Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 31 Hujan Darah


__ADS_3

Kabut tiba tiba saja muncul Ryo dan Jaka segera mempercepat langkah kaki mereka, agar dapat menyusul Angga dan om Bandi.


Langit di desa itu kian lama kian gelap. Seolah olah akan terjadi gerhana. Ryo dan Jaka semakin panik. Sementara di tempat lain Angga juga gelisah, mereka belum juga menemukan rumah penduduk yang bisa di singgahi.


"Kalau begini terus, kapan kita sampai di desa om, tidak ada satupun orang yang bisa kita jadikan tempat untuk bertanya."


"Sementara langit mulai gelap, padahal saat ini baru jam dua belas siang, apa semua ini normal om?"


"Sudahlah jangan mengeluh Ngga. Dari sejak awal ini yang kamu cari ngger. Jadi kamu mesti tabah, tidak usah bertanya lagi, karena semua ini jelas sihir, hanya ilusi optik."


"Artinya kita sudah berada di desa yang di kutuk perempuan itu. Hati hati dengan perasaan dan pikiran. Mahluk itu bisa membaca rasa takut di hatimu."


Tiba tiba langit bergemuruh angin bertiup halus menerpa wajah. Rintik hujan mulai turun mebasahi bumi dan mereka harus berlari memcari tempat berteduh.


"Disana ada rumah gubuk om, kita berteduh di rumah itu, sekalian bertanya siapa tahu ada penghuni yang bisa kasih petujuk!"


Angga menarik lengan om Bandi yang sempat berhenti sejenak, tak melanjutkan langkahnya. Pria itu seperti telah membaca tanda tanda alam semesta.


Buru buru ia mengeluarkan sebuah kantung hitam, dan mengalungkan benda itu di leher Angga. Mereka berhasil sampai ke teras sebuah gubuk, tepat sebelum hujan deras, dan angin yang kian lama, semakin kencang berhembus menyapu jalan desa.


Kemudian hujan badai melanda. Angga dan om Bandi merapat ke dinding anyaman bambu tepat di belakang mereka.


Untuk beberapa saat mereka diam di teras tanpa melakukan apa apa, sampai akhirnya Angga mencoba mengetuk pintu.


Setelah tiga kali mengetuk, Angga berhenti. Dia mengintip ke dalam lewat celah anyaman bambu yang telah koyak, dan ternyata kosong.


"Tidak ada orang di dalam, pantas saja sunyi sekali."


Suara keras petir yang bergemuruh membuat mereka sampai harus menutup kupingnya. Sementara di kejauhan Angga melihat dua orang yang berlari ke arah mereka dengan tubuh yang basah kuyup berlumur darah.


Om Bandi baru sadar kalau hujan itu tidak biasa. Dari genangan air di tanah basah, mereka mengetahui, bahwa hujan itu adalah tetesan darah segar.


"Sudah di mulai rupanya. Banyak banyak berdoa Ngga, jangan sampai berhenti berzikir. Mahluk di desa ini sedang menyambut kita."


Om Bandi komat kamit membaca doa, tangan kanannya mengepal seolah menahan sesuatu yang tak mungkin ia ucapkan kepada Angga.


"Ada apa om Bandi, tolong jangan bercanda di saat seperti ini om..!"


Tiba tiba om Bandi menunjuk ke arah barat, dan Angga nyaris saja memekik keras, namun tangan pemuda itu segera menyumpal mulutnya sendiri.


Angga dan om Bandi melihat kuda hitam ditunggangi oleh sosok pria berpakaian ala panglima di zaman kerajaan, namun tanpa kepala.


Di belakangnya berdiri empat orang prajurit memegang sebuah perisai dan tombak. Masing masing dari mereka terlihat sama tanpa kepala.


Darah mengalir deras dari leher yang terpenggal, membuat Angga dan om Bandi terkesiap, bulu kuduk mereka meremang, menyimpan rasa takut dalam hatinya.


Di tengah ketegangan itu, Angga mendengar namanya di panggil seseorang yang membuatnya jadi sadar dan berpaling.


"Angga... om... om Bandi...!"

