
Hujan badai yang terjadi semalam membuat jalan setapak menuju desa tergenang air dan berlumpur. Herly keluar dari pondok reot milik mbah Anom untuk melihat apa yang terjadi tadi malam.
"Jejak kaki manusia...?"
"Ada banyak sekali jejak di sekitar pondok ini, itu artinya ada orang yang datang kemari saat hujan badai semalam."
"Kenapa aku tidak mendengar, ada suara apapun tadi malam. Apa aku ketiduran, rasa rasanya tidak. Kami mengobrol sepanjang malam, tapi aku bahkan tak mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke pintu pondok. Kira kira siapa yang datang?"
"Atau karena hujan badai, jadi kami tidak bisa mendengar suara orang yang datang ke pondok ini?"
"Entahlah, hutan ini sangat hening, seharusnya aku bisa mendengar suara orang diluar, karena pondok milik mbah anom sangat kecil. Apa itu jejak kaki beliau?"
"Jika imbah Anom yang datang semalam, bukankah dia bisa langsung masuk, atau memanggil kami?"
Herly memendam kecurigaannya di dalam hati, kemudian masuk ke dalam pondok, lalu membangunkan Bagus yang baru saja memejamkan matanya.
"Gus... bangun Gus, kita pulang ke rumah sekarang juga. Aku harus memeriksa keadaan disana. Mbah Anom tidak kembali kemari sejak kejadian kemarin. Kita harus cari beliau, takutnya ada sesuatu."
Dengan Enggan Bagus membuka matanya, kepalanya masih terasa sakit. Sembari mengusap wajah, ia bangkit dari balai balai, kemudian mencuci mukanya dengan air yang tersisa di kendi.
"Jam berapa sekarang Her, rasanya langit diluar sana masih gelap. Apa mbah Anom sudah kembali?"
"Sekarang jam enam pagi, kita ada di hutan, langit juga masih berawan, makanya kamu tidak bisa melihat matahari Gus. Sudahlah, ayo cepat bangun, kita harus buru buru cek keadaan rumah."
"Aku khawatir ada hal buruk yang menimpa mereka. Sebaiknya kita pulang sekarang, sekalian packing."
"Packing sekarang Her, untuk apa bro, kamu mau pergi kemana pagi buta begini?"
"Kalau pulang ke tanah leluhurmu, aku sarankan pikirkan lagi masak masak. Kamu belum lupa dengan kejadian tadi malam kan?"
"Nyawa kita hampir melayang oleh para ingon di rumahmu. Belum lagi kutukan wanita bernama Darsih itu. Bukankah mbah Anom sudah wanti wanti kamu, tentang kutukan ini?"
"Iya Gus aku tahu segala resikonya. Ini salahku kawan, aku yang harus menghentikan kegilaan ini. Sudah cukup tumbal memakan banyak korban jiwa, jangan terulang lagi di masa depan Gus."
"Aku tidak mau anak istriku, jadi korban kesesatan nenek moyang kami yang gila akan harta benda, dan tahta."
Bagus tak ingin berdebat lagi, dia tahu Herly benar tentang masalah ini. Mereka keluar dari pondok, dan melihat banyak jejak telapak kaki manusia di tanah basah.
Tiba tiba Bagus berjongkok. Kening pemuda itu berkerut, tangannya mengukur jejak telapak kaki, yang menurutnya tidak normal.
"Ini bukan telapak kaki manusia, ukurannya lebih panjang dan lekuk telapak kaki ini juga lebih dalam."
"Aku yakin telapak kaki ini bukan milik manusia, jelas jejak ini beda dari telapak kaki kita."
Bagus menyandingkan telapak kaki miliknya dengan jejak kaki di tanah basah, dan ternyata memang satu centimeter lebih besar dari kakinya.
__ADS_1
Herly tidak merasa ada yang aneh dengan jejak kaki tersebut, karena memang ukuran kaki pasti berbeda pada setiap orang. Bagus tak mau berkomentar, yang terlintas dalam benaknya, semalam ada orang atau mahluk yang mengintai mereka.
