Tersembunyi Dalam Kabut

Tersembunyi Dalam Kabut
Bab 34 Wanita yang Terbakar


__ADS_3

Mereka terus mendaki menuju goa. Setiap orang membaca doa dalam hati. Gangguan ganguan makin mereka rasakan. Om Bandi mulai was was, karena aura jahat dari puncak gunung merayap turun menyergap mereka.


Matahari mulai tenggelam, gelap menyapa. Mereka memasang Head lamp di kepala sementra raungan tangis kian terdengar sayup di telinga mereka.


Di tempat berbeda. Jauh di desa tempat tinggal Herly rumah besar itu memberi tanda eksistensi yang tak kasat mata. Kiyai Atmojo meminta semua orang melanjutkan pengajian, semetara enam murid beliau berzikir di depan rumah.


Masyarakat yang bingung dengan kedaan, menurut saja apa yang di katakan sesepuj desa mereka. Semua berkumpul di satu rumah tanpa mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.


"Semoga ustad Bahar segera bawa bantuan kemari. Energi ini terlalu besar. Mereka telah mengundang sesuatu yang terkuat dari bangsa mereka."


Kiyai Atmojo gelisah, orang tua itu tak lepas membaca doa. Sedang para muridnya mulai merasa ada tangan tangan hitam yang berusaha menembus pagar gaib yang mereka buat.


Suara zikir dan doa semakin keras, warga mulai panik. Masing masing menyimpan tanya dalam hatinya. Beberapa orang yang dituakan, berbisik kepada ayah Yono untuk cari tahu apa yang sedang terjadi. Namun ia enggan menjawab.


"Kang Tarmo, tolong jelaskan pada kami. Ada apa ini, siapa pak kiyai itu. Kenapa kami tidak boleh tinggal di rumah kang?"


"Sudah jangan banyak tanya dulu. Lebih baik kita bantu doa. Jangan ada yang tidur malam ini. Kita mesti berdoa bergantian."


"Desa ini dalam bahaya...!"


Tarmo menjawab dengan nada tinggi hingga mengundang perhatian warga, namun ia segera mengecilkan volume suaranya saat mata wargga desa mulai tertuju padanya.


Sebaliknya para sesepuh desa jadi terkejut, fakta yang di ungkapan Tarmo, membuat mereka menjadi penasaran dan was was.


"Tapi kami tidak mendengar apa apa di luar sana kang. Ancaman apa yang kakang maksudkan?"


Karena kesal tidak mendapatkan jawaban yang pasti salah seorang sesepuh bangkit dari duduknya lalu pergi menghampiri kiyai Atmojo.


"Nyuwun sewu Kiyai, saya Darman, salah seorang sepuh disini. Jujur kami di dalam penasaran, kenapa ada kesan panjenengan mengatur atur warga kami."


"Tolong jelaskan apa sebenarnya yang sedang terjadi, kenapa kami tidak boleh pulang ke rumah kiyai?"


Kiyai Atmojo bersahadat, membaca doa dalam hati, kemudian menepuk pundak Darman, lalu memunjuk ke depan pagar rumah Tarmo. Orang tua itu kaget meringsut mundur ke belakang sang kiyai.


Keringat deras mengucur di sekujur tubuhnya. Mulut pria itu seolah olah terkunci tak dapat berucap meski hanya satu kata.

__ADS_1


Dia melihat tangan tangan hitam yang menggaruk garuk berusaha menerobos masuk ke halaman rumah tempat mereka berkumpul.


Kiyai Atmojo menekan leher pria itu agar ia tak sampai menjerit. Lalu apa yang di lihat pria itu selanjutnya membuatnya lebih syok, sebuah kepala besar bertanduk panjang menyerupai kambing dengan mata merah, sedang menyeringai ke arah mereka.


Sang Kiayi lalu menutup mata pria paruh baya itu dan merebahkan dia di lantai. Tarmo mendekati kiayi untuk menanyakan apa yang terjadi pada temannya. Namun Kiyai tidak ingin ia bertanya.


"Saya tahu, kenapa panjenemgan mau bertanya, tapi menurut kami, semakin sedikit yang tahu akan semakin baik."


"Saya tidak mau semua orang jadi panik, lalu histeris dan ketakutan. Hal itu hanya membuat mahluk mahluk yang bersemayam di dalam rumah keluagaHerly semakin kuat."


"Anda tahu apa yang akan terjadi berikutnya?"


"Kesurupan masal, dan saya tidak mau itu sampai terjadi. Sebaiknya tenangkan warga dan terus suruh mereka melantunkan doa."


"Hanya itu cara kita bertahan. Saya sudah minta bantuan dari salah seorang kiyai yang faham betul soal urusan gaib seperti ini."


