Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 8


__ADS_3

"Ehem ... sepertinya anda begitu bahagia menikmati hari anda." Wilona berada di ambang pintu sambil melipat kedua tangannya.


Kaizer terperanjat mendengar perkataan yang membuat harinya kacau.


"Kamu, kenapa pulang. Kenapa tidak di lanjutkan saja acara kaburnya, yang jauh sekalian," kata-kata Kaizer memang menohok dan kejam.


'Aku bukan Wilona yang dulu, aku harus kuat dan jangan sampai aku terlihat lemah di hadapan laki-laki yang ingin aku jatuhkan perlahan-lahan, kesombongan dan harga dirinya yang ia bangga-banggakan sangat tinggi.'


"Terserah anda bicara apa pada saya, yang jelas saya tidak kabur. Buktinya saya kembali, bukannya jika saya kabur anda bahagia dengan kepergian saya, bisa menguasai semua harta ini. Bukankah begitu tuan Kaizer sang anak har,am," bukan sekali dua kali Wilona berani mengata-ngatai Kaizer anak har,am.


Ini adalah bentuk berlawanan Wilona.


BRAGH


"Beraninya anda bicara kasar begitu pada saya, sudah cukup saya menerima hinaan dari anda."


Melangkah besar menuju ke arah Wilona berdiri.


"Lihat ... tubuh anda, seperti ini memang pantas berdiri begitu sombong di hadapan saya. Jangan lupa, anda ..."


"Saya tau posisi saya," di potong Wilona. "Lalu anda ingin saya bagaimana,"


Seringai licik terbit di wajah Kaizer.


"Mana." Kaizer meminta sesuatu.


"Mana apanya," sikap acuh dan cuek Wilona membuat Kaizer sedikit ada rasa gemas.


"Suratnya."


"Surat apa sih?" pura-pura tidak tahu.


"Jangan pura-pura lupa, bukannya kamu seharian ini pergi mengurus surat perpisahan !" Kaizer menanyakan topik yang sebenarnya tidak di sukai oleh Wilona.


"Aa... ha ... ha ..., anda ini ada-ada saja tuan Kaizer. Apa sudah lupa jika tadi pagi anda mengantar saya ke mall, kenapa jadi bahas ke pengadilan. Anda pikir saya akan menyerah begitu saja, tidak." Wilona menepis tangan Kaizer yang berada di pundak sebelah kanannya.


Kaizer mati kutu, padahal diam-diam dia hawatir setengah mati dengan keadaan istrinya, tapi di tutupi dengan sikap cuek dan angkuhnya.


"Saya tidak lupa, saya pikir setelah anda menghilang dari pengawasan orang-orang saya anda langsung ke pengadilan,"


Wilona terdiam, kenapa pria ini terus-menerus mendesak dirinya untuk segera mundur.


"Haduh ... apa anda ini sebegitu ngebetnya ingin berpisah dengan saya, baiklah secepatnya saya akan menggugat anda."


'Lebih baik aku menggugat kaizer lebih dulu, dari pada aku yang dulu di gugat lagi olehnya.'


Deg


Kaizer mengepalkan tangannya, kenapa dadanya sakit saat wanita yang ada di hadapannya mengatakan hal tersebut dengan amat jelas.


'Tidak, pasti ini ada yang salah. Tidak mungkin kan aku ada perasaan sakit saat wanita ini berbicara begitu, bukannya ini yang kamu harap-harap dari dulu. Berpisah saat kamu berada di puncak karir memimpin perusahaan Mahir, apalagi semua ada di genggaman tangan mu sendiri.' Ia menolak gejolak dalam hatinya.


Kaizer mengelak rasa sesak dalam dadanya.

__ADS_1


"Jangan ..." spontan Kaizer berucap, padahal tadi ingin berkata silahkan.


Kaizer menutup rapat mulutnya dan membalikkan badannya memunggungi Wilona.


"Haaa ..."Wilona ternganga.


"Coba sekali lagi anda ulangi perkataan anda, sepertinya saya kurang dengar dengan perkataan anda baru saja" sambil mengayunkan tangan kanannya melingkar di dekat telinga.


Wilona minta kejelasan.


1 detik


1 menit


10 menit


'Nih orang jadi patung, lama-lama bisa sakit ini kaki. Lama banget,' Wilona pergi ke dapur.


