Terpaksa Nikah Kontrak

Terpaksa Nikah Kontrak
BAB 9


__ADS_3

Kaizer baru saja turun dari anak tangga.


"Ibu Kartika, apa yang membuat anda tersenyum bahagia. Apa ada kabar baik dari keluarga ibu Kartika?" Kaizer mengambil secangkir teh yang sudah di siapkan oleh Kartika.


"Iya, sebentar lagi akan ada kebahagiaan luar biasa. Bahkan kebahagiaan itu tidak bisa di ukur dengan harta benda!" masih tersenyum.


Kaizer hanya ber oh saja.


"Apa anda tidak ingin tau apa yang saya maksud tuan?" Kartika memastikan tuannya Kaizer penasaran dengan apa yang baru saja di ucapkan.


"Tidak ibu Kartika, oh ya ibu. Rasanya sama dari dulu sampai sekarang teh ini." Mengalihkan topik pembicaraan.


"Iya sama, ini resep teh dari mendiang ibu tuan," jawaban yang sama lagi.


Kaizer terdiam


'Jika rasanya sama, kenapa selama mama hidup dulu aku tidak pernah di buatkan. Apa sebegitu tidak sukanya terhadapku, apa gara-gara aku terlahir sebagai anak har,am mama jadi begini.'


'Aku juga tidak mau, jika bisa memilih aku juga ingin seperti anak-anak lain. Yang bahagia secara nyata, tidak penuh kepalsuan.' Batinnya merasa sangat sedih dan menyakitkan untuknya.


Kartika dapat membaca situasi, pasti mood tuan muda pertama sedang tidak baik.


"Tuan"


"Tuan, lihatlah. Lihat nona Wilona, sangat cantik bukan dengan kalung liontin itu?" Kartika berusaha menyadarkan lamunan Kaizer.


Kaizer melihat ke arah dimana Kartika menunjuk Wilona.


.


Saat di meja makan


"Kenapa anda beberapa hari ini selalu tampil rapi dan berbeda?" pertanyaan yang mustahil untuk di dengar.


Wilona diam dan memilih menikmati makanan enaknya dari pada mendengar ocehan Kaizer yang selalu berlanjut sampai part part berikutnya.


Entahlah kenapa sekarang kaizer terlalu banyak berbicara, sepertinya kebanyakan makan pisang seperti burung.


"Tumben anda beberapa hari ini selalu bicara banyak, apa setiap hari anda di antar makanan oleh wanita jalan* anda itu berupa buah pisang." Pertanyaan menohok Wilona berhasil membuat Kaizer mengertakkan rahang-rahangnya.


"Anda menghina saya"


"Tidak, jika anda merasa ya berarti hati anda yang lemah " Wilona menjulurkan lidahnya.


"Anda ini ..." hendak melayangkan sendoknya pada Wilona.


"Kenapa tidak jadi? apa anda takut kehilangan harta karun yang sepenuhnya belum jatuh ke tangan anda" seringai licik terbit di senyum Wilona.


Ternyata menghadapi laki-laki yang ada di hadapannya memanglah mudah jika sudah hafal dengan apa kelemahannya.


Sekarang sudah tau seluk beluknya jadi buat apa perbanyak basa basi nya.

__ADS_1


"Siapa bilang saya akan takut kehilangan anda, justru dengan kehilangan anda hidup saya bebas. Sebebas burung beterbangan," gembira sambil merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri.


Wilona menggeleng saja, orang ini selalu penuh fantasi dalam angan-angannya.


Tapi Wilona tidak akan membiarkan itu terjadi secara mulus, hidupnya saja tidak mudah enak sekali manusia satu ini hidup enak dan mau ongkang-ongkang kaki.


'Enak sekali orang ini bicara, dari dulu aku yang menutupi kesalahannya jika ada berita nyata namun sengaja aku bilang berita miring dan tidak benar, malah mau mengusirku duluan.'


.


.


"Sini, saya bawakan." Tiba-tiba menawarkan diri lagi bahkan tas kesayangan Wilona sudah berpindah tangan.


"Tidak perlu, cukup kemarin anda lancang ke. saya. Hari ini tidak, bukannya tadi anda bilang bahagia jika kehilangan. Jadi ..., untuk apa anda sebegitu perhatiannya," Wilona berdecak pinggang.


"Untuk yang terakhir saja, lagi pula" Kaizer terdiam kembali.


Kaizer membukakan pintu mobil.


"???"


