
Sungguh menyesal tadi datang kemari, lebih baik kembali saja dari pada kesal.
Beberapa orang yang mengikuti Wilona masih tetap stay di depan kantor Mahir, begitu juga orang-orang kepercayaan dari Kaizer.
Sesampainya di lantai satu Wilona mengenakan kacamata yang sedari tadi bertengger di salah satu saku bajunya.
Tidak lupa ia sedikit mengibaskan rambutnya, terlihat cantik mempesona.
Tia baru sampai dan kebetulan yang tidak di sukai baik Wilona maupun Tia. Tidak ada tegur sapa satu sama lain dan pura-pura tidak pernah bertemu.
Wilona melirik sekilas, untung saja kacamata yang dikenakan berwarna hitam.
Tia sudah sampai ke lantai tempat kerja Kaizer.
Tok
Tok
Tok
"Ngapain kesini?" Tanya dingin Kaizer pada Tia.
Tia tersenyum sambil berjalan manja berkelok-kelok seperti ular memanjat pohon.
Geli melihatnya.
"Apakah kakak ipar baru saja kemari?"
Deg
'Mereka bertemu di bawah ternyata.'
"Iya, memang ada apa. Anda di apa-apakan olehnya?" Pertanyaan kaizer membuat Tia punya harapan untuk mengacaukan keluarga Mahir.
"Tidak juga, tapi sepertinya iya sebab tadi kakak ipar melihat saya begitu aneh dan dengan tatapan menakutkan!" Sambil menggigit bibir bawahnya dan mata berkaca-kaca.
"Sudah ... Sudah jangan lanjutkan aktingnya lagi, saya gak suka dengan akting anda yang murahan. Lagian kakak ipar saya tidak bertindak macam-macam. Oh ... Ya dan satu lagi, ini untuk anda sebab akting anda beberapa waktu lalu yang kurang memuaskan." Memberikan kartu debit beserta pin nya.
Tia menatap kesal.
"Baiklah, terimakasih tuan sudah berbaik hati memberi ini pada saya," pergi dengan perasaan kesal.
Niatnya mau berbuat macam-macam agar Kaizer buka hati tapi nyatanya sepertinya Kaizer ada sesuatu dengan kakak iparnya itu.
Saat dirinya mulai asik dengan media sosial untuk melihat-lihat berita.
Tiba-tiba saja ...
Wilona berdecak pinggang sambil menatap ke arah sana sini.
Wilona menghentikan sopir taxi yang di pesan yg tadi, taxi yang akan membawanya pergi
"Kalian kenapa masih mengikuti saya, kalian penguntit. Dasar penguntit, mana handphone kalian, saya ingin berbicara dengan tuan kalian." Wilona bersikeras.
Mau tidak mau salah satu orang-orang kepercayaan dari pria yang mengaku-ngaku sebagai kakaknya memberikan ponselnya.
Mereka memang di bekali senjata tajam yang tersembunyi di balik bajunya tanpa ada yang tau, bahkan ra,cun bun,uh diri saja ada persiapannya jika suatu hari ketahuan atau bagaimana.
"Apakah yang ini nomornya, tuan X?" Memperlihatkan layar ponselnya yang berada di barisan panggilan paling atas dan banyak.
__ADS_1
Mereka mengangguk kompak.
Wilona menertawakan dirinya sendiri, kenapa hidupnya jadi seperti di penjara dunia.
Kemana-mana selalu diawasi sana sini.
Kaizer kehilangan jejak lagi tentang keberadaan Wilona.
"KALIAN PUNYA OTAK GAK SIH, MASIH BERANI-BERANINYA KEHILANGAN JEJAK ISTRI SAYA LAGI. JIKA HARI INI TIDAK DI TEMUKAN JANGAN HARAP KALIAN BISA MENIKMATI HIDUP LAGI."
Dan seperti biasa Kaizer akan melempar apapun benda yang ada di hadapannya jika menyangkut Wilona yang hilang dari pengawasannya.
.
.
"Ini."
Wilona tidak berkutik
Yang ada sekarang kepalanya pusing tujuh keliling,ia di ajak pulang ke rumah asalnya bahkan di ajak ke Amerika.
Mereka saling memberi kode, sesuai dengan perintah sang bos untuk menggunakan cara ini jika terhimpit dan sekarang keadaannya terpaksa, jadi demi misi apapun akan jadi halal.
