
Ustad Bahar terus memeriksa setiap sudut ruangan di rumah keluarga Herly, semua benda pusaka bertuah, dikumpulkan lalu di segel. Mereka akan berniat akan meleburkan semua pusaka setelah pembersihan selesai.
Para santri menyebar, berusaha mencari pusat aura pekat yang jadi sumber kekuatan hitam para ingon. Rumah Herly yang awalnya dingin mendadak jadi panas saat ayat ayat ruqyah di lantunkan para santri.
Sementara itu di desa leluhur Herly, Angga dan teman temannya baru akan menghadapi teror awal dari balas dendam wanita bernama Darsih.
Angga dan teman temannya bisa mendengar suara gemuruh dari atas. Seakan akan gunung akan menglami longsor.
Sosok para wanita berlari turun dari atas gunung dengan cara yang tak normal. Mereka berjalan cepat merangkak ke bawah mengerang seperti sedang dalam keadaan yang tersiksa.
Sebagian tubuh mereka tampak tidak lengkap. Semua orang dapat mendengar ada deru langkah yang sedang mendekat ke arah mereka.
Suasana tegang kian terasa saat suara rintih dan jerit tangis mulai terdengar menyayat hati. Om Bandi tahu akan terjadi sesuatu. Ia minta Bagus, Ryo, dan Jaka mengawal Herly mencari jalan lain ke puncak sementara dirinya akan melawan mahluk itu bersama Angga.
"Gus kamu yang paling faham soal klenik, saya minta tolong sebisanya kamu bantu Herly sampai ke goa. Kemungkinan tubuh Darsih ada di sekitar goa itu, kalian berempat harus menemukannya."
"Cari sisa tulang belulang wanita itu, lalu makamkan dengan layak. Tapi sebelum itu, kalian pasti akan menghadapi sosok korinnya, jadi hati hati."
"Jika terpaksa melanggar sekali lagi, maka mau tak mau kamu harus melakukannya sekali lagi Gus."
"Kalian harus berhasil mengirim Darsih ke tempat asalnya, baru sempurnakan ritual pembatalan kontrak darah."
"Pergi sekarang, sebelum mereka sampai disini."
"Tapi om Bagaimana kami bisa mengenali tulang belulang Darsih, bukankah jasad akan hancur di makan waktu?"
Herly ragu akan bisa melakukan tugasnya tanpa bantuan om Bandi. Namun om Bandi mengatakan, bahwa Darsih akan muncul dari tempat ia telah ditumbalkan.
"Dengarkan saya Her, kamu harus fokus pada tujuan, wanita itu akan datang menemui kamu dari tempat mana ia terkubur."
"Orang yang mati tak wajar karena dendam, tubuh mereka akan di rawat oleh alam."
"Ada campur tangan iblis dalam masalah dendam, itu sebabnya kalian mengenal adanya arwah penasaran."
"Sudahlah jangan bertanya lagi, waktu kalian sempit. Bulan purnama akan tiba, artinya saat menagih tumbal juga sudah dekat. Sebelum itu terjadi, kalian harus berhasil membatalkan perjanjian itu."
"Kalian pergilah, saya akan buat strategi disini, untuk menghambat mereka."
Dengan terpaksa mereka berpisah. Herly dan kelompoknya akan ambil jalur lain untuk menghindari sosok yang memburu mereka. Sementara om Bandi dan Angga akan coba mengulur waktu, agar Herly punya peluang sampai ke goa.
Om Bandi lalu mengatur rencana. Dia naik lebih dulu ke atas bersama Angga. Sedangkan Herly dengan rombongannya melipir beberapa meter dari jalur.
Bagus berjalan di jajaran depan untuk mengawal Herly, dia sempat melumuri tubuh mereka dengan tanah sebelum kemudian merayap naik ke punggungan gunung.
"Kamu ingat jurus jurus yang dulu pernah om Bandi ajarkan Ngga?"
"Sekarang waktunya jurus jurus itu di pergunakan. Lakukan semua yang terbaik untuk temanmu, kita akan bertarung sampai titik darah terakhir."
"Tapi itu sudah lama sekali om, saya tidak yakin, bisa melakukan ini."
Angga merasa gugup, terakhir kali ia melamukan gerakan jurus saat dia masih di bangku SMA, dan itu bukan dalam kondisi seperti saat ini.
