Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 30 Firasat Yasmin


__ADS_3

Pagi yang cerah, matahari terasa hangat menyentuh kulit Yasmin. Calon ibu muda itu tengah berdiri di depan jendela dengan rasa gundah.


Sudah tiga hari sejak dia berpisah dengan Herly. Tiga hari itu pula dia tak menerima kabar dari suaminya. Hati Yasmin di rundung cemas. Dia sempat berpikir untuk pulang ke rumah mereka di desa.


Namun Yasmin tidak berani, karena Herly telah berpesan agar tidak lagi pulang ke desa, sebelum suaminya datang menjemput Yasmin.


Sejak Yasmin datang ke pondok pesantren, ia tinggal bersama para santriwati. Kisah yang terjadi pada keluarga Herly telah diterima oleh sang kiyai, dan beliau telah berjanji akan mencarikan jalan keluar untuk mereka.


Sementara Yasmin sedang galau, karena tak kunjung mendapat kabar dari Herly, sang kiyai justru tengah sibuk membahas cara terbaik untuk menyelesaikan kasus pelik mantan santrinya.


Kiyai Atmojo meminta berbagai saran dari banyak kyai, dan murid muridnya. Pria paruh baya itu tidak mau gegabah dalam masalah gaib. Beliau bahkan sampai belajar lagi tentang iblis dan tingkatannya.


Namun setelah dua kali diskusi panjang, mereka belum juga bisa menarik kesimpulan, apakah iblis yang telah lama menjadi ingon ingon manusia, dapat disingkirkan dengan mudah, atau malah menjadi sebuah bencana besar bagi orang yang memeliharanya.


Kiyai Atmojo tidak bisa langsung memutuskan. Beliau butuh dua malam untuk meminta petunjuk kepada Tuhan, sebelum akhirnya memutuskan untuk ikhtiar.


Pagi ini Kiyai Atmojo langsung mengumpulkan para pengasuh pondok pesantren untuk membagi tugas, dan menjelaskan tentang keputusannya yang akan pergi ke desa Herly.


"Dengarkan semuanya, saya sudah memutuskan untuk ikhtiar. Hari ini saya akan berangkat menuju desa tempat tinggal nak Yasmin. Oleh sebab itu, saya minta Kiyai Samin untuk menggantikan posisi saya sesementara waktu."


"Kepada para ustad, saya juga mau minta tolong agar panjenengan semua, menjaga pondok pesantren ini sebaik baiknya."


"Saya akan coba membersihkan hal hal sirik yang melekat di rumah itu. Kalian semua tolong bantu saya dengan doa."


Para pengasuh pondok pesantren mengaminkan pesan kiyai Atmojo, lalu mereka semua mempersiapkan kebutuhan sang kiyai.


Usai pertemuan singkat itu, Kiyai Atmojo ditemani enam santri senior berangkat ke desa Herly. Dari jauh Yasmin menyaksikan dua buah mobil milik pondok pesantren pergi meninggalkan halaman pobdok.


"Semoga saja romo kiyai berhasil membersihkan rumah kami dari para ingon, sehingga suamiku tidak perlu melakukan ritual sesat itu."


"Tapi dimana mas Herly sekarang, kenapa dia tak kunjung memeberi kabar padaku?"


"Adakah ia nekat memutus kontrak dengan iblis di tanah leluhur romo?"


"Ya Allah lindungi suamiku."


Yasmin semakin gugup, tanpa sadar ia meremas cangkir teh di tangannya hingga pecah, dan mrmbuat telapak tangannya berdarah.


"Yasmin... onok opo to ndok, kok iso sampek pecah ngene cah ayu?"


"Ya Allah... Hey Siti merene sediluk ndok, tulung resik no geteh iki yo...!"


" Yasmin ayo ndok, melok ambek nyai, tak obati, ben gak infeksi."


Nyai Atmojo yang baru saja masuk ke asrama putri, terkejut melihat cangkir yang pecah berserakan di lantai dan telapak tangan Yasmin ternyata juga berdarah.


"Ada apa Yasmin, kenapa cangkir itu bisa pecah, lihatlah tanganmu berdarah, sini ikut sama nyai biar saya obati lukamu."


"Kalau dibiarkan nanti malah jadi infeksi."


"Kamu duduk disini sebentar ndok, jangan pergi kemana mana. Nyai ambilkan perban, dan obat obatan dulu."


"Soal cangkir dan darah di lantai, jangan di pikirkan, biar nanti Siti yang membersihkan."


Yasmin tampak syok, wanita cantik itu hanya bisa terdiam saat nyai Atmojo membimbingnya menuju sebuah kursi. Dia melihat wajah nyai Atmojo yang begitu serius saat membalut lukanya.


"Kamu sedang mencemaskan suamimu ya?"