__ADS_1


Om Bandi menghela nafas, karena suara Ryo dan Jaka membuatnya dapat berpikir kembali, meskipun mereka belum sempat mencerna apa yang sedang terjadi di depan mata mereka.


Namun suara keras Ryo dan Jaka seperti jadi penyelamat bagi om Bandi. Kepanikan kedua sahabat itu berhasil membuyarkan konsentrasi, hingga om Bandi bisa terlepas dari halusinasi yang nyaris membuat mereka terbawa ke alam lain.


Sementara itu, Ryo dan Jaka tidak menyadari, bahwa teriakan mereka telah menyelamatkan orang lain, namun juga mengundang murka mahluk yang lain.


Dua anak muda polos, yang saling bersahabat itu, tampak semeringah, mereka berlari kencang di tengah hujan badai, dengan tubuh yang basah oleh darah.


Angga memalingkan lagi wajannya ke arah penunggang kuda tanpa kepala. Namun mereka, ternyata sudah tidak ada lagi di tempatnya.


"Syukurlah kami bisa menemukan kalian berdua. Desa ini sungguh mengerikan Ngga."


"Aku tidak tahu apa yang bakalan terjadi, apabila kami tidak segera berjumpa dengan kalian."


"Kamu yakin kami ini adalah teman kalian, atau kami sesuatu yang lain dari desa ini?"


Perkataan satir Angga, membuat nyali Ryo dan Jaka jadi menciut. Mereka langsung surut, mundur beberapa langkah ke belakang, sambil mengusap wajahnya yang basah, penuh dengan darah.


Ryo menebak nebak, apakah orang di pondok itu benar Angga dan om Bandi.


"Jaga bicaramu Ngga, ini bukan tempat yang bisa kamu jadikan bahan candaan!"


Om Bandi langsung bereaksi. Dia menegur Angga begitu mendengar seloroh keponakannya itu. Bagi om Bandi candaan Angga terkesan tidak pantas. Anak muda itu seperti meremehkan desa tempat mereka berada sekarang.


Sebaliknya Ryo dan Jaka langsung memeluk mereka. Bahkan sampai mencium tangan om Bandi. Mereka langsung minta maaf karena telah bersikap egois.


"Bocah bodoh, sudah benar kalian tidak ikut dengan kami. Sekarang justru kita sama sama terjebak di desa mati ini."


Semua orang terdiam, berusaha untuk mencerna ucapan om Bandi. Entah mengapa Ryo merasa om Bandi sudah tahu apa yang terjadi dari awal. Tapi pria itu tidak ingin menceritakan semuanya kepada mereka.


"Saya tahu kamu mau bertanya apa, tapi lebih baik bersihkan dulu tubuh kalian, baunya amis sekali. Saya jadi mual menciumnya."


Semua orang melepaskan pakaian mereka disana tanpa rasa sungkan ataupun malu. Setelah mengusap darah yang mengguyur tubuhnya. Keempat pria itu membakar semua pakaian mereka, sesuai perintah om Bandi.


"Disini banyak bekas sawah milik warga, itu artinya kita sudah dekat dengan pemukiman penduduk. Saya minta kalian tak berhenti baca doa. Ancaman yang sebenarnya baru akan dimulai."


Angga tidak mengerti apa maksud om Bandi. Sawah sawah yang di lihatnya tampak subur dan terawat. Hatinya bertanya tanya bagaimana bisa omnya menyubut bekas sawah warga. Sedangkan Angga dan dua temannya jelas melihat hamparan subur sawah hijau, membentang luas di depan mata mereka.


"Sepertinya hujan sudah berhenti om, bagaimana kalau kita jalan lagi sekarang."


"Menurut saya rumah leluhur Herly sudah tidak jauh lagi dari sini, saya pikir kita akan sampai sebelum sore."


Mereka semua menyetujui saran Angga. Om Bandi memimpin rombongan kecil itu, melanjutkan perjalanan mereka menuju desa yang di maksud.


Sementara di tempat lain, Herly dan Bagus, telah mempersiapkan bekal dan perlengkapan menuju goa yang di lihat Herly dalam mimpinya.


