Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 21 Merangkai Kenangan


__ADS_3

Siang itu Herly hanya makan siang berdua saja dengan Bagus. Meja panjang berbahan kayu jati itu terasa sangat hampa. Meskipun begitu banyak makanan lezat yang menggugah selera, namun mereka tidak bisa menikmatinya.


Suasana terlalu canggung bagi mereka berdua. Masing masing orang, hanya fokus pada santapan mereka sendiri. Herly tidak ingin suasana dingin itu berlangsung terlalu lama, dia berinisiatif untuk memulai percakapan.


"Terima kasih Gus, kamu sudah mau menemaniku disini. Jujur saja saat ini aku tidak bisa sendiri. Apa lagi dalam keadaan sekarang, aku butuh orang lain untuk di ajak ngobrol, dan bertukar pikiran."


"Kalau aku boleh terus terang, saat ini, sebenarnya aku sedang berada di titik terendah. Aku benar benar rapuh. Rumah ini jadi hampa untuk kami. Aku sendiri tidak ingat kapan terakhir kali merasakan suasana hangat dalam keluarga."


"Rasanya dingin, semenjak ibu dan kakak meninggal, aku hanya punya romo, tapi beliau juga mengambil jarak denganku. Romo mengirim aku sekolah keluar kota, dan beliau disibukan dengan dunianya sendiri. Dengan sejuta kenangan indah bersama ibu."


"Kehadiran Yasmin sedikit merubah rumah ini, kami menjadi dekat lagi. Tapi sayang Romo mulai sakit, aku tidak tahu apa yang terjadi, namun jika benar ini ada kaitannya dengan tumbal ingon rumah ini, aku harus segera menghentikannya Gus."


Ucapan Herly membuat Bagus jadi prihatin. Selama ini ia merasa kalau dirinya adalah orang yang paling menderita di dunia ini. Tapi ucapan Herly menyadarkannya, bahwa dia bukan satu satunya.


"Kamu yang bilang kita ini sahabat Her, sudah selayaknya kalau kita saling berbagi. Walaupun aku bukan tipe orang yang bisa di ajak bicara, tapi kapanpun kamu perlu teman untuk bicara, aku akan siap menjadi pendengar yang baik. Jadi kamu tidak perlu sungkan sungkan bro."


Herly tersenyum, ternyata dia sudah salah menilai Bagus selama ini. Di balik sikap angkuh, dan dingin yang selalu ia tunjukkan, ternyata Bagus adalah sosok teman baik yang setia kawan.


Dia tidak pergi meninggalkan Herly, meski semua hal buruk, yang telah terjadi di rumah itu. Bagus sangat mengerti bahayanya berada di satu rumah tua, yang dipenuhi barang barang antik bertuah.


Bagus juga tahu ada sosok ingon yang menguasai rumah keluarga Herly, dan dia bukan mahluk biasa. Bagus sadar kalau kapanpun ingon di rumah itu bisa saja mengancam jiwanya. Tapi dia tetap pada tekad semula untuk bersama Herly sampai akhir.


Percakapan mereka berakhir, Herly mengajak Bagus ke ruang tengah untuk melanjutkan obrolan mereka yang terputus.


"Lalu apa rencana kamu setelah ini Her, Apa kamu sudah benar benar siap untuk pergi ke desa leluhurmu itu?"


"Aku tetap akan pergi Gus, namun sebelum itu, aku harus mencari tahu dulu apa yang telah terjadi di masa lalu, mengapa romo tidak mengizinkan aku mengantar jasad beliau ke peristirahatan terakhir?"


"Jika benar alasannya adalah karena kutukan Darsih, maka aku harus mencari tahu, bagaimana menghilangkan kutukan itu untuk selamanya."


Bagus mengerutkan dahinya, dia ingin sekali membantu Herly, tapi ia bingung harus mulai dari mana. Lalu tiba tiba Herly teringat sesuatu, dan dia segera berdiri dari tempat duduknya, kemudian naik ke lantai tiga, letak kamar ayahnya berada.


"Aku ingat sesuatu Gus, di kamar romo ada sebuah kotak kayu kuno yang tidak boleh di buka siapapun. Mungkin ini bisa jadi petunjuk buat kita Gus."

__ADS_1


Herly membuka lemari besar yang terbuat dari kayu jati. Dia membuka kotak yang berisi banyak benda kuno. Semasa hidup sang romo, Herly tidak diperkenankan untuk mengotak atik lemari, terlebih lagi menyentuh kotak kuno itu.


"Apa yang kamu lakukan Her, kotak apa itu, untuk apa kamu membuka kotak kuno itu bro?"


Herly tak menggubris pertanyaan Bagus. Dia mengeluarkan catatan kuno yang berisi mantra mantra, dan sedikitnya Herly mengerti arti mantra itu. Namun ia tidak ingin membacanya.


Pria muda itu lalu mengetuk papan kayu, dan menemukan ada ruang di balik papan kayu yang tersembunyi.


Karena penasaran, Herly buru buru membukanya. Diluar dugaannya, ternyata ada sebuah benda yang dilapisi kain putih usang yang tersembunyi dibawah papan kayu.


Herly membuka kain putih yang membungkus benda itu, dan dia terkejut karena isi kain usang tersebut, adalah tulang manusia.