__ADS_1


"Iya nyai, saya takut dia masuk dalam kesesatan. Sudah tiga hari sejak kami berpisah, dia belum juga mengirim kabar."


"Jujur saja nyai, saya takut terjadi sesuatu pada mas Herly. Sejak tadi malam perasaan saya tidak enak. Khawatir mas Herly nekat pergi ke desa leluhur romo."


Yasmin menceritakan keresahan hatinya kepada nyai Atmojo. Wanita paruh baya yang kenyang akan pengalaman itu, mengerti betul apa yang di rasakan Yasmin.


"Kamu yang sabar nak, pasrahkan semuanya kepada sang pencipta, saya tahu, ini bukan perkara remeh temeh, itu sebabnya romo kiyai tak langsung bertindak."


"Beginilah susahnya kalau manusia mengambil jalan pintas. Perjanjian dengan iblis adalah kesesatan yang tidak bisa diampuni."


"Apalagi jika perjanjian dilakukan dengan kalangan iblis tua sejenis iprit. Dia tidak akan mudah untuk di lepaskan, dan biasanya akan terus mengikuti hingga keturunan orang yang mengadakan perjanjian darah akan habis tak bersisa."


"Kita berdoa saja, semoga romo kiyai bisa menyelesaikan masalah keluargamu."


"Sekarang kamu istirahat saja, nyai akan memeriksa para santri. Kalau butuh sesuatu panggil siti saja ya."


Nyai Atmojo tersenyum sembari mengusap rambut Yasmin. Wanita paruh baya itu keluar dari kamar Yasmin, lalu berjalan ke pondok pesantren putri.


Yasmin melihat lagi perban di tangannya, seakan ada firasat buruk yang akan memimpa suaminya.


"Mas Herly, kamu dimana mas, beri aku kabar, biar hati ini bisa tenang."


"Yono juga tak bisa dihubungi, lalu pada siapa aku harus bertanya?"


Yasmin tak bisa menyembunyikan perasaan cemas di wajahnya. Gadis bernama Siti menatapnya dari jauh seakan penasaran dengan sosok Yasmin.


Jam empat sore saat kiyai Atmojo tiba di desa Herly, supir sang kiyai turun dari mobil dan bertanya pada salah seorang warga desa.


"Bapak ini datang dari mana, mau bertemu dengan siapa?"


"Maaf pak saya Wito, supir pondok pesantren, kami datang kemari untuk mencari rumah pak Herly, apa panjenengan tahu rumah beliau?"


"Rumah juragan Herly ada di sana, kurang lebih seratus meter lagi dari sini. Tapi beliau dedang tidak ada di rumah."


"Baru saja kemarin beliau pergi dari desa ini. Katanya akan mengurus sesuatu di luar kota, entah urusan apa, tapi yang pasti ada kaitannya dengan peristiwa kemarin."


Tiba tiba sesepuh desa yang juga ayah Yono datang, dan memberi isyarat agar warga desa itu berhenti bicara. Dia menghardik warga desa tersebut agar tidak bicara lebih banyak lagi.


"Kemarin ada pwriatiwa apa pak, kenapa, kesannya kok di tutup tutupi?"


"Perkenalkan nama saya Atmojo, dan mereka semua adalah murid murid saya. Tujuan kami datang kemari, memang terkait dengan masalah rumah itu. Jadi kalau tidak keberatan, biarkan kami melihat rumah Herly."


Ayah Yono terdiam, dia ragu ragu untuk memberi jalan kepada kiyai Atmojo. Sesepuh desa itu khawatir bila kedatangan orang luar akan jadi masalah untuk majikan mereka.


"Maaf pak kiyai, bukannya saya tak mengizinkan anda datang ke rumah itu, tapi masalahnya rumah sedang kosong. Juragan kami sedang pergi ke desa lain, jadi demi keamanan, mohon maaf panjenengan tidak bisa mengunjungi rumah itu."


Kiyai Atmojo tersenyum tipis lalu menepuk pundak supirnya, dan mengajak Wito untuk pergi dari desa itu.


"Ayo Wit kita pulang, tidak baik cari masalah di desa orang."


"Tapi romo kiyai..."


"Sudahlah, nanti kita sampaikan saja pada Yasmin, bahwa kita sudah mendatangi desanya, namun tidak sempat melihat rumah itu, karena beliau melarang kita."


Mendengar nama Yasmin disebut kiyai Atmojo, ayah Yono berubah pikiran. Dia berpikir jika Yasmin yang mengutus mereka.


"Maafkan kelancangan saya kiyai. Tapi kalau boleh, perkenankan saya mengundang panjenengan mampir di pondok kami."

__ADS_1


"Kita ngobrol di rumah saya. Lagi pula jika panjenengan pulang sekarang, rombongan njenengan akan bertemu malam di hutan Loor, hutan wingit, yang sering meminta tumbal."


