
Terdengar suara parau iblis yang ikut membacakan ayat ayat ruqyah menjadikan para santri lebih tegang. Kiyai tidak mau para santri kehilangan pegangan dia meminta mereka berpegang teguh pada iman mereka dan tidak terpengaruh dengan godaan iblis.
"Dengarkan kalian semua, jangan pernah ragukan firman Allah, meski iblis itu dapat melakukan apa saja, tapi satu hal yang harus kalian ingat!"
"Mereka adalah hamba Allah yang sombong, meskipun dulunya dia adalah mahluk yang taat, namun kesombongan menyebabkan kaum mereka tergelincir dalam dosa dan terbuang dari surga."
"Maka walau ia mampu menirukan kalian, jangan ada rasa gentar di hati. Teruslah berdoa dengan iman, dan percayakan semuanya kepada kehendak Allah."
"Kun fa yakun... Terjadilah semua atas kehendakMu...!"
Kiyai Atmojo memompa semangat santri santrinya, meski keadaan semakin mencekam. Para santri makin kencang berdoa, suara tawa menggema, dan angin kencang menerpa, namun mereka tak surut sedikitpun.
Kiayi Atmojo melihat tangan tangan hitam, nyaris membuat lubang di pagar gaib. Pria tua itu lalu segera duduk di lantai, berkonsentrasi membaca doa untuk membentengi teras secara berlapis lapis.
Melihat kiayai mereka telah duduk di lantai dengan sikap sempurna. Ke enam muridnya segera faham, bahwa sang kiayai akan bertempur habis habisan.
Mereka menyegel rumah, dan melarang siapapun untuk keluar. Setelahnya, semua murid kiyai duduk berjajar di belakang sang kiyai, lalu serentak berzikir dengan lantang.
Tak lama kemudian tubuh kiyai Atmojo keluar dari raga kasar, dan berjalan menuju halaman depan, kemudian melesat menjauh, agar para jin yang akan menerobos pagar gaib beralih mengejarnya.
Tak lama terdengar suara desis binatang melata yang menyerbu tubuh kiyai kharimatik itu. Mereka berusaha menjebol sinar yang melindungi sang kiyai, sementara sukma kiyai Atmojo bertahan dengan tongkat miliknya.
"Lumayan juga kau anak Adam. Aku jadi bersemangat sekarang."
"Ayo keluarkan kemampuanmu wahai anak cucu Adam, marah, dan lampiaskan kekesalanmu."
"Apa kau tidak Lihat seonggok daging yang tergeletak di tanah itu?"
"Aku yang membakar jiwa lemah itu Atmojo...!"
"HAHAHAHA...!"
Suara menggema dari sosok besar bertanduk menggetarkan hati. Sang Kiyai tak bergeming, meski ribuan ular berebut mencari celah untuk menyentuh kulitnya.
Tetor dari mahluk besar bertanduk berusaha memancing rasa takut, dan amarah sang kiyai, namun ia berusaha tidak terpancing, meski penghujatan dilontarkan kepada sang kiyai.
Sikap tenang kiyai Atmojo justru membuat mahluk bertanduk jadi geram, dan perlahan membesar lalu dengan ekornya membelit tubuh kiyai Atmojo amat kencang hingga ia kesulitan untuk bergerak.
Tubuh sang Kiyai di angkat ke udara lalu dicampakkan ke tanah dengan keras. Para murid yang menyaksikan hal itu berhamburan keluar pagar gaib.
"Saya tidak apa apa, kenapa kalian justru meninggalkan rumah itu?"
"Kekuatan doa kalian adalah benteng mereka."
"Maafkan kami benar benar khilaf romo."
Sukma kiyai Atmojo menghilang dan kembali pada raga kasarnya. Sementara ke enam murid kiyai berhadapan langsung dengan sosok mahluk bertanduk yang sejak awal memang memancing emosi para santri muda itu.
