Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 22


__ADS_3

Sedangkan Kaizer berada di kediaman Sastra Arga.


"Ada apa anda menyuruh saya kemari?"


Kaizer kesal menatap wajah itu, tapi sekelebat bayangan wajah itu mirip seperti seseorang yang ia kenal.


"Apa anda tidak tau saya siapa?"


Kaizer tersenyum lebar.


"Siapa sih yang tidak kenal dengan cucu Sastra Arga, bukannya anda adalah Sastra Arga ke tiga !" jawabnya enteng.


"Bagus jika anda mengenal saya, saya ingin mengajukan persyaratan dengan anda tuan muda Mahir."


Ia memberikan berkas pada Kaizer.


"Apa ini?" melihat dan membacanya dengan terperinci.


"Baca dengan teliti baru putuskan!"


Sastra Arga ke tiga menanti jawaban Kaizer secepatnya, laki-laki ini suami adiknya yang baru ia temukan.


Akan lebih bagus jika laki-laki ini tidak tau apa-apa tentang masa lalu, pertikaian antara 2 sahabat yang sampai sekarang menjadi musuh.


Hanya gara-gara seorang wanita yang tidak patut untuk di perebutkan, sebab best seller dan begitu banyak diskon.


Mata Kaizer terbelalak melihat semua isi, sungguh menggiurkan sekali tawarannya bukan hanya ratusan tapi hampir 50 M.


Akan tetapi, ada yang aneh. Apa laki-laki ini pecinta sesama jenis.


Kedua alisnya mengerut.


"Apakah anda tidak normal, apa anda mau membeli saya?" sedikit emosi.


"Tunggu, jangan salah paham. Pikirkan baik-baik dulu!"


Memberikan waktu sebentar untuk Kaizer berpikir jernih dan matang


"Apa yang harus saya kerjakan?"


Sebab di dalam berkas itu tidak ada isi pekerjaan atau perjanjian apa-apa, yang ada hanya sumpah setia dan menerima keadaan pasangan.


Berkas apa-apa an.


"Gampang, anda harus setia pada istri anda!"


"Itu sudah saya jalankan, jika tidak bukannya dari dulu saya tidak sama-sama dengan nya." Kaizer hendak pergi.


"Tunggu dulu" menghentikan langkah kaki Kaizer.


Kaizer membalikkan badannya


"Ada apa, tuan Sastra Arga ke tiga ?"


"Apa anda mencintai istri anda?"


Pertanyaan yang membuat Kaizer tersenyum miring.


"Jika tidak, buat apa saya menjadikannya sebagai istri saya !" berlalu pergi.


Hatinya berdesir lega.

__ADS_1


Akhirnya kata-kata ini keluar dari mulut Kaizer.


"Syukurlah jika dia bisa mempertahankan adikku di posisi hatinya, awas saja jika dia berani-beraninya melukai hati adikku. Akan aku buat perhitungan dan akan aku hancurkan perusahaan Mahir sampai akar-akarnya."


.


Perjalanan Kaizer kali ini penuh dengan tantangan, banyak sekali mata-mata yang mengawasi setiap gerak gerik nya.


"Siapa mereka?" tanya pada salah satu pengawalnya.


"Mereka, orang-orang dari tuan muda Sastra Arga ke tiga yang barusan anda kunjungi kediamannya, tuan muda!" jawabnya.


Kaizer tidak suka, tapi jika di ingat-ingat wajahnya Sastra Arga ke 3 kenapa tidak asing. Mirip dengan siapa gitu.


"Apakah kalian pernah melihat seseorang yang begitu mirip dengan Sastra Arga ke tiga ?" mau bagaimana pun Kaizer harus menuntaskan rasa penasarannya.


"Pernah tuan!" jawabnya kompak.


"SIAPA DAN ADA DI MANA?" meninggikan suaranya.


"...."


Masih diam seribu bahasa.


"JAWAB" Bentak Kaizer pada bawahannya.


"Maaf tuan,"


"Kenapa malah minta maaf sih, tinggal jawab. Siapa dia dan dimana kalian lihat." Kesal lama-lama punya bawahan yang begitu lelet saat di tanya hal begini saja.


"Kami melihatnya setiap hari dan beliau adalah istri anda tuan,"


Mereka semua senam jantung.


Nyawa mereka di ambang-ambang.


Deg


Jantung Kaizer hendak copot dari tempatnya.


Benarkah istrinya, pantas saja kenapa wajah laki-laki itu hampir sama bahkan seperti saudara kembar.


Apa jangan-jangan.