'Sebenarnya nih orang kewarasannya kemana sih, aneh semenjak memberikan uang itu.'


Uang 1 M lebih dengan bunganya merubah segala-gala nya.


"Sorry, saya sudah pesan ojek online bukan taxi." Menolak lagi.


Hari ini harinya ingin bebas tanpa di kacau oleh Kaizer.


"Stop ... stop ... stop ..., tidak perlu. Saya perlu privasi hari ini, jika anda menganggu saya lagi. Saya pastikan saya tidak akan pernah mengurus surat perpisahan itu sampai kapanpun," ancamnya pada Kaizer.


"Tapi ..."


"Hus ... saya tidak suka di bantah, ingat ... saya tidak akan mengurus hal yang selama ini anda damba-dambakan."


Pasti dengan ancaman begini akan sukses besar.


Kaizer melepaskan mangsanya kali ini.


.


.


.


Sesampainya di rumah sakit Wilona mengenakan atribut lengkap tak lupa masker dan berganti pakaian terlebih dahulu.


Mulut Kaizer tidak bisa di bohongi, jadi demi menutupi hal ini Wilona akan melakukan segala cara dan di pastikan rapi tanpa hambatan.


BEBERAPA HARI KEMUDIAN

__ADS_1


Deg


Deg


Deg


'Ya ampun, apa hasilnya ? jika benar aku adik pria itu bagaimana. Tidak mungkin kan dari telur ayam jadi telur emas berlian' Wilona memukul-mukul kepalanya pelan agar sadar sesadar-sadarnya jika mimpi memang hanyalah bunga tidur.


Wilona mendengar suara berisik tidak jauh dari tempatnya hendak membuka amplop yang baru saja ia dapatkan.


WAH TAMPANNYA


Itu sekilas yang Wilona dengar, entah siapa yang di bahas yang jelas Wilona memilih acuh. Toh ... jika memang orang tampan ya sudah jadi takdirnya lah yang beruntung tapi juga musibah untuk dirinya.


Terkadang tampan, mapan, sukses, kaya tidak menjamin banyak perempuan yang mau mendekati, begitu juga sebaliknya.


"Ada-ada saja orang-orang itu." Wilona mencari tempat yang aman untuk membuka amplop tersebut.


Sangat hati-hati.


Seorang laki-laki berdiri tidak jauh dari Wilona, sama seperti Wilona ia juga penasaran. Apakah gadis yang sudah menikah itu adik kandungnya yang hilang berpuluh-puluh tahun lamanya.


'Semoga kamu benar-benar adikku, aku sudah tidak sabaran ingin bersama dengan. Mengembalikan waktu yang terbuang selama berpuluh-puluh tahun lamanya semenjak kamu hilang saat kamu berusia empat tahun.'


Perlahan laki-laki itu dan Wilona membuka amplop hasil tes DNA secara bersama.


Sret


Wilona membaca hasilnya dan ternyata.


"Sembilan puluh sembilan persen ada ikatan darah?" gumam Wilona lalu menutup dan membuka kembali amplop.


Senyum lebar langsung mengembang di sudut bibir laki-laki yang sudah lama mencari sang adik.


"Berarti penglihatan saya tidak salah bukan terhadap anda?"


Deg


Wilona langsung mengalihkan pandangannya.


"Anda lagi." Acuh, dingin, bingung harus bersikap seperti apa.


Terkejut dan tidak tau hendak berbicara apa.


Terasa canggung dan tambah asing.


"Bagaimana hasilnya, sama bukan?" laki-laki tampan tersebut menyodorkan lembaran hasil tes pada Wilona.


"Iya sama, tapi tunggu. Anda jangan bahagia dulu, saya tidak seratus persen percaya dengan hasil tes ini. Sebab apa?" Wilona menggeleng keras, sambil mengibaskan kertas itu ke udara.


"Karena anda juga memeriksa hasil lab nya disini juga, jadi ... kemungkinan besar anda bisa menyabotase hal sepenting ini." Sambungnya sebelum benar-benar lari dari laki-laki yang mengaku kakak kandungnya.

__ADS_1


Wilona berlari menjauhinya, takut hal-hal yang tidak di inginkan terjadi. Walau bagaimanapun pria tersebut hanyalah orang asing yang baru saja masuk ke dalam kehidupannya.


Jika benar kakak kandungnya, kenapa ia enggan memberikan identitas secara langsung, nama saja di rahasiakan sampai tes DNA keluar.


__ADS_2