Dengan licik mahluk tinggi besar bertanduk itu menertawai para santri yang seakan telah terjebak, dalam permainannya. Kini mahluk itu siap menjadikan para santri sebagai tumbalnya.
__ADS_1
Kiyai yang baru saja memulihkan kesadarannya, memuntahkan darah segar. Tapi dia segera bangkit, karena nyawa para santri sedang terancam.
"Semoga saja ustad Bahar segera datang kemari. Sebentar lagi jam dua belas malam, kekuatan para iblis akan berada di puncaknya."
"Aku tidak yakin bisa bertahan lebih lama, selama portal antar dimensi itu belum tertutup."
"Semoga saja Tuhan memberikan kami kemenangan, berkati ikhtiar kami ya Rab..."
Kiyai Atmojo lantas keluar dari rumah untuk bertarung bersama para murid. Sementara mahluk bertanduk tersenyum licik melihat kiyai Atmojo yang telah bergabung dalam medan pertarungan mereka.
Lubang di dalam rumah Herly kian membesar. Mahluk mahluk keluar dari dinding dalam ruang di lantai tiga. Entitas berbentuk asap tebal keluarmememuhi rumah. Mereka bertebaran di langit dengan suara suara menakutkan yang membuat bulu kuduk bergidik ngeri.
"Kalian pertahankan formasi. Kita akan bertempur sampai mati."
Kiyai mengambil posisi di tengah untuk menjaga para santri, agar tidak terasuki. Sementara murid muridnya berdiri melingkari kiyai Atmojo.
Serangan serangan astral mulai datang silih berganti menyerbu mereka. Sabetan pusaka dari para santri tak henti mengenai entitas astral yang datang menggempur.
Tapi seperti tak ada habisnya, mahluk mahluk dari dunia astral, terus datang menyergab hingga mereka kelelahan dan lupa dengan warga desa yang kini berada dalam bahaya.
Warga desa mulai berdikap aneh, satu satu tumbang menggelepar dilantai. Kepanikan seketika terjadi, tidak ada lagi yang dapat mereka kendalikan.
Mereka benar benar kualahan, sementara warga desa mulai dirasuki kekuatan sihir iblis yang membuat mereka bergerak tanpa kendali.
Semua warga desa mengamuk, mereka keluar dari rumah bagai binatang liar yang lapar. Wajah pucat dan sadis, liar mencari msngsa.
"Bagaimana ini romo kiyai. Apa yang mesti kita lakukan sekarang?"
"Kalian bendung mereka semampu kalian. Saya akan membuat prisai, semoga saja ini dapat bertahan sampai bantuan dari ustad Bahar tiba."
Kiyai Atmojo duduk bersila di tanah dan mulai membaca doa. Sedang para santri berusaha melawan meski telah kepayahan dan terluka.
Satu dari santri kiyai Atmojo telah tumbang, beruntungnya sang kiyai telah berhasil membuat dinding gaib sebagai perisai.
"Hah... hah... hah...!"
Suara nafas tersengal mereka saling berlomba. Kiyai Atmojo segera memeriksa tiga orang santrinya yang kini sedang sekarat, di ujung kematian.
"Bantu saya obati mereka. Kita tidak bisa membiarkan teman teman kalian mati begitu saja."
"Sekarang sudah jam satu pagi, semoga kekuatan mereka melemah saat subuh."
Kiyai Atmojo membesarkan hati tiga orang santrinya, yang mulai patah arang. Disamping lelah fisik, mereka semua juga lelah mental.
Sekarang mereka tepat berada di tengah kepungan warga desa, dan iingon keluarga Herly menjadikan mereka semua bagaikan mainan yang kapan saja dia mau, dapat di campakan dengan mudah.
"Bagaimana kalau ustad Bahar tak datang tepat waktu kiyai?"
Seorang santri bertanya dengan putus asa, luka luka cakaran warga desa yang berada dalam pengaruh iblis, membuat mereka lemah.
__ADS_1
"Tuhan membenci hambanya yang berputus asa nak, tetaplah berdoa di menit menit yang menentukan seperti ini."
