
"Tidak ada tuan muda!" meletakkan di meja kecil dekat Kaizer duduk bersandar.
"Saya melihat anda begitu ketakutan ibu Kartika, apa anda takut pada saya ibu?"
Kartika semakin panik dengan pertanyaan Kaizer, oh my God gimana kalau ketahuan.
"Tidak tuan muda, tidak sama sekali. Saya hanya ... hanya ..."
Kaizer berdiri dan langsung memeluk erat tubuh wanita yang sudah tua ini, tubuhnya begitu kurus dan seharusnya tidak berkerja keras.
Tapi ia bersih keras untuk tetap berkerja dan mengabdi sampai nanti-nanti.
Tidak ada yang salah hanya saja Kaizer tertekan hatinya bila mempekerjakan orang yang sudah tua dan renta seperti Kartika, takut beban dosanya semakin banyak.
"Ibu Kartika, bagaimana jika anda cuti sementara waktu. Berlibur di beberapa negara?" pertanyaan Kaizer membuat Kartika melepas pelukan hangat dari Kaizer.
Pelukan seorang putra yang tidak pernah ia rasakan dan dapatkan sebab dirinya hanya hidup sendirian di dunia ini.
Hanya Kaizer bintang kehidupan dan Wilona adalah pelengkap kebahagiaan nya yang tiada tara.
"Tidak perlu tuan, dengan berkerja saja dan mengabdi saja sudah sama seperti liburan tuan. Saya sudah tua dan tidak perlu pergi kemana-mana, kenapa tidak tuan saja yang pergi. Saya selama di sini tidak pernah melihat tuan pergi kemana-mana selain ke kantor dan urusan bisnis," penolakan Kartika membuat Kaizer sedih.
Kartika membaca situasi.
"Maaf tuan, saya tidak bermaksud begitu " imbuhnya.
"Tidak apa-apa ibu Kartika, terimakasih sudah mengingatkan saya." Kaizer membalikkan badannya.
Kartika segera pamit undur diri.
"Saya permisi tuan"
"Tunggu ibu Kartika."
"Ada apa tuan?" tetap menunduk.
"Ibu Kartika jangan menundukkan kepala anda ke saya seperti ini lagi, saya tidak suka. Ibu Kartika sudah saya anggap ibu saya, kenapa anda masih begitu pada saya,"
Terjadi keheningan, Kartika tidak bisa menjawab ucapan Kaizer.
Memang dirinya sudah di anggap ibunya tapi bukan ibu kandung hanya ibu yang memberikannya kasih saya setelah ibu kandung Kaizer yang bernama bunga meninggal dunia.
__ADS_1
"Ibu Kartika, jawablah "
Menanti jawaban.
Ternyata hanya gelengan kepala lah yang ada.
"Baiklah jika ibu Kartika tidak mau menjawab, tidak apa-apa."
Kartika merasa sangat-sangat bersalah, hati Kaizer mudah rapuh dan goyah sebenarnya tapi semua tertutupi dengan kejamnya.
"Tuan"
"Ibu Kartika, nanti kalau dia kembali kabari saya secepatnya"
"Baik tuan,"
Wilona menatap dirinya di depan kaca yang sangat besar.
"Haduh ... lama-lama jadi kerbau, besar dan hitam." Sambil mengaca dan memperlihatkan perutnya yang berisi.
Wilona terlihat berpikir keras, apa yang salah dari makanannya, perasaan semua enak-enak dan sayang tidak di habiskan.
Namanya sia-sia in makanan yang ada, tetap bersyukur meski makanannya ayam dan daging lainnya.
Ia tersadar jika di ruangan kamar tempat nya tidur tidak sendirian.
"Haduh... ngapain kalian masih di sini, keluar sana dan bilang pada tuan Sastra Arga kalian untuk tidak menyuruh kalian semua dekat-dekat saya saat saya di dalam kamar begini, gak punya sopan atau santun ya tuan kalian itu menyuruh kalian begini." Kesalnya.
"Kami permisi nona muda," kompak.
Mereka ber 3 langsung keluar dari kamar Wilona.