Herly tidak mau terbawa suasana. Dia segera pergi meninggalkan pondok reot milik mbah Anom, sementara Bagus berjalan cepat mengikuti langkah Herly yang telah berjalan lebih dulu.
Satu jam lebih berjalan, akhirnya mereka sampai di teras rumah. Herly terperanjat, terkejut dengan apa yang tersaji di depan mata mereka.
Rumah itu porak poranda, barang barang berserakan di lantai. Meja, kursi, semua terbalik dan patah. Kaca jendela pecah, darah kental menggenagi lantai.
Bekas cakaran bercampur darah terlihat mengotori tembok rumah. Herly melihat rumahnya bagaikan medan pertempuran. Kontan saja bulu kuduknya meremang. Tidak dapat di bayangkan, jika mereka berdua tetap bertahan di rumah itu.
Dengan rasa was was, mereka masuk ke ruang tamu. Jijik, ngeri, dan takut, campur aduk jadi satu. Herly tak mampu melukiskan suasana hatinya kala itu. Apa yang ia saksikan benar benar berutal.
Semakin jauh, masuk menuju ruang tengah, semakin mereka merasa takut. Bagian tubuh manusia mulai terlihat cerai berai di lantai sampai lorong ke arah dapur.
"Sial, ini benar benar sadis. Mahluk itu benar benar kejam. Aku tidak menduga efeknya akan seburuk ini."
"Mbah Anom... dimana kakek tua itu berada, dia tidak ada disini, kemana mbah Anom."
"Gus... mbah Anom hilang, kamu cari dia di bawah, aku akan mencari di atas."
Mereka segera berpencar, Bagus menyisir ruang di lantai satu, dan Herly mencari di lantai dua sampai lantai tiga.
"Dimana orang tua itu, bikin repot orang saja!"
Bagus menggerutu, semua ruang di geledah, tapi mbah Anom tidak ada dimanapun. Mereka bertemu di lantai dua, dan sepakat mencari ke area kebun di belakang rumah.
"Mbah... mbah Anom, apa yang terjadi mbah?"
Herly memeluk tubuh mbah Anom, meletakkannya di atas pangkuan. Suara sengau terbata bata pria tua yang sedang sekarat itu, berusaha menyampaikan sesuatu.
"Hati hati dengan malam ngger, dia tahu keberadaanmu, selesaikan ini segera, iblis telah bersatu. Dendam Darsih semakin kuat, hancurkan dulu Darsih, baru kemudian lakukan ritual pelepasan kontrak darah, dengan para iblis."
"Ini mantra yang kami pergunakan untuk mengurung mereka. Kamu selesaikan semuanya raden."
Mbah... Mbah Anom sadar, mbah!"
Mbah Anom menghembuskan nafas terakhir dipangkuan Herly. Tanganya menggenggam erat mantra yang di tulis pada selembar kulit kambing. Herly buru buru mengambil mantra tersebut, lalu membaringkan tubuh pria tua itu di tanah.
Para pekerja tiba di rumah Herly. mereka bingung dengan apa yang telah terjadi. Sebagian dari warga menduga Herly telah di rampok. Sebagian yang lain menduga Herly telah membantai orang orang di rumahnya secara sadis, demi satu ritual pesugihan.
Herly mendengar saja gunjingan warga desa, tanpa ekspresi marah sedikitpun. Namun sebagian warga mulai menjaga jarak dengannya.
"Bapak bapak tidak usah takut, saya tidak akan menyakiti kalian semua. Saya cuma mau minta tolong pada kalian."
"Talong bantu saya memakamkan mereka dengan layak. Orang orang ini adalah pahlawan bagi meluarga kami. Beliau yang disana adalah abdi setia kakek, mereka berkoban nyawa untuk saya."
__ADS_1
"Ini ada sedikit uang, selenggarakan pengajian untuk mereka, di rumah orang tua Yono, jangan lakukan di rumah ini."
