
"Yang handuk." Teriak Kaizer dari dalam kamar mandi.
"Ish," sedikit menggerutu.
Bukan minta handuk ceritanya, pasti beda cerita.
"Kebiasaan deh."
"Gak boleh menggerutu sayang, gak baik. Katanya mau cepet jadi bayi nya,"
Wilona menghela nafas panjang, memang ya kerja sama dalam setiap hubungan rumah tangga sangatlah penting, saling meredakan emosi dan ego masing-masing.
Tapi, tidak hanya itu saja bukan. Akan jauh lebih berwarna jika ada kehidupan kecil di sekelilingnya, suara tangis, berbicara, tertawa dan keluh kesah.
Kaizer yang baru selesai mandi menatap istrinya.
"Kenapa?"
Hanya gelengan yang di dapatkan.
Kaizer duduk di samping Wilona dan memeluk pinggang Wilona.
"Ada apa?" menatap Wilona dengan lembut. "Katakan saja jika ada sesuatu yang mengganjal pikiranmu sayang."
"Kai, jika suatu hari nanti kamu ketemu wanita yang sempurna. Apa kamu bakalan pilih dia dan ninggalin aku?"
Kaizer terperanjat, ada apa dengan istrinya. Tiba-tiba bicara ngelantur, ngaco begini.
"Sayang, kenapa ucapanmu aneh sih. Kamu masih marah gara-gara kejadian kemarin itu?"
"Tidak, hanya saja semakin kemari semakin aku gak pantas untuk kamu Kai!" sedih.
Kaizer mengusap surai rambut Wilona.
"Meskipun ada bandai di lautan, kamu yang tetap aku pertahankan. Bukan yang lain yang baru datang."
Perasaan tenang itu muncul perlahan-lahan menjalar menuju ke relung hatinya yang paling dalam.
"Harap di perhatikan saat meletakkan handuknya sayang." Wilona menunjuk handuk yang barusan di gunakan Kaizer dan di letakkan di sembarang tempat.
"Tolong bereskan ya," imut sekali.
Wilona kesal dengan tingkah Kaizer, lihat saja pasti sebentar lagi bukan hanya handuk tapi pakaian kotor di kamar mandi pasti di letakkan di sembarangan tempat. Hanya sabar sabar menghadapi suami seperti Kaizer.
Wilona memilihkan salah satu pakaiannya yang sekiranya muat di badan Kaizer.
"Nih pakai." memberikan padanya.
Kaizer mengerenyitkan dahinya.
"Sayang, kenapa kamu menyuruhku memakai pakaian ini?" menatap tidak suka pakaian yang masih bertengger di lengannya.
__ADS_1
Kaizer hari ini cuti libur, meski tidak pergi ke kantor ia akan mengerjakan beberapa urusannya dari rumah, istri sedang bad mood bukannya apa-apa dan tidak bermaksud melalaikan pekerjaan dengan urusan pribadi, tubuhnya masih sedikit tidak enak gara-gara maagnya kambuh.
"Ingin melihat kamu pakai itu!" jawabnya acuh.
"AA ... HA ... HA ..., lihatlah betapa imutnya dia saat pakai daster, rasanya tidak sabaran menunggu ia pakai gaun ulang tahun, pasti sangat cantik.' Menatap Kaizer.
Kaizer terdiam sambil meremas ujung daster.
"Itunya kelihatan, jangan tinggi-tinggi menggenggamnya." Ledek Wilona sebelum tawanya pecah.
Kaizer di buat kesal olehnya, baru kali ini dapat hukuman pakai pakaian begini.
"Sudah ... sudah ... lepas saja, aku merasa sangat kasihan dengan suamiku ini," sambil mencolek dagu Kaizer.
.
...Kediaman Utama Maher Mahir...
"Bagaimana informasinya ?" Maher bertanya ke salah satu orang kepercayaannya untuk menyelidiki Wilona secara keseluruhan.
Tidak ada yang aneh bahkan biasa-biasa saja, Wilona bukan dari keluarga berada. Hanya anak yang tinggal di jalan sambil mencari makan sana-sini dengan jualan tisu dan barang lainnya,selain itu ia juga jadi kurir pengantar pesanan orang.
Setelah mendapatkan kejelasan dari orang tersebut Maher terdiam sebentar.
"Terus Sastra Arga ke tiga apa ada hubungannya dengan gadis itu?"
