
Jam setengah sebelas siang, mobil mini bus yang dikemudikan Yono, masuk ke halaman rumah keluarga Herly. Tampak warga desa masih ramai bergerombol di teras rumah.
Saat Yono memarkirkan mobilnya, para warga langsung bubar tanpa mengatakan apa apa kepada Yono yang terlihat heran dengan situasi di pekarangan rumah yang ramai oleh warga desa.
"Wonten nopo to paklek, tiang tiang sedoyo niku, kok rame rame meriki. Juragan Herly enten hajatan nopo piye?"
Pria paruh baya yang dijumpai Yono enggan menjawab. Warga desa itu hanya menggeleng, kemudian pergi begitu saja. Kebisuan warga desa membuat Yono kian curiga dengan apa yang terjadi. Dia coba bertanya lagi dengan salah satu pekerja di rumah Herly, namun hasilnya tetap sama. Mereka tidak mau menjawab pertanyaan Yono.
Yono yang masih bingung dengan apa yang terjadi, lalu menghampiri Ayahnya dan bertanya kenapa ada banyak kerumunan warga di rumah juragannya, dan mengapa semua orang tiba tiba membisu.
"Pak ada apa ini, kenapa semuanya ada disini, apa yang terjadi dengan juragan Herly?"
"Kamu naik saja, dan lihat sendiri yang terjadi disana, kami akan pergi memakamkan enam orang yang katanya abdi dalem. Konon mereka telah mengabdi kepada keluarga juragan Herly sejak lama. Mungkin sebelum ndoro kakung mendirikan desa kita ini."
Yono melihat enam buah keranda yang telah di berangkatkan menuju pemakaman. Angga dan kawan kawan sempat bertanya kepada para pengantar jenazah, namun tak mendapatkan jawaban.
Serentak mereka lari menaiki anak tangga teras, dan melihat apa yang terjadi di dalam rumah. Dari pintu yang rusak, dan kaca jendela yang pecah, mereka tahu apa yang telah terjadi kemarin.
Semua orang bergegas masuk ke ruang tengah. Meski telah sedikit rapi, namun beberapa noda darah di dinding, dan perabotan yang rusak parah, menunjukkan telah terjadi pertarungan sengit di rumah Herly.
Angga lari keluar rumah, tanpa pikir panjang, ia langsung menarik salah satu warga desa, dan memaksanya untuk menceritakan apa yang telah terjadi dengan Herly.
"Pak tolong, saya mohon ceritakan apa yang telah terjadi dengan Herly, kenapa ada banyak noda darah di dinding, dan kenapa rumah Herly sangat berantakan, noda darah yang melekat di dinding itu milik siapa pak?"
Angga langsung mencecar warga desa dengan rentetan pertanyaan yang membuat orang itu ketakutan. Om Bandi yang melihat kejadian di luar, segera menghampiri Angga, lalu menasehati pemuda itu.
"Hey... jaga emosimu anak muda, jangan keras sama orang tua, yang sopan sedikit Ngga."
Angga mengusap wajahnya, lalu mundur beberapa langkah dari posisinya berdiri. Kepanikan telah membuatnya melupakan etika. Om Bandi lalu mengajak pria itu duduk di anak tangga dan mulai mencari informasi.
"Maafkan keponakan saya pak, dia terbawa suasana, keadaan di dalam membuatnya panik dan tidak bisa kontrol emosi. Maklum saja darah muda."
__ADS_1
Om Bandi berutur dengan lembut, agar lawan bicaranya jadi tenang, dan mau menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Kalau boleh saya tahu, peristiwa apa yang terjadi kemarin, kenapa rumah ini jadi luluh lantah begitu. Pemilik rumah ini, mereka semua pergi kemana pak?"
Warga desa itu, merasa terpojok, ia takut mengatakan apa yang terjadi, tapi om Bandi dengan lembut bisa mengambil hati pria itu. Akhirnya ia terpaksa menceritakan semua yang diketahuinya.
"Kemarin sore ada keanehan yang terjadi di desa ini. Tiba tiba langit menjadi hitam, seolah olah sudah malam. Saya melihat jam, dan saat itu memang masih jam empat sore. Tapi rasanya seperti sudah malam."
"Kemudian kilat menyambar, udara jadi sangat dingin, dan hujan badai terjadi. Kami semua terpaksa harus tinggal di ruma, sehingga tidak ada orang yang tahu peristiwa di rumah ini semalam."
"Tiba tiba pagi ini, kira kira tepat jam tujuh pagi, saya mendengar suara kentongan dari rumah pak Herly, juragan kami."
