Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 37 Tewasnya Ryo dan Jaka.


__ADS_3

Bagus berhasil mengantar Herly melintasi punggungan gunung. Mereka sangat yakin, akan tiba di atas sebelum tengah malam. Tanpa di sadari, ada sosok mahluk yang terus memperhatikan langkah kaki mereka.


Sosok bergaun putih dengan lidah yang menjulur, menatap tajam ke arah Herly dan kelompok kecilnya.


Herly meminta teman temanya untuk berhenti sejenak, sudah hampir satu jam mereka tak berhenti berjalan. Ryo dan Jaka yang sejak siang belum makan segera menyetujui ide Herly.


Bagus terpaksa mengiyakan usul teman temannya. Mereka segera memcari tanah lapang untuk duduk, sekedar makan roti dan minum air. Herly memijat mijat kakinnya yang terasa pegal, maklum saja ini pertama kali bagi Herly mendaki gunung.


Sementara Ryo dan Jaka, makan dua bungkus roti coklat dengan lahap. Di dekat mereka, Bagus memilih untuk semedi. Pemuda itu terpaksa memanggil lagi ilmu yang pernah ia pelajari.


"Cepat habiskan makanan kalian, tak baik berlama lama disini. Kita harus sampai di mulut goa sebelum tengah malam."


Bagus meminta teman temannya untuk bergegas. Ryo membereskan perbekalan mereka, kemudian lanjut meneruskan perjalanan ke goa yang berada sebelum puncak.


"Yo apa kamu tidak merasa aneh dengan tempat ini. Aku rasa kita sedang dibuntuti orang."


"Hus... jangan sembarangan bicara di gunung Jak, pamali bro... Kita ini sedang dalam misi, jadi jaga kata kata, jangan sampai mereka tahu isi pikiranmu. Bisa celaka...!"


Ryo dan Jaka saling berbisik, kudua sahabat itu sama sama dapat merasakan kehadiran orang lain di sekitar mereka. Udara dingin gunung, dan suara desir angin yang meraung, membuat mereka jadi merinding.


Bagus berhenti, dia mengarahkan senternya ke segala arah. Sosok bayangan berkelebat di atas kepala mereka, namun baik Herly, Ryo atau Jaka tak mengetahuinya.


Mereka hanya merasa di intai orang lain dari suatu tempat, namun tidak bisa memastikan kebenaran siapa atau apa yang sedang mengintai di kegelapan malam berkabut itu.


Dalam benak mereka, yang terlintas hanya segera sampai di goa, lalu bantu Herly selesaikan tugasnya, dan langsung pulang.


"Kamu lihat apa Gus, dari tadi kamu tidak fokus, apa lampu sentermu menangkap sesuatu?"


"Apa yang kamu lihat?"


"Tidak apa apa Her, teruskan saja langkahmu, sebentar lagi kita akan sampai di sabana, sebaiknya dari sini kamu harus mengeluarkan pusaka itu lagi."


Agus memang sengaja tidak mau memberi tahu Herly apa yang telah dia lihat. Namun Herly tidak polos. Dia dapat merasakan ada sesuatu di sekitar mereka. Kabut yang kian lama semakin tebal, memang menyulitkan mereka untuk melihat. Tapi dari pengalaman yang sudah sudah, Herly tahu kalau Bagus sedang menyembunyikan sesuatu.


Jarak pandang semakin sempit, Bagus khawatir mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan.


"Seharusnya kami menunggu om Bandi, kabut ini makin terasa aneh saja. Apakah mahluk itu bagian dari rencana balas dendam Darsih, atau hanya salah satu dari mahluk astral penunggu gunung ini?"


Baru saja Bagus tersadar dari lamunannya, tiba tiba saja tubuh Ryo bergetar hebat. Tubuhnya melayang tinggi ke angkasa, kedua tangan pemuda tambun itu seolah sedang berusaha melepaskan sesuatu yang menjerat lehernya.


"Tolong... Jaka tolong aku, Herly, Bagus lakukan apa saja...!"

__ADS_1


Jaka dan Herly panik mereka tidak tahu harus berbuat apa, sementara Ryo meronta kesakitan. Belum lagi Bagus sempat mengambil langkah untuk menyelamatkan Ryo. Tubuh pemuda itu di hempaskan ke tanah hingga berlumuran darah. Bagus segera merebut keris pusaka dari tangan Herly dan melompat maju ke arah Ryo yang merintih.Melutnya mengeluarkan banyak darah segar, kaki, dan tangannya patah. Pemuda tambun itu srkarat.


Bagus yang melihat kondisi Ryo jadi murka. Dia menyerang sosok yang membanting tubuh Ryo membabi buta. Emosi yang memuncak membuat Bagus hilang kendali. Dia terus memburu tanpa henti.


Mahluk itu menyeringai. Seolah olah menyukai amarah yang meledak ledak pada diri Bagus.


Mahluk itu menyeret tubuh Ryo, dan membantingnya sekali lagi. Jaka yang tidak terima tubuh sahabatnya di jadikan bulan bulanan, kemudian memaksakan dirinya untuk masuk dalam pertarungan.


Jaka mengarahkan tinjunya kesana kemari. Dia tak perduli walau yang di pukulnya hanya ruang kosong. Hanya angin, tanpa sedikitpun dapat menyentuh sosok mahluk yang dengan keji membating tubuh sahabatnya.


"Mahluk laknat, tunjukkan dirimu, lawan aku...!"


Jaka benar benar naik pitam, emosinya meluap, pemuda kekar itu tidak perduli lagi dengan rasa takut yang ada dalam hatinya.


Kini Jaka benar benar telah siap untuk mati. Sementara itu Bagus mengembalikan keris kepada Herly dan memintanya melakukan apa saja yang mampu ia lakukan.


