Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 27


__ADS_3

''Sayang''


Sedari tadi Kaizer memanggil-manggil Wilona tapi tidak ada respon, apa yang sedang di pikirkan istrinya. Kaizer berjalan mendekati tempat Wilona yang berkelana dengan pikirannya.


''Wilona.''


Ia terjingkat saat tangan hangat dan besar itu menyentuh bahunya.


''Eh, iya kai. Ada apa?''


''Dari tadi kamu melamun, ada apa?''


Wilona menggeleng kuat.


''Tidak ada, hanya tangan aku sedikit kram ya ... sedikit kram !'' dusta yang tidak bisa di pungkiri.


''Jangan berbohong Wilona, aku tau pasti ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan. Apa tidak ingin berbagi cerita dengan ku, siapa tau aku bisa membantu mengeluarkan solusi dari masalah yang sedang kamu hadapi.''


''Beneran gak ada Kaizer yang tampan bak pangeran berkuda putih,'' gemas dan mencubit kedua pipi Kaizer.


'Mana mungkin kamu bisa membantu kai, andai kamu tau saja jika kakek kamu sampai tau aku masih ada keturunan dengan mantan sahabat penghianat nya pasti pernikahan kita tidak sebagai ini, aku yakin itu.'


Sedikit demi sedikit Wilona mulai sadar diri, ia tau jika posisinya sekarang dalam masalah maju salah mundur apalagi. Namanya juga pernikahan, harus ada kerjasama di antara keduanya agar berjalan dengan baik. Ibarat kata roda pasti berputar maka saat berada di atas manfaatkanlah dengan baik, bila di bawah harus berusaha kembali agar kokoh dan kuat saat menopang.


'Ada apa sih sebenarnya, selama ini bukannya baik-baik saja. Di tambah lagi Wilona bukan perempuan yang dulu yang cengeng, tapi ...'


Namanya juga hati gak selalu kuat apalagi perempuan, banyak-banyak belajar dari luaran sana. Mungkin terlihat strong woman tapi sebenarnya ia menutupi kesedihannya dengan senyuman dan terlihat baik-baik saja padahal remuk redam dibuatnya.


Mereka berdua bermonolog dalam hati masing-masing, memang setiap masalah bisa di bicarakan berdua tapi tidak semua masalah dapat di bicarakan baik-baik dan saling terbuka, harus ada yang di simpan sedikit untuk berjaga-jaga.


.


Setelah kembali ke rumah.


''Pelan-pelan sayang.'' Memapah Wilona untuk duduk di sofa berwarna maroon.


''Terimakasih Kaizer kesayangan ku,'' ia memberikan sedikit kecupan di pipi kiri Kaizer.


''Kurang loh ini ciumannya.''


''Terus maunya gimana, aku cium kuat-kuat begitu?'' diiringi gelak tawa.


Senyum selalu terbit dari wajah Kaizer.

__ADS_1


''Iya!'' mode imut.


Wilona gemas dengan sikapnya.


''Aku sudah menyelidiki siapa pelaku di balik semua ini, kamu sepertinya tidak akan percaya.''


''Pelaku?''


''Iya, pelaku yang menyebabkan kamu kecelakaan kemarin !''


'Ma ti aku, kalau sampai kai tau aku naik motor dan di bonceng kemarin gimana?'' menatap resah.


''Tapi sebelum itu aku ingin memberikan kamu hukuman yang setimpal.''


''Stop ... stop ... jangan hukum aku, oke,'' menangkupkan tangannya seraya memohon pada Kaizer.


''Tapi kamu harus di hukum sayang, kenapa kamu berani-beraninya berboncengan dengan pria lain sampai kecelakaan, bukannya sudah pernah aku peringatkan jangan menggunakan kendaraan itu. Apalagi kalau duduknya dalam posisi begitu.''


Mata Kaizer menatap tajam tidak percaya bahwa istrinya begitu ceroboh.


"Dengar, orang terkena musibah itu tidak tau pakai kendaraan apa dan itu sudah nasib orang tersebut tertimpa musibah,"


Wilona berusaha menjelaskannya, tapi ia sedikit curiga dan resah. Saat kecelakaan ia sepertinya melihat seseorang dari kejauhan yang memegang suatu alat seperti laser untuk menyoroti mata seseorang agar pandangan orang tersebut kacau.


