Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 26


__ADS_3

Wilona terdiam saat dirinya sudah tersungkur di semak-semak, ia tidak berani berbicara satu patah katapun. Ia menutupi mulutnya dengan tangannya,agar suara isak tangisnya tidak terdengar. Perutnya terkena benturan tadi, dan sepertinya lebam.


'Sakit banget, siapa yang bisa menolongku. Kenapa perutku ada yang aneh di sini?'


Ia menyentuh perutnya.


"Ss... sakit sekali." Menatap telapak tangannya, hanya ada cairan putih.


Perutnya sekarang tergores.


Sebelum pingsan ia sempat menelpon Kaizer tapi tidak di angkat.


Dret


Dret


.


...RUMAH SAKIT...


"Sayang, kamu sudah bangun. Sudah dua harian ini kamu tidak sadarkan diri, aku takut kamu kenapa-kenapa sayang." Terus menciumi punggung tangan Wilona.


Wilona masih mengumpulkan kesadarannya, sedangkan Kaizer terus berisik di sampingnya.


Tangannya merasakan ada sesuatu yang basah tepat di punggung tangannya, sedangkan yang sebelahnya terasa berat seperti ada jarum suntik.


"Aw."


"Sayang," bahagia langsung mencium ubun-ubun Wilona.


"Sejak kapan aku di sini yang?"


"Baru dua hari dan selama itu juga kamu tidak sadarkan diri, sampai aku hawatir dan menyuruh dokter untuk mengecek keadaan mu berulangkali !"


"Mengecek keadaanku? berulangkali ?"


"Iya, apa kamu sedih karena aku terlalu posesif." Cicitnya.


Wilona tersenyum saat melihat ekspresi Kaizer yang imut saat merasa bersalah. Kaizer mengetik sesuatu di ponselnya dan membuat Wilona tidak suka dan cemburu di cuekin olehnya, padahal tadi sangat berisik dan membuat telinga sakit.


"Ponselnya cantik, ya?"


"Iya cantik, kamu sendiri kan yang memilihkan casingnya dan ini gantungannya," jawaban yang menyebalkan.


"Bukan itu maksudku, kamu membuatkan jengkel Kai." Memalingkan wajahnya.


"Nih anak, cemburu yang gak jelas. Tadi bilang ponselnya cantik, tapi setelah aku tanggapi ucapan kamu malah justru kamu marah,"


"Aku gak marah ko, nih ... lihat ... lihat dengan baik-baik."

__ADS_1


Sambil menampilkan senyumnya, terpaksa.


Kaizer meletakkan ponselnya, kemudian tangannya terjulur ke depan dan mengusap pelan pipi merona yang selalu merah jika di hadapannya.


"Kamu sangat cantik saat tersipu begini, jangan pernah ya kamu begini di depan laki-laki lain, aku tidak suka," tegasnya pada Wilona.


Wilona hanya mencibir.


"Kamu melarangku untuk tersenyum begini, terus aku harus gimana kalau nanti ketemu orang-orang, apa harus mengeluarkan ekspresi begini." Memanyunkan bibirnya.


"Jangan deh, nanti di kirain habis aku cium,"


Wilona menghela nafas, berbicara dengan Kaizer selalu berakhir dirinya sendiri yang kalah dan tidak bisa membalas perkataan Kaizer.


.


Penyelidikan tentang asal usul Wilona terus bergulir, semua orang-orang tenaga Maher Mahir bergerak untuk menyelidiki kejadian-kejadian sebelum Kaizer bersama Wilona, tapi hasilnya masih nihil tidak ada kejelasan hanya identitas Wilona yang sebagai anak jalanan tidak kurang tidak lebih selain itu ia juga lulusan SMA yang tidak terkenal.


"Cari sampai dapat, bila perlu selidiki seseorang dari keturunan Sastra Arga. Saya tidak mau memilih hubungan apa-apa dengan keluarga penghianat dan bajinga* seperti Sastra Arga." Perintahnya lagi.


Tapi sebelum semuanya terlambat lebih baik Maher mengantisipasi lebih dahulu.


"Siap laksanakan tuan besar, kami permisi," pamitnya dengan sopan.


Banyak senyum yang tersirat di wajah Maher, jika benar Wilona masih keturunan Sastra Arga bukannya sangat menyenangkan untuk balas dendam, cucu yang tidak pernah di harapkan hadir pasti mudah di bujuk rayu agar melukai Wilona lahir batin.


