
Sastra Arga cemburu melihat Wilona diperhatikan begitu perhatian oleh Kaizer.
''Ehem, kondisi posisinya. Ada yang masih jomblo.''
"Makanya nikah, biar gak iri," Kaizer justru memanas-manasinya.
Sastra Arga menyipitkan matanya.
"Awas saja kamu." Ia beranjak pergi sebelum ada mata-mata yang mengawasinya dari jauh tau semuanya.
Ia berhenti di salah satu sudut kursi yang ternyata ada sebuah kamera kecil.
"Sial, siapa yang memasang ini?" mencabut dan langsung memutuskan kamera itu.
Kaizer terkejut, sebelum-sebelumnya tidak ada kamera pengintai sekecil itu di rumahnya, hampir seukuran dengan paku.
Kaizer Wilona menggeleng bersama.
"Yakin?" tanyanya penuh curiga.
"Anda ini sopan santunnya di taro dimana, sudah bertamu begitu curiga di rumah orang lain, apakah ini identitas sebenarnya dari keturunan Sastra Arga yang menyalahgunakan pihak lain, padahal dirinya sumber kesalahan!" jawaban menohok Kaizer membuat Sastra Arga ke 3 sampai mengertakkan rahangnya.
Kemudian senyumnya terpancar.
"Tidak perlu seemosi itu tuan Mahir, saya tau saya hanya tamu. Untuk masalah ini, saya akan menanganinya " pergi tanpa kata-kata lagi.
Kaizer menatap ketidak sukaan saat orang itu berkunjung ke rumahnya dan mengatakan kata-kata yang begitu lancang.
"Kai."
"Ada apa?"
"Beneran kamu gak meletakkan kamera pengintai di rumah kita?"
"Iya, aku gak mungkin melakukan itu. Tunggu ... sepertinya ada mata-mata yang selalu mengawasi kita, coba cek mobil dan tas kamu sayang."
__ADS_1
"Iya, kamu cek mobil aku coba cek beberapa tas aku di kamar oke,"
Mereka berdua berkerja sama dengan baik, sementara Wilona mengecek tas, sepatu, baju bahkan beberapa peralatan makeup miliknya tak lupa lainnya juga seperti gelang pemberian kakek Maher Mahir.
"Coba aku cek ini gelang, sepertinya ada masalah di sini, atau jangan-jangan selama ini kakek membuntuti aku dan mulai curiga dengan identitas ku,gawat jika iya." Bergumam di depan cermin sambil menatap gelang tersebut.
Kaizer mencari di seluruh sudut mobil begitu juga dengan salah satu orang suruhannya.
"Temukan sampai dapat, jika tidak kalian akan saya pecat tanpa pesangon. Di lihat baik-baik apa ada benda kecil seperti ini, di dalam mobil, motor dan tas kalian masing-masing dan juga tempat kalian beristirahat biasanya juga harus di cek. Apa sebelumnya ada orang asing datang kemari?"
Kaizer berbicara panjang lebar.
Mereka kompak menjawab tidak ada dan sudah di pastikan tidak kecolongan seperti datangnya tamu tak di undang yang bernama Tia.
Sedangkan di tempat lain seseorang dengan setelan jas hitam panjang sampai ke lutut mengepalkan tangannya.
"Sial, tidak akan ku biarkan kalian bahagia. Lihat saja." Mengenakan kembali penutup kepala.
Wilona menuruni anak tangga untuk menunjukkan sesuatu pada Kaizer, entah perasaannya juga tidak enak tentang gelang yang sering ia gunakan.
"Wilona sayang, kenapa kamu tergesa-gesa. Kamu panggil saja aku bisa langsung datang menemui mu tanpa harus kamu berlarian begini, kamu harus menjaga kesehatan sayang takutnya calon anak kita sedang tumbuh di rahim kamu." Hawatir bukan main.
Kaizer menerimanya, tidak ada yang aneh kalau menurutnya.
"Sejak kapan kamu di berikan gelang ini sayang?"
Seharusnya sang kakek tidak akan berbuat macam-macam kan, mengingat selama ini perlakuannya terhadap Wilona sangat istimewa di bandingkan dengan dirinya yang selalu di anggap parasit.
