Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 27 Desa di Balik Kabut


__ADS_3

Bagus buru buru masuk ke tenda. Suara serak bayangan wanita itu, masih menghantui isi pikirannya. Meskipun coba untuk tidur, tetapi bayangan hitam yang menyeringai di samping telinganya tak dapat hilang begitu saja.


Suara angin, riuh binatang malam, ditambah lagi udara dingin yang menusuk kulit membuat Bagus tak bisa tidur. Pemuda itu memainkan senter sambil sesekali mengintip keluar tenda.


"Kenapa mentalku seperti ini, dulu aku tidak pernah takut sedikitpun pada mereka. Tapi Kenapa malah aku jadi pengecut sekarang?"


"Come on, Ini bukan sifatmu Bagus, kamu harus berani, mereka bukan siapa siapa, kenapa kamu harus ketakutan?"


Bagus mengumpulkan keberanian, dia penasaran dengan aura pekat, yang membuat mentalnya jatuh. Berbekal sebuah senter kecil yang cukup terang untuk menembus pekatnya kabut, Bagus coba untuk keluar tenda.


"Aku harus memastikan kami aman malam ini.Tidak ada yang boleh menteror Bagus, siapapun mereka."


Bagus keluar tenda, mengarahkan senternya ke sekeliling hutan. Sesuai perkiraannya, Bagus tidak melihat apapun dalam kabut. Tepat jam dua belas malam, tiba tiba saja Herly terbangun dari tidurnya. Pemuda itu menoleh ke samping, dan tidak menemukan Bagus di dalam tenda.


"Apa yang di senter anak itu dalam pekatnya kabut malam. Sekarang bahkan baru jam dua belas, masih lima jam lagi untuk subuh, dasar manusia aneh."


Herly bergumam lirih seraya keluar dari dalam tenda. Dengan malas ia melangkah menghampiri Bagus yang masih mengarahkan lampu senternya ke berbagai arah.


"Ada apa Gus, apa yang kamu lihat, sudah jam dua belas sekarang, apa kamu tidak mengantuk?"


"Kamu benar benar lugu, atau cuma pura pura tegar Her, apa kamu tidak ingat sama sekali semua peristiwa ganjil yang sudah kita lewati?"


"Aku heran sama kamu Her, sudah dua kali kamu hampir mati, kalau bukan aku yang menyadarkanmu, hari ini, kamu sudah pindah alam bro!"


Herly enggan menanggapi ucapan Bagus yang sedang emosi. Dia tahu betul kalau Bagus kesal, karena pemuda itu harus terseret dalam masalah mistik, yang semestinya hanya Herly saja yang menanggung semua ini.


Dengan santai Herly menyalakan kompor, lalu memasak air untuk membuat kopi. Dia menambahkan ranting kering, agar api unggun tak sampai padam.


Setelah kopi yang diseduhnya siap, Herly menyodorkan secangkir kopi kepada Bagus, kemudian mengajak temannya itu, untuk duduk di dekat perapian agar tubuh mereka lebih hangat, dan bisa mengobrol lebih tenang.


"Maafkan aku Gus, bukannya aku tidak ingat semua yang terjadi bro. Aku ingat semuanya. Bahkan dari awal peristiwa, sejak aku membuat keputusan ini."


"Apa yang sudah terjadi kepada kita, membuatku pasrah dan berserah diri kawan."


"Jujur saja, jauh di lubuk hati ini, sebenarnya aku takut akan gagal melakukan tugas itu."


"Kamu tahu, apa yang aku lihat di balik kabut pekat itu sekarang?"


"Aku yakin kamu juga merasakan hal yang sama. Aura gelap yang menyelimuti tempat ini, membuat aku tertekan."


"Tepat di belakang kamu sekarang, di dalam kabut pekat itu, mereka berdiri sepanjang jalan, dengan mata merah menatap marah pada kita."