Wilona bernafas lega setelah mereka semua keluar dari kamarnya, sekarang yang ia pikirkan bagaimana caranya untuk kabur dari rumah ini, rumah horor dan penuh dengan tidak kebebasan yang hakiki.
.
2 hari telah berlalu.
Wilona sangat cantik dengan pakaian resminya untuk ke kantor, suara sepatu hak tingginya terdengar di lantai lobi sampai dirinya masuk ke dalam lift pribadi.
Semua mata tertuju pada Wilona, benar-benar seperti boneka hidup bahkan wajahnya sangat-sangat mirip dengan tuan mudanya yang terkenal dengan nama Sastra Arga ke 3 setelah papanya meninggal dunia.
__ADS_1
Ketika sampai di ruangan kerjanya.
"Apakah ini ruangan saya?" tanyanya pada laki-laki yang tidak jauh berbeda dengan wajahnya.
Namanya masih misteri, bahkan para karyawannya saja tidak tau nama aslinya. Hanya itu saja yang di ketahui yaitu Sastra Arga ke 3 saja tidak lebih dari itu.
"Iya benar, ini ruangan kau dan mulai sekarang kau akan berkerja di sini dan pelan-pelan kau akan juga memimpin perusahaan ini!" jawaban yang bikin enek Wilona.
Sedari tadi pagi sarapan sampai perutnya kembali keroncongan tapi yang di bahas itu-itu saja, sepertinya tidak ada topik lain saja yang di bahas.
Suara detik jam di dinding terdengar dan terus bergerak tapi hanya kesunyian yang ada.
"Apakah anda tidak mau memberi tau nama anda, jika tidak biarkan saya pulang." Wilona bergegas.
Dirinya harus tegas, buat apa takut pada laki-laki yang ada di hadapannya sekarang. Sama-sama manusia dan masih di dimensi yang sama juga.
"Kakak tidak akan membiarkan kau kembali ke sana, kakak tidak suka dan kakak tidak setuju kau kembali pada pria bajinga* itu. Kau seharusnya tau jika pria bajinga* dan brengse* itu tidak pantas di perhatikan. Sebaiknya kau perhatikan identitas kau yang sekarang," tegas dan mendominasi.
"Identitas ???" gumam lirih sebelum ia tertawa nyaring.
"AA ... HA ... HA ..., anda ada-ada saja. Saya bukan Wilona yang dulu yang mudah tertindas, saya tidak suka di kekang." Tidak peduli.
Beberapa orang kepercayaannya Sastra Arga menghalangi Wilona keluar dari ruangannya.
"Kenapa kalian disini ?"
"Maaf nona muda, ini tugas kami. Anda tidak bisa keluar nona selain perintah dari tuan muda, kakak nona!" salah seorang berbicara sambil menghalangi Wilona keluar.
Wilona yang geram kembali masuk ke ruangannya.
"Apa mau anda, tuan Sastra Arga ke tiga. Anda mau mengurung saya dan membuat saya mati secara perlahan-lahan." Sambil berdecak pinggang.
Dengan Kaizer ia masih bisa mengelabui bawahannya, tapi kenapa dengan satu orang ini tidak bisa kabur.
Padahal bawahannya sama-sama tunduk juga tapi entah apa yang membuat Wilona tidak bisa kabur.
"Tidak, hanya saja kakak tidak rela kau kembali,"
"CK, laki-laki dimana-mana tetap sombong dan sok berkuasa. Padahal tanpa perempuan tidak berarti apa-apa." Sindirnya sebab beberapa hari satu atap dengan nya tidak ada sekali pun wanita yang mampir atau di bawa pulang ke rumahnya.
Wilona teringat dengan suami bajinga* nya itu, siapa lagi jika bukan Kaizer.
__ADS_1
"Beda,aku bukan dia yang kamu maksudkan. Aku tau aku punya adik perempuan makanya aku tidak berani berbuat macam-macam, agar kelak adikku tidak menerima akibat dari perbuatanku," yakinnya pada Wilona.
Wilona hanya berdecak pinggang, sudah pasrah hidupnya terserah mau bagaimana lagi. Yang jelas untuk berpisah dengan Kaizer belum ada tanda-tanda. Yang ia inginkan hidup bahagia tanpa mara bahaya sedikit pun.