Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 12


__ADS_3

Pakaiannya masih lengkap, ia pikir pakaiannya sudah di tanggalkan. Tapi Wilona menutupi sebagian tubuhnya dengan selimut.


Ternyata orang ini tidak macam-macam pada dirinya. Seharusnya begitu jika ia benar kakaknya, lebih tepatnya kakak kembar yang masih di ragukan oleh Wilona sendiri.


"Kau lucu sekali ya, tidak usah terlalu formal dengan kakakmu. Oh ya mulai besok kau akan mulai terjun ke bisnis keluarga kita, kau juga ahli waris Sastra Arga!" jawabnya membuat Wilona cukup terkejut.


'Oh ... jadi nih orang salah satu anak keturunan Sastra Arga yang terkenal tidak pandang bulu, bahkan terkenal kejam dalam dunia mafia.'


Wilona menepuk jidatnya lalu menutup mulutnya.


"Jadi ... anda." Terkejut dan Wilona mundur perlahan-lahan ke belakang.


Pantas saja dirinya seperti ada sesuatu ikatan dengan keluarga yang bermusuhan dengan keluarga Maher Mahir,


pantas saja keluarga Mahir memasang banyak gambar, foto dan beberapa tulisan Sastra Arga dengan coretan merah dan anak panah serta peluru pis,tol menancap di dinding yang terdapat begitu banyak hiasan namun penuh dengan ujaran kebencian.


Memang bukan salah Wilona tapi yang salah kakek Mahir sendiri lah yang memberi tahukan cerita itu sendiri tanpa ada yang tertinggal, cerita yang awalnya bersahabat baik tapi Sastra Arga berhianat dari belakang


bahkan merebut calon istrinya, tepat esok harinya menikah dengan cara meni,duri calon istrinya di salah satu villa milik bersama antara Mahir dan Sastra Arga.


"Pergilah, saya tidak mau ada hubungan apa-apa dengan anda." Memalingkan wajahnya.


"Kakak tidak akan pergi, kau adikku yang sudah lama hilang. Tidak mungkin kakak akan pergi dari sini," beginilah sifat laki-laki yang terkenal kejam.


Di luaran sana, kata orang-orang.


"Ayolah come on, saya masih di rumah anda. Apa anda lupa jika anda memasang begitu banyak bawahan yang siap siaga, bahkan saya mau ke toilet saja di antar. Seperti nenek-nenek lumpuh saja pakai pengawalan." Kesal lama-lama di perlakukan seperti putri raja yang hilang.


"Oh ... iya ... ya, ya sudah. Kakak keluar dulu, jangan lupa di makan" meletakkan nampan tersebut di sebelah tempat tidur Wilona.


Wilona malas menyantap makanan itu, kalau di dalam makanan itu ada apa-apa nya bagaimana.


Misal seperti obat yang bisa mengurangi daya ingat bahkan terancam amnesia permanen bagaimana.


"Ih .. jadi sedap-sedap ngeri kalau bener ada apa-apa nya." Wilona begidik ngeri.


Kerasnya hidup dulu sampai ia masuk ke keluarga Mahir, ia jadi hafal betul bagaimana sifat-sifat orang yang ada di sekitarnya.


Entah orang itu hendak melakukan sesuatu kejahatan atau kebaikan, tapi anehnya kenapa ia tidak bisa menebak maksud dari keturunan Sastra Arga.


"Sebenarnya laki-laki ini siapa, apa benar aku memiliki hubungan sedarah. Atau jangan-jangan aku hanya di jadikan umpan, enak saja aku di jadikan ikan untuk menangkap ikan yang lebih besar, bahkan predator yang lebih ganas lagi."


Wilona menolak keras.

__ADS_1


Setelah kembali dari toilet, Wilona duduk dan mencari-cari ponselnya.


"Ponsel aku kok gak ada ya, kemana sih?" belum di temukan.


"Mungkin gara-gara lapar kali ya jadi gak ketemu ketemu, tapi ..." berpikir jernih sebelum semua terjadi.