"Tapi sebelum bantuan datang, kita harus bertahan melewati malam ini. Besok pagi kalian mengungsi saja sementara waktu."


"Desa ini belum aman untuk kalian tinggali."


Dia masuk ke dalam rumah lalu membahas masalah ini dengan para sesepuh desa secara tertutup.


"Saya mengumpulkan kalian disini agar tidak ada yang mendengar, keadaan desa kita sedang gawat, tapi kita para sesepuh tidak boleh panik."


"Semua orang harus tenang, besok pagi setelah bantuan datang, kita akan mengungsi ke desa lain sampai situasi disini aman. Akan lebih baik kalau kita bersikap wajar dan mengalihkan isu ini."


"Ada sesuatu di dalam rumah juragan Herly yang tidak bisa kita anggap enteng. Dia penyebab enam orang itu tewas. Dan saya yakin kita tidak mau menyusul mereka."


Tarmo berusahameyakinkan para sesepuh, namun salah seorang dari mereka masih ragu, sebab selama tiga hari ini tidak ada yang terjadi. Sampai kiayi Atmojo dan muridnya datang ke desa mereka.


"Kang Tarmo, apa njenengan tidak merasa heran. Selama ini tidak ada yang terjadi di desa kita, kecuali tiga hari kemarin?"


"Sekarang tiba tiba ada kiyai datang kemari, dan mengatakan kita dalam bahaya, sampai harus mengungsi segala, apa panjenengan tidak curiga dengan niat tamu kita itu kang?"


Pria paruh baya bernama Triman yang merupakan salah seorang, dari sesepuh menyanggah ucapan Tarmo, dia mencurigai niat baik kiyai Atmojo, meski mereka tahu bahwa kiyai tersebut adalah guru dari majikan mereka.

__ADS_1


Kasak kusuk mulai terjadi di antara para sesepuh, tiga orang setuju dengan Tarmo, sementara lima orang sisanya meragukan maksud kedatangan kiayi Atmojo.


Belum sempat menemukan kata sepakat, suara gaduh di luar membuat mereka jadi kaget dan berhamburan keluar rumah.


Kekacauan terjadi, salah seorang wanita di samping rumah Tarmo, nekat melewati pagar rumah, dan membuat warga desa yang ingin mengikuti langkahnya jadi histeris seketika.


"AAAAAAAAAA....!"


Jeritan wanita itu membuat panik. Semua orang bisa menyaksikan sendiri wanita yang nekat keluar dari pagar rumah lanngsung ditarik tangan tangan hitam legam yang mengakibatkan wanita itu seolah olah tengah melayang, kemudian terbakar.


"AAAAAA.... tolong.... pak kiyai, kang Tarmo, siapa saja tolong aku...!"


Api membesar membakar hangus tubuh wanita itu di depan semua warga. Para sepuh langsung menghardik warga masuk ke dalam rumah. Sementara kiyai Atmojo segera menangani salah seorang warga yang menggelepar di tanah.


"Kalian semua bantu bacakan doa, biar beliau yang tangani masalah, di luar."


Tarmo dan para sesepuh desa segera memimpin pengajian, meski warga sedang dilanda kegelisahan yang dalam.


"Dengarkan saya, percayakan saja semuanya pada gusti Allah, jaga hati, iman, dan taqwa kalian. Jangan terselip rasa takut dalam hati. Kita harus bisa melewati malam genting ini bersama sama.


Tarmo terus meyakinkan warga desa. Satu persatu warga desa mau mendengarkan ucapan sesepuh mereka dan mulai melantunkan doa doa dari kitab suci mereka."


Sementara suara raungan wanita di luar sana terus terdengar, Tarmo meminta warga desanya semakin khusyuk dalam doa.


Kiyai Atmojo berdiri di depan pagar, berusaha untuk menahan aura iblis yang mulai merangsek ingin merasuki wanita yang terbaring di tanah.


"Kalian sadarkan dia lalu suruh beberapa orang membopongnya ke dalam."


"Kalian berempat bantu saya, kita mesti berhasil menghalau mahluk dari neraka itu, apapun yang nanti terjadi."


Kiyai Atmojo memerintahkan empat santrinya membacakan ayat ayat ruqyah. Sementara mahluk di luar pagar menirukan bacaan para santri sembari tertawa mengejek.


Di pondok pesantren Kiyai samin meminta seluruh santri untuk mengadakan pengajian, Nyai Atmojo mengajak Yasmin ke rumah beliau bersama dengan para santri putri.


"Kalian doakan kiyai, dan den mas Herly, malam ini akan jadi malam panjang yang tergrnting bagi mereka.

__ADS_1


Nyai Atmojo mempin sendiri pengajian di rumahnya. Sementara Yasmin memikirkan nasib suami yang tak kunjung memberi kabar.


__ADS_2