"Akghk....!!


Tiba tiba tubuh Herly mengeras, matanya terpejam, dan ia melayang ke udara. Bagus yang melihat tubuh Herly bergetar, bagai tersengat aliran listrik, tak mampu berbuat apa apa, selain melihat tubuh temanya itu terangkat, melayang di udara.


Herly merasakan tubuhnya terasa perih, dan ia tak sadarkan diri. Antara sadar dan tidak, Herly merasa seolah olah tubuhnya terlempar jauh ke masa lalu. Dia di perlihatkan dua orang pria paruh baya berpakaian mewah ala para bangsawan kerajaan, yang sedang melakukan ritual tapa di sebuah gunung.


Tubuh wanita itu terikat di meja batu, sementara orang orang yang hadir melafalkan kidung mantra pemujaan kepada sang iblis.


Pria berpakaian bangsawan itu lalu menggauli wanita muda, yang tampak menangis ketakutan, dan memasungnya kemudian. Herly melihat lagi wanita itu di berikan makanan yang tidak layak, sedang ia dalam kondisi hamil tua.


Selanjutnya Herly diperlihatkan satu pemandangan yang mengiris hati, bayi wanita itu dikeluarkan paksa, lalu dipersembahkan kepada mahluk bertanduk, yang membuat wanita itu bersumpah serapah akan menuntut pati kepada bangsawan, sampai seluruh keturunannya habis tak lagi tersisa.


Bersamaan dengan sumpah yang di teriakkan wanita itu, kilatan petir menyambar, langit menjadi gelap seketika, dan bencana menimpa desa itu setelahnya.


Wabah penyakit menyerang warga desa, tanah pertanian jadi kering, hewan ternak mati misterius, dan para petani gagal panen. Satu demi satu penduduk desa tewas akibat wabah misterius dan kelaparan.


Demikian pula yang terjadi dengan sang bangsawan. Pria paruh baya itu meninggal mengenaskan, setelah dia sempat meminta abdi dalem menyelamatkan putra, dan cucunya keluar dari desa.


Tampak sosok wanita yang murka, lalu desa itu perlahan lahan jadi kuburan masal, dan tertutup oleh kabut tebal.


Tubuh Herly terhempas keranjang, tubuh pria itu bergetar, kemudian ia tak sadarkan diri. Bagus tak tahu yang terjadi, indranya tidak dapat merasakan apa yang telah terjadi kepada Herly. Bagus terdiam di tepi ranjang, hanya berharap agar Herly bisa segera sadar dari pingsan, dan menceritakan semua yang ia alami.

__ADS_1


Sementara itu di tepi hutan kakek tua bernama Anom, bersama lima orang muridnya, merasakan akan ada sesuatu yang bakal terjadi di desa.


Pria renta itu meminta para murid untuk melakukan ritual, kemudian ia memerintahkan mereka menjaga rumah Herly, supaya tidak bisa di lacak oleh kekuatan hitam mahluk bernama Darsih.


"Bocah gegabah, arek iku wes nggolek perkoro. Ngundang maute dewe nang deso iki."


"Kue kabeh sing ati ati, ojo sampek keturon, jogo arek kui sak isone awakmu kabeh."


"Kalian siap siap, anak itu sudah benar benar nengundang mautnya sendiri."


"Siap atau tidak kita harus menjaga keturunan terakhir sang adipati, Ingon ingon sudah pasti tidak akan melindungi anak itu."


"Jangan ada yang tidur malam ini, kalian harus waspada jaga anak itu semampu kalian."


"Aku punya firasat buruk tentang Darsih. Wanita itu pasti akan dapat melacak keberadaan keturunan adipati."


"Dendam yang kuat akan menarik energi hitam. Jadi jangan ada yang lengah. Aku akan membuat perisai agar rumah ndoro tertutup dalam kabut."


Lima murid mbah Anom membuat ritual khusus, lalu segera pergi ke desa. Mereka mengawasi rumah Herly dari lima penjuru.


Sedangkan Bagus yang merasa hawa di kamar romo mulai tidak nyaman baginya. Lalu membopong tubuh Herly keluar, turun ke ruang tengah di lantai satu.


Pemuda itu lalu duduk bermeditasi, berharap ia dapat melihat apa yang dialami Herly, sampai mengalami fenomena semacam itu.


"Harusnya kamu tidak perlu keras kepala. Ikuti saja kata pengacara, dan kamu akan bebas. Bukannya seperti sekarang, tubuhmu terkulai lemas di sofa tak berdaya."


Bagus menyalakan semua lampu di seluruh ruangan di rumah itu. Dia tidak mau ada ruangan yang gelap, meski masih siang hari, tapi Bagus membuat rumah itu menjadi terang benderang, tak ada sudut yang tak dapat di gapai cahaya, semuanya tersorot cahaya lampu.


Pemuda yang faham tentang dunia mistik itu merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi di rumah Herly malam ini, dan dia harus berjaga jaga dari segala hal yang mungkin terjadi.


"Aku harus menyiapkan banyak lilin, tidak ada yang tahu apa yang bakal terjadi malam ini."


"Semoga saja serangan gaib dari mahluk mahluk itu, tidak terlalu parah menimpa kami berdua."

__ADS_1


__ADS_2