"Tidak ada waktu memikirkan rasa ragu Ngga, kita sudah berada di medan perang yang sesungguhnya. Kamu harus berpikir cepat, dan waspada."
"Keris kyai topo saatnya kembali di pergunakan, teguhkan imanmu, yakin pada pertolongan Tuhan Ngger."
__ADS_1
Perkataan om Bandi telah berhasil memompa semangat Angga. Dia mengikat keris di tangan kanan menggunakan sehelai kain.
Suara rintihan menghilang, namun sosok wanita dengan tubuh rusak, telah menghadang mereka. Aroma busuk dari luka di bagian tubuh yang terbuka membuat Angga mual dan hilang konsentrasi.
Dua sosok Wanita lalu menyerang Angga bersamaan. Om bandi yang melihatnya, buru buru mendorong Angga ke samping, kemudian balas menyerang dengan belati pusaka andalannya.
Dua mahluk itu menghilang, om Bandi segera menempel kepada Angga yang masih gugup. Dan mahluk itu kembali muncul sambil menyemburkan cairan hijau.
Belum lagi sempat bangkit, mereka telah di kejutkan oleh dua sosok lain yang nyaris menggigit bahu om Bandi. Untungnya Fokus Angga berhasil menyelamatkan nyawa pria itu.
Angga berhasil menusuk kepala wanita yang menyerang omnya dengan refleks yang baik.
"Terima kasih Ngga, kalau telat sedikit saja, om pasti sudah pindah alam."
"Jangan sampai itu terjadi om, saya butuh om untuk menang dalam pertarungan ini."
Mereka terus berusaha menghindar dari lendir hijau berbau busuk yang di lontarkan mahluk wanita. Sambil mencari titik lemah wanita itu om mengamati pola serangan yang di lancarkan empat sosok di depan mereka.
"Bagaimana ini om mahluk mahluk itu seperti tidak punya kelemahan pada dirinya."
"Apa yang mesti kita lakukan, tidak mungkin kita terus menghindari mereka."
"Tenang sedikit Ngga, jenis su***l bolong ini pasti punya kelemahan, kita cuma perlu mencari apa yang jadi titik lemahnya."
Om Bandi terus mencari titik lemah dari empat mahluk yang melayang menyerang mereka. Sambil terus menghindari semburan lendir, ia membalas serangan sebisanya.
Makin lama om Bandi mengamati mereka, semakin jelas bahwa mahluk itu melindungi salah satu organ dalamnya.
"Bagian paru paru mahluk itu tidak tertutup. Dari semua bagian tubuh, hanya paru parunya yang tampak hidup dan berdenyut."
"Nggga kamu ingat mantra untuk menangkal ruh yang eyang kakung ajarkan?"
"Ucapkan mantra itu dalam hati, lalu teteskan darahmu di keris pusaka. Kita coba serang paru paru, dan jantungnya, om punya keyakinan akan berhasil."
Angga tak mengerti apa yang di ucapkan om Bandi. Dia tidak ingat eyangnya pernah mengajarkan mantra padanya. Kecuali sebuah kidung senja, yang ibunya juga sering melantunkan tembang itu kala senja menjelang.
"Apa maksud om kidung senja, lagu jawa anak anak yang sering ibu tembangkan di sore hari om?"
"Itu bukan sekedar tembang Ngga. Bila ibumu menembangkan kidung seperti itu, artinya ada mahluk tak kasat mata yang coba mendekat di sekitar kalian."
"Itu artinya Ibu kamu sedang coba menangkal aura jahat yang akan masuk, entah dia benda kiriman, atau hanya mahluk jahat yang sekedar tertarik dengan energi kita."
Ucapan om Bandi menyadarkan Angga, bahwa terlalu banyak kearifan budaya nenek moyangnya yang belum ia ketahui.
Angga mencoba mendendangkan tembang senja, dan melihat reaksi mahluk mahluk yang mulai surut. Angga membaca ada ketakutan pada mahluk mahluk itu.
"Ternyata benar, mereka takut mendengar lagu ini."
Angga mulai percaya diri. Dia melukai jempolnya, kemudian memeteskan sedikit darahnya pada keris, dan bersiap menyerang organ yang diperkirakan jadi titik lemah mahluk itu.