Wilona mengerjabkan matanya berkali-kali.


"Tunggu dulu kai, maksud kamu apa ya ko sepertinya menyudutkan aku sedari tadi."


Ia butuh penjelasan, bukan dirinya sendiri yang salah tapi pengawalnya juga ikut salah ia gak mau merasakan hukumannya sendirian, orang yang memboncengnya juga harus di beri hukuman.


"Gimana aku gak menyudutkan kamu, kamu salah kemarin itu. Sudah naik sepeda motor sendirian dan apa sekarang yang terjadi, kamu kecelakaan bukan. Untung saja hanya goresan kecil yang terjadi, bagaimana jika lain cerita," Kaizer wajahnya memerah bahkan air matanya sudah sampai di ujung pelupuk matanya.


'Aku harus memanfaatkan momen ini agar dengan senang hati Wilona membujukku dengan tubuhnya, sedikit menggertakkan pasti ia akan merasa bersalah. Oh, senangnya di cintai dan mencintai.'


Wilona memutar bola matanya.


"Aku salah dan minta maaf, kecerobohan ini aku yang salah. Terus ... sekarang aku harus bagaimana agar kamu memaafkan aku." Wilona berdiri dari tempatnya duduk.


Sambil berjalan lenggak-lenggok dengan senyum yang penuh arti sebelum ia naik ke atas tempat tidur.


Deg


Deg

__ADS_1


Debaran jantung Kaizer sangatlah kencang,ia sampai di buat salah tingkah olehnya. Ini kesempatan emas dan harus segera dituntaskan, jika tidak kasihan yang di tengah tidak terpuaskan.


Suara kecupan itu semakin menuntut keduanya, tanpa henti saling menikmati dan menyesap bibir manis masing-masing.


'Rasanya sangat enak, aku mau lebih dari ini.'


Meski tidak dapat di pungkiri jika ajang saling membuktikan siapa yang paling ganas terus bergulir. Tapi rasanya tetap berada di puncaknya.


"Kai."


"Hem, ada apa?" tanyanya sedikit membuka matanya sebab kejadian tadi menguras tenaganya.


"Ambilkan itu, ponsel yang ada di samping kamu!"


Kaizer mengambilkan ponsel milik Wilona, sebab sekarang ini Wilona kesulitan untuk bangun, sudah tau baru siuman tadi pagi dan langsung pulang tadi siang malah malamnya di gempur semalaman.


"Ini, maaf sayang aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Tapi, tolong percaya oke ke aku bahwa aku ini murni loh naf su nya karena sudah lama gak di lepaskan."


Kenapa di jelaskan juga, wajah Wilona sudah merah padam di tambah perkataan Kaizer yang begitu.


"Baru juga beberapa hari kai, apalagi setahun. Bukannya sama dengan aku bu nuh diri," bibirnya mengerucut seperti limas segitiga.


"Ah ... bisa jadi aku impoten kalau gitu."


Plak


Wilona memukul kuat pindah kanan Kaizer.


"Jangan bicara sembarangan, jika kamu masih ingin bersenang-senang di dalam pernikahannya yang sah dan halal," kesal sekali menghadapi Kaizer.


Memang ucapan bercanda kita tidak ada yang tau, bisa jadi takutnya jadi kenyataan kedepannya.


"Iya, aku salah. Cuma perumpamaan, aku gak bisa gak ituan tiap hari. Hampa dan hidupku kurang semangat."


Wilona mengangguk-angguk .


Maher Mahir yang mendengar cucu menantunya sudah kembali hendak berkunjung ke rumah cucunya itu.


"Semua barang sudah di siapkan?" memastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali.


'Meski belum terungkap semuanya, aku harus waspada dan hati-hati. Takutnya bajinga* kecil sastra Arga bertindak lebih dulu.'


Sudah di pastikan sedikit demi sedikit Maher sudah tau tentang identitas Wilona yang sering keluar masuk kediaman Sastra Arga ke 3. Dengan ini saja sedikit ada bukti, di tambah lagi dengan wajah yang hampir mirip dengan mantan calon istrinya dan ada wajah pribumi Sastra Arga.

__ADS_1


"Tunggu sebentar, mereka saling mirip ??" Maher masuk ke dalam mobil yang sudah tiba di hadapannya.


__ADS_2