"Kalau saja kamu bergerak lebih cepat Her, kita tidak akan terlalu lama menunggu hujan reda."


"Sudahlah Gus, jangan menggerutu terus, ada hikmahnya juga kita tidak tergesa gesa. Lebih baik terjebak di rumah ini, dari pada nanti saat di perjalanan, kita terkena hujan, sajen sajen ini bisa rusak semuanya."

__ADS_1


"Tapi sajen sajen itu ada batasnya Her. Mahluk mahluk itu tidak akan menerima sesembahan yang sudah basi."


"Jangan khawatir Gus, sajen sajen itu tahan sampai besok. Setelah hujan ini reda kita langsung tancap gas mencari goa tempat semua ini berawal."


"Sudah jagan berisik, biarkan aku hafalkan mantranya. Kamu bantu aku berdoa semoga hujan reda dan kita akan mendaki."


Ucapan Herly membuat Bagus jadi terdiam. Dia memilih mengamati langit, sambil melihat kapan hujan akan berhenti.


"Desa ini benar benar kolot. Tidak satupun orang yang beraktifitas di luar rumah saat hujan turun."


"Tunggu dulu, aku tidak salah lihat kan, air yang mengalir ini bukan air hujan, melainkan darah. Benar ini bukan air hujan."


Bagus berlari masuk ke dalam rumah. Sementara Herly tampak duduk bersila di lantai menghafal mantra dengan hikmat.


"Ada apa lagi Gus, kenapa kamu lari lari begitu?"


"Ini sudah tidak beres Her, cepat selesaikan semua ini, dan kita harus keluar dari desa celaka ini secepatnya."


Herly tidak mengerti apa yang di maksud temannya. Dia hanya ikut, saja, saat Bagus mengajaknya ke teras depan.


"Lihat... kamu lihat sendiri saja Her. Coba ambil ini, apakah menurutmu, itu air hujan bro?"


"Ayo sentuh Her, apa itu air hujan atau benda cair yang lain?"


Herly menuruti permintaan Bagus yang semakin aneh saja menurut pandangannya. Dengan santai Herly menuruni anak tangga lalu sedikit berjongkok untuk melihat apa yang membuat sikap Bagus menjadi berlebihan.


Dia lalu mencuci tangannya dalam genangan air hujan, dan merasa tidak ada yang aneh dengan air hujan tersebut.


Genangan air hujan di tanah itu, bahkan terlihat jernih di mata Herly. Tidak seperti apa yang dikatakan Bagus sebelumnya.


"Apa yang aneh Gus, ini cuma air hujan yang menggenang di tanah. Lihatlah apakah ada noda kotor di tanganku?"


"Apapun itu, merah, kuning, hijau, atau hitam. Tidak ada apa apa Gus, cuma air bro, jangan paranoid gitu dong friend."


Bagus melihat lagi air di jarinya, dan benar ucapan Herly, tidak ada noda darah yang lengket di jari pemuda itu. Dia kemudian turun dari anak tangga dan membenamkan telapak tangannya di genangan air tersebut.


Ternyata hasilnya juga sama. Air itu bukan darah seperti yang di lihat Bagus sebelumnya. Pemuda itu di buat bingung dengan fenomena aneh yang telah ia rasakan.


Bagus akhirnya memilih diam. Dia tidak ingin berkomentar lagi. Dalam hati pemuda itu, ia sudah tidak bisa percaya lagi dengan desa terkutuk, nenek moyang Herly. Namun dia juga tidak mau berdebat dengan Herly.


Saat mereka sedang berdebat soal air hujan, tanpa sadar di luar rumah itu, ada sepasang mata jahat yang sedang mengawasi mereka dengan mata buas, bersiap ******* daging mereka.


"Aroma darah bangsawan memang lebih wangi. Dagingnya juga pasti manis."


"Akhirnya keturunan adipati durjana itu telah kembali kemari. Aku akan buat dia menderita, hingga putus asa."


"HAHAHAHA...!"


Sosok bayangan putih berkelebat dari balik pohon, kemudian hilang di sebuah pondok yang tidak jauh dari rumah leluhur Herly.

__ADS_1


__ADS_2