
Mau beraksi dulu 21+ nya lewat di depan mata, jangan lupa siap-siap biar gak terkejut 🤣🤣🤣
"Bicaralah jika mau saya cium lagi" menantang Wilona.
Ia sudah tidak sabar untuk aksi selanjutnya, ia pelan-pelan kan saja dulu permainannya agar di kenang sepanjang masa.
'Aku harus gimana ini, bicara sepatah kata saja dapat hadiah. Apa perlu aku banyak bicara lagi, oke deh ...'
"Pokoknya saya tidak mau dan tidak akan mau tuan Kaizer yang kejam dan angkuh." Sambil menjulurkan lidahnya.
Kaizer gemas langsung menarik tubuh Wilona masuk ke dalam pelukannya.
Greb
"Kali ini saya tidak akan main-main terhadap anda nona Wilona, saya akan benar-benar membuktikan semua kata-kata saya nona Wilona,"
Tanpa basa-basi lagi Kaizer sudah berhasil membuka kancing bajunya sendiri dan kini tinggal kancing satu yang bawah bagian celana.
Wilona ketar ketir melihat tubuh Kaizer, tubuhnya sudah banyak berubah dan lebih tertata, perutnya sudah terlihat sangat-sangat sixpack di bandingkan dulu.
'Haduh mata ... jaga mata ... jangan di lihat tapi penasaran rasanya.' Wilona pikiran nya sudah kemana-mana.
"Kenapa menatap dada saya seperti mau di makan, silahkan saja" Kaizer justru mempersilahkan Wilona untuk mencicipi lebih dahulu sebelum pada intinya.
"Laki-laki mes,um," ucapnya lirih.
Wajah sudah merona.
Kaizer suka dengan wajah ini, wajah yang begitu teramat tidak bisa ia lupakan.
.
.
Pagi harinya
Kaizer merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, kegiatan semalam menguras segala tenaganya.
"Hey .. bangun." Membangunkan Wilona.
"Ada apa, saya mengantuk tuan Kaizer yang kejam," Wilona enggan membuka matanya.
Tiba-tiba ia duduk.
Ia menatap tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang di tubuhnya bahkan bekas kemerahan di seluruh badannya kini terpampang.
Wilona memukul kepala nya.
'Kenapa bisa-bisanya aku tergoda sampai pagi pula, gimana ini. Malu aku.' Ingin pergi ke laut dalam dan menenggelamkan tubuhnya di sana.
Sementara itu Salma dan ibu Kartika tersenyum-senyum sendiri.
Ide mereka memang benar-benar jahat, semoga mereka berdua tidak sadar dan tidak mengetahui jika penyebab mereka melewati malam yang panas adalah ulahnya.
"Ibu Kartika, bagaimana jika nona dan tuan tau?" tanya Salma pada Kartika.
__ADS_1
"Tenang saja, tidak akan ada yang tau. Mereka sama-sama sudah dewasa sudah sepantasnya mereka memiliki anak versi kecil mereka!" Kartika dengan bangganya berbicara.
Tidak apa-apa jika resiko nya akan kehilangan pekerjaan, yang terpenting mereka bisa bersama sampai anak cucunya.
"Apa yang terjadi semalam?" pura-pura tidak sadar.
"Jangan pura-pura deh, anda dulu yang menawarkan diri pada saya. Dan otomatis saya nurut dong!" enteng sekali jawabannya.
"Tapi kan gara-gara anda duluan, lagian kenapa anda terus menerus menggoda dengan memperlihatkan seluruh tubuh anda pada saya."
Memang benar Kaizer menggoda, tapi hanya menggoda malah jadi sungguhan.
"Tapi yang semalam saya suka, anda begitu berga,irah," Kaizer tertawa.
Wilona tidak suka, harga diri bro harga diri sudah hilang.
"Anda suka, saya tidak." Menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
"Apa perlu kita mengulang nya lagi, lihat ..."
Wilona menutup matanya dengan kedua tangannya.
Hari yang gila batin Wilona.
"Apa masih sakit?"
"Iya lah, anda ini enak gak melebarkan kedua kaki sedangkan saya harus nongkrong terus. Apa anda pikir gak sakit milik saya!" ketus Wilona memang apa adanya.