"Keris pusaka keluargamu aku kembalikan Her, tolong bantu aku, lakukan apa saja sebisamu."


"Aku harus melakukan ritual untuk mengembalikan lagi apa yang seharusnya telah aku buang, untuk pertaubatan."


"Tunggu Gus, jangan karena aku, kamu memilih jalan sesat lagi. Biar aku hadapi sumpah perempuan itu."


"Kamu jangan lagi melakukan ritual persekutuan. Lihat aku, ini yang harus aku tanggung karena beban dosa masa lalu."


"Baiklah terserah padamu, aku hanya berusaha meningatkan."


Lepas mengatakan segalanya, Herly nekat terjun membantu Jaka untuk bertarung. Dia membaca mantra yang di berikan mbah Anom dan tanpa di sadari tubuhnya lalu bergerak lues bagai seseorang yang ahli dalam olah kanuragan.


"Akhirnya dia menemukan jati diri sebagai seorang pewaris trah Sastro Wardoyo."


"Aku jadi lega melihatnya, semoga kemampuannya sekarang tidak hanya sementara. Kami butuh dia untuk memutus kutukan itu."


"Aku harus segera membantu Herly, dia belum boleh mati disini. Ritual putus kontrak itu harus tetap dapat terlaksana. Ini demi masa depan keluarga mereka."


Bagus duduk bersila di tanah, sebentar kemudian ia telah larut dalam semedi. Tiba tiba sebuah tato muncul dari tubuh Bagus.


Cambuk api secara gaib berada di genggaman tangan pemuda itu. Udara hangat menjalari seluruh tubuh Bagus, hingga ia melepaskan jaket dan kaus yang di kenakan.


"Ampuni aku Tuhan, bukan ingin menduakan Mu tapi ini demi arti persahabatan."


"Restui perjuangan kami, berikan keajaiban atas kuasamu Tuhan."

__ADS_1


Usai ritual Bagus bergegas masuk dalam pertarungan. Mereka bahu membahu menyerang mahluk yang telah menyebabkan Ryo tewas mengenaskan.


Pertarungan jadi makin sengit. Jual beli pukulan antara Bagus dan mahluk astral berlangsung berutal. Naasnya saat Bagus konsentrasi kepada Herly, dia melupakan Jaka. Mahluk itu berhasil mencengkram kepala Jaka dan merasukinya.


"Aku sudah menunggumu anak muda. Sudah lebih dari seratus tahun lamanya aku menunggu saat saat membahagiakan ini."


"Saat Keturunan Aryo Disastro Wardoyo datang sendiri kemari untuk menggenapkan sumpahku kepada trah mereka."


Herly gemetar, lidahnya kelu, ia baru kali ini melihat tubuh yang dirasuki oleh iblis. Sempat terlintas dalam benaknya untuk kabur dari pertarungan. Tapi dia sudah berada disini untuk menyelesaikan dendam masa lalu yang telah tertunda lama ratusan tahun.


"Baiklah aku disini sebagai penerus trah Sastro Wardoyo. Apa yang telah menimpamu memang kesalahan eyang buyutku, tapi kami tak harus menanggungnya bukan?"


Herly mengumpulkan seluruh keberaniannya, dia menantang Darsih untuk menuntaskan dendam wanita itu.


"HAHAHAHA...!"


"Rupanya kamu mewarisi nyali ayah Aryo, yang pemberani dan kesatria, aku suka itu. Tapi sayangnya kamu harus mati disini demi apa yang di lakukan kakek buyutmu pada kami. Kepada wanita wanita itu dan anak anaknya."


"Aku baru akan tenang bila kamu mati di tanganku. Darahmu akan jadi penyempurna balas dendam yang selama ini aku nanti nantikan."


Darsih menyeringai dalam wujud Jaka. Wanita itu kemudin keluar dari raga Jaka, lalu menghepaskan tubuhnya ke tanah.


Jaka terkulai lemas di tanah, dan Herly segera berlari memeluk tubuhnya. Darsih yang murka tidak membiarkan itu terjadi.


Wanita yang telah di selubungi oleh aura hitam dendam yang membara, tak ingat lagi jati dirinya yang welas asih.


Dia menyeret tubuh Herly dan Jaka pada saat yang bersamaan. Tubuh mereka di lambungkan ke udara lalu di hempaskan dengan keras ke tanah.


Untungnya pada saat yang genting itu Angga dan Om Bandi telah tiba di padang sabana tempat mereka bertarung. Om Bandi cepat cepat menyambar tubuh Herly menjaga tubuhnya agar tidak terluka parah.


Tapi sayangnya nasib Jaka tidak sebai baik Herly. Tubuh pemuda itu terhempas ke tanah lebih dulu sebelum Angga sempat memberi pertolongan.


"Jaka ... Bangun Jak... Ryo, bangun, kalian harus tetap hidup teman teman."


"Kalian janji akan ke Malang bersamaku, kita sudah sepakat untuk pulang sama sama bro...!"


Angga menangis sejadi jadinya. Dia tak dapat menahan kesedihan, karena Ryo dan Jaka tewas secara mengenaskan.


"Harusnya kita tak meminta mereka jalan lebih dulu om. Sekarang kita sudah terlambat, iblis perempuan itu sudah mengambil nyawa teman teman saya om."


Angga menyalahkan diri sendiri, dia menyesal karena mengambil satu keputusan yang salah. Angga berpikir dia harusnya ikut dengan rombongan mereka agar peristiwa ini tidak terjadi.

__ADS_1


Tapi semua sudah terjadi sepasang sahabat itu benar benar sehidup semati. Mereka tewas untuk satu kata yang bernama dendam.


__ADS_2