__ADS_1


Bagus kaget, refleks dia menoleh ke belakang. Dan benar saja, ada beberapa siluet orang dalam kabut pekat, yang sedang berdiri menatap tajam ke arah mereka. Pelan pelan Bagus memalingkan wajahnya, lalu menunduk sembari membatin dalam hati.


"Kenapa tadi aku tidak melihatnya, apa kami sudah berada dalam wilayah desa yang di kutuk itu?"


Bagus menarik nafas panjang, dia bangkit meneguk kopinya lalu pergi ke tenda meninggalkan Herly yang masih duduk diam sembari tetap menyeruput kopinya.


Malam itu terasa sangat panjang bagi mereka, Herly masuk ke tenda, dan melihat Bagus tertidur dengan posisi duduk. Hati hati sekali Herly membaringkan tubuh temannya, lalu membuka lembaran mantra yang di berikan oleh mbah Anom.


Meskipun terbata bata Herly tetap berusaha membaca mantra yang di tulis dengan aksara jawa kuno. Dia beruntung, karena romonya sering mengajarkan budaya jawa, meski ia faham, Herly tidak memiliki minat sedikitpun untuk belajar tentang kebudayaan leluhur mereka.


Perlahan Herly mengeja hurup, dan merangkainya jadi sebuah kalimat yang utuh. Pelan pelan dia dapat menghafalkan mantra, kemudian mengucap mantra tersebut, hingga bekali kali, sampai hatinya menjadi tenang, dan tanpa dia sadari langit mulai terang.


Mentari pagi mulai memancarkan sinar kuning keemasan yang sejuk di pandang mata. Kabut tipis, dan tetes embun perlahan menghilang. Herly segera memasak makanan karena mereka akan siap berangkat menuju desa sebentar lagi.


Bagus mulai tersadar dari tidurnya. Wangi khas aroma kopi arabika yang di seduh Herly, menyengat hidung, hingga pemuda itu segera bangun, dan duduk bersila.


Cukup lama Bagus berdiam diri di dalam tenda, sambil memulihkan energinya. Pemuda itu lalu meraup wajahnya dengan air mineral, dan melihat jam tangannya.


Tak lama kemudian Bagus keluar dari tenda, ia melihat Herly duduk di dekat kompor sambil tersenyum kepadanya.


"Duduk sini Gus, pas sekali kopi dan sarapan kita sudah siap. Walaupun cuma roti, telur, dan sosis, aku rasa ini akan cukup mengganjal perut kita sampai siang."


"Semoga saja desa itu tidak jauh lagi dari hutan ini, aku ingin segera membereskan masalah wasiat romo secepatnya Gus."


"Desa leluhurmu indah, kalau saja tak ada sesuatu yang mengancam di desa itu, aku pasti mau berlama lama menikmati suasana ini."


Herly menghela nafas, apa yang di katakan Bagus benar. Bentangan alam di posisi mereka sekarang ini memang indah. Udaranya bersih, tidak heran jika Bagus ingin tetap di tempat itu.


"Sudah jam tujuh lebih Gus, saatnya kembali dalam pengembaraan."


Ucapan deramatis Herly membuat Bagus terkekeh. Ia mengambil alih kemudi, sedangkan Herly bertugas membaca peta.


Tidak lama setelah mesin mobil dipanaskan, mereka bergegas untuk melanjutkan perjalanan. Herly memandu Bagus menuju desa leluhur, yang selama ini hanya menjadi dongeng pengantar tidur buat Herly.


Sementara itu, di jalur yang sama, Angga dan rombongannya sedang di buat bingung oleh peta. Mereka tidak yakin telah berada pada jalur yang benar, karena rute di depan mereka adalah jalan tanah, sempit, dan nyaris tertutup rimbun semak belukar.


"Mas Angga yakin ini jalannya, di depan sana jalan semakin sempit, apa mungkin kita bisa melewati jalan setapak ini?"


"Kalau di perhatikan lagi di depan itu hutan, tebing, dan ngarai mas. Mustahil ada jalan tembus disana."