Sedangkan Kaizer hendak menjawab tapi manusianya sudah raib.


"Kemana dia, perasaan barusan di belakang tadi?" mencari kesana-kemari. "Sudahlah jika dia tau posisi." Kaizer mengangkat kedua bahunya.


.


.


Wilona sedang asik dengan kegiatannya, memang tidak ada pekerjaan untuk dirinya tapi mau bagaimana lagi. Dirinya di larang keras untuk masuk ke kantor sebab ijasah tidak memadai meski lulusan SMA.


"Nah ... ini dia, ketemu di dompet. Tapi ada satu yang hilang, dimana ya?" melihat kesana-kemari.


"Dimana sih" terus mencari dan beranjak dari sofa empuknya.


Batinnya merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa hal sepenting ini bisa terlupa. Apalagi lupa meletakkannya.


"Oh ya, di celana yang tadi."


Wilona mencari-cari celana yang ia kenakan tadi, meski iya yakin i celana itu sudah di cuci.


Ia menuju ke tempat pencucian pakaian kotor.


"Mbak ..." merengek seperti anak kecil ke salah satu pembantu yang tugasnya mencuci pakaian.


"???" diam seribu bahasa.


"Mana celana yang barusan saya letakkan di sini?" matanya berkaca-kaca.


Antara rasa bersalah dan ingin tau.


"Sudah ke cuci nona!" gak tau apa-apa.


"Jadi ...?" Wilona terperangah.


"Iya, nona!"

__ADS_1


Wilona langsung mencari kesana kemari, lebih tepatnya di selokan pembuangan air.


Masih berlanjut ya drama di selokan😂😂


Drama ubek-ubek selokan pun terjadi.


"Mana sih." Tengok sana sini.


"Nona, ini ..." gembira ria.


"Waah ...." Matanya berbinar-binar.


.


.


"Maaf nona, ini." Memberikan sesuatu pada Wilona.


"Sudah di cuci atau di bersihkan ?" mencubit benda kecil.


Pembantu itu mengangguk.


"Kesayangannya akoh." Menciumnya berkali-kali.


'Nona ini, segitu sayangnya dengan benda kecil itu.' Sambil menggelengkan kepalanya.


Wilona terus-terusan mencium uang koin seribuan, setelah memastikan jika itu benar-benar uang koin kesayangannya yang sudah di beri tanda dan sangat rahasia.


"Nona ini, disimpan di dalam sini saja nona." Sang pembantu memberikan sebuah liontin bulat peninggalan keluarganya.


"Tidak mbak, ini punya mbak. Bukannya mbak bilang kalung itu peninggalan keluarga mbak?" Wilona menolaknya.


"Tidak apa-apa nona, saya ingin memberikannya pada nona. Agar kenang-kenangan dari orang yang kita sayang bersama, lagian semakin lama saya menyimpannya semakin saya bertambah sedih dan tidak rela atas kepergian ibu saya selama-lamanya!" jawabnya mengusap sedikit air mata yang sudah mengembun di pelupuk matanya.


"Terimakasih ya, saya akan pakai dan simpan baik-baik." Penuh energi dan semangat.


Pembantu tersebut mengangguk-angguk bahagia.


Mata Elang Kaizer menatap sosok yang selama 4 tahun tinggal satu atap bersama dengan dirinya.


Seulas senyum terbit di sudut bibirnya tak kala saat dirinya tanpa sengaja merekam diam-diam istri yang teramat ia tidak sukai, dulu.


Bahkan Kaizer sendiri sudah lupa kejadiannya kapan antara dirinya dan Wilona melewati hari yang panas dan penuh peluh itu.


"Wanita ini, ada-ada saja kelakuan anehnya." Menggeleng-geleng kepala.


Wilona sadar jika ada seseorang yang menatapnya dari kejauhan, tapi setelah ia selidiki ternyata tidak ada siapa-siapa selain para pekerja di rumah tersebut.


"Perasaanku saja mungkin." Menaikkan kedua bahunya.


Kartika melihat nona nya sudah menerima kalung itu, setidaknya kalung itu jatuh tepat pada orang yang tepat.


"Syukurlah jika nona Wilona mau mengenakannya, aku lega." Kartika menebah dadanya, terasa lega tanpa beban sekarang.

__ADS_1


__ADS_2