Wilona ragu, antara makan atau tidak. Tapi... perutnya tidak bisa di bohongi jika ia benar-benar lapar sekarang, sudah waktunya untuk makan


sudah dari siang tadi ia belum makan bahkan saat sarapan pagi tadi ia hanya makan sedikit.


Nyesel deh jadinya.


"Sial ... tau begini tadi pagi makan banyak, di tambah lagi ada rendang daging dan bebek ungkep." Wilona hampir meneteskan air liurnya saat membayangkan makanan-makanan kesukaannya.


Gumamnya masih di teruskan.


Pelayan-pelayan yang ada di dekat Wilona hanya tersenyum mendengar perkataan Wilona tentang hayalannya, meski bergumam tapi bisa di dengar jelas oleh mereka.


"Uwuw ... enak pakai banget lagi, sayang gak di makan" masih menghayal.


Tiba-tiba Wilona ada ide setelah menatap pembantu yang menjaganya.


Pembantu yang sedari tadi tersenyum kini menundukkan pandangannya.


" Kalian semua, kemarilah."


"Iya nona muda." Ucap ke tiga pembantu bersamaan.


.


.


Kaizer menyentuh dagunya.


Pikirannya berlarut-larut kemana-mana, hawatir jika terjadi apa-apa, bahkan sampai sekarang belum ketemu.


Kursi santai di dekat balkon, tempat ternyaman Kaizer saat pikirannya kacau balau.


"Ck ... sepertinya ada orang yang sengaja menculik istri kontrakku. Pasti orang itu ada dendam pribadi terhadapku, ia pikir aku akan peduli apa?"


"Aku tidak akan peduli, entah wanita jalan* itu hidup atau tidak." Desisnya.


Sekarang boleh menolak tapi sebelumnya dan setelahnya.

__ADS_1


Pesona Wilona telah memporak-porandakan pikirannya.


Perubahan sikap dan karakter perilaku Wilona , secara perlahan juga mengubah pandangan Kaizer.


💬 Cari sampai ketemu


pesannya terkirim ke salah satu orang-orang yang ia percayakan pekerjaan ini.


.


.


Wilona tengah makan lahap makanannya tanpa ragu dan peduli jika di dalamnya ada apa-apa nya sebab 3 orang pelayan sudah ia suruh mencicipi satu persatu tanpa ada yang di tutup-tutupi.


Setelah menunggu beberapa saat kemudian dan tidak ada kejanggalan barulah Wilona menyantap masakan tersebut.


'Em .. senangnya hatiku, enak juga ya jadi anak Sultan. Mau ini itu tinggal bilang, eh ... tunggu dulu bukannya besok aku harus berkerja.'


Wilona berpikir keras.


Sialnya sampai makanan selesai ponsel pribadinya tidak kunjung di berikan, padahal sudah dari setengah jam yang lalu banyak pesan masuk dan deringan panggilan masuk dan Wilona ingat betul jika itu suara deringan dari ponselnya.


.


Kartika berada di luar kamar Kaizer, ia hendak mengantarkan secangkir teh dan juga susu hangat.


Ia tidak tau apakah nanti tuan mudanya itu mau minum apa.


Tok


Tok


Kaizer tersadar dari lamunannya.


"Masuk saja ibu Kartika."


Ia sudah hafal bahkan sangat hafal jika malam begini hanya Kartika yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri yang selalu mengetuk dan memberikan susu hangat sebelum ia tidur.


Kartika berjalan berhati-hati takut dan was-was, Kaizer seperti tuannya Maher Mahir yang kejam dan menakutkan jika marah.


Mungkin karena darahnya masih sama yang itu sama-sama darah merah dan mengalir juga jadinya watak dan karakter hampir sama, bahkan bisa di katakan jika Kaizer lebih kejam dari Maher Mahir.


"Kenapa ibu Kartika berjalan begitu hati-hati ?" tanyanya yang membuat Kartika tersentak seketika.

__ADS_1


Kartika tidak mungkin bilang jika dirinya sebenarnya takut amarah Kaizer meledak.


Nona nya sangat hebat akhir-akhir ini, jadi setiap saat bisa saja merubah mood tuan mudanya tapi dalam sekejap bisa juga membuat Kaizer kejam kembali.


__ADS_2