"Bagaimana Ngga, apa kamu sudah siap, dengan rencana kita?"
"Iya om saya siap, kita akan serang satu mahluk secara silang kan om?"
"Tepat sekali Ngga, kita akan coba membidik paru paru wanita jadi jadian itu, semoga saja serangan ini akan berdampak pada mereka."
__ADS_1
Angga dan Om Bandi bergerak serentak. Mereka berlari zig zag untuk mengecoh keempat mahluk yang terlihat buas memburu.
Dua sabetan bersamaan dilakukan, namun mereka gagal menyentuh mahluk itu. Angga mulai kelelahan dia tidak memyangka liburannya akan di lalui dengan pertarungan yang jauh dari bayangannya selama ini.
"huh... hah... hah... Ternyata mereka juga licik. Saat aku nyaris berhasil menyabar organ vitalnya, mahluk mahluk itu justru menghilang."
Angga mengeluh kesal, nafasnya tersengal sengal. Jauh berbeda dengan om Bandi yang tersenyum puas seperti mengetahui sesuatu.
"Ternyata dugaanku benar, mereka melindungi paru parunya saat kami nyaris menyambar."
"Tinggal menunggu waktu yang tepat sampai kami bisa menyerang titik lemah mereka."
"Mereka datang Ngga, bersiaplah!"
Om Bandi membiarkan mahluk itu mendekati dirinya, sedang Angga menyilangkan keris di dada, bersiap untuk memerima balasan, lalu menyerang kembali.
"Wess...!"
Satu sambaran menyerang Angga. Pemuda tampan itu repleks segera membuang badan ke samping. Tapi satu mahluk berhasil menjerat lehernya dengan kencang.
Saat itu om Bandi melihat ada satu kesempatan. Dia buru buru lompat menerjang ke arah Angga yang saat itu tergeletak di tanah.
Belatinya dengan cepat, berhasil menikam sosok mahluk yang menjerat Angga, tepat di paru paru wanita itu, sehingga ia menjerit kesakitan."
"AAAAAA... Kurang ajar kau manusia...!"
"Aku akan membunuh kalian berdua sekarang...!"
Tubuh wanita itu bergabung jadi satu, dan yang terjadi kemudian mahluk itu menyemburkan lendir hijau dalam jumlah banyak, hingga Angga terpaksa berguling guling menghindari serangan.
Om Bandi yang melihat Angga menjadi sasaran mahluk itu, lalu menghambur ke arah Angga untuk melindunginya. Mereka berdua berguling guling menghindari cairan panas dari mulut su***l bolong.
Tepat saat Mahluk mengerikan itu mengalihkan fokusnya, pada satu hentakan Angga berhasil menusuk paru paru wanita jadi jadian itu, di lanjutkan serangan om Bandi yang begitu lincah menikam jantungnya.
"Matilah kau penghuni neraka...!"
"AAAAAAAA....!"
Pekik keras om Bandi terdengar lantang bersama jerit wanita yang tubuhnya hangus terbakar.
"Yes...!!"
"Kita berhasil om, kita membunuh mahluk itu...!"
Angga berseru, sembari memeluk om Bandi yang berlutut di tanah menopang tubuhnya dengan belati.
"Ini baru awalnya Ngga, kita harus segera menyusul Herly, om pikir kita sudah mengambil keputusan yang salah."
Angga terdiam, dia tahu apa yang di maksudkan om Bandi. Pikirannya langsung tertuju kepada Herly. Dia menyadari bahwa, pikiran mereka sejak semula sengaja di arahkan untuk terpecah belah.
Tujuan Darsih memang hanya untuk memburu Herly. Cicit dari sang adipati yang telah dengan tega menumbalkan dirinya kepada iblis.
"Huh... Kenapa aku tidak menyadari ini dari tadi. Kalau saja kami terus bersama, maka keselamatan Herly lebih terjaga."
"Sekarang aku malah jadi khawatir, sudah sampai mana dia sekarang, apakah Bagus bisa mengawal Herly agar mereka tetap aman?"
__ADS_1
Angga resah pikirannya melayang, pada Herly dan teman temannya. Dia lalu mengajak om Bandi untuk bergegas menyusul Herly. Mereka sama sama menyesal, karena telat menyedari jebakan Darsih.