"Beberapa Minggu yang lalu kai, memangnya ada apa?"
'Jika beberapa Minggu yang lalu seharusnya tidak ada sangkut pautnya kan dengan kamera pengintai itu,tapi kecelakaan Wilona terjadi seperti sesuatu yang di sengaja terjadi, tapi apa maksudnya ya. Apa kakek ada dendam pribadi dengan Wilona, tapi apa salahnya Wilona pada kakek, bukannya selama ini Wilona memperlakukan kakek dengan baik dan sopan, kurang apalagi coba perhatiannya Wilona padanya?' Kaizer di buat bertanya-tanya dengan kejadian aneh yang menimpa keluarganya tersebut.
"Tidak ada, coba nanti aku bawa dulu gelang mu ya."
"Iya, coba kamu selidiki kai. Aku juga heran semenjak mengenakan gelang itu ada saja masalah yang terjadi, bahkan saat aku mau berinvestasi ke daerah, ups ...," Menutup mulutnya dengan rapat.
__ADS_1
Kaizer mengernyitkan dahinya.
"Investasi? investasi apa dan dimana. Jangan melakukan hal-hal ceroboh sayang, bukannya sudah aku peringatkan jangan melakukan hal itu, apa masih kurang punya satu perusahaan di bidang kecantikan kamu yang bernama Wikeiglow kekurangan uang dan juga Wikei fashion kurang suntikan dana, bilang butuh berapa akan aku transfer sekarang agar kamu tidak berinvestasi di perusahaan lain yang akan merugikan kamu kedepannya sayang."
Wilona memundurkan pandangan nya saat Kaizer menanyai pertanyaan yang bahkan dengan gerbong kereta apa yang panjang kalah dengan perkataannya Kaizer.
"Aku tau aku salah, tapi tidak sepenuhnya itu semua murni kesalahanku. Aku melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga Kai,"
"Berjaga-jaga untuk apa? dan sejak kapan kamu ikut investasi-investasi itu sayang?"
"Dan aku memang sengaja investasi diam-diam di belakang kamu, agar saat nanti kita tidak ber--"
"Hus ... jangan di lanjutkan, sekarang kita sudah bersama-sama tidak usah berinvestasi lagi jika investasi yang kamu lakukan sedang pailit." Memotong ucapan Wilona.
Wilona terasa terintimidasi oleh perkataan Kaizer, orang ini keras kepala dan sulit untuk di lunakkan jika sudah begini.
"Please .. Kai, ini hanya untuk berjaga-jaga aku mohon Kai," wajahnya imut dan menggemaskan sekali.
Sayang ekspresi seperti ini tidak di makan, jarang-jarang Wilona begitu manja terhadap dirinya, kesempatan langka dan jarang terjadi.
"Baik,tapi kamu kasih tau aku dulu dimana kamu berinvestasi."
Wilona dilema dan bimbang, jika Kaizer tau tempatnya berinvestasi apakah dia akan setuju atau justru menggagalkan tempatnya berinvestasi sekarang.
'Kamu jangan mudah terkecoh Wilona, meski kamu mencintai dia begitu juga sebaliknya jangan sampai kamu membocorkan ini itu, cukup satu saja yang kamu kasih tau itupun yang perusahaan kecil yang besar dan di luar negri jangan oke, sedia payung sebelum petir menggelegar tidak musim sekarang hujan.'
"Kenapa diam, jangan coba-coba menipuku sayang."
"Aku tidak menipu, aku berinvestasi di perusahaan Star," tidak ada kebohongan di wajah Wilona.
Kalau soal menipu raut wajah Wilona bisa mengatasinya asalkan orang yang di hadapinya tidak bisa membaca raut wajahnya.
"Perusahaan Star, kenapa terasa tidak asing dengan perusahaan itu?"
Kaizer terlihat berpikir dan berusaha mengingat-ingat pemilik perusahaan Star.
__ADS_1
"Bukannya itu perusahaan kecil sayang dan hanya ada di negara ini saja tidak sampai ke luar negri produknya?"
"Iya, maka dari itu cintai produk sendiri dari pada produk luar, ya ... sesekali sih perlu beli produk dari luar seperlunya tidak semuanya!"