Angga melihat kembali peta yang diberikan pengacara, dan dia yakin mereka berada di jalur yang benar, sesuai petunjuk peta.

__ADS_1


Om bandi kemudian turun dari mobil untuk memastikan mereka berada di jalur yang benar. Berkali kali pria itu memastikan gambar di peta, lalu membandingkan dengan kondisi alam sekitar.


"Bagaimana menurut om Bandi, apakah benar kita sudah salah jalan?"


"Kalau melihat lagi peta ini, saya yakin kita sudah berada pada jalur yang benar. Tapi entahlah om, saya juga bingung, bagaimana mumgkin jalurnya bisa terputus, dan malah menuju ke hutan?"


Angga bingung, dia yakin betul tak salah membaca peta, tapi faktanya, mereka semua terjebak di tengah tengah hutan yang rapat.


"Bisa saja ini jalur lama, dan sudah tak digunakan lagi Ngga. Tapi biar om pastikan dulu, karena jika jalur ini benar, Herly pasti melewatinya."


Om Bandi terus berjalan jauh ke depan. Sambil menebas beberapa ranting, dan ilalang yang menutupi sebagian jalur, pria itu mencari jejak di jalan setapak yang mengarahkan mereka lebih jauh ke dalam hutan.


"Ini aneh, harusnya kami berada di jalur yang benar, tapi jalan setapak ini tak mungkin akan bisa di lewati mobil."


"Tapi tunggu dulu sebentar, makin kesini, jalan semakin lebar. Benar, ini bekas ban mobil, berarti mereka juga lewat sini, tapi dari sisi yang mana?"


"Kalau kami terus menerobos, itu tidak akan mungkin, semak semak ini terlalu tinggi, dan pohon pohon juga rapat menghalangi kami."


"Lalu bagaimana bisa, ada jejak ban mobil tepat di tengah tengah jalur yang seakan buntu?"


"Sepertinya ada yang tidak beres di hutan ini. Sebaiknya aku meminta petunjuk, agar kami tak disesatkan danyang hutan ini."


Om Bandi kemudian duduk di tanah lalu memejamkan matanya. Secara tiba tiba dia melihat mobil yang di kemudikan Bagus melintasi hutan itu dan sempat bermalam.


Setelah mendapat penerawangan om Bandi kemudian berlari lebih jauh meninggalkan mobil, dan dia benar benar mendapati bekas api unggun yang baru saja padam.


"Tidak salah lagi, mereka memang pernah melewati jalur ini. Aku yakin bekas jejak ban mobil ini milik mobil mereka."


Om Bandi menemukan jejak Herly di hutan itu. Ia mulai yakin ada yang sengaja menutupi pengelihatan mereka.


"Bagaimana om, apa kita benar benar telah tersesat di hutan ini?"


"Tidak Ngga, kita sudah berada di jalur yang benar, tapi mulai dari sini kita harus extra hati hati. Hutan ini dipenuhi sihir, sepertinya ada yang sengaja menutup tempat ini."


"Mungkin saja, ada mahluk yang tidak mau desa itu ditemukan orang lain. Apapun motifnya, yang pasti semua ini ilusi untuk menghalangi orang sampai ke desa."


"Kamu pegang keris ini Ngga, om akan berusaha menghilangkan ilusi optik yang menyelimuti hutan."


Om Bandi duduk bersila, kemudian memejamkan matanya. Didekatnya Angga berdiri mengawasi sekitar. Dengan sebilah keris yang terhunus di tangannya, Angga berusaha agar tak ada orang yang mengganggu om Bandi.


Sedangkan Ryo, Jaka, dan Yono, mereka tetap menunggu di mobil dengan perasaan cemas. Setiap orang mulai merasakan ada yang ganjil di hutan itu, tapi mereka tidak bisa pergi, karena Angga, dan Om Bandi berada cukup jauh dari posisi mobil mereka.

__ADS_1


__ADS_2