
"Hey ... kenapa menangis sayang?" mengusap kedua pipi Wilona dengan kedua ibu jari nya kanan kiri.
Wilona merasa hatinya menghangat saat di perlakukan begini oleh Kaizer.
Terkadang hati ragu tapi tindakan membuat angannya semakin terbang tinggi.
Sungguh pria ini pandai menjinakkan hati yang beku dan terluka dengan begitu cepat dan hebatnya.
Wilona menggeleng. "Tidak ada, hanya terharu dan membuatku terbang tinggi!" di iringi tawa.
"Kamu berbohong padaku, jelaskan dulu kenapa kamu menangis sayang."
Kata-kata sayang lagi yang di ucapkan.
"Tidak ... tidak ... ada," bohongnya lagi.
Wilona mengelak.
'Aku harus bicara apa, dan aku siapa.'
Kaizer lalu berjalan dengan gontai menuju sebuah laci di kamar Wilona, laci yang tidak pernah di sentuh oleh pemiliknya.
Katanya itu laci keramat, diam-diam lah Kaizer selalu mengingat setiap kata dan kejadian di rumah ini.
Betapa konyolnya Wilona, apalagi saat benda kesayangannya hilang dari genggamannya.
"Kenapa kamu mengambil itu?" Wilona mengusap air matanya.
Rapuh yang berusaha tegar.
Tapi tidak dapat di tutupi lagi.
SREK
SREK
Kaizer merobek surat perjanjian itu tanpa minta izin terlebih dahulu pada Wilona.
"Kita akhiri drama nikah kontrak kita, apa kamu setuju Wilona?" merentangkan kedua tangannya.
Wilona terharu dan memeluk erat tubuh Kaizer.
Sungguh mencintainya tidak salah alamat dan pulang selalu tepat pada tempatnya dan bukan tempat sampah.
***
Wilona menatap nanar wajah tampan rupawan suaminya, suami kontrak yang kini tanpa ikatan kontrak lagi sebab Kaizer sudah merobek kertas perjanjian dan di antara mereka sudah berjanji akan selalu sama-sama meski harus memulai dari nol dan dasar.
Tidak apa-apa, selagi sama-sama dan masih bisa tersenyum itu semua sudah cukup untuk di nikmati dan tinggal menjalankan rencana kedepannya.
"Yakin cuma makan senyuman bisa kenyang?" Kaizer ragu-ragu.
Masa sih dengan tersenyum bisa kenyang.
"Beneran, bisa kenyang dengan senyuman!" Wilona ini ada-ada saja tingkah nya.
__ADS_1
"Mana buktinya, yang ada tambah kelaparan ini. Uh ... keruyukan nih perut." Mengusap-usap perutnya yang lapar dan mulai melilit.
"Sini dompetnya," sambil tersenyum.
Kaizer terbuai dengan senyum istrinya, cantik dan manis sekali.
Kalah sama gula tebu.
"Nih, buat apa sih minta dompet?" bingung dan gak paham.
Istrinya selalu membuat kejutan yang aneh-aneh, tapi untung nya tidak ada pengganggu yang datang silih berganti.
Setidaknya hati dan pikiran Wilona tidak bercampur aduk, ia takut dan hawatir jika istrinya itu pergi meninggalkan nya.
Beberapa novel-novel terkenal yang pernah ia baca, istri menyerah setelah berusaha keras mendapatkan hati dan perhatian suaminya berakhir dengan sia-sia dan pergi.
Percuma ingin kembali yang nyatanya sang istri sudah menemukan tambatan hati lain, sang pengobat luka hatinya.
Ia tidak mau menjadi tragis dan sendiri.
"Inilah jawabannya, bikin senyum kan."
Wilona bertingkah konyol di hadapan Kaizer.
Kaizer mengangguk-angguk saja sambil melihat atraksi apalagi dari Wilona.
"Nih, dengan bayar begini sambil senyum serta menggunakan uang suami pasti full senyum sayang," Wilona memberikan beberapa lembar uang untuk membeli makanan-makanan yang sudah tersusun rapi di almari kaca.
"Loh ... ko jadi nyanyi, ben aku semangat berjuang, Ojo nuruti gengsimu jelas-jelas aku ra mampu ..."
"Nyidir terus, nyindir."
"Ya enggak sih sebenarnya, tapi kan tujuan kamu memang nyindir aku kan ." Menatap tajam Kaizer sambil menyipitkan kedua matanya.