"Tidak ada tua!" jawabnya kurang puas menurut Maher.
BRAG
Maher mengepalkan tangannya.
'Jika benar gadis itu keturunan Sastra Arga, lihat saja. Keturunan bajinga* dan jalan* itu harus di singkirkan secepatnya, cuih ... aku tidak sudi punya keturunan-keturunan seorang penghianat.'
.
.
.
"Apa aku sudah di maafkan?"
Menggeleng. "Belum!"
"Lah terus, please deh sayang. Aku terus terang ya gak suka dengan cara kamu yang begini ke aku." Protes.
Dan langsung mendapatkan tatapan tajam Wilona.
"Sama aku juga, aku gak suka punya suami yang dengan suka rela tubuhnya di peluk tapi gak nolak," menyilangkan tangannya.
"Siapa bilang, aku gak suka."
__ADS_1
"Gak suka ko gak di dorong, namanya malu-malu kucing," sebal.
Kaizer yang tadinya cuti tidak jadi, pusing denger omongan istrinya yang semakin lama ternyata posesif dan bicara yang tidak-tidak.
"Mau kemana?" sedikit meninggikan suaranya.
"Kerja, pusing yang dengerin omongan kamu!" jujur meski nanti akan ada obrolan panas.
"Hati-hati." Wilona melambaikan tangannya.
"Iya, aku berangkat dulu ya," meraih wajah Wilona dan mencium seluruh wajahnya.
Kegiatan ini sudah jadi rutinitas Kaizer dan Wilona yang baru, sudah terbiasa.
"Sayang." Membalikkan tubuhnya.
"Iya, ada apa?" merasa aneh dengan sikap Kaizer yang suka berubah-ubah seperti cuaca.
"Nanti jika ada orang yang gak kamu kenal, hati-hati sayang. Aku tidak mau istriku yang paling aku cintai dan sayangi kenapa-kenapa, ingat ... bawa beberapa orang yang sudah aku persiapkan untuk mu dan menjagamu saat kamu di perjalanan, sekarang ini musimnya orang mencari-cari cara demi uang." Mengingatkan.
"Iya, kamu juga harus ingat. Kalau ada ulet bulu langsung di musnahkan saja," bahagia.
"Pastinya, ada mesin pencacah kertas, aku masukkan kesana nanti."
Setelah melepas kepergian Kaizer memang di hatinya ada sesuatu yang mengganjal, tapi apa?
"Sepertinya memang aku harus lebih waspada lagi."
Hati dan pikiran wanita selalu peka dan tepat sasaran, tapi jika dirinya mengingatkan dan berbicara di anggap halu bahkan mengada-ada.
Wilona menepuk jidatnya, hari ini ada keperluan penting di tempat ia berinvestasi properti dan toko pakaian terkenal di kota tersebut.
"Haduh ... bisa gawat kalau sampai telat, investor terbaik telat kumpul." Wilona segera membersihkan dirinya.
Saat di dalam mobil.
"Pak cepat ya, mau telat nih ke sana," tujuan yang di tuju sudah di ketahui oleh sang sopir.
Sudah bertahun-tahun sopir yang mengantarkan Wilona masih sama, Isman namanya.
Di jalan tanpa di duga terjadi masalah yang serius, ada orang kecelakaan dan menyebabkan kemacetan.
"Aku harus gimana ini, gak masalah sih telat datang kesana. Tapi ..." bimbang dan bingung.
Terlintas di pikirannya untuk menyuruh salah satu orangnya untuk mengantarkan ke tujuan menggunakan sepeda motor.
"Tolong, kamu hantarkan saya ke jalan ini."
"Siap laksanakan nona muda," tanpa ragu Wilona mengenakan helm.
Ia terlahir sebagai anak perempuan yang sederhana, menggunakan motor keluaran terbaru tahun ini sungguh pengalaman yang tidak terlupa.
__ADS_1
'Aku senang meski dengan cara sederhana bagiku sangat senang, dulu aku selalu bermimpi bisa menggunakan motor keluaran terbaru setiap tahunnya di negara ini, tapi apalah daya, aku hidup sendirian dan sebatang kara. Bisa makan dua kali sehari saja sangat bersyukur," tak henti-hentinya Wilona mengucap syukur.
Pengawal yang mengemudikan kendaraan roda dua tersebut terpesona melihat kecantikan nona mudanya, kalem, natural dan cantik sekali.