
Tatapan mata Kaizer akhirnya di balas juga oleh Wilona.
"Kenapa menatap ku seperti itu?"
Justru senyuman lah yang terbit.
"Aku sedari tadi bertanya, tapi sepertinya jiwamu terbang kemana-mana !" sambil cekikikan.
"Emaknya aku ghost apa, pakai jiwa terbang-terbang segala. Gak lucu kali." merengut.
"Siapa yang bilang lucu, kan kamu sendiri yang bilang tadi," Kaizer memperbaiki anak rambut yang menutupi kecantikan Wilona.
Wilona menyilangkan kedua tangannya, ia marah. Tapi justru terlihat sangat menggemaskan.
"Kamu lucu dan menggemaskan jika marah begini, aku sudah tidak sabaran ingin cepat-cepat pulang "
"Ngapain ?"
"Ya biasalah, buang air putih ke kamu!" jawabnya santai langsung mendapatkan pukulan dari Wilona.
Plak
"Jangan kencang-kencang, malu"
"Tapi aku gak malu tuh" malah nantangin Wilona.
"Wah ... ngajak berantem nih" sudah siap-siap.
"Jangan aneh-aneh sayang, kita masih di tempat ini. Kalau sudah berada di kamar, baru boleh langsung berantem, ingin seperti apa. Kucing, ayam, kambing, ikan, katak atau apa?"
Kaizer mulai lagi deh jahilnya pada Wilona.
Wajah Wilona merah padam, ingin marah tapi ini tempat umum. Meski tidak ada media sama sekali, tapi untuk berjaga-jaga saja.
.
Sedangkan Sastra Arga ke 3 menatap potret pernikahan yang tidak sengaja ia dapatkan, setelah membayar banyak seorang hacker untuk menyelidiki identitas orang-orang itu.
"Sialan, jika tau begini bagaimana nasib adikku. Pernikahan, kehidupan mendatang, bukannya sama dengan bu nuh diri." Ia menggebrak meja dengan keras.
BRAG
"Sial"
Rasanya kepala nya mau pecah memikirkan kejadian satu persatu.
Bagaimana bisa sang kakek begitu tidak tau malu, merebut calon istri sahabatnya dan menidurinya sebelum pernikahan.
Dan yang lebih parahnya sang nenek mau maunya dengan kakek.
"Aku hanya takut, adikku di jadikan pelampiasan balas dendam jika mereka tau Wilona dari keluarga Sastra Arga, aku takut adikku di apa-apakan di tempat itu. Tidak bisa, aku harus menyelamatkan nasibnya."
.
Dinner romantis berjalan semestinya.
Kini Wilona dan Kaizer berada di suatu tempat, tempatnya cukup sepi sebab Kaizer menyewa tempat tersebut selama setengah jam.
Sebab banyak antrian yang ingin menyewa.
"Kamu suka?"
__ADS_1
Wilona mengangguk di iringi senyum bahagia.
"Iya, rasanya seperti mimpi Kai. Aku juga tidak pernah membayangkan jika kencan menyenangkan begini, apalagi di iringi genggaman tangan!" Wilona menatap tangannya yang memang di genggam erat oleh Kai.
Kaizer yang mulai jail diam-diam membisikkan sesuatu.
"Ubi ku terasa panas dan berdenyut-denyut, bantu aku."
"Tapi ... ini di tempat umum Kai," menolak.
"Ayolah"
"Enggak," malu pakai banget.
"Cepetan." Kaizer mulai ngambek.
Seperti ini kelakuan nya, ia pura-pura marah agar tujuan nya tercapai.
"Gak usah pura-pura ngambek deh, perasaan kita tidak sedekat itu deh. Cuma gara-gara kejadian semalam membuat kamu lupa segalanya, apa tidak bisa kamu memberikan aku sedikit waktu dan jeda," omelnya pada Kaizer.
Kaizer terdiam, memang benar ucapannya.
Dan sepantasnya memang Wilona marah, diri ini yang tidak tahu malu begini. Selain itu dirinya lebih pantas lagi di caci maki, sudah di beri hati minta jantung.
"Baiklah, maaf jika aku begitu lancang ke kamu Wilona."
"Iya," datar cuek.
"Maaf sekali lagi, maaf karena naf su ku yang mendadak membuatmu takut."
Seorang Kaizer minta maaf, oh my God hari apa ini.
'Hari apa sih sekarang, bukan April mop kan?' terheran-heran.