"Tapi bukankah lebih baik kita tunggu polisi juragan, dan soal pengajian, kenapa di rumah orang tua Yono, kenapa tidak disini saja?"
Seorang warga desa tetap ngotot ingin tahu alasannya. Dia curiga Herly yang telah mengambil nyawa enam orang, yang kini terbujur kaku di hadapan mereka.
"Saya yakin polisi, dan kalian semua tidak ingin tahu apa penyebabnya. Semua yang disampaikan juragan kalian, demi warga desa ini, faham!"
Bagus menyambar pertanyaan pria warga desa yang terkesan ingin menyudutkan Herly. Dia tak dapat mengendalikan emosi, saat warga mempertanyakan kematian enam orang yang masyarakat desa juga tidak kenal mereka siapa.
"Tenang dulu Gus, kita selesaikan ini dengan baik baik, ayo pak ikut kami ke dalam. Kalian periksa apa yang terjadi dengan dinding, plafon, perabot rumah, dan semuanya yang bisa kalian temukan."
"Tidak ada yang bisa saya tututupi dari kalian. Silahkan nilai sendiri, apa yang terjadi."
Mereka lalu berbondong bondong masuk ke dalam rumah, sebagian orang lari keluar, karena tidak tahan melihat kengerian yang terjadi di dalam rumah besar itu.
Sebagian lagi tetap masuk, sambil menutup hidungnya. Aroma anyir, dan bau busuk menyeruak, namun mereka tetap bertahan meneriksa seisi rumah.
"Aaaaaa....!"
Lalu dua orang tiba tiba saja lari terbirit birit dari lantai tiga rumah itu. Wajahnya pucat seperti telah melihat sesuatu yang membuat mereka benar benar ketakutan.
"Sudah kang, jangan teruskan lagi. Rumah juragan tidak beres, percaya sama kami. Juragan Herly benar, ini bukan ulah nanusia."
"Memangnya kamu lihat apa Parjo, jangan menakut nakuti kami. Kalau sampai aku tahu kamu berbohong, awas saja, kamu akan menerima akibatnya!"
"Bruaakkkk....!!"
Baru saja warga desa itu selesai bicara, tiba tiba pintu ruang kosong di lantai tiga tertutup dengan keras, seolah olah ada orang di atas sana yang mebanting pintu itu.
Spontan semua orang berlari keluar rumah. Beberapa orang bahkan jatuh terpeleset karena genangan darah yang tercecer di lantai.
"Jadi bagaimana bapak bapak, jika ingin lapor polisi silahkan, tapi ini artinya sesuatu di rumah kami akan lebih lama menteror desa kita."
Seluruh warga saling melirik, tanpa ada yang berani menyanggah lagi. Mereka segera melakukan upacara pemakaman untuk mbah Anom dan murid muridnya.
Sebagian yang lain masuk ke dalam rumah, membantu Herly dan Bagus merapikan perabot. Meskipun ada rasa takut terselip di hati mereka, Tapi orang orang itu tetap mau ikut turun tangan membantu.
Jam sepuluh semuanya selesai, Herly meminta izin untuk pergi meninggalkan desa. Sementara warga desa melanjutkan rangkaian upacara pemakaman sesuai adat kebiasaan di desa mereka.
"Saya titip rumah, bapak bapak. Untuk sementara waktu saya akan pergi menyelesaikan masalah ini."
"Pesan saya jangan ada orang yang mendekati rumah ini, saat matahari terbenam. Tolong doakan saya agar semua selesai dengan baik."
"Tentu saja juragan, kita semua pasti akan ikut mendoakan juragan Herly. Kami berharap kedamaian desa akan segera pulih seperti sedia kala."
__ADS_1
Herly tersenyum manis, ia menjabat tangan warga desa yang telah setia bekerja kepada keluarga mereka. Sementara Bagus sibuk menaikkan semua barang bawaan, ke atas mobil pengangkut hasil bumi milik salah seorang warga.
Mereka berpamitan, dan mobil yang mereka tumpangi melaju perlahan meminggalkan desa.