Dunia seakan runtuh, benar-benar runtuh.


Bagaimana bisa dua orang berbeda jenis kelamin tapi wajah serupa, ia ingat-ingat kejadian beberapa waktu yang lalu.


'Oh ... bukannya waktu itu Wilona memberikan surat hasil tes DNA, apa jangan-jangan.'


Kaizer meraih ponselnya dan hendak menelpon, tapi matanya menatap kesana kemari.


Ini terlalu privasi, jika mereka tau pasti Wilona tidak akan ada muka lagi. Tidak ... demi keamanan dan juga perasaan yang baru saja di bagun.


"Pulang ke rumah." Perintahnya pada sang sopir.


"Siap, tuan muda," jawab sopir itu.


"Tapi ... tuan" asisten hendak mengingatkan tapi di hentikan oleh Kaizer dengan isyarat tangan.


.

__ADS_1


Wilona mengenakan dress selutut berwarna merah maroon.


"Wah ... nona cantik sekali mengenakan dress ini, di tambah lagi dengan liontin ini." Salma mengaguminya.


Ia tersenyum dengan pujian Salma yang setiap hari di lontarkan, bahkan sudah tidak tau berapa banyak pujian yang terlontar dari mulut Salma.


"Ko cuma senyum saja nona muda saat saya puji?"


"Maunya saya harus bagaimana ? marah-marah begitu maunya." Wilona memperbaiki rambutnya yang curly.


"Tidak nona, cukup tersenyum lebih baik" takut juga ternyata dengan Wilona.


Hidup memang perlu perubahan, bukan berarti perubahan ke dalam hal buruk.


"Kapan makanannya tersaji, tiba-tiba saya ingin makan." Sambil mengusap perutnya.


Salma menatap ke arah perut Wilona.


'Apa mungkin sudah isi, perasaan gak secepat itu deh prosesnya. Meski ya ... aku juga belum tau.' Salma mengangguk-anggukkan sambil.


"Sepertinya sudah siap nona" Salma mempersilahkan Wilona untuk berjalan terlebih dahulu.


Pukul 16.20 WIB.


Tak


Tak


Suara sepatu beriringan berjalan ke arah Wilona, Wilona menikmati suasana sore.


Setelah menyantap hidangan bebek ungkep dan ayam goreng membuat Wilona mager dan gak mau ngapa-ngapain selain bersandar di dekat jendela.


"Pakai selimut nya " Kaizer memakan selimut pada Wilona.


"Eh, sudah pulang. Kapan ?" bingung bercampur senang.


Ia pikir tadi Kaizer akan membawa seseorang.


"Barusan, sini masuk jangan terlalu banyak di luar. Banyak angin akhir-akhir ini dan tidak bagus untuk kesehatan !" jawabnya sambil mengajak Wilona untuk duduk di sofa kamar.


Wilona bertanya-tanya, kenapa Kaizer pulang begitu cepat. Bukannya tadi pagi bilang akan pulang beberapa hari yang akan datang.


"Bukannya akan pulang beberapa hari lagi?" melepas selimut.


"Tidak jadi, ada sesuatu yang penting yang ingin aku bicarakan. Tapi, aku mohon jangan menyembunyikan apapun dariku, oke!" menggenggam tangan Wilona.


"Baiklah, tapi tunggu. Sepertinya ada yang serius, apa soal pernikahan kontrak kita atau mungkin kamu mau menagih surat perceraian dariku?"


Hati Wilona sangat sakit saat mengatakan itu semua, bagai belati yang menghujam jantungnya.


"Bukan!"


"Lalu apa?"


Wilona harus tetap kuat menghadapi, apapun resikonya.


Resiko status yang masih istri kontrak dan perjanjian yang belum usai, sebab Kaizer belum membatalkan perjanjian hitam di atas putih.


"Apa pria itu kakakmu ?" pertanyaan Kaizer mendapatkan senyum getir dari Wilona.


Apa suaminya baru bertemu dengan tuan muda Sastra Arga ke 3 hari ini, apa jangan-jangan yang katanya keluar kota adalah menyelimuti tentang keluarga Wilona.

__ADS_1


'Jadi ... dia menyelidiki identitas ku juga, apa dia akan membenciku sekarang dan berterang-terangan untuk berpisah. Oh ... Tuhan jika ini adalah hari terakhir biarkan aku bahagia untuk sebentar saja, biarkan aku tersenyum sebentar.'


Air mata Wilona tak terbendung lagi, tiba-tiba menetes begitu derasnya di pipi.


__ADS_2