Rumah
Kaizer melepaskan sepatunya dan meletakkannya di salah satu rak sepatu, karena tidak terlalu kotor-kotor banget jadi ya di masukkan.
Biar besok pembantu yang merapikan dan membersihkan semua itu.
"Sini, aku bantu." Melepaskan sepatu yang di kenakan Wilona.
"Tidak usah, aku masih bisa ko," menolak tapi percuma.
Kaizer sudah bersimpuh di hadapan nya dan melepaskan tali sepatu hak tinggi.
"Aku juga bisa ko, ini buktinya." Kaizer menunjukkan sepatu yang baru saja terlepas dari kaki jenjang Wilona.
Terlihat cantik dan mulus sekali.
"Tutup mata mu,"
"Lah kenapa?" otomatis bingung dong Kaizer di suruh tutup mata
Buat apa coba, apa jangan-jangan mau memberikan sesuatu atau kejutan.
"Nanti jagung bakar kamu pengen lagi, hari ini pending dulu naf su nya!"
"Iya ... iya ... terus kapan kita berdua main lagi."
"Kapan-kapan kalau gak sakit lagi," memupuskan harapan Kaizer.
__ADS_1
Kaizer diam.
Wilona tau, suaminya ingin tapi tidak semua hal harus di turuti bukan.
Ini juga demi kebaikan diri sendiri.
"Baiklah, lagi pula besok aku ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan dengan cepat."
"Semangat suamiku," Wilona tersenyum saat Kaizer beranjak pergi dari kamarnya.
Kaizer dan Wilona masih berbeda tempat tidur, bukan karena apa.
Wilona sudah terbiasa tidur sendirian selama pernikahan, bukan haknya untuk meminta lebih selagi surat perjanjian masih berjalan.
Harapan nya semoga baik-baik saja meski hati terkadang terasa nyeri.
"Semua akan baik-baik saja bukan?" menatap potret pernikahan nya dengan Kaizer.
Hari memang tidak bisa di tebak.
Keesokan harinya.
"Hari ini aku ada perjalanan bisnis, kamu tidak perlu ke luar ya. Nanti setelah aku pulang lusa kita jalan-jalan, oke." Mencium pucuk rambut Wilona.
Taukah kalian, bahwa kegiatan sederhana ini membuat para suami semangat dalam berkerja, itu tanpa kita sadari.
"Iya aku tunggu, tapi kalau aku bosan bagaimana ?"
"Jalan-jalan keliling rumah saja, bukannya sudah cukup!"
"Tapi aku tidak bebas, aku bukan burung kenari yang berasa di sangkar emas."
"Jangan protes oke, aku pergi dulu," Kaizer menyuruh bawahannya untuk membawa kopernya.
Wilona menatap hampa kepergian Kaizer.
Rasanya ia tidak rela dengan kepergian Kaizer, apa benar hanya urusan bisnis saja tidak lebih dari itu.
"Semoga kamu baik-baik saja sampai tujuan, aku percayai kamu akan pulang dengan selamat dan bahagia." Doa Wilona.
.
"Nona Wilona." panggilan Salma membuyarkan lamunan Wilona.
"Eh kamu, ada apa mbak Salma?" memperbaiki posisi duduknya.
"Dari tadi saya lihat nona melamun, sudah kangen ya dengan tuan muda." Ledek Salma.
Salma memang orangnya humoris dan bisa di andalkan, jika perlu apa-apa.
"Enggak ko, cuma hawatir aja,"
"Itu sama saja nona Wilona, anda sudah kangen namanya. Lagian ya non, kalau suami sering pergi kenapa gak di awasi non. Di luaran sana banyak loh pelakor gak hanya perempuan, biasa jadi laki-laki juga." Salma menakut-nakuti Wilona.
"Bener sih, apalagi jaman sekarang. Tapi aku percaya ko mbak sama dia, aku berusaha membangun kepercayaan di pernikahan kami," Wilona menegaskan kata-katanya.
Salma tersenyum kegirangan, jadi ... jadi ... selama ini benar pengelihatannya jika nona muda nya ada rasa love love pada tuan muda.
"Saya permisi dulu nona Wilona, ada sedikit pekerjaan yang harus segera saya lakukan."
Wilona mengangguk
__ADS_1
"Apa benar laki-laki begitu kalau keluar kota, buktinya dulu Kaizer sering pulang dari luar kota membawa wanita ke rumah."
Tiba-tiba rasa percaya diri itu runtuh, harapan harapan yang ia rangkai dan hayalan hanya akan menjadi mimpi semata.