Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 28 Gadis Kerudung Merah


__ADS_3

Angga mulai merasakan gangguan di sekitar mereka, namun om Bandi belum juga selesai dari meditasi. Udara di sekitarnya mulai berubah dingin, dan Angga semakin gugup.


Ketika tiba tiba saja angin kencang menerpa, Angga berusaha bertahan meskipun tubuhnya nyaris terjatuh ke tanah. Beruntungnya keris yang di genggam Angga bisa digunakan sebagai penopang.


Di saat tubuh Angga sedang goyah, dan hendak mencari sesuatu untuk jadi pegangan, secara tiba tiba ada sebuah selendang berwarna merah melayang menyapu wajah pemuda tampan itu.


"Apakah yang tadi itu selendang wanita, tapi kemana terbangnya, mengapa aku tidak bisa melihat arah jatuhnya selendang itu?"


"Aku yakin sekali kain selendang itu menyentuh wajahku, bahkan aku masih bisa mencium wanginya."


"Tapi apakah mungkin ada benda yang bisa menghilang begitu saja tanpa jejak?"


Angga yakin merasakan belaian halus kain merah yang menyapu wajahnya. Wangi selendang itu masih tercium, dan Angga sangat yakin dia tidak sekedar sedang berhalusinasi.


Belum habis rasa penasaran dalam benaknya, Angga kembali terkejut oleh sosok wanita berpakaian serba merah yang berdiri membelakangi mereka.


"Ternyata benar, ada orang lain di hutan ini, selain kami. Dari mana wanita itu muncul?"


"Apakah selendang yang mengenai wajahku milik wanita itu?"


"Aku jadi penasaran, siapa wanita itu sebenarnya, dia tinggal dimana?"


Kemudian penampakan hutan jadi berubah seketika, Angga dan om Bandi, berada di tengah jalan tanah yang membelah hutan, tebing, dan ngarai, berada tepat di depan mata mereka.


Om Bandi membuka matanya, dan menjumpai Angga yang termangu menatap jauh ke depan. Pria itu lalu mengetahui, bahwa anak dari kakak perempuannya, saat ini sedang dalam pengaruh sihir.


Om Bandi buru buru mengambil air mineral dari saku celana, kemudian berdoa sejenak, lalu membasuh wajah Angga yang tampak linglung, tak sadarkan diri.


"Ngga sadar nak, hey... Angga sadar lee...!"


"Kamu ini kenapa, sudah berkali kali om ingatkan kamu untuk waspada. Pikiranmu jangan kosong, kalau sedang berada di tempat seperti ini!"


Angga merasa wajahnya sedang di guyur air. Dia kemudian sadar dan heran, karena hutan telah berubah menjadi jalan lebar yang membelah hutan di kedua sisinya.


"Kita sedang berada dimana om, wanita berkebaya merah itu, dia menghilang kemana?"


"Kita ini masih di hutan yang sama. Hutan yang tadi kamu lihat hanya ilusi, ada mahluk yang tidak ingin kita meneruskan perjalanan, kalau dari energinya, menurut om Bandi, dia sosok yang baik."


"Mungkin energi ini milik wanita berkebaya merah yang kamu lihat, tapi sudahlah jangan di ingat lagi."


"Lebih baik kita kembali ke mobil, om rasa kita sudah tidak jauh dari lokasi kedua temanmu."


Angga menoleh ke belakang, dan ia kaget, karena mobil mereka berada sangat jauh dari tempat mereka berdiri sekarang.


Om Bandi segera melambaikan tangannya, dan mobil mini bus yang dikendarai Yono melaju, ke arah mereka.

__ADS_1


Meskipun bingung dengan keadaan yang baru saja mereka lewati, tetapi semua orang enggan berkomentar. Mereka menyimpan keanehan itu di benak masing masing.


Sementara itu di tempat berbeda, Bagus menghentikan laju mobil mereka. Dia turun dan melihat ke segala arah, seolah sedang mencari sesuatu.


"Kamu yakin gapura batu itu ada di sekitar tempat ini Her, kenapa tidak ada tanda tanda yang menunjukkan letak desa itu?"


"Kalau menurut peta letak desa itu memang disini Gus. Tapi aku juga ragu, sebab gapura batu tidak ada disini."


"Jangan jangan orang yang dibayar oleh pengacara untuk membawa jenazah romomu juga tersesat, dan beliau tidak di makamkan di desa luluhurmu Her?"


Herly termenung, dia merasa lalai karena tidak menanyakan masalah ini kepada pengacara keluarganya.


"Sial, kenapa aku sampai teledor begini, harusnya aku menanyakan hal ini kepada pengacara kemarin. Bagus benar, bisa saja mereka tak memakamkan romo di desa leluhur kami. Aku sendiri bahkan kesulitan mencari letak desa romo."


"Benar juga, kenapa aku bisa jadi sangat ceroboh seperti ini, padahal selama ini, hidup kami baik baik saja, tidak ada hal berat yang harus menjadi beban pikiran, tapi anehnya aku bisa lupa menanyakan, apakah orang orang itu telah memakamkan romo sesuai wasiat beliau."


"Mereka bahkan tidak kembali ke desa untuk melapor padaku."


Di tengah lamunannya tentang hal ganjil yang mereka alami, seorang pria paruh baya dengan topi caping menepuk pundak Herly, sembari menanyakan maksud dan tujuan mereka berada di tempat itu.


"Anak berdua ini berasal dari mana, kenapa kalian bisa berada di desa kami?"


"Mohon maaf sebelumnya, kami ini datang dari kota Banyuwangi, dan alasan kami berada disini, karena ingin mencari desa luluhur orang tua saya pak."


"Tapi sayang sekali, kami tidak bisa menemukan letak gapura desa itu."