.


"Nah ... kamu sendiri sudah tau, sebenarnya kamu ini cinta gak sih sama aku Kai ?"


"Kenapa bertanya begitu!" tersenyum.


"Ya ... penasaran aja sih, kalau gak ada perasaan bilang aja gak apa-apa aku. Lebih baik berbicara dari awal daripada akhirnya saling menyakiti, aku juga lelah dengan drama rumah tangga yang sengaja kamu ciptakan."


Deg


Kaizer merasakan seperti terkena serangan jantung dadakan.


Jangan pingsan lagi loh ya Kaizer, merepotkan emak🙄


Wilona menatap Kaizer yang memegang dadanya.


"Mau pingsan?"


Kaizer menggeleng kuat.


"Yakin?"


"Iya yakin, seratus persen yang!"

__ADS_1


BRUGH


Wilona hanya menatap tubuh Kaizer yang ambruk di lantah.


"Yah ... pingsan lagi, lagian sih kenapa memancing emosi." Wilona menghubungi seseorang dari ponsel Kaizer.


📞 cepat kemari, suami saya pingsan. Jangan lupa bawa suster atau dokter sekaligus biar dia di periksa juga, untuk ruangan di samping saya kalau bisa


Wilona mematikan ponselnya.


Tak selang beberapa lama akhirnya bawah Kaizer datang beserta beberapa suster dan dokter.


Wilona memijat pelipisnya, pingsan saja yang menangani banyak apalagi kejadian yang menimpa dirinya beberapa hari yang lalu, bisa jadi dokter seluruh kota yang memeriksanya.


Sedangkan Sastra Arga ke 3 yang mendapatkan kabar bahwa adiknya sudah siuman segera menuju ke rumah sakit. Saat di dalam ruangan ia menatap bangsal sebelah Wilona adiknya.


"Kenapa pingsan?"


"Biasa, memang dia sering begitu. Bawaan dari lahir!" jawabnya santai.


Memang begitu dan tidak ada riwayat sakit apa-apa, jika mendengar berita kurang mengenakan atau sejenisnya ia selalu pingsan di tempat.


Sastra Arga ke 3 berbicara pelan sampai telinga Kaizer yang peka saja tidak bisa mendengarkan percakapan mereka.


'Haduh ... istri ku ini kapan sih pekanya, apa dia gak tau kalau aku hanya pura-pura dan cari simpati selama ini, rugi deh ... bayar dokter dan suster kalau ujung-ujungnya malah jadi bahan tertawaan. Di tambah lagi, mereka berbicara sangat pelan, sial ..., aku tidak bisa mendengar percakapan mereka.' Ingin segera bangun tapi terlanjur main.


Mata Kaizer selalu melirik-lirik sambil menatap apakah mereka masih ada dan ternyata ada.


"Kai, kamu sadar?" tanya Wilona yang sudah duduk di sampingnya ternyata.


"Hem ... tadi sepertinya aku mendengar suara seseorang yang tidak asing, dimana?"


"Ada, tapi tadi baru saja keluar ada pekerjaan mendesak katanya!" Wilona menyuapi Kaizer dengan buah apel.


Kaizer di buat terharu oleh kelakuan Wilona yang begitu perhatian, padahal dirinya sekarang juga baru siuman.


"Enak, sayang yuk aku bantu berbaring lagi. Kamu baru sadar setelah pingsan selama dua hari sayang, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa." Bangkit dari ranjang pasien.


"Kamu juga baru sadar, aku bisa sendiri. Lihatlah," menunjukkan jika ia mampu berbaring kembali ke tempatnya istirahat.


"Iya ... iya ... aku percaya, oh ya sayang. Bagaimana setelah kamu sembuh kita ke rumah kakek?"


''Boleh, lagian sudah lama kita tidak kesana !" begitu semangat tapi ia memendam sedih.


Perasaan Wilona sedikit tidak tenang saat tiba-tiba Kaizer mengajak untuk mengunjungi kakek Maher Mahir, apa ada sesuatu yang mendesak.


'Kenapa perasaanku gak enak sih,apa jangan-jangan ada sesuatu yang ada kaitannya dengan identitas ku, aku sendiri saja bingung sebenarnya aku ini siapa.'


Pikiran Wilona berkecambuk bahkan saat ini saja tidak bisa berpikir dengan jernih, apalagi dirinya tau identitas kelam keluarga mahir dengan Sastra Arga.

__ADS_1


__ADS_2