
Kaizer ingin tertawa rasanya melihat Wilona .
"AAA HA HA, kamu dandan apa sih hari ini Wilona." Masih tertawa nyaring sampai perutnya kram sebab terlalu banyak tertawa.
Sambil memukul-mukul pahanya dengan tangan.
"Ada yang salah?"
"Iya!" masih tertawa.
Hampir terjungkal.
"Di mana letaknya, aku ke salon loh tadi." Jelasnya yang membuat Kaizer diam seketika.
"Ke salon?" tidak percaya.
"Iya, bukannya kamu yang menyuruhku ke salon bahkan aku tadi di jemput loh oleh orang salon yang kamu pesan Kaizer!" Wilona menjelaskan.
Kaizer menggeleng.
"Aku tidak menyuruh orang salon untuk menjemput mu Wilona, justru orang-orang salon bilang kamu tidak ada di rumah saat mau di dandani. Nih baju yang aku pesan." Memberikan paper bag pada Wilona.
"Terus, siapa yang menjemput kamu Wilona. Apa kamu masih ingat orangnya ?" Kaizer merasakan ada yang aneh.
Kenapa Wilona bilang orang salon menjemputnya dan mengacaukan riasan wajah, sedang kan orang-orang salon tadi bilang jika Wilona tidak ada di rumah. Aneh pikirnya.
"Tidak ingat, yang aku ingat aku di jemput pakai mobil Honda jazz warna merah. Dan mereka laki-laki semua tapi bertubuh gemulai, bahkan mereka juga yang membuatku begini. Untungnya kita gak ketemuan langsung di luar, bisa-bisa aku di kira badut keliling lagi. Kan malu jadinya!"
Wilona kesal, bisa-bisanya dirinya di kerjain orang. Perasaan gak pernah menyinggung orang kecuali, cabe kecil yang waktu itu datang ke rumah.
Kaizer ingin tertawa dengan penuturan Wilona, untung saja tidak langsung ketemuan.
Kaizer yakin Wilona akan bertambah malu dan bisa jadi besok-besok ia akan kehilangan kepercayaan diri nya.
"Kalau mau tertawa, tertawa saja dan lanjutan kan saja, lagian kamu sih ngapain juga bikin pengumuman mau kencan. Kan aku jadi kena imbasnya, coba deh fans-fans fanatik kamu. Kamu beri penjelasan bila perlu adain tuh konferensi pers di depan umum."
"Katanya takut pamor aku di kantor menurun, lah sekarang malah suruh mengadakan konferensi pers segala, bukannya belum siap identitas di ketahui oleh publik," benar yang di katakan Kaizer.
"Benar juga." Membersihkan hasil makeup abal-abal.
Wilona membersihkan setiap inci wajahnya, takut iritasi jika berlama-lama dengan makeup gak jelas mereknya apa.
"Tapi atasi dulu masalah yang terjadi ini dan kekacauan ini, aku malu tau" menutupi sebagian wajahnya dengan kipas tangan.
"Gampang itu, sebentar ya,"
Kaizer mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang dan menyelidiki dimana pun tempatnya untuk mencari tau orang-orang yang sudah menyabotase acaranya dengan mengacaukan riasan cantik istrinya.
"Sudah aku telpon, bagaimana. Ayo" mengulurkan tangannya pada Wilona.
Wilona menatap tangan itu, apakah keputusannya benar tepat kali ini. Tapi rasa takut dan hawatir menyelimuti dirinya.
"Ayo, lagian sayang gaun secantik ini di diamkan berlama-lama di paper bag. Lebih baik saya kenakan bukan?"
"Ish... ko saya lagi, pakai aku dong biar enak gitu bicaranya gak formal-formal banget !"
"Iya ... iya ... bawel banget sih kamu sekarang, apa banyak bicara sekarang hobi terbaru kamu." Wilona berjalan mendahului Kaizer.
__ADS_1
"Hey tunggu, wanita di belakangnya bukan di depan suaminya," cicitnya sambil berlari-lari.
Adegan saling kejar mengejar, untung lantai gan licin-licin banget.
Terkadang kita memang butuh bercanda di dalam hubungan, maksudnya bercanda bukan main-main dalam masalah serius.
Tapi terkadang, justru ada kesalahpahaman di situ hingga membuat ke dua orang yang akrab menjadi sangat asing dan jauh.
Jangan biarkan itu berlarut.
Wilona menjulurkan lidahnya.
Kaizer berteriak kesal saat kecepatan kakinya kalah oleh Wilona yang tidak seberapa tinggi itu.