Dengan bijak kiyai mempersilahkan ayah Yono untuk menunjukkan jalan menuju rumahnya. Sementara para santri mengikuti dari belakang.


"Silahkan kiyai, mohon maaf harus duduk di tikar. Kebetulan kami dalam keadaan berduka, juragan Herly memerintahkan saya untuk menggelar pengajian selama empat puluh hari disini."


Kiyai Atmojo manggut mangut, sambil melihat kondisi rumah orang tua Yono yang cumup bagus untuk ukuran rumah orang desa.


Kiyai Atmojo sengaja tidak ingin bertanya, dia mau agar ayah Yono sendiri yang mengungkapkan semua fakta di desa mereka, tanpa harus di dikte olehnya.


"Jam berapa acara pengajiannya, apa tidak mengganggu jika kami berada disini?"


"Oh tentu tidak kiyai, saya justru ingin menawarkan, kalau kiyai dan santri tidak keberatan, menginaplah disini. Tidak baik keluar dari desa ini menjelang malam."


"Oh iya kiyai, kalau boleh tahu, ada hubungan apa panjenengan dengan ibu Yasmin dan juragan Herly?"


"Saya adalah guru Herly saat dia masih di pesantren. Dan sekarang istrinya sedang berada di pondok pesantren kami, karena masalah rumah itu."


"Nak Yasmin sudah menceritakan semua yang terjadi. Oleh sebab itu saya datang kemari untuk ruqyah."


Wajah ayah Yono seketika menjadi merah, dia tak dapat menahan rasa malu, karena telah bersikap kurang sopan kepada tamu majikannya.


"Mohon maaf atas ketidak sopanan saya kiyai, kalau saja sejak awal saya tahu, tentu kami tidak akan bersikap kurang ajar kepada kiyai."


"Kalau begitu, mari saya antarkan ke rumah juragan Herly, mumpung saat ini baru jam lima. Menjelang magrib rumah itu sangat angker, tidak ada orang yang dibolehkan mengunjugi rumah itu kiyai."


Ayah Yono kemudian mengajak kiyai Atmojo ke rumah Herly. Aura jahat langsung terasa, ketika kaki mereka menginjak halaman rumah besar milik keluarga Herly.


"Kejahatan apa yang telah terjadi di rumah ini, kenapa aura hitam pekat dominan menguasai rumah ini?"


Kiyai Atmojo mengarahkan mata ke arah lantai tiga, dan beliau melihat sosok mahluk tinggi besar serupa domba bertanduk panjang, sedang mengawasinya dengan mata merah yang menyala.


"Sebaiknya kita mundur dulu, portal antar dimensi di rumah itu sedang terbuka. Akan sulit menghadapi mahluk itu di malam hari, apalagi ada benda benda pusaka bertuah di rumah itu yang bisa di manfaatkan mahluk peliharaan orang tua Herly."


Kiyai Atmojo lalu menjejakkan kaki ke tanah tiga kali, lalu meminta murid muridnya untuk membuat pagar gaib.


"Mahluk itu berencana meneror warga desa ini. Kalian bantu aku dengan zikir. Kita harus buat pagar gaib agar mahluk itu tidak sampai pergi keluar rumah untuk menyerap energi hidup warga desa."


"Siap romo kiyai...!"


Mereka semua langsung membuat formasi dan membacakan ayat ayat suci alqur'an. Kiyai Atmojo bermaksud akan mengurung iblis di dalam rumah Herly agar tidak lepas dan menyerang warga.


"Semuanya cepat mundur dari sini. Portal antar dimensi sudah terbuka di rumah itu. Jumlah kita saat ini tidak akan cukup untuk meruqiah rumah Herly, apalagi kita juga harus menutup lubang hitam antar dimensi."


"Ada berapa jumlah warga di desa ini pak?"


"jumlah kami hanya empat puluh kepala keluarga. Kurang lebih ada seratus tujuh phluh jiwa lebih kiyai."


"Semua orang bekerja pada juragan Herly, sisanya warga desa tetangga yang terdekat dari sini. Ada apa kiyai?"


"Begini pak, ada yang gawat dari rumah itu. Saya minta tolong, beri tahu warga untuk berkumpul pada satu tempat malam ini."


"Saya khawatir apa yang kami lakukan tidak cukup menahan iblis di dalam rumah itu."


"Kami akan memagari rumah kalian agar tidak ada kekuatan hitam yang merebut energi hidup manusia."


"Kalau bisa cari dua rumah besar yang saling berdekatan. Kumpulkan warga di kedua rumah, dan kami akan membangun pagar gaib."

__ADS_1


Ayah Yono merasa semuanya jadi serius. Wajahnya seketika menjadi pucat, dengan cepat dia mewanggil seluruh warga, dan meminta semua orang untuk berkumpul di rumah besar sesuai arahan kiyai Atmojo.


__ADS_2