Kaizer meraih tubuh kecil dan mungil itu untuk masuk ke dalam pelukannya, rasa dan aroma yang sama.
"Kamu pakai pewangi apa sih yang?"
"Gak pakai pewangi, sepertinya dari tempat laundry deh wanginya !" mencium bajunya.
Wilona mengerutkan keningnya.
"Kamu belum tau sayang, artinya wangi dari tubuh pasangan itu seperti apa."
"Maksudnya ??" bertanya-tanya.
"Ada banyak cinta, oh ya Wilona."
"Ada apa?"
"Kita sekarang sudah resmi sebagai suami istri tanpa adanya kontrak pernikahan, bagaimana jika kita buka usaha baru tapi idenya dari kamu."
"Ide dari aku?" menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, dari kamu. Kamu punya usul apa sayang."
__ADS_1
"Bentar ya, aku pikir dulu. Gak gampang punya ide, ide itu mahal ibarat kata satu kaki di beli gak mungkin bisa berjalan sendiri. Aku juga gak mau ide ku nanti di jiplak orang, sakitnya tuh di sini," menunjuk dadanya dengan dramatis.
Kaizer suka dengan sikap Wilona, keras dan pantang menyerah.
"Sini,aku bantuin pijitnya."
Plak
"Gak usah, ini di tempat umum yang ada milikmu berdiri lagi. Malu di lihat orang apalagi jadi tontonan, aku gak rela ya si tengah jadi tontonan gratis wanita jelalatan," ketusnya.
"Emangnya ada yang mau lihat ?"
"Gak ada, yang mau lihat tuh monyet di kebun binatang, di kira buah timun dan kacang tanah!" jawabnya terpingkal-pingkal.
"Apanya yang buah timun dan kacang tanah."
"Lah, itu kamu. Kalau bukan buah timun dan kacang tanah apalagi coba," menunjuk si tengah.
Kaizer menutupinya.
"Jangan di sebutkan lagi, nanti di kira kecil kalau kacang tanah. Padahal aslinya gede seperti telur bebek yang ukurannya jumbo kacangnya."
Wilona menutupi sebagian wajahnya dengan buku menu, malu dengan kata-kata Kaizer yang selalu mes um. Padahal niatnya tadi bercanda, justru dirinya lagi yang kena.
"Iya jumbo." Wilona berlari setelah mengatakan hal itu.
Kaizer geleng-geleng melihat tingkah konyol Wilona, tidak pernah ia sangka-sangka jika bersama dengan Wilona akan semakin bobrok hidupnya.
Ia sangat ceria dan bersemangat sekali.
"Aw ... perutku sakit sekali." Menyentuh perutnya bagian tengah.
Kaizer mencari-cari obat maagnya, tapi terlupa tidak ia bawa.
"Ke apotik dulu deh," ia memutuskan untuk pergi ke apotik tanpa berpamitan pada Wilona.
Sedangkan Wilona yang berada di toilet kini kembali dari toilet, namun tidak di temukan keberadaan suaminya.
"Perasaan tadi saat aku tinggal ada di sini deh, ko hilang?" mencari kesana kemari tapi hasilnya nihil.
Ada seorang waiters berjalan menuju ke tempat Wilona berdiri.
"Permisi, apa nona sedang mencari suami nona?"
'Wah ... ajaib banget nih orang bisa baca pikiran.'
"Eh, iya mas. Masnya tau?"
"Tadi, suami nona keluar dari restoran ini dengan terburu-buru nona!" tersenyum ramah
Wilona mengangguk.
"Terimakasih banyak ya."
Wilona berdecak pinggang di luar restoran, pakai apa coba pulangnya. Ia mengecek ponselnya apakah masih ada saldo di akunnya untuk memesan taksi online atau ojek online, ini nih yang bikin susah kalau keluar gak bawa uang cash dan ATM atau kartu kredit.
__ADS_1
"Haduh ... tau begini tadi bawa uang seratus ribu, gak nyangka banget aku di tinggal sendiri di sini. Rumah masih jauh lagi dari sini, kalau jalan kaki dempor deh nih kaki bisa bengkak tujuh hari tujuh malam." Menatap kalinya yang cantik.
Sebab semenjak Kaizer berubah drastis, perawatan di rumah tidak pernah terlewatkan, termasuk perawatan kakinya yang jadi mulus dan bening.