"Untuk sekarang kita masih bisa bernafas, jadi tidak usah mengeluh. Semua yang hidup pasti akan mati, maka syukurilah."
"Semua ini cobaan, akan berbuah manis, bila kita semus mampu melewatinya."
Suasana kian mencekam, kekuatan iblis terus mencari titik lemah agar bisa menerobos benteng yang di bangun Kiyai Atmojo dengan doa.
Jam dua dini hari kekuatan para santri makin melemah. Hanya kiyai Atmojo yang masih terus bertahan dengan zikir.
Tepat jam tiga dini hari, segala doa dan harapan kiyai Atmojo terkabul. Lima buah mobil mini bus berisikan tiga puluh dua pria segera datang mengepung jalan desa. Warga desa yang telah dirasuki kekuatan jahat menghabur ke arah mobil, dan menyerang mereka dengan berutal.
Ustad Bahar yang ternyata bersama sang guru, segera turun dari mobil, dan menghadapi ratusan warga yang sedang dalam pengaruh iblis dengan efektif.
Setiap orang di lumpuhkan dengan membuat mereka pingsan. Mereka terus maju sampai titik dimana kiyai Atmojo bertahan.
"Maafkan kami terlambat, romo kiyai. Kami terpaksa harus tawar menawar alot dengan penguasa hutan Loor."
"Saya tidak menyangka, ada desa di jalur neraka seperti ini."
Ustad Bahar terheran heran, karena baru kali ini mememukan desa di pedalaman hutan kota Banyuwangi, dengan medan yang terjal, dan para penghuni astral yang memiliki energi keras.
Kiyai Atmojo tersenyum memeluk Kiyai Seto temannya, kemudian, menepuk bahu ustad Bahar yang mencium tangannya.
"Desa ini punya sejarah kelam dari pendirinya. Noda hitam yang harus di bayar mahal oleh keturunan mereka. Itulah yang jadi sebab desa ini menjadi sarang demit."
"Tapi nanti saja saya ceritakan lengkapnya, sekarang kita mesti menutup portal antar dimensi di rumah itu. Sekalian meruqyahnya."
Kiyai Atmojo menceritakan sedikit tentang apa yang terjadi pada desa itu. Sedangkan ustad Bahar malah membawanya ke mobil untuk di rawat.
"Mas kiyai Atmojo, biarkan masalah ini jadi urusan kami. Panjenengan lebih baik istirahat bersama para santri."
Kiyai Seto dan ustad Bahar terjun langsung dalam pertempuran. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah mencari tahu nama iblis itu, dan asal usulnya.
Setelahnya, mereka bergerak cepat mengatur siasat. Jebakan di buat untuk mengembalikan iblis ke tempat asalnya.
"Kamu jebak dia Bahar, biar aku yang cari titik lemah mahluk ini."
"Baik romo, saya akan siapkan jebakannya, kita sergab dia di titik terlemah."
Mereka membaca ayat ayat kitab suci yang biasa digunakan dalam ruqyah.
Pertempuran dengan entitas astral terus berlangsung, ustad Bahar dan kiyai seto membakar entitas astral yang terbang menyerbu mereka. Setelah berhasil menguasai keadaan, mereka segera memburu mahluk bertanduk hingga ke dalam rumah Herly.
Di luar tiga puluh murid kiyai bahar telah mengepung rumah. Matahari akan terbit, mahluk itu bersembunyi di lantai tiga mencari kesempatan untuk menyerang kembali.
"Rumah ini di penuhi barang barang magis. Kita mesti memusnahkan semuanya, ini akan melemahkan mereka."
Kiyai Seto mengambil sebuah Ageman lalu mensucikan benda itu dengan ayat ruqyah. Sementara para santri menyisir rumah untuk mencabut buhul yang tertanam di sekitar rumah.
__ADS_1
Mereka terus menyebar, membatasi ruang gerak ingon yang menguasai rumah.