"Saya tidak ingin ikut kalian, buat apa. Saya lebih nyaman dengan kehidupan saya sekarang." Tolak Wilona lagi dan lagi.
1 detik
2 detik
5 detik
"Maaf nona" ucap salah satu orang yang baru saja membius Wilona dengan sapu tangan yang sudah di persiapkan.
Mereka berkerja sama dengan baik, tadi saat terjadi baku hantam dan tembak mereka berhasil bahkan membuat Wilona masuk ke dalam mobil taxi yang sudah di persiapkan secara rapi bahkan, pemilik taxi online tersebut takluk terhadap bosnya itu.
.
Para bawahan Kaizer kalang kabut bahkan mereka mengirim pesan pada orang tua dan istri anaknya jika saat ini antara hidup dan mati.
"Habis sudah hidup kita semua, kalau nona tidak di ketemukan bagaimana dengan istri, anak dan orang tua kita di rumah." Sedih berjamaah antara sesama bawahan.
Kaizer menggigit bibir bawahnya sambil berpikir jernih, sedari tadi ponselnya terus berdering dan panggilan itu dari sang kakek.
Ia biarkan berdering begitu saja, lalu ia mengambil ponsel lainnya dan menekan nomor bawahannya.
Dret
Dret
"Pak bos, gimana ini?"
Semua menjadi panik, tapi tidak ada jalan lagi kecuali mengangkat panggilan itu dan membuang ponselnya.
Tapi jika di buang banyak nomor di dalam telpon dan juga foto serta video keluarganya sebagai pengobat rindu.
"Angkat saja telpon dari pak bos, dari pada kita tambah kena getah lagi dari pak bos!" jawab salah satu bawahan Kaizer.
📞"Apa sudah di temukan?" dingin dan angkuh.
__ADS_1
Mereka semua menelan salivanya dengan keras.
Harus bilang apa coba, nona Wilona belum di ketemukan juga. Mereka semua tidak ada yang berani bilang jika orang-orang tadi mengikuti taxi yang di tumpangi oleh Wilona dan saat akan mengejar, terkalahkan oleh orang-orang tadi.
Gluk
Mereka saling menatap satu sama lain.
📞 "JAWAB" bentak Kaizer.
📞 "Maaf, pak. Nona belum ..."
Belum selesai dengan panggilan itu Kaizer sudah mematikan sambungan telponnya.
Tut
Tut
Tut
"Kamu ada dimana sih?" tanpa sadar Kaizer begitu sangat gelisah mendengar Wilona istrinya belum di temukan.
Entah sekarang sudah makan atau keadaannya baik-baik saja atau tidak.
...MALAM PUKUL 08.09 WIB...
Wilona baru saja siuman.
"Uh... sepertinya tadi aku di jalan deh, kenapa tiba-tiba aku ada di tempat ini. Eh tunggu" Wilona terkejut dan berusaha mengingat-ingat tempat ini.
Benar, tempat ini.
Tempat yang pernah ia kunjungi sebelumnya.
Sial dalam batinnya, kenapa ada orang obsesi dengan dirinya di saat dunia tidak pernah menganggap akan kelahirannya.
Wilona mengumpulkan kembali tenaganya, sepertinya kamar ini sudah di jaga ketat oleh pria itu, pria yang terus-menerus mengaku-ngaku sebagai kakaknya yang tidak pernah bertemu sejak dirinya hilang.
Ceklek
"Sudah bangun?" tanyanya dengan senyum khas miliknya.
Memang tampan tapi sedikit ada wajah cantik, sekelebat mata memang seperti dirinya wajah itu, cuman bedanya versi laki-laki saja.
"Seperti yang anda lihat sekarang, apa pandangan anda sudah mulai buram ketika malam hari!" ketusnya.
"AA ... HA ...HA..."
Pria itu tertawa nyaring.
"Jangan terlalu ketus dengan kakakmu sendiri, aku paham jika kau marah sebab puluhan tahun kami mencari dan baru sekarang bertemu."
Tidak ada raut wajah marah sedikit pun yang ada malah senyum hangat yang belum pernah Wilona dapatkan.
Wilona bertambah kesal mendengar nya, perkataan laki-laki yang ada di hadapannya begitu puas. Dan bangga seperti mendapatkan harta karun.
"Apa sudah puas anda menertawakan saya ?" Wilona hendak turun dari tempat tidur.
"Dan bicara begitu bangga ke saya." Sambungnya lagi.
__ADS_1
Wilona menatap ke tubuhnya.