"Saya tidak tahu persis kejadiannya, tapi dari rumor yang beredar, tepat saat hujan badai turun, telah terjadi pembunuhan di rumah ini."
"Saya tidak tahu mana yang benar. Ada yang bilang, juragan Herly telah membunuh orang orang yang tadi di bawa ke makam, untuk sebuah ritual pesugihan."
"Tapi ada juga yang bilang, kalau tewasnya enam orang itu, adalah perbuatan iblis, yang menempati salah satu ruang di rumah ini."
"Saya pribadi tidak yakin dengan isu tersebut, karena sejak kakek beliau membangun desa ini, kami warga di desa ini, tidak pernah mengalami hal hal janggal berbau mistik. Desa ini aman, masyarakat tentram, dan sejahtera."
"Tidak pernah ada satu hal yang aneh. Kecuali, memang di jalan antara batas desa dengan hutan Loor, di hutan itu ada satu aturan yang tak tertulis."
"Kami tidak boleh melintasi jalanan di hutan Loor saat waktu surup, waktu matahari akan tenggelam."
"Orang tua kami bilang pamali, bisa pindah alam katanya. Namun yang terjadi di rumah juragan Herly saat ini jelas berbeda, entah ada rahasia apa di balik tewasnya mereka. Tapi yang pasti juragan Herly berjanji. Beluau akan menuntaskan semua masalah yang terjadi secepatnya."
Om Bandi menyimak keterangan pria itu dengan detil, pada akhirnya ia mengerti apa yang sebenarnya telah terjadi dengan keluarga Herly.
"Bapak tahu kemana pak Herly dan temannya pergi?"
"Tidak tahu, tapi orang terdekatnya bilang, mereka akan pergi ke tanah leluhur juragan Herly."
__ADS_1
"Ada masalah pribadi yang harus diselesaikan beliau, mungkin saja masalah yang dimaksud belisu, ada kaitannya dengan musibah ini."
Om Bandi dan Angga saling melirik, mereka segera faham keputusan apa yang telah di ambil oleh Herly. Angga langsung kembali masuk ke dalam rumah, mencari alamat desa leluhur Herly.
Semua ruang telah di geledah, tapi dia tidak menemukan apa apa disana. Jaka, Ryo, dan Yono yang heran dengan sikap Angga, lalu bertanya apa yang di cari pemuda itu.
"Ngga kamu cari apa bro, Herly tak berada di rumah ini, kemungkinan Herly dan Bagus sudah pergi dari kemarin bro."
Ryo mengikuti langkah kaki Angga dari belakang, sambil berujar, agar pemuda tampan itu mau berhenti mencari, dan mendengarkan apa yang ingin ia ucapkan.
"Aku tahu Herly sudah pergi dari rumah ini Yo, itu sebabnya aku coba cari alamat desa leluhur keluarga Herly, sebab kita harus menyusul anak itu segera."
"Kalau kita sampai terlambat, anak itu bisa tamat Yo!"
"Kutukan desa itu bisa menelan mereka berdua, dan aku tidak mau itu sampai terjadi pada teman kita."
Yono terkejut mendengarnya, supir keluarga Herly itu, sadar keadaan genting yang tengah mereka hadapi saat ini. Dia langsung teringat pada pengacara keluarga Herly, dan berpikir pengacara itu pasti punya salinan dokumen yang dinginkan Angga.
"Mas Angga, kita harus ke rumah pak pengacara. Saya rasa beliau pasti tahu nama, dan letak desa itu."
"Selama ini, pengacara keluarga, adalah satu satunya orang yang dipercaya oleh kanjeng romo untuk mengurusi dokumen keluarga pak Herly."
"Benar juga, dia pasti punya salinan dokumen klien, semoga saja benar masih ada. Yon antar kami kesana sekarang, dia satu satunya harapan kita sekarang!"
Tanpa pikir panjang, Angga segera mengajak Yono untuk mengantar mereka ke kantor pengacara. Yono yang masih ragu meninggalkan rumah Herly, sempat terpaku untuk sejenak, namun suara Angga yang setengah membentak membuatnya sadar.
" Ayo Yon... tunggu apa lagi, cepat antar kami ke rumah pengacara itu. Saya tidak mau ada sesuatu yang terjadi kepada mereka, karena kita terlambat mencegahnya."
Yono bergegas, membuka pintu mobil, dan tanpa menghiraukan apa apa lagi, mereka segera pergi dari pekarangan rumah Herly.
Sementara itu Warga desa yang ada di sekitar rumah Herly, hanya bisa melihat kepergian mereka yang gusar akan terjadi satu malapetaka besar akan terjadi.
__ADS_1