Sudah lama tidak terjadi hubungan luar biasa dan rasanya seperti baru pertama kali melakukannya hanya saja tidak ada warna merah yang ada putih saja.
"Ingat, sangat ingat sampai saya malu. Sudah puas anda!" ketus menahan malu.
Beberapa menit sebelumnya.
"Coba lihat ini," menunjukkan pada Wilona.
"Saya-- ti--"
"Tidak ada penolakan."
Wilona merasakan tubuhnya kembali memanas saat tangan Kaizer dengan nakalnya masuk di sela-sela pahanya.
"Ah ... Kai ..."
Kaizer tersenyum saat melihat istrinya begitu menikmati kegiatan kecilnya sebelum ke bagian inti nya.
"Geli ... ah ... em ..."
Kaizer merasakan ada sesuatu yang hendak keluar lalu dengan terburu-buru Kaizer memposisikan dirinya tepat dimana harus di letakan, tidak keliru sama sekali tempat nya.
Mereka dalam penyatuan yang hakiki dan menikmati pagi yang cerah dengan penuh kenikmatan.
Mereka sama-sama saling mendengus dan menikmati nafas satu sama lain tidak terlupakan bahkan kata-kata cinta terlontar dari mulut mereka masing-masing.
"Aku mencintaimu Wilona." Kaizer dengan suara yang terengah-engah.
__ADS_1
"Aku juga,"
cup
Sang pendengar suara dari luar merasa malu sendiri.
"Hem ... nasib jomblo belum ke bobol diem aja deh di belakang, takut kebablasan dan jadi pengen nikah beneran."
Salma segera pergi padahal niatnya mau membangunkan tuan dan nona nya.
Tapi malah mendengar naf,su antara tuan dan nona nya yang sudah berada di langit dan dunia milik mereka berdua saja.
Salma kembali ke dapur.
"Kenapa cepat sekali kembalinya, apa mereka masih belum bangun ?" tanya Kartika.
Linglung
"Hey ... jawab Salma." Kartika menyadarkan Salma.
"Eh ... maaf ibu Kartika, mereka masih itu ituan," tangan Salma mengisyaratkan itu.
Kartika tersenyum lebar, hari apa ya hari ini sampai-sampai mereka masih melakukan percintaan.
Haduh ... senangnya bukan main hari ini.
Kaizer mengatur nafasnya.
"Terimakasih." Diiringi dengan kecupan di dahi Wilona.
Wilona hanya mengangguk pasrah.
"Iya," membalikkan tubuhnya memunggungi Kaizer.
Senyumnya tak kalah lebar dari Kaizer.
Bahkan ada kata-kata cinta segala, tapi tunggu.
Bukannya Kaizer punya seseorang yang ia cintai bukan.
"Saya mau mandi, jika anda ingin mandi silahkan di kamar anda sendiri." Formal lagi padahal saat bersatu kata-kata aku yang terlontar.
"Jangan formal, belajarlah dengan kata-kata aku dan kamu lalu jadi kita, bisakan. Bukannya kamu sudah membalas kata-kata cinta saya terhadap kamu Wilona,"
Wilona tambah terheran-heran tentunya.
Laki-laki ini, kenapa tiba-tiba romantis dan yang lebih anehnya kenapa minuman tadi malam membuat tubuhnya terasa panas bahkan sampai pagi tadi dan barusan.
Apa jangan-jangan ada apa-apanya.
"Iya baik, lagian kita sudah empat tahun bersama kenapa tidak mencoba kata-kata yang tidak formal seperti Lo gue gitu." Timpal Wilona membuat Kaizer heran dan keheranan lagi.
"Jangan deh kalau lo gue, kesannya anak muda banget dan kurang gimana gitu kalau kita pakai kata-kata gue lo begitu. Sebaiknya pakai aku saja seperti kejadian semalam dan barusan," masih di bahas lagi.
Padahal Wilona sudah menahannya agar tidak malu.
__ADS_1
Ia mengangguk tanda setuju, setidaknya ada perubahan bukan dalam berbicara. Tidak mungkin akan sama seperti dulu, kaku dan formal sekali.