"Selama puluhan tahun tidak ada orang yang berani menginjakkan kakinya ke desa ini. Saya sarankan kalian pulang saja tidak usah cari cari letak desa itu."


"Mumpung sekarang masih pagi, kalian keluar saja dari desa ini, dan jangan berpikir datang kembali."


"Disana jalan keluarnya, segera pergi dan jangan pernah menoleh kemari lagi!"


Herly dan Bagus menoleh ke arah yang ditunjukkan pria paruh baya itu. Mereka terkejut, karena gapura yang mereka cari, sebenarnya telah mereka lewati.


"Gapura itu yang kami maksud pak. Pak... Kemana perginya orang tua itu Gus?"


"Aku juga tidak tahu her, lebih baik naik ke mobil sekarang, kita periksa sama sama, Apakah gapura batu itu adalah gapura yang dimaksudkan oleh peta ini"


Bulu kuduk keduanya meremang. Mereka cepat cepat kembali masuk ke dalam mobil. Bagus tancap gas ke arah gapura yang di tunjuk oleh pria tua yang mengenakan topi caping khas petani.


Sesampainya mereka di gapura itu, Herly buru buru turun dari mobil untuk memastikan, apakah gapura tersebut, adalah benar gapura yang mereka car cari.


"Ini gapura desa yang kita cari Gus, ternyata kita sudah berada di dalam desa sejak tadi bro...!"


Wajah Herly semeringah, pemuda itu sangat senang karena telah menemukan desa yang dimaksud dalam peta. Ia lalu naik kembali ke mobil dan meminta Bagus putar balik ke arah jalan saat mereka pertama kali menemukan manisia.

__ADS_1


"Kamu yakin kita akan kembali ke desa Her, orang itu gaib bro. Apa kamu tidak merasa aneh dengan sosok pria tadi?"


"Dia menghilang sesaat, setelah kita menoleh. Apa kamu tidak merasakan ini sebagai teror?"


"Aku tahu Gus, aku sadar dia itu bukan manusia, tapi memang ini tujuanku semula. Suka atau tidak, kita akan selalu bertemu hal ganjil semacam itu terus dan terus."


"Tidak ada pilihan lagi, semuanya harus aku jalani. Perjanjian dengan iblis itu mesti di putus, agar tak lagi menjadi momok bagi keluargaku."


"Aku tidak mau Yasmin dan calon bayi kami, harus menanggung beban dosa turunan ini. Kalau kamu mau pulang silahkan, aku tidak bisa menahanmu kawan."


"Sejak awal ini memang tanggung jawabku. Aku tidak bisa membalas kebaikan kalian, kecuali berterima kasih, karena telah menemaniku sejauh ini."


Ucapan Herly membuat Bagus jadi tak enak hati. Dia tidak tega kalau harus meninggalkan Herly sendiri. Meski dari awal kekuatan hitam di desa itu lebih besar dari semua hal buruk yang pernah di alami, namun Bagus akhirnya memutuskan untuk kembali.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Bagus segera memutar balik mobil mereka, dan menggeber mesin tua mobil pengangkut hasil bumi itu.


Mobil mereka melaju pelan diantara tanah berbatu dan rumput liar, desa itu sangat sepi. Di sepanjang jalan hanya terlihat tanah kering, rumpun bambu, dan ilalang ilang tinggi yang membuat siapa saja, akan bergidik ngeri bila berada disana.


Tiba tiba saja Bagus berhenti di tengah jalan. Seorang wanita cantik mengenakan kebaya serba merah menghadang jalan mereka.


"Apa lagi sekarang, apakah dia juga akan melarang kami masuk ke desa leluhur Herly?"


Bagus membatin dalam hati, dia hanya diam menunggu sampai wanita itu menepi, dan tidak lagi menghalangi jalan mereka.


"Kenapa berhenti di tengah jalan begini Gus, apa bensinya habis?"


"Tidak... bukan apa apa Her, aku cuma memberi kesempatan wanita itu untuk menepi."


"Wanita... wanita yang mana Gus, aku tidak lihat siapa siapa di depan kita."


Bagus enggan berkomentar, dia melanjutkan perjalanan mereka, begitu wanita berkebaya merah itu menepi dari jalannya. Sambil terus mengemudi Bagus melihat melalui kaca spion.


Gadis berkebaya merah itu masih berdiri di pinggir jalan. Dia menebar senyum sinis kepada Bagus seolah tahu Bagus terus mengawasinya.


Bagus memalingkan wajahnya ke depan. Senyuman wanita itu tak pelak membuat perasaannya jadi kacau balau. Jantungnya berdegub kencang, namun Bagus berusaha untuk bersikap normal.


"Tenanglah Gus, sebentar lagi kita sampai di rumah eyang buyutku, semoga tidak ada gangguan lagi setelah ini."


Mobil mereka mulai masuk area persawahan, rumah penduduk mulai terlihat, meskipun jarak antar rumah saling berjauhan.


Herly senang, ternyata desa itu benar nyata adanya. Banyak hewan ternak di beberapa rumah warga. Para pria terlihat bekerja di sawah, dan ada banyak wanita berjalan kaki dengan bakul di punggungnya.


Semua tampak nyata seperti orang desa di masa masa kecil Herly. Dia bernostalgia, baginya perjalanan ke rumah leluhurnya, seperti reoni masa kecil yang indah. Sementara Bagus merasakan sensasi yang berbeda.


Pemuda yang pernah bergelud dengan ilmu hitam itu merasakan, mereka telah sangat dekat dengan maut.

__ADS_1


"Jika takdirku harus selesai di tempat ini, mohon terimalah taubat hambamu ini Tuhan."


"Aku pasrahkan hidupku pada Mu, terjadilah semua atas kehendak Mu."


__ADS_2