Huh
Huh
"Capek?"
"Enggak cuma kesel doang, ngapain sih lari kencang-kencang. Seperti mau lomba maraton!" mengatur nafas yang masih naik turun.
Wilona hanya tertawa melihat wajah memerah Kaizer, kesan tampannya tidak dapat di pungkiri.
"Kamu yang kalah cepat, kenapa jadi nyalahin aku gini"
Wilona berdecak pinggang.
"Aku gak nyalahin kamu yang lari begitu cepat, hanya kaki aku aja yang lebay di ajak lari mudah capek. Apalagi nih dada ... mengkis ... mengkis ..."
'Wkwkwk ternyata orang ini normal ya seperti orang pada umunya yang suka bercanda, tapi kenapa dia pernah punya sifat dingi dan kejam.'
sepasang laki-laki dan perempuan itu begitu tersenyum bahagia sampai masuk ke dalam mobil bahkan mereka main kejar-kejaran seperti anak kecil yang berebutan.
"Tidak akan ku biarkan kalian berbahagia, kalian hanya pantas menderita. Yang seharusnya bahagia aku dengan dia, bukan kamu." Mengepalkan jari-jari nya.
Setelah itu mobil melaju membelah jalanan menuju ke suatu tempat yang sudah di siapkan dan di pesan dari pagi.
Sepertinya persiapan sudah sangat matang dari tadi sore, uang tidak masalah sekarang yang bermasalah orangnya.
Bisa di ajak membuka lembaran baru atau tidak.
Hotel Star Mega.
Pukul 07.24 waktu setempat.
"Ayo." Mengulurkan tangannya pada Wilona.
"Iya, terimakasih " tersenyum lagi.
Wilona tersipu malu begitu juga Kaizer.
Apakah hari ini hari yang akan selalu bersama, bahagia tanpa ada masalah ?
Semua orang yang berumah tangga tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Para pelayan menyambut baik dan ramah saat tamu-tamu nya datang mengunjungi hotel.
__ADS_1
Sesampainya di tempat yang sudah di pesan Kaizer menarik salah satu kursi untuk mempersilahkan Wilona untuk duduk.
"Silahkan ... tuan putri yang cantik."
Wilona tercengang seperti adegan di film-film yang pernah ia tonton, ternyata rasanya begini di perlakukan istimewa oleh orang lain.
"Romantis banget sih," Wilona menatap tatanan meja di hadapannya.
Semua persiapan sudah matang, kenapa acara dinner seperti lamaran.
"Harus dong, untuk kamu." mencolek hidung Wilona.
"Gombalan kamu gak laku,"
"Siapa bilang gak laku, buktinya ini" menunjuk kedua pipinya Wilona.
"Apa an sih, jangan aneh-aneh deh megang nya."
"Tapi kan buktinya, ini wajah jadi merah. Apa salah aku bicara, sayang," Kaizer genit sekali.
Deg
Deg
Deg
'Sayang'
'Sayang'
'Kali ini kenapa Kaizer begitu tidak malu dan terang-terangan. Banyak pasang mata yang memandang ke arah sini, meski itu hanya pelayanan hotel dan orang-orang Kaizer.'
"Kai ... jangan begini, aku malu" akhirnya kata-kata malu terdengar di telinga kaizer.
Sudah dari tadi pagi ia menyusun rencana saat nanti kencan sebisa mungkin membuat Wilona terpanah asmara nya.
"Tapi aku sangat menyukainya."
Kaizer menguarkan sesuatu dari saku celananya.
"Ini untuk mu, sayang." Memberikan satu kotak kecil berwarna merah.
Wilona bahagia.
'Ya ampun, apa artinya ini. Kenapa aku seperti di lamar saja, apa seperti ini rasanya di lamar pasangan kita.'
"Aku pakaian kan ya"
Wilona mengangguk terharu,
Kaizer mengalihkan posisi nya menjadi di belakang Wilona untuk memasang kan kalung berliontin dan juga sepasang anting.
Sangat cantik saat Wilona yang mengenakan nya.
"Cantik," mencium kedua anting yang sudah berada di telinga Wilona.
Lalu liontin yang di kenakan Wilona.
__ADS_1
Hanya ada degub debaran jantung antara Kaizer dan Wilona, mereka sama-sama sedang senam jantung.
"Aku baru pertama kali mengenakan ini pada wanita, dan itu hanya kamu seorang." Bisiknya tepat di telinga Wilona.