidak berbicara pada anda, kenapa anda yang menjawabnya,''


Wilona memutar bola matanya.


''Stop, kalian ini seperti 4njing dan kucing saja, apa tidak bisa akur sebentar kalian ?'' heran sekali kepada dua laki-laki yang terkenal dingin dan berwibawa tapi nyatanya suka bercanda.


''TIDAK BISA!'' jawab kompak Kaizer dan Sastra Arga ke 3.


''Eh, kalian kompak sekali ya.'' Gelak tawa.


Mungkin ketegangan di antara mereka akan segera mencari secepatnya, semoga saja seperti harapan-harapan sebelumnya.


'Aku tidak pernah punya keluarga dari dulu sampai beberapa tahun lalu, tapi semakin hari semakin berwarna. Sanggupkah aku jika aku harus kehilangan mereka lagi, aku rasa aku tidak akan sanggup menghadapi nya. Aku terlalu sayang, dan aku senang.'


Tidak pernah terpikirkan oleh Wilona semua takdir yang ia hadapi, asalkan ada yang menguatkannya ia pasti mampu menghadapinya. Mencari musuh memang mudah tapi mencari teman tidak semudah mencari musuh.


''Wilona, kamu melamun lagi? apa ada yang masih sakit di perutmu, ayo kita ke rumah sakit lagi .'' Kaizer hawatir.


Begitu juga dengan Sastra Arga.

__ADS_1


Wilona menutup mulutnya dan menahan tawa.


__ADS_2